Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
92. RENCANA RANIA


__ADS_3

"Lalu apa yang menjadi alasan kamu memilih dia dan membandingkan gadis itu dengan Nia, adikku? Jika identitasnya saja kamu tidak tahu" ujar Kenan berpura-pura emosi.


"Aku juga tidak tahu mengapa, tapi aku begitu sangat yakin dialah gadis yang aku inginkan" sahut Kevin.


"Semoga kamu tidak akan menyesal dengan pilihanmu" timpal Kenan.


"Tapi aku membutuhkan bantuan mu untuk kali ini" cicit Kevin.


"Bantuan apa yang kau maksud?" tanya Kenan.


"Aku pernah melihatmu menjemput Ran, saat pulang sekolah beberapa Minggu yang lalu" ungkap Kevin.


"Aku yakin kau pasti tahu alamat rumahnya" lanjut Kevin.


"Oh, jadi karna itu kau ingin meminta bantuan ku, sayangnya aku tidak sampai mengantarkan ke rumahnya" ungkap Kenan.


"Kenapa?" tanya Kevin sambil menautkan kedua alisnya.


"Aku sedikit kecewa, ternyata gadis yang aku bawa hari itu telah memiliki seseorang yang dia cintai" saut Kenan santai sambil memperhatikan air muka sahabatnya.


"Lalu Ran, kau kemana kan?" tanya Kevin penuh selidik.


"Ya gadis itu aku turunkan di pinggir jalanlah?" jawab Kenan santai menahan senyum.


"Kau turunkan di pinggir jalan!" ulang Kevin penuh emosi. Kenan hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Tidak ku sangka, kau sungguh tidak punya hati Ken, ingat kau itu punya adik perempuan, seharusnya kau tahu, bagaimana perasaan kau jika posisi gadis itu berada diposisi adik mu? Kau pasti akan merasakan sakit juga Ken" cerca Kevin.


"Apa kamu tidak sedikitpun merasa iba terhadap gadis itu, aku saja yang bukan siapa-siapanya merasa sakit mendengar dia mendapat perlakuan buruk darimu" lanjut Kevin kesal.


"Salahku dimana? Apa karna aku menurunkannya di pinggir jalan, lalu kau menganggap aku lelaki tidak bertanggung jawab?" tanya Kenan.


"Aku melakukannya, karna aku tidak ingin dianggap sebagai orang ketiga dalam hubungan mereka, ya walaupun sebenarnya aku ingin mendekatinya, tapi gadis itu sudah mencintai orang lain, aku mundur saja" lanjut Kenan, sambil menunggu reaksi dari sahabatnya.


"Jadi benar, jika dia telah memiliki kekasih, aku harus berusaha lebih keras lagi sekalipun aku harus bersaing dengan mahasiswaku sendiri" sungut Kevin.


"Wow, ingat sobat gadis itu telah memiliki kekasih" ujar Kenan mengingatkan.


"Peduli setan dengan semua itu! Aku harus mendapatkannya dengan cara apapun, selama dia belum terikat tali perkawinan, ada kemungkinan buatku untuk memperjuangkan cintaku kepadanya" sahut Kevin berang.

__ADS_1


Kevin yang sudah tersulit emosi, tanpa pamit dia pun berlalu pergi meninggalkan ruangan sahabatnya dengan membawa sejuta kekesalan dihatinya.


Kenan hanya tertawa tergelak melihat tingkah Kevin yang terlihat kesal.


"Sepertinya kamu harus berjuang lebih keras lagi kali Vin, karna aku yakin Nia tidak akan semudah itu bisa menerimamu, setelah kamu sempat menolaknya" gumam Kenan lirih.


****


Sore ini Rania terlihat sedikit lebih sibuk dari hari biasanya, karena beberapa hari lagi dia akan melangsungkan pesta ulang tahunnya yang ke 19.


Segala persiapan telah dilakukannya mulai dari sewa gedung, kemudian gaun pesta yang akan dikenakannya nanti.


Semua telah ditulis dalam list persiapan ulang tahunnya, hanya yang belum dia persiapkan menu makanan untuk di pestanya nanti.


"Bunda!" panggil Rania saat dia sudah berada di ruang keluarga.


"Iya nak, bunda disini" jawab Sintia dari halaman belakang.


