Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 99. Sama-Sama Terluka


__ADS_3

Dari kejauhan Gio melihat Yanda yang sedang tertawa bahagia dengan seorang pria berbadan tegap. Gio mengikuti Ayanda dari belakang dengan sedikit berlari. Karena keadaan Malioboro yang sedang ramai-ramainya, ia pun kehilangan jejak.


"Sial!" umpatnya kesal.


Andri yang diajak Ayanda masuk ke dalam salah satu toko batik, nampak bingung. Apalagi melihat Ayanda seperti orang yang sedang mengintai.


"Cyiin, ada apa?" tanya Andri dengan suara lebaynya.


Ayanda hanya menggeleng dan tersenyum kepada Andri. "yuk, kita pulang," ajaknya.


Setelah sampai di rumah ia segera masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Andri sedang asyik bergosip ria dengan putrinya.


"Kenapa kamu ada di sini?" gumam Ayanda, ketika membuka galeri foto di ponsel miliknya. Foto candid antara dirinya dan Giondra.


"Maaf, aku belum siap untuk bertemu denganmu," lirihnya.


Ia mematikan ponselnya, ia tak ingin menangis lagi sekarang. Sudah cukup luka dan derita yang ia rasakan. Kini, waktunya untuk Ayanda bahagia.


Malam telah larut, namun Ayanda enggan terpejam. Wajah Giondra yang ia lihat sore tadi tak bisa hilang dari ingatannya. Wajah tampannya kini terlihat lebih tirus, langkahnya gontai seperti menanggung beban yang sangat berat.


"Apakah kamu selama ini mencari ku?" gumamnya yang telah bersandar di kepala ranjang.


Ayanda menutup matanya sejenak. Meredamkan sesak yang sudah menjalar ke dadanya. "aku gak boleh nangis," Monolognya.


Pagi harinya, seperti biasa Ayanda dijemput Andri. Sedangkan Echa memilih home schooling, karena sekolah favorit di desa ini jaraknya jauh. Ayanda tidak setuju, sehingga ia rela mengeluarkan uang yang cukup besar untuk biaya sekolah putrinya.


"Muka kenapa cyiin, kucel amat kaya baju yang belum disetrika," tanya Andri.


"Gak bisa tidur aku," jawabnya.


Andri mengerutkan kedua alisnya seolah bertanya kenapa. Ayanda hanya mengangkat bahunya.


Pagi ini, harusnya Giondra kembali ke Singapura. Ia menunda kepulangannya untuk beberapa hari ke depan. Ia berniat untuk mencari Ayanda di sini, di Yogyakarta. Tidak akan kembali sebelum dirinya bertemu dengan Ayanda. Tanpa banyak tanya, Remon pun mengikuti kemauan atasannya.


Di toserba barunya di Malioboro, Ayanda tidak fokus dengan pekerjaannya. Ia memijat pangkal hidungnya yang teramat pusing. Bayang-bayang wajah Gio tak mampu hilang dari ingatannya. Hingga ia memutuskan untuk keluar sebentar mencari angin segar. Tak lupa Ayanda pamit kepada Andri agar menghandle semuanya ketika ia tak ada.


"Tenang, aku atur semua," jawab Andri dengan senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya.


Bukannya Andri tidak tau tentang kisah hidup Ayanda. Hanya saja, itu bukan kapasitasnya untuk bertanya dan kepo lebih jauh. Kecuali, memang sahabatnya itu bercerita. Akan tetapi, Ayanda menutup rapat semuanya. Seolah dirinya baik-baik saja. Pada nyatanya, Ayanda tetaplah wanita biasa yang penuh dengan kerapuhan.


Setelah kepergian Ayanda yang entah kemana, ada seseorang yang masuk ke dalam toserba. Wajah yang sangat tampan, kharismanya yang sangat kuat dan penampilannya yang begitu modis menyempurnakan semuanya. Andri saja yang manusia dua dimensi meneteskan air liur ketika melihat pria di depannya dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


"Apa ini benar toserba milik Ayanda?" tanyanya pada Andri yang sedang menganga tanpa berkedip.


"Mas!" panggil si pria dengan sedikit berteriak.


"Eh, i-iya Pak. Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya semanis mungkin sambil mengedipkan mata genitnya.

__ADS_1


Gio merasa geli dengan tingkah manusia siluman di depannya. Ya, pria itu adalah Giondra. Setelah mendapat kabar dari anak buahnya, ia langsung mendatangi toserba milik Ayanda. Ia berharap akan bertemu Ayanda di sini, tapi nihil. Ayanda sedang tidak ada di toserba miliknya. Wanita yang dicintainya sedang keluar dan Andri pun tak tahu Ayanda kemana. Gio memutuskan untuk menunggu saja di toserba milik Ayanda.


Di sinilah Ayanda, di kedai kopi yang tak jauh dari toserba miliknya. Hanya secangkir kopi atau segelas ice coffee yang menjadi penenang hati dan pikirannya saat ini.


Ayanda hanya terdiam, memandang secangkir kopi yang baru saja ia pesan.


Kenapa kamu datang ke sini? Ketika aku sudah merasa sedikit bahagia hanya dengan putriku. Kenapa aku harus melihatmu lagi? batinnya lirih, namun kali ini tak ada air mata setetes pun yang keluar. Seolah air matanya sudah mengering.


🎵🎵🎵🎵🎵


Mencoba bertahan atau melapaskan


Hubungan yang sudah terlanjur berjalan


Memilih bertahan hanya jadi beban


Lebih baik, ku pilih lepaskan,,


🎵🎵🎵🎵🎵


Alunan lagu yang diputar di kedai kopi ini seolah menggambarkan hatinya sekarang ini. Wajah Ayanda kembali sendu. Hatinya menangis, namun matanya enggan untuk mengeluarkan air mata.


