
Dafa berhenti di toko bunga tersebut lalu membeli sebucket bunga mawar merah yang rencananya akan diberikan kepada Rania.
Hari ini Dafa sudah tidak lagi sanggup untuk menahan perasaannya, ia ingin segera menyatakan perasaannya pada Rania bahwa sesungguhnya ia sudah lama jatuh cinta pada Rania sahabatnya.
Langkah Dafa saat melewati taman rumah sakit, ada semburat rasa kecewa dan bahagia ketika melihat gadis yang dicintainya tertawa bahagia bersama orang lain.
Diakah someone itu? Mengapa aku begitu naif mengharapkan cintamu jelas-jelas kamu sudah memiliki tambatan hati. Jika memang benar itu dia maka aku melupakan semua rasaku untukmu Nia. Dafa.
Dafa lalu pergi meninggalkan koridor rumah sakit tanpa menemui sahabatnya dan sebucket bunga mawar merah terhempas jatuh ke lantai.
****
Keesokan harinya dengan wajah sumringah Rania berlari menyusuri Koridor membawa berita gembira.
"Ayah, adek lulus lihat sekarang adek bukan anak SMA lagi" Rania bertepuk tangan ria setelah berada di ruang rawat ayahnya.
"Anak ayah memang hebat, setelah ini kamu mau kuliah dimana nak?" tanya ayah.
"Adek belum tahu yah, adek masih ingin merawat ayah dulu" saut Rania singkat.
"Ayah biar bunda yang merawatnya, kamu harus tetap kuliah nak" timpal Sintia.
"Bunda adek ingin memastikan ayah sehat dulu, setelah itu adek janji akan kuliah".
Setelah Rudi Sarapan Rania mengajak ayahnya jalan-jalan di taman rumah sakit sembari menghirup udara segar.
"Bunda hari ini biar adek aja yang ngajak ayah jalan-jalan, ayah maukan adek temani?".
"Tentu saja sayang, ayah mau" Senyum Rudi ceria.
Kedua ayah dan anak itu pun meninggalkan Sintia sendiri dalam ruangan.
"Nak apa kamu sudah menghubungi abangmu?" tanya Rudi setelah berada di taman.
"Untuk apa yah, sampai saat ini pun kakak masih tidak bisa dihubungi bahkan dia tidak menepati janjinya".
"Nak semarah apapun kamu sama abang, jangan pernah mengabaikannya".
"Jika dia ingin adek memperdulikannya, dia juga harus peduli dengan ayah".
"Sudahlah yah jangan bahas kak Kenan belum tentu dia ingat dengan kita disini".
"Nak jika suatu saat nanti ayah tiada, jangan pernah membantah ucapan abangmu, apa yang dia katakan untuk kebaikanmu patuhi dia seperti adek patuh sama ayah".
__ADS_1
"Tapi yah, kak Kenan beda tidak sama seperti ayah".
"Anggap saja itu janji yang pernah adek ucapkan waktu ayah koma, bahwa adek akan patuhi semua keinginan ayah tanpa membantah".
Rania mengingat dengan jelas janji yang diucapkannya sesaat sebelum ayahnya bangun dari koma. Diapun tak dapat lagi membantah.
"Baiklah ayah, tapi untuk kali ini saja jangan paksa adek untuk menghubungi kak Kenan. jujur adek kecewa sama kakak".
****
Sejak hari itu kesehatan Rudi terus menurun, Rudi selalu menayakan keberadaan putranya yang tidak berkabar.
Hingga akhirnya keluarga ATMAJA dilanda duka keesokan harinya Rudi Atmaja seorang pengusaha ternama dinyatakan meninggal oleh dokter yang menanganinya.
Rudi meninggal di rumah sakit miliknya padahal sebelumnya dokter mengatakan bahwa sore ini Rudi boleh pulang ke rumah. Ya rudi memang pulang ke rumah tapi dalam keadaan tidak bernyawa.
"Ayaaaahhhh.... jangan tinggalin adek yah, ay..ayah bangun yah, jangan becanda yah ini gak lucu yah" tangis Rania menggema dalam ruangan VVIP.
Sintia tak lagi mampu menahan kesedihannya, dia tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri.
"Ayah.. lihat bunda yah, bunda pingsan ayah gak kasihan? udah dong yah becandanya" Rania semakin terisak.
Rania mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri menerima kenyataan bahwa laki-laki yang begitu dicintainya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Rania duduk termangu di samping bankar ibunya yang belum sadarkan diri, sementara jenazah Rudi dimandikan oleh pihak rumah sakit.
