Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 34. Kenyataan Pahit


__ADS_3

Sudah lima menit yang lalu Ayanda berada di depan pintu ruangan dr. Erlan yang sedikit terbuka. Ketika ia mendengar hasil dari Tes DNA itu dunianya seakan runtuh, hatinya hancur dan tubuhnya mulai lemas. Tak lama kemudian ia mendengar kenyataan lain bahwa anak laki laki yang ia sayangi mengidap kanker darah, penyakit yang sangat mematikan. Ditambah lagi pelukan hangat yang diberikan Rion untuk Dinda, menambah rasa sesak dan nyeri di dadanya. Tak terasa air matanya pun membanjiri pipi mulusnya.


Ia teringat dengan kata kata Gio, Sekarang ini saatnya aku pulang, gumamnya sambil tersenyum kecut. Ia berjalan menuju pintu keluar dengan langkah gontai, lemas dan lemah.


"Ayanda!" Panggil seseorang. Langkah Ayanda terhenti dan mencari asal suara yang memanggilnya.


"dr. Eki" ucapnya dan disambut dengan senyuman manis oleh dr. Eki.


"Siapa yang sakit?" Tanya dr. Eki karena sudah lama ia tak melihat Ayanda datang ke Rumah Sakit ini.


"Tidak ada dok, saya cuma ... " Jawabnya ragu, dr. Eki hanya mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"Dok, apa saya boleh bertanya sesuatu." Ucapnya canggung.


"Silahkan, tapi lebih baik kita ngobrol di kantin saja biar lebih enak." Ucapnya sambil berjalan ke arah kantin dan diikuti oleh Ayanda.


Setelah sampai di kantin Rumah Sakit mereka memesan makanan dan minuman masing masing.


"Apa dokter tidak sibuk?" Tanya Ayanda, karena ia takut jika mengganggu jadwal dr. Eki.


"Tidak, santai aja. Sore baru saya ada jadwal praktek." Jawabnya dengan senyuman hangat.


"Dok, apa penderita leukimia bisa sembuh?" Tanyanya.


Dokter Eki pun kaget karena tiba tiba Ayanda bertanya seperti itu. Ada apa tiba tiba Ayanda bertanya penyakit itu? Batinnya.


"Kenapa bertanya tentang itu? Kamu sakit?" Ia malah balik bertanya.


"Saya tidak sakit dok, hanya saja ada anak laki laki yang saya sayangi divonis menderita Leukimia." Jawabnya apa adanya. Memang dari awal pertemuannya dengan Raska, ia langsung jatuh cinta kepada bocah berkupluk itu. Tapi takdir begitu kejam, kenyataannya bocah itu adalah anak suaminya dari selingkuhannya.


"Saya tidak terlalu tau banyak dan spesifik tentang penyakit leukimia atau kanker darah, yang saya tau pasien penderita kanker darah bisa sembuh jika melakukan transplantasi sumsum tulang belakang dan kemoterapi. Sayangnya biaya transplantasi tulang belakang itu sangat mahal bisa mencapai 1 M, namun sangat sulit untuk menemukan jenis pasangan sumsum si penderita, belum tentu juga operasi itu berhasil karena tingkat penolakan dan kekambuhan setelah transplantasi sangat tinggi. Cara yang lainnya kemoterapi, kemoterapi adalah cara pengobatan dengan menggunakan obat obatan untuk melawan atau menghancurkan pertumbuhan kanker. Kemo dilakukan dengan cara oral atau melalui aliran darah dengan suntikan atau infus dan kemo juga ada efek sampingnya" sekedar menyampaikan sedikit ilmu yang ia tau.


"Tapi jika tingkat keparahannya masih rendah masih bisa sembuh kok. Sebaiknya kamu konsultasikan dengan dokter onkologi." Jawabnya sambil meminum jus alpukat pesanannya.


Ayanda hanya menganggukkan kepalanya dan meminum jus buah naga yang ia pesan.


"Kanker yang diderita anak itu sudah masuk stadium berapa?" Tanya dokter Eki lagi.

__ADS_1


"Saya tidak tahu dok, em,, apa dokter bisa bantu saya?" Tanyanya ragu.


"Bantu apa?" Jawab cepat dr. Eki.


"Saya ingin dokter melaporkan semua hasil diagnosa dokter onkologi tentang penyakit anak laki laki itu."


"Loh kenapa?" Tanyanya bingung.


"Karena saya ingin tahu perkembangan penyakit anak itu tanpa ada orang yang tau karena saya sayang kepadanya." Ucapnya seraya memohon.


"Baiklah, saya akan bantu kamu." Ucap dr. Eki sambil tersenyum manis.


