Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 106. Batal


__ADS_3

Semua mata tertuju ke asal suara yang menghentikan prosesi ijab kobul untuk kedua kalinya.


"Echa!" gumam Nisa.


Ayanda berdiri memandang putrinya yang sedang mematung dengan air mata yang telah bercucuran.


"Maafkan Echa Ayah, tolong batalkan pernikahan ini. Echa gak mau Mamah terus-terusan berkorban untuk Echa. Biarkan sekarang Echa yang mengikuti kemauan Mamah," tuturnya dengan terisak.


Ayanda menghampiri Echa dan memeluk erat tubuh putrinya. Sedangkan Rion tak berkutik di tempatnya.


"Dek ...."


"Menikahlah dengan Papa Gi. Maafkan Echa yang sudah egois, Echa tidak ingin Mamah menangis kembali," timpalnya.


#flashback on.


Ketika Ayanda pergi menemui Gio, Echa masuk ke kamar mamahnya. Niatnya, ingin menelepon Andri agar tidak lama berada di rumah sakit, karena ia sendiri tak setuju dengan keputusan ayahnya yang memberikan jeda waktu agar mamahnya bisa bertemu dengan Gio. Ketika Echa hendak mengambil ponsel Ayanda, ada secarik kertas di samping ponsel itu. Di atasnya ada sebuah cincin yang Echa tau itu adalah cincin pertunangan mamahnya dengan Gio.


Hati yang sudah terlanjur remuk dan hancur berkeping-keping, akankah bisa kembali utuh lagi? Akankah pernikahan karena keterpaksaan akan berujung bahagia? Atau malah sebaliknya, hanya derita yang akan aku terima.


Tuhan, hati ini tidak mencintainya. Aku tidak bisa berbohong untuk ini. Hanya saja, permintaan putriku seperti perintah yang tak bisa aku bantah. Rasa sayangku kepadanya melebihi rasa sayangku kepada diriku sendiri. Apapun akan aku lakukan untuknya, mengorbankan kebahagiaanku dan juga nyawaku pasti akan aku lakukan. Sekarang, aku harus mengorbankan perasaan dan hatiku lagi untuk kedua kalinya. Semua ini aku lakukan karena aku tidak mau kehilangan putriku. Dialah satu-satunya harta yang kumiliki yang paling berharga untukku.


Tuhan, jika ini memang takdir terbaikMu aku pasrah. Di dalam lubuk hatiku, aku masih mencintainya, aku masih mengharapkannya ,,


Dia, yang selalu aku tunggu di setiap malam ku.


Dia, yang selalu aku tunggu untuk membangunkan ku dari mimpi buruk ini.


Dia ,, Giondra Aresta Wiguna.


Kuatkan lah aku Tuhan, dalam menjalani kepedihan ini ....


Tak terasa cairan bening pun jatuh di pelupuk mata Echa. Kenangan sepuluh tahun lalu kini mengisi pikirannya. Suara lirih isakan sang mamah terngiang di telinganya.


"Maafkan Echa, Mah," lirihnya.


Echa masuk ke kamarnya, merenungi setiap keegoisannya. Tulisan dalam secarik kertas itu mampu membuka hati Echa sedikit demi sedikit.


Ia membuka ponsel mamahnya, matanya kembali nanar. Wallpaper yang terpasang adalah foto mereka bertiga. Ayanda, Gio dan juga Echa yang sedang berada di kursi roda. Ingatannya akan kebaikan Papanya mulai merasuki hatinya. Rasa bersalah kini hadir dalam dirinya.

__ADS_1


"Tak seharusnya Echa membenci Papa. You have saved me," lirihnya.


#flashback off.


Bu Dina menghampiri putra yang tengah terdiam akan ucapan Echa. Pak Penghulu hanya bisa mengurut kepalanya. Baru kali ini ada ijab kobul yang terhenti untuk ke dua kalinya.


"A, biarkan Teteh bahagia," ucap mamahnya seraya mengusap punggung Rion.


"Jika aa tetap memaksa, akan menambah penderitaan si Teteh. Kasian si Teteh dan juga Echa a," tambahnya.


Tak ada jawaban apapun dari Rion. Putrinya yang awalnya mendesak dirinya agar menikahi Ayanda, sekarang berbalik malah Echa yang menghentikan prosesi ijab kobulnya.


"A, lihatlah kedua perempuan itu," pinta Bu Dina.


