Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
85. SEBUAH FOTO


__ADS_3

Sofi benar-benar menepati ucapannya, makanan yang dipesan Rania dan teman-temannya digratiskan. Setelah mengucapkan banyak terimakasaih Rania bersama sahabatnya keluar dari Cafe favorit mereka.


"Sekarang kita kemana lagi nih?", tanya Mela.


"Kayaknya kita istirahat dulu aja, lagian sinar mataharinya terik banget, nanti sore kita pegi ke Lembah danau, gimana, setuju gak?", ujar Rania.


"Ok, nanti sore kita kumpul di rumah Rania, kita berangkat seperti jam biasanya kita pergi dulu", timpal Nathan.


Mereka bertiga berpisah menuju rumah masing-masing, setelah Rania mengantarkan kedua sahabatnya pulang.


Setelah sampai di rumah Rania langsung membersihkan diri dari lengketnya keringat dan debu-debu jalanan.


Hampir satu jam Rania berjibaku dengan air, merendamkan tubuhnya di Bathup guna merilekskan diri dengan aroma terapi yang menyegarkan tubuh serta membuat tubuh Rania wangi sepanjang hari.


Setelah selesai mandi Rania menutupi tubuhnya dengan pakaian rumahan, tubuhnya yang sudah segar, dibawanya berbaring diatas kasur empuknya, masih tersisa waktu tiga jam sebelum dia pergi lagi.


Sambil menunggu mata kantuknya terlelap, Rania meraih ponsel di atas nakas, dia membuka galeri foto, dilihatnya hasil jepretannya, ada beberapa foto yang menurutnya hasilnya sangat unik. Lalu diuploadnya foto-foto itu ke akun medsos miliknya, tidak lupa juga Rania membubuhi emoji love pada hastag yg tertera.


Sampai akhirnya tak terasa Rania lalu terlelap begitu saja, membiarkan ponselnya tergeletak di sampaingnya karena lepas dari genggamannya.


****


Ting... Terdengar suara dentingan notifikasi pemberitahuan masuk, saat itu suasananya masih pagi, udaranya hangat karena musim panas masih menyelimuti kota Praha. Ponsel Dafa mendapat notifikasi WA, Dafa langsung membuka lock ponselnya.


Informasi itu datangnya dari Rania yang membagikan foto-foto liburannya di group WA mereka. Diantara foto-foto yang di upload Rania, ada salah satu foto yang mengusik hati Dafa, foto itu menggambarkan sebuah keharmonisan, kekeluargaan, kebersamaan yang terangkum dalam kata melepas rindu bersama sahabat.


Foto itu membuat Dafa menjadi gusar, ada sedikit cemburu kala melihat foto itu, bagaimana tidak dalam foto itu posisi Rania di tengah, terlihat dia tertawa lepas pandangannya yang teduh ditatap oleh Nathan dengan penuh cinta, bersama Mela yang merentangkan tangannya seolah merangkul kedua sahabatnya.


Hati Dafa sedikit terbakar, terlihat dari tatapan gusarnya, melihat wanita yang pernah menempati seluruh ruang kosong dihatinya ditatap penuh cinta oleh pria lain, yang tak lain sahabatnya sendiri.


Apakah mereka memiliki hubungan yang special, shit! kenapa hatiku sakit melihat Nathan menatap Nia seperti itu, apakah aku akan benar-benar kehilangan Nia?. Bathin Dafa berkecamuk.

__ADS_1


Saat itu Dafa berada di apartement kekasihnya, Ayu mengundangnya hanya sekedar untuk sarapan bersama. Dahi Ayu mengkerut ketika melihat netra kekasihnya seperti menahan kekesalan sambil menggenggam ponsel. Ayu lalu teringat beberapa menit sebelumnya, ponsel Ayu berdenting tanda notifikasi pemberitahuan.


Ayu pun kembali ke dapur, meletakkan makanan yang sempat dia bawa untuk disuguhkan kepada kekasihnya. Diraihnya ponsel yang tergeletak begitu saja di meja dapur, dilihatnya isi pemberitahuan itu, ternyata foto-foto Rania bersama sahabat-sahabatnya yang lain, sesaat hati Ayu merasakan kerinduan yang amat sangat pada ketiga sahabatnya itu, namun didetik berikutnya, hatinya begitu panas membara menyaksikan sendiri kekasihnya menatap cemburu pada wanita yang pernah ada dihati kekasihnya.


