
Seminggu sudah dari acara lamaran romantis dadakan yang dilakukan oleh Gio untuk Ayanda. Hubungan mereka kian hari kian lengket bak perangko. Sifat posesif Gio terkadang membuat Ayanda malu sendiri. Apalagi jika sudah di kantor, sudah dipastikan dirinya akan menjadi bahan bisikan para karyawan.
Ayanda sedang di ruangannya sekarang. Ia sama sekali tidak menyangka jika jalan hidupnya akan rumit seperti ini. Lelaki yang ia yakini akan menjadi kekasih dunia akhiratnya ternyata hanya diciptakan sebagai tempat persinggahan hatinya untuk sementara.
"Semoga kamu menjadi yang terakhir untukku, Gi," gumamnya.
Dirinya kini sedang menatap gedung-gedung tinggi dari balik jendela. Pandangan tertuju ke arah depan, tapi pikirannya malah teringat masa lalunya dengan mantan suaminya. Lama ia berdiri, tanpa ia sadari tangannya menyentuh dadanya sendiri. Mengisyaratkan sakit yang teramat dalam.
"Ternyata luka yang kamu goreskan masih meninggalkan sakit, sudah ku coba untuk menghilangkan rasa sakit ini tapi tetap terasa seperti luka baru, masih perih," ujarnya pelan.
"Ternyata sembilan tahun tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang tak berdarah ini," imbuhnya lirih.
Tak terasa bulir air matanya menetes, pengkhianatan, kesedihan, kerapuhan, kesakitan kumpul menjadi satu dan berputar-putar di memori otaknya. Ayanda menunduk dalam dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
Ada sesosok pria yanh sedari tadi berdiri di belakangnya. Kemudian ia berjalan pelan tanpa suara dan berdiri tepat di sampingnya. Terdengar jelas isakan tangis lirih namun pelan. Lalu Gio menggenggam tangan wanitanya tanpa kata.
Ayanda melihat ke arah sampingnya dengan wajah yang sudah bermandikan air mata. Gio hanya menunjukkan seulas senyum ke arahnya. Tanpa aba-aba Ayanda langsung memeluk Gio dengan erat. Menumpahkan semua kesakitannya dalam tangisnya. Gio hanya mempererat pelukannya, membiarkan calon istrinya menangis dalam dekapannya.
Setelah kekasihnya dirasa sudah sedikit lega, ia mengajak Ayanda duduk di sofa. Gio bersimpuh di hadapan Ayanda yang masih dengan mata sembabnya.
"Jangan pernah menangis sendiri, ada aku yang akan menjadi bahu untukmu bersandar dan juga ada tanganku untuk menggenggammu ketika kerapuhan menghampirimu lagi. Jadikan aku sebagai tumpuan hidupmu," ujar Gio dengan menggenggam tangan Ayanda dan menatap wajah Ayanda dalam.
"Masih terasa sakit, Gi," balasnya.
Gio langsung memeluk tubuh rapuh Ayanda, mencoba menyalurkan ketenangan kepadanya agar perlahan tapi pasti bisa melupakan setiap kenangan buruk dalam hidupnya.
"Aku janji, akan selalu membahagiakanmu Sayang," ucap janjinya pada Ayanda.
"Apa kamu masih belum bisa merelakannya?" tanya Gio yang sudah duduk di bawah sofa yang Ayanda duduki.
"Aku sudah ikhlas, hanya saja luka yang bertahun-tahun aku rasakan masih sangat terasa perih," jawabnya.
"Jangan pernah memaksa untuk menyembuhkan luka yang belum saatnya mengering. Biarkanlah lukamu itu sembuh dan mengering dengan seiring berjalannya waktu," balas Gio.
Ayanda hanya tersenyum dan menangkup wajah tampan Giondra. "makin sayang deh sama kamu, Gi," tuturnya.
Gio hanya mencebikkan bibirnya. "bisa gak sih kamu itu manggil aku dengan ada embel-embelnya."
Ayanda menautkan kedua alisnya seolah minta penjelasan lebih lanjut lagi.
"Panggil aku sayang, beb, mas, aa atau apa gitu biar mesra. Jangan Gu Ga Gi Gi aja," terangnya dengan wajah sinis.
Ayanda hanya tertawa mendengar permintaan Gio. Tawa kencangnya seakan telah menghilangkan beban berat yang selama ini ia pikul. Gio memandangnya dengan terpukau. Tawa palsu yang selalu ia perlihatkan kini sudah berganti dengan tawa bahagia.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Ayanda heran.
