Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
86. KENANGAN DI LEMBAH DANAU


__ADS_3

Akhirnya mereka sampai ditempat yang mereka tuju, Lembah Danau masih sama seperti yang dulu, hanya pepohonannya sekarang tampak menjulang lebih tinggi.


Pepohonan disekitar gazebo pun mulai rindang dan menghijau, beberapa gazebo sudah banyak yang direnovasi, kecuali hanya satu gazebo yang belum direnovasi, tidak tahu kenapa.


Gazebo ini letaknya agak jauh dari gazebo yang lain, berjarak dua meter dari bibir jurang Lembah Danau. Gazebo ini masih terlihat sama seperti saat mereka tinggalkan, bangunannya tetap kokoh meski tampak lusuh karan jarang ada yang mendekatinya.


Rania bersama kedua sahabatnya duduk di gazebo tersebut, pandangannya yg teduh mengarah pada lembah yang menjulang terjal dengan air danau yang berwarna hijau pekat, akibat dari biasan mercury.


"Mau bernyanyi", tanya Nathan.


"Gak ada musik pengiring gak seru", ujar Mela dan Rania mengangguk setuju.


"Tunggu sebentar", ujar Nathan, kemudian dia beranjak dari tempat dia duduk, dia kembali ke mobilnya mengambil sebuah gitar yang memang telah dipersiapkannya, karena dia tahu Rania menyukai musik.


"Mau ngapain dia?", tanya Rania. Mela hanya menggidikkan bahu. Tak lama kemudian, Nathan datang dengan membawa sebuah gitar.


"Kamu bawa gitar? terus siapa yang akan metik dawainya?", tanya Rania heran. Setahu Rania, Nathan tidak pandai bermain gitar, namun semenjak Nathan mengetahui jika Rania suka dengan alat musik gitar, dia berusaha mempelajarinya dan akhirnya dia pun bisa.


"Tentu aku, siapa lagi?", Saut Nathan sambil duduk di tempat semula.


"Serius kamu bisa main gitar Than?", tanya Mela. Nathan mengangguk.


"Ini moment langka harus diabadikan", ucap Rania.


Mela mengambil kamera ponselnya lalu mengabadikan video Nathan dan Rania yang sedang bernyanyi.


Lagu yang dibawakan Rania mengingatkan dia pada sekeping hatinya yang pernah diisi oleh seseorang.


"Aku harap kamu dapat mengingat lagu ini Dafa, lagu kenangan kita di Lembah Danau yang penuh keceriaan, meskipun kenangan itu kini seutas lirik hanya rindu". Bathin Rania.


Nathan melihat kearah Rania, dia begitu paham akan kesedihan sahabatnya itu. Tanpa persetujuan Rania, Nathan meraih tubuh Rania membawanya kedalam pelukan, sekedar memberi ketenangan atas polemik yang terjadi dalam hidup sahabat cantiknya.


Moment itupun tak luput dari kaca lensa kamera ponsel milik Mela. Tanpa menunggu lama video berdurasi pendek yang diambil Mela pun dishare ke medsos. Tak lupa juga dia bagikan ke group SMA nya.


Video itu pun menjadi viral untuk kalangan teman-teman mereka semasa SMA, kebanyakan dari mereka memuji keserasian keduanya, jari-jari Nathan yang piawai memetik dawai gitar di padupadankan dengan suara Rania yang lembut nan syahdu membuat lagu itu semakin indah untuk diperdengarkan.


Dafa pun menyaksikan semua isi video yang berdurasi kurang lebih 7 menit, ada secuil cemburu dan rasa sakit saat melihat keserasian keduanya. Lagunya begitu pilu penuh dengan kerinduan yang tak bertepi namun kecantikan Rania mampu menutupi kepiluan dari lagu itu.


"Mengapa aku begitu sakit melihatmu bahagia bersama lelaki lain Nia? apalagi lelaki itu adalah sahabat kita. Apakah aku masih pantas berharap cintamu Nia?", Bathin Dafa.

__ADS_1


****


Hari ini adalah hari terakhir Rania liburan di Kalimantan, karena besok dia sudah harus kemabli ke Jakarta.


Sebelum dia kembali ke Jakarta, dia ingin pergi kesekolahnya dulu tempat dia menimba ilmu saat SMA.


Sore ba'da ashar Rania mengajak Mela sahabatnya untuk pergi ke sekolah tersebut.


"Mela, bisakah hari ini kamu menemaniku?", tanya Rania dalam sambungan teleponnya.


"Kemana? apakah masih ada tempat yang belum kita kunjungi?, Mela balik bertanya.