Di rumah kediaman keluarga ATMAJA sudah banyak para pelayat dari tetangga sekitar dan collega-collega bisnis Rudi yang menunggu kedatangan jenazah.
"Dek, bunda bermimpi ayah meninggal" ucap Sintia yang baru saja siuman.
"Bunda ini gak mimpi, ayah memang sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya" Sintia lalu memeluk putrinya.
"Sekarang jenazah ayah dimana?". "Jenazah ayah sedang dimandikan bun".
"Bunda mau kesana melihat ayah untuk yang terakhir kalinya" ujar Sintia lalu meninggalkan putrinya sendiri.
Rania hanya duduk termangu melihat kepergian bundanya, sungguh rania tidak sanggup untuk melihat jenazah ayahnya, airmatanya terus rembes meskipun sudah disekanya.
Ayah pergilah dengan tenang, adek akan selalu berdoa semoga ayah bahagia disana. Adek disini akan selalu rindu dengan ayah, jangan khawatir adek akan menjaga bunda dengan baik. Gumam Rania pada diri sendiri.
"Lihat ayah, saat adek berduka tidak satupun orang terdekat adek berada di samping adek" ucap Rania lirih.
"Tidak Nia, masih ada aku yang akan menemani dalam kesendirianmu meskipun yang lain tidak ada disini" ujar Nathan. Rania menoleh ke belakang lalu berdiri dan memeluk sahabatnya.
__ADS_1
"Nathan, apa aku tak berhak untuk bahagia? mengapa musibah selalu menghampiriku?" ungkap Rania dalam tangisnya.
"Bersabarlah Nia, aku yakin Tuhan punya rencana yang indah untukmu. Aku akan selalu ada disini untukmu".
"Terimakasih Nathan, kamu ada saat ku terpuruk dalam duka".
"Itu gunanya sahabat, sekarang kuatkan dirimu hadapilah kenyataan dengan keikhlasan. Mandikanlah jenazah ayahmu untuk yang terakhir kalinya" ujar Nathan menguatkan Rania.
Dengan semangat Rania berjalan ke arah ruangan tempat jenazah ayahnya dimandikan setelah itu jenazah Rudi di kafani dan siap untuk dibawa pulang.
****
Sore ini pemakaman Rudi Atmaja terpaksa dilaksanakan tanpa kehadiran anak sulungnya setelah empat jam menunggu.
Kamu kemana nak, mengapa sulit sekali dihubungi. Sintia.
Apa yang membuatmu begitu sulit untuk dihubungi kak, kasihan ayah sudah terlalu lama menunggumu. Apakah perempuan itu lebih penting dari pada keluargamu sendiri?. Rania.
Pemakaman Rudi Atmaja telah selesai para pelayat yang ikut serta dalam iring-iringan jenazah telah pulang ke rumah mereka masing-masing.
Tinggalah Rania bersama ibunya dan sahabat terdekat Sintia yang masih tertinggal.
"Sin, aku tahu kamu berduka tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan kasihan almarhum, sebaiknya kita pulang" ujar Hanum.
Sintia dengan berat hati meninggalkan pusara suaminya yang masih basah. Sedangkan Rania masih ingin tetap tinggal.
"Biar Nia saya yang temani tante" ujar Nathan. "Tante titip Nia ya Jo?" ucap Sintia lalu pergi dari TPU.
"Than, aku begitu mencintai ayahku lebih dari diriku sendiri, selain cintanya aku tidak pernah percaya cinta yang lain".
"Maksudmu apa Nia aku gak ngerti?".
"Aku pernah jatuh cinta tapi, belum sempat cinta itu aku utarakan sudah kandas duluan. Makanya aku tidak pernah percaya dengan cinta selain cinta ayahku dan sekarang cintaku telah pergi Than untuk selama-lamanya".
"Tidak ada yang menginginkanku bahagia, bahkan kakakku sendiri" imbuhnya lagi.
"Pasti akan ada orang yang menginginkan kamu bahagia Nia percayalah".
"Siapa? mana orangnya? kamu gak bisa jawabkan?".
"Ada Nia, aku orangnya, aku sahabat kamu yang selalu menginginkan kamu bahagia, jika di dunia ini tidak ada yang menginginkan kamu bahagia maka aku akan berusaha membuatmu bahagia" ungkap Nathan berkaca-kaca.
Rania menangis (hiks hiks hiks).
__ADS_1
***BERSAMBUNG***