"Kamu sangat cantik dengan tawa lepas seperti itu. Bukan Ayanda yang selalu tertawa palsu," jawabnya.
Ayanda tersenyum lebar. "ini semua berkat dirimu Abang Gi," sahutnya.
Kali ini Gio yang mengernyitkan dahinya, menatap kekasihnya dengan tajam meminta penjelasan lebih. Lagi-lagi Ayanda hanya tertawa. Ia pun mencubit hidung mancung Gio.
__ADS_1
"Itu panggilan sayang dari aku untukmu, Bang Gi," jelasnya.
Wajah Gio nampak tak suka dengan panggilan seperti itu. Ia berharap akan dipanggil sayang atau mas seperti Ayanda memanggil mantan suaminya.
"Kok aku berasa kayak tukang bakso, ya. Di panggil Abang," ucapannya dengan wajah cemberut.
Ayanda semakin gemas melihat wajah merajuk kekasihnya ini. Ingin sekali ia mengunyel-unyel wajah ganteng dan baby face Gio. Ayanda pun mengalungkan tangannya ke leher Gio, menatap matanya dalam.
"Ayah kan menginginkan aku agar tetap menjadi adikmu, jadi tidak ada salahnya kan aku memanggilmu Abang. Abangku kekasihku," katanya dengan senyum indah yang melengkung sempurna dari bibir mungilnya.
Gio pun tertawa mendengar penjelasan dari kekasihnya. "terserah kamu aja, yang penting kamu tidak memanggilku dengan nama," sahutnya.
Senyuman keduanya merekah dari bibir mereka masing-masing. Perasaan bahagia sedang menyelimuti dua insan manusia ini.
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Tak lama ada seorang wanita masuk ke ruangan Ayanda.
"Maaf Pak Giondra, ada berkas yang harus bapak tanda tangani sekarang," kata Kinan sekretaris Gio.
Kinan mendekat ke arah Gio dan juga Ayanda dengan sebuah map yang dibawanya. Setelah sampai di hadapan atasannya, ia menyerahkan map berisi berkas penting dengan senyuman menggoda. Ayanda hanya menatapnya sinis.
Gio fokus dengan berkas-berkas yang ia pegang, sedangkan Kinan fokus menatap Giondra yang tampan maksimal.
"Sayang, bisa cepetan dikit gak? Katanya mau pergi," ucap Ayanda dengan penuh penekanan. Ucapannya mampu menyadarkan perhatian dua orang yang sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Mendengar ucapan Ayanda, Gio langsung menatap ke arah wanitanya. Gio sangat mengerti jika sekarang Ayanda sedang kesal. Ia pun langsung meletakkan kertas-kertas berharganya. Tangannya langsung menarik Ayanda masuk ke dalam pelukannya.
"Sebentar lagi ya, Sayang," ucapnya lembut dan mengecup ujung kepala Ayanda.
Gio melanjutkan aktifitas membacanya dengan Ayanda yang bersandar di bahunya, genggaman erat tangan Gio seolah mengunci Ayanda agar tidak pergi darinya. Wajah sekretarisnya yang tadinya menggoda kini berubah menjadi lesu. Sebenarnya Ayanda juga risih dengan sikapnya seperti ini. Lika-liku rumah tangganya yang terdahulu banyak memberikannya pelajaran. Kini ia bertekad ingin menjadi kuat yang tidak kalah oleh pelakor. Sebaliknya ia ingin membinasakan para pelakor di muka bumi ini.
"Aku gak suka sama sekretaris kamu," ucap tegas Ayanda.
Gio pun tersenyum lebar mendengar ucapan dari kekasihnya.
"Oke, besok aku akan pecat dia jadi sekretaris aku," jawan Gio enteng.
Ayanda tersenyum penuh dengan kemenangan, karena ia sangat tahu jika Gio tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Rencna mereka untuk jalan pun terealisasikan. Mereka sudah duduk di table di dekat jendela. Dengan Ayanda yang berada di samping Gio. Pesanan mereka pun telah sampai. Mereka menikmati makanannya masing-masing.
"Giondra," sapa seseorang dengan suara terdengar manja.
Ayanda dan juga Gio melihat ke asal suara. Gio hanya meliriknya malas dan Ayanda pura-pura tak peduli.