Apakah hatinya masih terpaut pada NIa? kalau seperti ini terus dia tidak akan pernah lepas dari cinta pertamanya dan selamanya aku hanya akan menjadi kekasih semunya saja. Ini tidak bisa dibiarkan!. Pekik hati Ayu.


Dengan gusar Ayu kembali keruangan dimana kekasihnya berada namun tanpa membawa makanan.


"Kamu jangan seperti ini terus Dafa, aku gak suka, aku cemburu, bagaimanapun juga aku sekarang kekasihmu", ucap Ayu sambil meraih ponsel Dafa dan menghapus semua foto-foto yang sudah dilihatnya.


Dafa tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang benar adanya, Ayu sekarang kekasihnya, tak seharusnya Dafa masih mengingat Rania.


Keputusan Dafa menjalin hubungan dengan Ayu hanya untuk melupakan Rania trnyata salah, nyatanya sampai sekarang Dafa tetap saja masih mengingat Rania.


Ayu yang semakin dibuat kesal oleh kekasihnya, langsung saja dia meraih bibir kekasihnya, dilumatnya bibir menawan kekasihnya itu, belum ada respon apa-apa, digigitnya bibir kekasihnya agar terbuka, dan benar saja bibir Dafa terbuka, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ayu.


Dafa yang mendapat sentuhan mesra dari Ayu pun tergoda, disambutnya ******* dari kekasihnya itu penuh gairah. Adegan itu semakin panas hingga terjadi sesuatu yang seharusnya belum terjadi.


Ayu sengaja menyerahkan dirinya begitu saja pada Dafa, agar Dafa tidak berpaling darinya. Ayu sangat mengenal Dafa, dia pemuda yang sangat bertanggung jawab, hal ini membuat Ayu semakin yakin untuk berbuat lebih jauh.


****


Tubuh Rania menggeliat, mata indahnya perlahan terbuka, diraihnya ponsel yang ada di sampingnya, matanya terbelalak melihat waktu yang beranjak sore, sebentar lagi kedua sahabatnya datang menjemput.


Belum saja Rania turun dari tempat tidurnya, pintu kamarnya ada yang mengetuk.


Tok..Tok.. Tok..


"Nona muda!", seru bik Ijah.


"Ya, ada apa bik?", saut Rania sambil membuka pintu.

__ADS_1


"Maaf nona muda jika saya mengganggu waktu istirahat nona", ujar bik Ijah sungkan.


"Hmmm, saya sudah bangun, sebelum bik Ijah datang, ada apa bik", saut Rania malas.


"Temen-temen nona muda sudah menunggu di bawah",


"Apa!, mereka sudah disini!, hmm bilang sama mereka 30 menit lagi saya turun", ujar Rania lalu menutup pintu kamarnya tanpa mendengar jawaban dari maidnya.


Rania segera masuk kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya, lima belas menit kemudian dia keluar, dan mengenakan pakaiannya lalu merias diri seperlunya. 30 menit yang dijanjikan Rania selesai, dia pun akhirnya turun menemui kedua sahabatnya.


"Hai Mel, hai Than, cepet banget kalian datangnya", sapa Rania.


"Kita yang kecepetan, atau kamu yang molor waktunya", saut Mela.


Rania melihat jam dinding di rumahnya, sontak saja mata indahnya terbelalak melihat waktu yang ternyata sudah lewat lima belas menit dari waktu yang telah dijanjikan bersama.


"Sorry, fix aku yang telat", Rania mengacungkan dua jari membentuk huruf V.


"Ya sudah ayo kita berangkat, nanti kesorean di jalan", ajak Nathan.


Keduanya pun setuju dan bergegas masuk mobil yang dibawa oleh Nathan. Dalam perjalanan menuju Lembah Danau Rania selalu tersenyum, hatinya bahagia liburan kali ini membuatnya melupakan sejenak masalah yang belum terselesaikan.


"Makasih ya Mel", ucap Rania ambigu.


"Makasih?, untuk apa?", tanya Mela bingung.


"Makasih karna kamu pulang ke Indonesia, jadi aku punya temen di waktu liburan seperti ini", jawab Rania.


"Buat kamu Nathan, makasih kamu udah melengkapi liburanku kali ini", lanjutnya.


"Nia, kita ini sahabat, jadi kamu gak usah sungkan, kamu pikir kamu saja yang perlu teman saat berlibur, aku juga perlu makanya aku pulang ke Indonesia", ujar Mela tertawa.

__ADS_1


***BERSAMBUNG***


__ADS_2