
"Apakah dengan memaafkanmu, ayahku bisa hidup kembali? pergilah, bukankah katamu kau sedang menata hidupmu bersama orang lain, disini aku bisa menjaga ibu dan diriku sendiri". cerca Radia datar.
"Adek abang mohon...". "Kesalahanmu bukan padaku tapi pada ayahku, aku membencimu karena sampai akhir hayat ayahku, dia begitu sangat mencintaimu". Kenan yang tak kuasa menahan sesak dihatinya atas penyesalannya berlari keluar untuk menemui ayahnya di pusaranya tempat peristirahatan terakhir.
Kenan terus berlari sesekali berjalan menyusuri jalan kerikil tanpa alas kaki menuju TPU dimana ayahnya dimakamkan.
Perjalanan Kenan cukup menyita waktunya hampir satu jam dia berjalan kaki sambil meratapi penyesalannya menuju TPU yang dimaksud.
Sesampainya di TPU Kenan menangis sejadi-jadinya sakit dihatinya tidak bisa terobati.
"Ayah maafkan abang yah, maafkan anakmu ini yang tidak ada disisimu disaat-saat terakhir ayah". Kenan menangis sesenggukan diatas pusara ayahnya.
Lalu hujan deras mengguyur bumi yang seakan ikut berduka. Kenan tetap diam menyesali semua yang telah terjadi namun semua itu bak pepatah 'Nasi telah menjadi bubur'. Penyesalan Kenan tidak berguna lagi.
"Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku ingin lebih banyak lagi menghabiskan waktu bersamamu yah". tutur Kenan penuh penyesalan ditengah guyuran deras air hujan.
Hari semakin gelap Kenan beranjak pergi meninggalkan pusara ayahnya, hujan semakin deras Kenan terus melangkah pulang dengan tubuh yang terhuyung.
Kakinya melepuh karena melewati jalanan yang penuh kerikil tanpa alas kaki, rasa sakit dikakinya tak dihiraukannya karena tidak sebanding dengan sakit dihatinya karena penyesalan.
"Andai saja aku tidak terlalu terbuai oleh cinta, mungkin penyesalanku takkan seperti sekarang ini, bodohnya aku bisa diperbudak oleh cinta" rutuk Kenan pada diri sendiri.
Sesampainya di rumah, kenan tidak lagi dapat merasai tubuhnya yang sudah menggigil karena kedinginan, wajahnya pucat pasi, pakaiannya kotor penuh lumpur dan berantakan dengan kaki yang melepuh kemerah-merahan.
Kenan jatuh terjerembab tak sadarkan diri. Seorang security yang sedang asyik ngopi terkejut melihat sosok tuannya yang tidak sadarkan diri di teras rumah majikannya.
Security itu langsung mengetuk pintu dan pelayan rumah besar itu membukakan pintu.
"Cepat panggil nyonya, tuan Kenan pingsan" ujar security dan pelayan rumah itu langsung memanggil majikannya.
"Nyonya tuan Kenan tidak sadarkan diri nyonya, keadaannya buruk sekali" ujar bik Ijah setelah pintu kamar majikannya terbuka. Sintia segera menghampiri putranya yang sudah dalam kondisi buruk.
"Kenaaann, apa yang terjadi padamu nak?" Sintia menangis hatinya pilu bagai tersayat sembilu melihat keadaan putranya yang sangat buruk.
"Kenapa kalian diam saja? cepat angkat bawa tuan muda masuk" bentak Sintia.
__ADS_1
"Cepat telepon dokter bik" perintah Sintia panik melihat keadaan Kenan yang semakin pucat.
"Bangun nak, bangun sayang, kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini nak?" ratap Sintia.
Semarah apapun Sintia pada putranya dia tetap seorang ibu yang memiliki hati lembut. Hati ibu mana yang tidak terluka melihat anak kesayangannya tidak berdaya.
Itu juga yang dirasakan oleh Sintia saat ini, sungguh dia tidak tega melihat keadaan Kenan sekarang.
"Maaf nyonya dokter tidak bisa datang karena ada hujan badai" ucap bik Ijah. Sintia frustasi karena suhu tubuh Kenan semakin dingin.
"Ambilkan saya air hangat bik dan beritahu nona Rania" perintah Sintia.
Bik Ijah menueruti apa yang diperintahkan majikannya.