Tanpa Ayanda sadari, ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Ingin rasanya Remon memberitahu Bossnya, tapi melihat wajah Ayanda yang banyak menyiratkan kesedihan ia urungkan. Semuanya pasti akan kacau.


Kalian sama-sama terluka di sini, batin Remon.


Satu jam sudah Giondra menunggu Ayanda, namun tak kunjung datang juga. Sebenarnya Gio sudah pengang mendengar ocehan unfaedah dari asisten Ayanda. Demi bertemu Ayanda, ia rela terganggu oleh polusi suara dari Andri.


"Echa!" sapanya dengan tersenyum ke arah putri angkatnya.


"Ngapain Papa ke sini?" tanyanya sinis.


"Papa kangen kamu dan Mamahmu," jawab Giondra.


Echa hanya tersenyum tipis. "kangen? Kangen bikin Mamah pergi?" sahutnya.


Giondra hanya terdiam mendengar ucapan dari Echa.


"Aku yang meyakini jika Papa akan membahagiakan Mamah, tapi nyatanya malah bikin Mamah pergi. Aku kecewa sama Papa, sangat kecewa."


"Maafkan Papa, Papa memang salah," jawab Gio sangat menyesal.


"Percuma Papa minta maaf sekarang. Tidak akan mengembalikan hati Mamah yang udah terlanjur kecewa dengan Papa. Termasuk Echa," teriaknya.


Andri yang kaget melihat Echa seperti orang kesetanan langsung memeluk tubuhnya.


"Sekarang Papa pergi, pergi!!!" usirnya, dengan isak tangis.

__ADS_1


Andri yang masih memeluk tubuh Echa merasa bingung apa yang telah terjadi sehingga Echa semurka ini. Gadis periang dan juga bawel bisa jadi gadis garang bertaring.


"Onta, jangan bilang ini ke Mamah," pintanya pada Andri. Andri hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya ia akan tetap memberitahukan ini semua kepada sahabatnya. Apalagi tadi Andri mendengar sendiri jika pria itu adalah calon suami dari Ayanda.


Mungkin hanya salah paham, batinnya.


Ayanda mendapatkan pesan dari Andri jika dirinya akan keluar bersama Echa. Ayanda pun menuju toserba miliknya. Baru saja Ayanda pergi dari kedai kopi, Giondra masuk menemui Remon di dalam kedai kopi.


Remon bisa menebak ada hal buruk yang menimpa bossnya. Giondra menyenderkan kepalanya ke sofa.


"Echa sangat marah," ucapnya pada Remon.


Remon sudah menduga semua ini, jika mereka kembali yang akan menjadi kerikilnya yaitu Echa. Karena Echa sudah terlanjur kecewa terhadap Giondra.


"Boss lebih baik ke toserba Bu Ayanda lagi," sahut Remon.


"Gua baru aja dari sana," balas Gio emosi.


"Tapi boss gak ketemu Bu Ayanda kan?" tanya Remon. Gio hanya menggelengkan kepalanya.


"Sekarang boss ke sana lagi, saya yakin boss akan bertemu dengan Bu Ayanda," ujar Remon serius.


Gio bingung dengan perkataan Remon, tapi melihat keseriusan wajahnya ia mengikuti arahan dari Remon.


Ketika Giondra sudah berada di depan pintu toserba, ada rasa ragu di hatinya. Dengan sedikit ragu ia membuka pintu toserba.


"Selamat datang di ...."


Ayanda menghentikan ucapannya. Tatapan dua pasang mata pun bertemu. Sangat terlihat jelas dari mata mereka menyiratkan kerinduan dan juga kepedihan. Tak ada sepatah kata pun yang terdengar. Hanya saling mematung dan saling memandang.


*****


Hay,,


Aku mau curhat nih, mungkin ini unek-unek ku selama ini ya.,


Jika kalian tidak suka atau ada cerita yang tidak sesuai dengan ekspektasi kalian atau haluan kalian ya tolong jangan komen yang gak ngenakin dong. Aku ini emang jarang banget bales komenan kalian tapi aku itu selalu baca komen kalian.


Sebenarnya aku gak peduli sih dengan komenan yang rada nyelekit, sekali dua kali sih it's oke aku gak masalah. Tapi ini ... udah sering terus pake bahasa orang bule. Ya kali aku gak ngerti dengan apa yang di komenin, mentang-mentang aku orang Indonesia tulen. Aku juga manusia yang punya emosi dan marah. Kalo gak suka, mending gak usah komen cukup diam itu lebih baik daripada mancing emosi aku. Mending mancing ikan sonoh dapet ikan, mancing emosi aku cuma dapet kata-kata pedas nan menohok dari aku.


Aku tau pasti kalian punya banyak novel favorit kan. Jadi, hargailah kami para author. Demi menghibur dan memuaskan para reader, kami susah payah mencari ide, setelah dapat harus dituangkan ke dalam tulisan dan itu gak mudah loh. Tapi, Pas udah terbit komenan pedas yang kami dapat. Gimana rasanya tuh?


Ayolah jadi smart readers. Kasih semangat kepada para author agar lebih baik lagi dalam berkarya. Bukan malah bikin down para author. Komenan reader bisa jadi penyemangat dan juga peluru mematikan. Ya, aku berharap sih komen yang positif- positif aja ya sayang,,


curhatan End.


Jangan lupa kencengin like, komen dan votenya yaa,,

__ADS_1


Happy reading semua,,,


Maaf curhatannya panjang,


__ADS_2