"Boleh aku gabung sama kalian?" tanya Cantika yang tak lain adalah mantan kekasih Giondra.
"Kita sudah se ...."
"Boleh, tidak ada yang melarang," jawab Ayanda yang telah memotong pembicaraan Gio.
Binar bahagia nampak jelas dari wajah Cantika. Sedangkan Gio menatap Ayanda dengan wajah kesal, ia hanya menaikkan bahunya dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Gi," tanya Cantika basa-basi.
Enggan sekali Gio menjawab pertanyaan dari wanita di hadapannya sekarang ini. Ia tetap fokus melanjutkan makannya.
"Kamu ingat gak, di tempat ini kan pertama kali ketemu," kata Cantika.
Ayanda hanya diam mendengarkan ocehan mantan kekasih dari Giondra ini, yang belum lama ini pernah bertemu di acara konser Sheila On 7 di Singapura.
Sebenarnya Ayanda juga malas dan enggan untuk makan dalam satu meja bersama Cantika yang notabene mantan kekasih dari kekasihnya. Hanya saja ia ingin menguji kesetiaan Gio dan ingin membuktikan ucapan Gio tentang mantan.
Mantan adalah masa lalu, tidak untuk diajak balikan dan dijadikan masa depan. Hubungan yang telah kandas biarkanlah menjadi kisah indah dan pahit yang harus di museum-kan, tidak untuk disatukan kembali.
Ternyata kesetiaan dan ucapan Gio terbukti. Ia sama sekali tidak meladeni mantannya yang lebih seksi dan juga cantik dibanding Ayanda. Sesungguhnya tidak akan ada pelakor jika sang lelaki tidak menanggapi wanita penggoda. Pelakor tercipta karena wanita dan laki-laki itu sama-sama mau.
"Sayang, sudah yuk. Aku tidak biasa makan dengan orang yang banyak bicara," kata Gio dengan mulut ketusnya.
Ia langsung berdiri, meraih tangan Ayanda lalu menggenggamnya erat. Meninggalkan mejanya yang masih menyisakan banyak makanan. Cantika hanya terperangah melihat sifat Gio yang sangat berubah dari Gio yang dulu ia kenal. Gio yang humoris kini berubah sinis.
- Di Indonesia -
Mobil Rion terparkir di halaman rumah yang kecil dan juga asri. Ya, ia baru saja tiba di Bandung. Sang Mamah yang sedang berada di teras pun sedikit heran dengan anak sulungnya. Rion mencium tangan sang Mamah dan langsung masuk menuju kamarnya.
Sang Mamah membiarkan putra sulungnya menikmati kesendiriannya. Jika nanti Rion sudah siap bercerita, pasti sang Mamah yang ia cari.
Rion masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di kursi kerjanya. Dicarilah sebuah mini book yang sering ia pakai menulis tentang dirinya di sana.
Bandung, 01-08-2020
Kali ini aku tidak mau egois.
Aku sudah berdamai dengan hati dan pikiranku.
Biarkan Kisah kita berakhir sampai disini, biarkan hubungan kita berubah tapi cintaku padamu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun.
Aku akan membiarkan sang waktu yang membawa dan menghilangkan rasa cinta dan sayangku ini. Aku hanya ingin kamu selamanya di hatiku sampai akhir hidup ku.
Entah kenapa, melihat lamaranmu kemarin hatiku seperti disayat-sayat pisau tajam, perih dan sakit. Padahal kita sudah lama berpisah, tapi rasa ku tidak pernah berubah.
Maafkan segala kesalahanku yang dulu, perilaku bodoh aku pasti menyisakan luka sampai saat ini. Hingga membuatmu pergi dan tak kembali dan kini aku yang tenggelam dalam lautan luka yang menyakitkan.
Dirimu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapa pun, dan aku pun tidak ingin mencari pasangan lagi. Biarkan aku menutup pintu hatiku, karena aku hanya ingin mencintaimu dalam diam, sampai maut menjemputku. Sudah tidak ada lagi gairah dalam hidupku ini. Aku bagai sebuah patung, berbentuk tapi tak bernyawa.
I will always love you, Ayanda Rishani.
*****
Hay,
Maaf telat up, ketiduran karena weekend yang sangat melelahkan.
Sedih aku tuh, views terjun bebas😭
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan juga vote biar aku semangat lanjutin ceritanya lagi.
Happy reading sayang,,