****
Rania mencoba bangkit dari keterpurukkannya, cukup baginya untuk berduka saatnya bagi dia untuk menjadi kekuatan bagi keluarganya terutama untuk ibunya.
Hatinya yang rapuh membuatnya lupa akan janjinya pada mendiang ayahnya beberapa waktu yang lalu, namun tiba-tiba saja bayangan ayahnya berkelebat Rania tersentak karena raut wajah ayahnya begitu dingin nanar menghujam.
Sejenak Rania berpikir, mengingat sepertinya tidak pernah ayahnya melemparkan pandangan dinginnya kepada dirinya selama ayahnya masih hidup.
Rania tersentak, mengingat janjinya pada ayahnya ketika masih hidup, 'semarah apapun dia terhadap abangnya, jangan pernah mengabaikannya'. Itulah janji Rania pada Rudi.
Seketika itu juga Rania merasa bersalah terhadap Kenan tak seharusnya dia menyakiti perasaan abangnya seperti tadi sore. Pasti abangnya juga merasa sedih dan menyesal karena disaat-saat terakhir ayah mereka dia tidak ada disampingnya
Kegelisahan Rania semakin menjadi, saat tahu abangnya tidak ada dirumah sementara di luar guyuran hujan semakin deras diiringi petir yang silih menyambar.
Saat hatinya masih gundah gulana karena memikirkan abangnya. Pintu kamarnya terketuk. Rania membukakan pintu.
"Iya bik ada apa?" sapa Rania saat melihat bik Ijah berdiri di depan kamarnya.
"Nona, tuan muda...". "Ada apa bik dengan kak Kenan?" potong Rania penasaran karena sejak sore dia tidak melihat abangnya.
"Tuan muda pingsan dan kondisinya memprihatinkan nona" saut bik Ijah hati-hati.
__ADS_1
Rania berlari menuruni setiap anak tangga tanpa memikirkan kondisi kakinya yang belum pulih. sesampainya di lantai dasar langkah rania terhenti saat melihat kepanikan ibunya.
"Bunda ada apa ini, mana kak Kenan?" tanya Rania cemas.
"Abangmu ada di kamar tamu".
Rania memberanikan diri untuk melangkah menuju kamar tamu dengan perasaan cemas, lalu membuka pintu kamar tersebut.
Rania terkulai lemas saat melihat kondisi buruk abangnya, wajah yang biasanya terlihat tampan kini memucat pasi, tampilannya yang rapi kini terlihat berantakan dan telapak kakinya yang bersih kini melepuh mengeluarkan cairan segar berwarna merah.
"Apa yang terjadi padamu kak? maafkan adek sudah mengadilimu begitu kejam". Rania terisak.
"Adek janji setelah ini adek akan tunaikan janji adek terhadap almarhum ayah, asalkan kakak bangun, jangan tinggalin adek kak, kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kakak". Kenan lalu bergumam di alam bawah sadarnya.
Ayah maafin abang, ajak abang yah biar abang bisa nemenin ayah. Gumam kenan.
"Gak! kak Kenan gak boleh pergi, ayah adek mohon jangan bawa kak Kenan, adek cuma punya kak Kenan yah, adek janji adek gak akan marah lagi sama kak Kenan asal ayah jangan bawa kak Kenan, ayo kak bangun, banguuunnn". Rania semakin meraung histeris.
Mendengar putrinya histeris Sintia langsung berlari kearahnya.
"Ada apa nak?". "Bunda, suruh kak Kenan bangun jangan bobo terus, adek mau kak Kenan bangun".
Hati Sintia begitu terhiris melihat duka yang dialami kedua anaknya karena ditinggalkan oleh suaminya.
Sintia mendekat dan menyentuh tubuh Kenan, ternyata suhu tubuh Kenan panas sekali namun telapak tangannya begitu dingin.
"Kenan sayang bangun nak, ini bunda tolong maafin bunda karena telah menyakitimu" ucap Sintia panik.
"Bunda, kak Kenan kenapa" tanya Rania namun bundanya tidak menjawab.
Rania panik karena abangnya mengalami demam tinggi dan selalu bergumam memanggil ayahnya sesekali terlihat titik-titik bening keluar dari sudut matanya pertanda penyesalannya yang begitu dalam.
***BERSAMBUNG***
para readers jangan lupa like dan votenya kemudian ramaikan dengan komentarmu...
__ADS_1
selamat menunaikan ibadah puasa
tetep selalu berada dirumah dan jaga kesehatan