Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
68. MENEPATI JANJI


__ADS_3

"Kak, sebenarnya ada apa, kakak memanggil adek ke Kantor?". Tanya Rania setelah selesai makan siang.


"Kakak mau ngobrolin masalah penting, ini amanah buat abang dan harus abang sampaikan hari ini ke adek". Saut Kenan ngambang.


"Ada apa kak, ngomong aja, Rania siap mendengarkan".


"Tadi, sebelum makan siang, bunda menelpon abang menyampaikan perihal yang akan abang sampaikan sekarang".


Sintia memutuskan untuk menyampaikan sendiri, perihal perjodohan putrinya dengan anak sahabatnya. Agar calon yang dijodohkan dengan putrinya tetap menjadi rahasia dan kejutan nantinya saat pertemuan kedua keluarga.


"Bunda?, kenapa tidak bunda sendiri yang menyampaikan? kenapa harus kak Kenan?". Tanya Rania memberondong.


"Karena amanah ini untuk abang". "Baiklah, sampaikan saja apa yang seharusnya disampaikan".


"Dek, sebenarnya jauh sebelum kita berdua dewasa tepatnya saat abang masih anak-anak dan adek masih didalam rahim bunda, adek sudah dijodohkan dengan anak sahabat bunda". Kenan memuali ceritanya, Rania syok mendengar cerita abangnya, namun dia tetap berusaha tenang untuk mendengarkan cerita selanjutnya.


"Kata bunda, keluarga ini sangat menginginkan adek menjadi bagian dari keluarganya. Orang yang akan dijodohkan dengan adek itu anak tunggal, sementara ibunya sudah tidak bisa lagi mempunyai anak karena sebuah kecelakaan, rahimnya harus diangkat. Semua ini sudah direncanakan ketika Ayah masih hidup, sebenarnya sebelum Ayah meninggal, dia ingin menyampaikan langsung pada abang tapi abang saat itu tidak pulang". Kenan menghela nafas beratnya.


"Lalu?". Tanya Rania singkat.


"Lalu Ayah menitip pesan pada Bunda untuk menyampaikannya pada abang, karena sekarang Abang adalah wali bagi Adek, Bunda awalnya ragu, khawatir adek tidak mempercayai cerita ini, tapi Ayah meyakinkan Bunda bahwa Adek telah berjanji pada Ayah, apapun yang menjadi keputusan Abang, Adek akan patuhi sepenuhnya tanpa ada kata menolak". Lanjut Kenan.


Seketika dada Rania terasa sesak, berusaha menahan himpitan beban janji yang telah dia ucapkan terhadap mendiang Ayahnya.


Itu artinya jodohku sudah ditentukan dan perasaanku takkan bisa membantu apa-apa, pilihanku saat ini hanya menerima bukan menolak, siapapun orangnya. Gumam hati Rania.


Melihat adiknya terpaku, Kenan merasa kasihan, dia tahu betul bagaimana perasaan adiknya selama ini. Saat Rania remaja, Rania sanggup menahan perasaannya untuk tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis karena larangan keras dari Kenan. Kini setelah dia dewasa, saatnya menentukan pilihan hatinya sendiri, perasaan Rania kembali terisolasi dengan perjodohan yang sudah ditentukan.


"Bagaimana dek dengan keputusanmu?".


"Apa keputusan adek masih diperlukan disini? sementara mendiang ayah sudah begitu yakin, adek tidak akan menolak denga perjodohan ini, adek akui, adek memang pernah berjanji kepada mendiang Ayah, tapi apa kakak tahu sebab adek berjanji pada ayah dan sekarang mau tidak mau adek harus menunaikan janji itu, heh?". Suara Rania bergetar.


Sorot mata Kenan merasa bingung dan berusaha bertanya, sebab apa yang membuat adiknya itu berjanji. Rania seakan tahu jawaban apa yang diinginkan abangnya.

__ADS_1


"Semuanya berawal dari kak Kenan yang tidak pulang saat itu, adek marah, adek benci sama kakak, karena yang mendiang Ayah tanya hanya kakak dan kakak, sampai mendiang ayah mengatakan, adek tidak boleh marah dan membenci kakak, bahkan adek diminta untuk berjanji akan selalu mematuhi dan tidak akan menolak apa yang menjadi keputusan kakak". Ungkap Rania kecewa.


"Setelah adek mengucapkan janji itu, apakah sekarang adek masih punya hak untuk menolak perjodohan ini?". Tanya Rania sinis.


"Apa Adek tidak percaya pada calon yang sudah dipilih oleh mendiang Ayah? tidak mungkin mendiang Ayah memilihkan calon yang tidak baik untuk putri yang dikasihinya".