"Ada dan tempat ini wajib untuk kita kunjungi, tempat ini sangat bersejarah buat kita", saut Rania.


"Benarkah? tempat apa itu dan dimana, setahuku tempat bersejarah buat kita sudah dikunjungi semua", ujar Mela.


"Apakah kamu lupa dengan sekolah kita?", tanya Rania.


"Oh, iya aku hampir melupakannya Nia", ujar Mela.


"Tiga puluh menit lagi aku akan menjemputmu Mela, bye", ucap Rania lalu menutup teleponnya.


****


Waktu yang dijanjikan Rania telah tiba, Mela pun sudah siap dan menunggu kedatangan sahabatnya menjemput.


Tidak lama kemudian Rania datang menjemput, tanpa basa-basi Mela masuk ke dalam mobil lalu mereka berangkat menyusuri jalan yang selalu mereka lewati kala mereka sekolah dulu.


Di jalan ini pun mengukir sejarah yang tak kalah pentingnya bagi Rania karena jalanan ini selalu Ia lewati bersama Dafa, seorang lelaki tampan yang menjadi cinta pertamanya.


Cinta itu kini entah kemana, seolah menguap bersama masalah yang menimpa Rania, ditambah lagi dengan jejak Dafa yang hilang tak meninggalkan bekas.


Rania bertekad dalam hati setelah sepulangnya dia dari Kalimantan, dia akan menjadi Rania yang baru yang tak mudah untuk dikalahkan oleh kesedihan.


Setelah menempuh perjalanan setengah jam, kini mereka telah sampai digerbang sekolah yang megah nan indah, sekolahan itu tak banyak perubahan hanya beberapa bangunan yang nampak direnovasi.


Pepohonan yang rindang serta tanaman bunga yang tertata rapi membuat sekolah itu menjadi sejuk dan semakin terlihat indah.


Mobil Rania masuk kearea parkiran, yang sebelumnya telah mendapat izin dari satpam yang menunggu sekolah itu.

__ADS_1


Keduanya langsung turun dan menuju roof top yang biasa untuk Rania menyendiri. Setelah sampai disana ternyata tempat itu tidak berubah masih sama seperti saat keduanya meninggalkannya. Kini tempat itu terlihat kusam karna tidak ada yang mendatangi tempat itu.


"Tempat ini masih sama Nia", ucap Mela.


"Iya tempat ini masih sama namun kenangannya sedikit berbeda", saut Rania.


"Apa maksudmu Nia, kenangan apa? bukankah tempat ini hanya kita berdua yang tahu?", tanya Mela.


"Ya kamu benar, tapi aku membawa kenangan lain ketempat ini Mela, kamu ingat saat terakhir kita sekolah disini, suatu hari nanti aku akan membawa kenangan itu kembali", ungkap Rania.


"Iya aku ingat, lalu kenangan apa yang ingin kamu bawa kembali kesini?", ujar Mela tak mengerti.


Rania sesaat terdiam, menata hatinya untuk mengungkapkan seluruh isi hatinya, agar pada saat dia kembali nanti ke Jakarta dia tidak lagi mengingat kenangan itu.


"Kamu tahu Mela, aku sangat mencintai Dafa sejak dulu hingga saat aku mendengar dia telah mencintai gadis lain yang tak lain adalah Ayu sahabat kita sendiri", ungkap Rania memulai ceritanya.


"Apakah Dafa mengetahinya?", tanya Mela.


"Tidak, bahkan Dafa juga mencintaiku, aku mengetahuinya saat aku telah dijodohkan oleh mendiang ayahku, saat itu aku berkeluh kesah pada Nathan dan Nathan menceritakan semuanya, ternyata selama ini kami saling mencintai dalam diam", jelas Rania.


"Kamu dijodohkan? lalu kamu terima perjodohan ini?", tanya Mela.


"Iya, aku dijodohkan dengan anak tunggal dari sahabat kedua orang tuaku Mel, awalnya aku menolak, tapi karena aku sudah terlanjur berjanji pada mendiang ayah, akhirnya aku menerima perjodohan itu", ujar Rania.


"Lalu kalian sudah tunangan", tanya Mela hati-hati.


Rania terdiam, pertanyaan Mela tersa bagai pukulan yang menghantam hatinya, terasa begitu menyakitkan.


***BERSAMBUNG***


Maaf readers.. Author baru UP lagi, karena banyak sekali yang harus Author selesaikan di dunia real.


In sha Allah Author akan aktif kembali menulis..


Jangan lupa selalu dukung Author dengan cara like, koment dan vote.


Terimakasih..


salam manis rose_daylin

__ADS_1


HAPPY READING


__ADS_2