"Tapi tolong rahasiakan ini dari Gio dok."


"Gio, Giondra?" Tanyanya. Ayanda hanya menganggukkan kepalanya.


"Apa Giondra kembali ke Indonesia?"


"Ia dok, malah saya sering ketemu dengannya." Jawab Ayanda santai sambil menyedot jus buah naga.


Mereka pun berbincang bincang ringan sambil menghabiskan minuman dan makanan yang mereka pesan. Setengah jam sudah mereka berbincang, Ayanda pamit kepada dr. Eki untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Ayandapun pergi meninggalkan kantin.


Arya melihat seorang yang sangat tidak asing baginya, ia pun bergegas menghampiri wanita itu menuju parkiran.


"Bu Boss!" Panggilnya. Orang yang dipanggilnya pun menoleh. Arya menghampiri istri dari Bossnya itu. Ia sendiri bingung apa yang mau dikatakannys pada istri Bossnya, sejujurnya ia tidak mau menyakiti hati lembut Bu Bossnya itu dengan kenyataan pahit ini. Mulutnya seakan tertutup rapat, tak bisa berkata apa apa.


Ayanda menepuk bahu Arya, "Saya sudah tau semuanya," ucapnya sambil tersenyum. Mendengar itu Arya hanya bisa memandang wajah istri Bossnya itu dengan tatapan iba. Senyum yang ia


Berikan bukan senyum kebahagiaan melainkan senyum kepiluan. Setelah berucap seperti itu Ayanda meninggalkan Arya tanpa pamit, dan Arya masih mematung di parkiran.


*****


Ketika orang suruhannya memberikan informasi, muka Gio langsung merah, urat urat kemarahannya nampak jelas di wajah tampannya dan kepalan tangan yang begitu kuat seolah ingin membunuh seseorang.


"Takkan aku biarkan kamu menyakiti Ayangku lagi, dan aku pastikan aku akan membawanya pergi jauh darimu." Geramnya sambil meninju tembok didepannya.


Ketika emosinya sudah mereda, ia pun membaringkan tubuhnya di sofa. Dengan bantalan tangan dikepalanya.

__ADS_1


Kenapa gua marah ketika si bre*gs*k itu nyakitin Ayank, harusnya kan gua senang si Ayank pasti akan minta cerai, tapi gua bukan pria seperti itu, bahagia diatas penderitaan orang lain. Gua akan mengejarnya dengan cara wajar dan mustahil buat gua untuk nyakitinnya, itulah janji gua." Gumamnya.


*****


Di Kantor Rion terlihat sangat kacau, hari ini adalah hari yang penuh dengan kejutan. Hasil Tes DNA yang menyatakan positif, Raska yang divonis sakit Leukimia, dan permintaan Raska yang ingin jika Rion tinggal bersamanya dan juga ibunya. Belum lagi ia harus menghadapi istrinya.


"Aarrgghh!!" Teriaknya frustasi sambil menjenggut rambutnya.


"Nih minum dulu, biar otak lu seger." Ucap Arya sambil menyodorkan air mineral dingin kepada atasannya. Rion pun meneguk habis air minumnya.


"Haus Boss, abis lari berapa keliling emang?" Candanya.


"Abis lari dari kenyataan gua," jawanya sambil melempar botol air mineral ke tong sampah


"Jangan lari tapi hadapi." Ucap Arya.


"Gua takut memberitahu hasil Tes DNA ini." Ucapnya sangat frustasi.


"Gak usah repot repot lu kasih tau, bini lu udah tau semuanya." Ucapnya santai sambil merebahkan badannya di sofa.


"Serius lu?" Tanya Rion panik.


"Ngapain gua bohong, kayaknya dia denger semua ucapan dr. Erlan dan juga acara peluk memeluk antara lu dan Dinda." Ucapnya sambil memejamkan mata.


"Sial!" umpatnya.


"Jujur ya bro, gua aja kecewa pas tau hasil Tes DNA lu sama si bocah botak, apalagi lu lenjeh meluk si Dinda segala, kayak pahlawan kesiangan." Ucapnya masih tetap terpejam.


"Senyum Ibu Boss tadi sangat menyiratkan kesedihan yang mendalam," ocehnya dan matanya pun mulai terpejam dan berada di alam mimpi.


*****


Hay para reader,,


Jangan lupa like, comment, vote Dan juga favoritkan biar gak ketinggalan ceritanya. Jangan minta crazy up ya, satu episode per hari aja bikin aku klenger di sela sela kesibukannku😀


Happy reading kesayangan kesayanganku 😘😘

__ADS_1


__ADS_2