
Pagi harinya Gio dan juga Ayanda kembali ke Singapura. Sebelumnya mereka pamit kepada orang-orang rumah. Terutama kepada mamah mertua dan juga Nisa.
"Aku pamit ya, jangan lupa datang ke acara aku sama Bang Gi," ucapnya setelah memeluk tubuh sang mamah.
"Aku akan merindukan Teteh," ujar Nisa yang sedang memeluk tubuh Ayanda.
"Kamu harus datang dan jadi pendamping pengantin perempuan," kata Gio.
Nisa buru-buru melapaskan pelukannya, menatap wajah Gio dengan serius. Sama halnya dengan Ayanda.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk Nisa. Jadi, tugas kamu hanya mempersiapkan diri dan harus datang ke sana," jelas Gio. Senyum sumringah terukir dari bibir Nisa.
"Makasih Pak Gio," ucapnya.
"Jangan panggil saya seperti itu, panggil saja seperti kamu memanggil kakakmu," balasnya.
"Makasih a Gio," ulangnya. Gio dan Ayanda tersenyum mendengarnya. Hati Ayanda semakin menghangat melihat keakraban antara calon suami, adik ipar dan juga mamah mertuanya.
"Untuk Tante juga sudah saya siapkan. Persiapkan diri kalian," imbuhnya.
Mereka pun berangkat menuju landasan. Ada rasa bahagia dan juga sedih di hati Ayanda saat ini. Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil. Gio yang sangat peka dengan hati Ayanda menggenggam erat tangan calon istrinya, dibalas dengan senyuman hangat darinya.
Sesampainya di rumah besar, Ayanda langsung menuju kamarnya begitu pun Gio. Rasa lelah hati yang Gio rasakan mampu ia sembunyikan dengan sangat baik. Ia merebahkan dirinya di atas kasur dengan menatap langit-langit kamar.
Gio memejamkan matanya, hanya air mata Ayanda yang berputar-putar saat ini. Bulir bening yang lebih dari satu bulan selalu ia saksikan. Kesakitan yang teramat dalam yang Ayanda rasakan. Luka yang tak akan pernah mengering, semuanya memenuhi ingatan Gio. Ia pun menarik nafas panjang. Gio mulai bangkit dari tidurnya, melihat dirinya di cermin.
"Apakah aku adalah seorang pebinor? Merebut hati wanita yang harusnya kembali pada suaminya?" tanyanya pada diri sendiri.
Di lain kamar Ayanda berdiri di depan jendela. Menghindarnya Rion tadi pagi sedikit membuat hatinya terasa berdenyut sakit.
# flashback on
Matahari saja masih malu-malu menampakkan wajahnya pada bumi, tapi ada seorang pria yang sudah siap dengan aktifitasnya. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 06.00 wib.
__ADS_1
"Mau kemana, Mas? Tumben masih pagi sudah berangkat," tanya Ayanda yang baru saja turun dari kamarnya dan melihat Rion baru saja menutup pintu kamar.
"Aku ada urusan," jawabnya singkat dan berlalu meninggalkan Ayanda.
"Mas," panggil Ayanda.
Langkah kaki Rion pun terhenti. Ingin sekali ia menghindari Ayanda tapi kenapa malah sebaliknya. Rion membalikkan badannya dan melihat Ayanda yang sudah menghampirinya.
”Datanglah ke pernikahanku, aku mohon. Tunjukkan pada Echa bahwa kamu baik-baik saja. Dia sangat merindukanmu, Mas," ucapnya.
"Iya," hanya kata itu yang keluar dari mulut Rion. Melanjutkan langkahnya menjauhi Ayanda.
Dada Ayanda terasa sesak pada saat itu juga. Matanya kini terasa panas dan cairan bening pun jatuh membasahi pipinya.
# flashback off.
"Apakah sekarang kamu membenciku, Mas?" Monolognya.
"Padahal sebanyak apa pun kamu menyakitiku tapi aku tidak pernah membencimu," Sesak dan sakit yang kini ia rasakan. Saat ini tidak ada lagi air mata. Niat dan tujuannya sekarang adalah ingin bahagia membangun keluarga bersama Giondra.
Arya sedang bersungut-sungut dengan kelakuan boss gilanya. Seenak jidatnya Rion menyuruh Arya untuk datang ke kantor jam enam pagi.
"Ngapain lu nyuruh gua datang sesubuh ini?" tanyanya sambil menggebrak meja Rion. Sedangkan Rion sedang memejamkan matanya yang sangat berat karena semalaman tidak bisa tidur.
"Buat nemenin gua," jawabnya yang masih memejamkan mata.
"Sedeng lu ya, otak lu perlu di ruqyah biar bener," sahutnya emosi.
Rion sama sekali tak menanggapi ocehan Arya yang seperti ibu-ibu yang sedang menonton cerita di stasiun tv ikan terbang.
"Ceritanya lu menghindar?" tanyanya. Setelah lima belas menit mengoceh seperti burung yang mau dilombakan.
Rion hanya menganggukkan kepalanya, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Lu kapan pinternya sih Rion Juanda," ejek Arya gemas.
Rion membuka matanya dan melirik tajam ke arahnya dengan mata elang.
"Selalu menghindar membuktikan jika lu emang pria cemen, yang bisanya cuma nyakitin istri doank."
"Kalo gua jadi Ayanda girang banget dah gua liat muka lu yang kayak gitu. Muka orang-orang yang hidup segan mati tak mau," ledeknya dengan kekehan kecil.
"Bangsa*t lu," sahutnya.
"Acaranya dua Minggu lagi, kan. Lu datang?" tanya Arya serius.
"Tadi gua ketemu dia sebelum berangkat. Dia minta gua untuk datang demi Echa," lirihnya.
"Jangan kayak anak perawan lah, buktikan lu pria sejati. Mampu menyakiti dan harus siap untuk tersakiti," ujarnya.
Ucapan Arya bagai peluru nyasar yang langsung tembus ke jantungnya. Sangat Mematikan.
*****
Hay,,,
Up lagi,
Sebelumnya aku minta maaf, sepertinya banyak yang kecewa dengan alur cerita yang aku buat. Namanya juga cerita on going jadi kalian sebagai pembaca hanya bisa menerka-nerka.
Sama halnya dengan aku yang harus mikir lanjutan bab per babnya dan mau dibawa kemana ceritanya. Mau dilempengin aja apa mau dibelokin. Terkadang otak dan jariku tidak sinkron, otak mikir apa dan jari nulis apa.
Intinya aku hanya ingin membuat cerita yang gak bisa ketebak sama pembaca. Jika kalian bisa menebak alur ceritaku aku pastikan kalian turunan Roy Kiyoshi 😂😂
Jiirr, gak lucu 🤣🤣
Jangan lupa kencengin lagi like, komen, dan juga votenya, akan aku usahakan up tiap hari.
__ADS_1
Happy reading semua,,