Rion melihat ke arah Ayanda dan juga Echa yang tengah berpelukan erat dengan air mata yang mengucur deras.


"Aa dan si Teteh hanya ditakdirkan untuk sementara tidak untuk selamanya. Jika pernikahan ini adalah takdir baik dari Tuhan untuk aa dan si Teteh, harusnya berjalan lancar. Kenyataanya, acara ini harus terhenti untuk ke sekian kalinya. Buka hati aa, belajar mengikhlaskan seseorang yang memang sudah tak mencintai aa. Lepaskan si Teteh, karena nak Gio lah yang sekarang dia cintai," jelas Bu Dina.


Rion beranjak dari duduknya. Menghampiri dua perempuan yang sangat ia cintai. Echa menatap wajah ayahnya dengan mata yang sudah memerah karena tangisnya.


"Ayah, Echa mohon batalkan pernikahan ini," pintanya dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Ayah ....”


Rion berhambur memeluk tubuh Echa. Tangis Echa pun tumpah dalam dekapan Rion. "Ayah akan membatalkan pernikahan ini. Ayah tidak ingin melihat putri Ayah menangis lagi," kata Rion.


Echa semakin mengeratkan pelukannya terhadap ayahnya. Rasa sayangnya terhadap ayahnya kini semakin besar.


"Maafkan Echa," lirihnya.


Rion menghapus jejak air mata yang membasahi pipi putrinya. Lalu, ia beralih menatap Ayanda. "kejarlah cintamu. Aku akan membatalkan pernikahan ini," ujarnya.


Ayanda, Bu Dina, Nisa, Arya dan juga Andri tersenyum bahagia mendengar keputusan Rion. Keputusan yang benar-benar bijak, melepaskan seseorang yang memang sudah tidak mencintainya.


"Terimakasih, Mas," ucapnya pada Rion.


Rion mengangguk dengan senyuman dari bibirnya. Hatinya terlihat lega melihat wajah Ayanda yang menghangat kepadanya.


Ayanda dan juga Andri bergegas ke rumah sakit untuk menemui Gio. Hati Ayanda sungguh tak tenang, memikirkan kondisi Gio. Tak lama mereka sampai. Ayanda bergegas masuk ke dalam rumah sakit, sedangkan Andri memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Semua mata tertuju pada Ayanda yang sedang berlari mengenakan kebaya. Sampailah ia di depan kamar perawatan Gio. Ketika tangannya hendak membuka gagang pintu, seorang perawat keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat.


"Saya mau bertemu pasien di kamar ini, Sus," jawabnya.


"Maaf Bu, kamar ini baru saja kosong. Saya baru saja selesai merapihkannya kembali," balas perawat.


"Ko-kosong," katanya.


"Iya, pasien baru saja dipindahkan ke rumah sakit Singapura," tutur perawat.


Tubuh Ayanda terkulai lemas di lantai. Air mata yang sedari tadi tertahan kini meluncur deras. Harapannya kini sudah pupus. Otaknya tak mampu berpikir saat ini.


Andri yang sedang berjalan santai harus mempercepat langkahnya. Dari kejauhan ia melihat Ayanda yang tengah terduduk di lantai sambil menundukkan kepalanya.


"Cyin," panggil Andri.


"Dia sudah pergi," ucap Ayanda.


Andri langsung memeluk tubuh Ayanda. Tak henti-hentinya ujian datang menimpa Ayanda. Ketika ia terbebas dalam pernikahan yang terpaksa, kini ia harus kehilangan jejak separuh cintanya.


"Pesankan tiket ke Singapura secepatnya," pinta Ayanda.


Andri hanya mengangguk pelan. Ia langsung memesankan tiket yang sahabatnya minta.


"Ay, penerbangan yang paling cepat jam delapan malam," ucap Andri.


Hanya helaan nafas yang terdengar. "apa tidak ada jadwal penerbangan yang lebih cepat?" tanya Ayanda.


Andri hanya menggelengkan kepalanya. Ayanda hanya bisa pasrah untuk sekarang ini. Sekarang, saatnya ia yang berjuang mengejar cinta Gio. Pria yang sudah benar-benar mengisi penuh hatinya.


*****


Akankah Ayanda bertemu dengan Gio di Singapura?


Tetap tunggu kelanjutannya ya ...


Happy reading ....


Jangan lupa kencengin like. komen dan juga votenya biar makin kenceng up-nya😂

__ADS_1


__ADS_2