Setelah mendengar jawaban dari ibunya, Rania segera menyusulnya ke halaman belakang. Saat melihat putri semata wayangnya datang menghampirinya, Sintia tersenyum sumringah.


"Ada apa nak, memanggil bunda?" tanya Sintia lembut.


"Bunda aja ya, yang susun menu makanannya?" lanjut Rania.


"Iya, biar nanti bunda saja yang susun menu makanannya, listnya sudah adek serahkan sama abang?" tanya Sintia.


"Belum bunda, tapi semuanya sudah ada dalam list, adek memilih gedung terbaik di kota ini, pada saat ulang tahun adek nanti, adek akan tunjukkan pada semua orang bahwa adek ini adalah Rania Cahaya Atmaja" ungkap Rania pasti.


"Apa kamu yakin nak?" selidik Sintia.


"Adek tidak pernah seyakin ini bunda" sahut Rania.


Kemudian ibu dan anak itu pun terus bercengkrama, menghabiskan waktu yang tersisa sebelum menjelang malam.


****


Suasana malam hari saat di meja makan terasa begitu hangat, karena Kenan hari ini pulang kerja lebih awal, sehingga dia bisa ikut makan malam bersama ibu dan adiknya.


Tidak banyak yang mereka bicarakan saat berada di meja makan, hanya sekedar membahas pesta ulang tahun Rania yang akan digelar beberapa hari lagi.

__ADS_1


"Kak, adek mau kak Kenan carikan gedung yang terbaik di kota ini untuk tempat pesta ulang tahun adek" celetuk Rania.


"Kenapa harus di gedung? Di rumah kita juga kan cukup apalagi halaman di belakang rumah luas banget, adek hanya akan mengundang teman-teman kampus kan?" tanya Kenan.


"Habiskan dulu makanannya, nanti baru dibahas lagi" tegur Sintia pada kedua anaknya.


Merekapun menuruti apa yang diperintahkan oleh ibunya. Tanpa banyak komentar mereka menghabiskan makan malamnya dengan lahap.


Setelah selesai makan malam, Kenan lalu masuk ke dalam kamarnya, dia ingin melepas penat sejenak setelah seharian berada di kantor berjibaku dengan pekerjaan yang menurutnya tidak ada habisnya.


Kamar Kenan terketuk dan pintu terbuka, melihatkan sosok yang tengah berdiri dipintu kamarnya.


"Kenapa hanya berdiri disitu ayo masuk!" perintah Kenan pada adiknya.


Rania lalu masuk, menghampiri abangnya dan duduk di sebelah Kenan.


"Kak Kenan gak suka ya adek mengadakan pesta ulang tahun di gedung?" tanya Rania hati-hati.


"Tidak begitu dek, sekarang gini deh apa adek tidak mau temen-temennya tahu rumah adek?" tanya Kenan balik.


"Ingin sih kak, tapi dalam pesta ulang tahun itu, adek mau mengungkapkan suatu kebenaran yang selama ini adek sembunyikan" jawab Rania lirih.


"Apa adek mau membuka jati diri adek sebenarnya?" tanya Kenan.


"Itu salah satunya kak, tapi ada yang lebih penting lagi dari itu, ini masalah tentang orang yang selalu mengusik adek yang ternyata orang tuanya itu kuli di perusahaan kita" jawab Rania penuh emosi.


Mendengar jawaban dari adiknya yang begitu serius, Kenan laku mengiyakan keinginan adiknya, untuk menggelar pesta ulang tahun di gedung yang diinginkan adiknya.


"Abang akan buatkan pesta ulang tahun yang megah dan meriah untuk adek, pesta ulang tahun yang akan selalu mereka ingat sepanjang sejarah dalam pesta ulang tahun" ungkap Kenan tegas.


"Benarkah kak?" ujar Rania antusias. Kenan mengangguk, lalu tersenyum kearah adiknya. Saat itu juga Rania loncat kegirangan karena pesta ulang tahunnya akan digelar penuh kemeriahan.


"Abang yakin dek, ini ada hubungannya dengan penampilanmu yang culun dan orang-orang yang pernah menyerangmu, Abang ingin tahu siapa orang yang sudah berani mengusik ketenangan mu bahkan disaat penampilan burukmu" gumam bathin Kenan.


****BERSAMBUNG****


Maaf readers, author baru up lagi karena kesibukan author yang tidak bisa ditunda.


salam manis

__ADS_1


rose_daylin😘😘


__ADS_2