"Adek harus bersikap bagaimana? apa adek harus girang, lompat-lompat karena adek dijodohkan sementara adek tidak pernah tahu siapa dia dan dia pun tidak pernah tahu siapa adek, apa kak Kenan tahu siapa orang yang dijodohkan dengan adek?". Kenan menggelengkan kepala, karena dia pun sebenarnya tidak tahu siapa calon adik iparnya.


"Apa kita batalkan saja perjodohan ini?". Ujar Kenan.


Rania sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya, hati kecilnya merasa bahagia tapi, sungguh Rania tidak ingin mendiang Ayahnya kecewa karena putra-putri yang dikasihinya menghianati keputusannya.


"Apakah kakak berniat mengecewakan mendiang Ayah lagi?". Tanya Rania sinia.


"Lagi?". Ulang Kenan.


"Iya lagi, setelah sebelumnya kakak juga pernah mengecewakan mendiang Ayah selagi hidup, walaupun adek tidak menginginkan perjodohan ini, tapi setidaknya adek tidak pernah punya niat untuk membatalkannya, sekarang tunaikan saja apa yang menjadi keinginan Ayah sama Bunda".


Rania akhirnya menyetujui perjodohan ini, meski hatinya menolak. Saat itu juga bayangan wajah cinta petamanya menari dipelupuk matanya.


****


Setelah tahu bahwa dirinya dijodohkan, Rania lebih sering melamun, seperti sekarang ini dia tidak menjawab panggilan dari sahabat barunya.


"Ran, apa kamu sakit?". Chika menjentikkan jarinya di depan wajah Rania.


"Ah.. Apa? kamu ngomong apa tadi?".


"Ran, kamu ngelamun lagi? kenapa akhir-akhir ini kamu sering ngelamun? apa yang membuatmu terusik?". Tanya Chika.


"Gak ada apa-apa, kamunya saja yang ngasal, aku gak ngelamun kok?". Elak Rania.


"Apa kamu sakit?".

__ADS_1


"Tidak, aku sehat kok". Rania tersenyum walau terkesan di paksakan.


"Tapi wajahmu kelihatan pucat". "Mungkin aku hanya lelah, nanti juga setelah aku istirahat, sumuanya kembali normal, tenang saja aku gak apa-apa". Rania meyakinkan.


Ditempat lain, Kevin sengaja mendatangi kantor Kenan, sekedar untuk bertemu sahabat setelah janjian via telepon.


Hari ini Kevin tidak pergi ke kampus karena dia tidak ada jadwal mengajar. Sesampainya di kantor, Kevin langsung di persilahkan untuk menemui Kenan.


"Hai Bro". Sapa Kevin setelah mengetuk pintu lebih dulu.


"Hai Vin, ayo masuk". Kenan mempersilahkan.


"Gue gak ganggu lo nih?". "Santai aja, kebetulan gue gak banyak kerjaan, oya ada apa tumben kemari, lo gak ngajar?".


"Hari ini gue free gak ada jadwal, makanya gue kemari, sekalian gue mau cerita". Kevin tersenyum.


"Ada apa? biar gue tabak, dilihat dari roman-romannya sih, lo lagi jatuh cinta ya?".


"Emang kelihatan ya?".


"Kelihatan banget, emang sampai sebegitu menariknyakah pesona gadis negeri Jiran? sampai lo harus merasa jatuh cinta terus setiap harinya".


"Gadis negeri Jiran? maksud lo Amanda? gue udah lama putus sama dia, jauh sebelum gue memutuskan pindah kerja kesini".


"Lalu siapa yang sudah membuat beruang kutub di depan gue ini jatuh cinta? cantik gak orangnya?".


"Sialan lo ngatain gue beruang kutub, kalau gue beruang kutub berarti lo gunung es nya. Cewek ini unik, ida gadis yang sedikit tombay, jago bela diri, penampilannya sederhana dan satu lagi yang bikin gue tambah kagum sama dia, gadis ini tidak sama seperti mahasiwi gue yang lainnya, dia tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan, misalnya godain cowok-cowok ganteng, pokoknya beda deh". Ungkap Kevin.


"Jadi, cewek yang lo suka itu mahasiswi lo sendiri?". Kevin mengangguk.


Andai saja, cewek yang lo suka itu adek gue, sayangnya kalian sudah dijodohkan dan dia juga gak jago bela diri, memang sih sedikit tomboy. Gumam hati Kenan.


***BERSAMBUNG***

__ADS_1


Ayo dong vote nya jangan kendor, biar authornya tambah semangat nulisnya...


HAPPY READING


__ADS_2