Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 37. Singapura


__ADS_3

Selama diperjalanan menuju landasan Ayanda hanya terdiam, tak bersuara sepatah katapun. Gio hanya bisa menggenggam tangannya karena sekarang ini orang yang berada disampingnya sedang menikmati lukanya. Tatapan kosong sangat terlihat jelas dari mata Ayanda. Hendak membuka percakapan pun enggan ia lakukan, tetap membiarkannya menikmati lukanya yang terpenting ia selalu ada disamping wanita yang disayanginya.


Tuhan, kenapa Engkau berikan kepiluan terus kepada wanita yang sangat aku sayangi? Apakah dia tidak pantas untuk bahagia? Apakah keputusannya untuk kembali kepada cintanya salah? Rencana apa yang sedang Kau susun untuk wanita kesayanganku ini Tuhan? Terlalu sakit hatiku melihat nya seperti ini, jika aku boleh meminta, pindahkan saja luka dan sakit yang ia rasakan kepadaku, karena aku hanya ingin melihatnya bahagia meskipun tidak bersamaku.


Mereka sampai juga di tempat landasan private jet milik keluarga Wiguna. Sebelum turun Gio menatap Ayanda dengan sangat dalam.


"Apa kita batalkan saja bertemu ayahnya?" Ayanda mendengar ucapan Gio langsung tersadar dari lamunannya.


"Gak usah, kita lanjutkan perjalanannya." Seraya tersenyum kepada Gio. Hati Gio sesak melihat senyuman yang sangat palsu itu. Ia sangat merasakan setiap serpihan luka Ayanda.


Gio langsung menggandeng tangan Ayanda menuju private jet milik keluarganya. Sambutan hangat dari pilot, co pilot dan satu pramugari cantik. Mereka berfikir jika wanita yang dibawa penerus tunggal Wigumart itu adalah calon istrinya, karena dilihat dari sudut manapun Ayanda sangat berkelas meskipun cara berpakaiannya sangat sederhana. Wajahnya yang cantik meskipun hanya memakai polesan make up tipis, dan ditambah senyumannya yang sangat manis yang menyempurnakan semuanya.


Didalam pesawat Ayanda tetap terdiam menatap awan dari jendela sampingnya. Matanya mulai berkaca-kaca dan air matanya sudah tak terbendung lagi.


Biarkan aku mencari ketenanganku sejenak.


Biarkan aku menikmati kerapuhanku sendiri.


Sekarang hatiku sudah hancur dan hanya menyisakan serpihan luka demi luka. Sementara ini aku akan mencoba untuk bertahan, tapi tidak menutup kemungkinan esok atau lusa aku akan mengangkat tangan. Luka yang dibiarkan terus menerus menganga pasti akan tambah parah kan. Begitu juga luka ini. Ketika aku dengan susah payah menutup dan mengobati lukaku, kamu dengan sengaja dan paksa merobeknya lagi. Disaat aku mulai membuka hatiku lagi tapi kamu hanya singgah sebentar lalu pamit dengan seseorang yang dulu menyakitiku. Jika hanya untuk mempermainkan hatiku kenapa kamu kembali dengan mengumbar seribu janji? Dan untuk kesekian kalinya aku tersakiti lagi.


Gio melihat cairan bening yang terjun bebas di pipi Ayanda langsung menyodorkan selembar tissue.


"Sudahlah, jika lu sedang rapuh simpan sejenak hati lu biarkan proses yang akan menyembuhkannya. Jika luka lu ingin sembuh itu butuh waktu, bukan paksaan."


Ayanda yang mendengar ucapan Gio pun langsung menghapus jejak air matanya. "Thank you," hanya itu yang bisa ia ucapkan pada Gio disambut anggukan dan senyuman manis dari bibir Gio.


Remon yang sedikit mengintip mereka berdua pun merasa terbawa suasana, meskipun ia sama sekali tidak tau apa apa masalah antara Bossnya dan juga Ayanda.


*****


"Gimana udah bisa dilacak keberangkatan Yanda?" Dengan wajah panik.


"Nihil," Arya hanya mendengar umpatan dari mulut Rion dan wajah frustasi Rion.

__ADS_1


"Gua harus ke Singapur, pasti Yanda sekarang berada di proyek baru A&R." Hendak pergi meninggalkan Arya.


"Tadi dokter Erlan telpon," berhasil menghentikan langkah Rion.


"Besok dia nyuruh lu, si botak dan emaknya datang ke Rumah Sakit, ada yang perlu dibicarakan serius katanya." Dengan nada yang malas. Sebenarnya Arya sudah malas mengurusi urusan Bossnya dengan wanita liar itu, karena hati dan pikirannya sekarang berpihak kepada Ibu Bossnya, orang yang sangat tersakiti disini. Akhirnya Rionpun mengurungakan niatnya untuk menyusul Ayanda ke Singapura.


Gua benar benar kecewa sama lu, berlian lu hilang aja gak lu cari. Sedangkan sampah yang harusnya lu buang masih lu pertahankan.


*****


Kawasan Rumah elite Orchard, Singapura.


Setelah para pelayan menyambut kedatangan Tuan Mudanya dan membukakan pintu untuk mereka, mereka bergegas masuk ke dalam. Gio tetap menggenggam tangan Ayanda. Mereka menuju halaman belakang yang asri dan juga sejuk. Tampak seorang pria paruh baya sedang duduk sendiri dengan secangkir teh di tangannya.


"Ayah!" Genta menghentikan gerakannya ketika mendengar suara yang sangat ia rindukan memanggilnya. Genta pun mencari asal suara itu dan sangat terkejut sekaligus rona bahagia terpancar di wajahnya. Ayanda pun berhambur memeluk tubuh Genta ayah angkatnya.


"Surprise!" Sambil ikut masuk kedalan pelukan sang ayah. Genta merasakan kebahagiaan yang luar biasa dengan kehadiran kedua anaknya ini.


"Kenapa kamu gak bilang mau kesini nak?" Seraya melepaskan pelukannya. Ayanda melirik ke arah Gio meminta penjelasan.


"Jadi kamu gak bilang ke ayah kalo kita mau kesini?" dijawab dengan kata singkat jelas dan padat "Gak," sambil mendudukkan diri disamping ayahnya seperti orang yang tak punya dosa.


Genta yang melihat perubahan wajah putrinya itu terkekeh kecil mengingatkannya akan wajah kesal Giandra yang sering dijahili Giondra.


"Ayah sangat bahagia karena anak anak ayah berada disamping ayah sekarang." Dengan senyuman yang terus melengkung di bibirnya.


"Ayah tinggal menunggu kapan ayah akan berkumpul dengan cucu cucu ayah?" Sambil meminum teh hangat yang belum sempat ia minum.


"Bawa Echa kesini Yank, ayah pengen kumpul sama cucunya katanya." Sambil melahap potongan buah yang ada di meja.


"Bukan anak dari Aya, tapi anak dari kamu Gi." Mendengar ucapan sang ayah membuat Gio tersedak dan buru buru meminum air putih di depannya.


"Kamu udah dewasa Gi, umurmu sudah tak muda lagi. Kapan kamu mau menikah?" Sambil meletakkan teh di atas meja dan Ayanda hanya menyimak percakapan antara ayah dan anak itu.

__ADS_1


"Gimana mau menikah ayah, pacar aja gak punya." Dijawab dengan santai.


"Sampai kapan ayah harus menunggu kamu sampai punya pacar dan calon istri? Ayah sudah tua Gi." Gio hanya terdiam mendengar ucapan sang ayah.


"Ayah akan jodohkan kamu dengan anak teman ayah, orangnya cantik dan baik." Nenatap tajam kearah Gio.


"Lah ayah, ini bukan zaman Situ Nurbaya dan aku juga gak mau jadi Ahmad Nurbaya." Dengan menampakkan wajah yang memelas. Mendengar ucapan Gio Ayanda hanya bisa mengernyitkan dahinya. "Ahmad Nurbaya?" Seraya bingung.


"Yaelah Ayank, kalo si Siti Nurbaya itu kan cewek nah gua kan cowok makanya Ahmad Nurbaya." Mencoba memberikan penjelaaan. Ayah dan Ayandapun terkekeh geli mendengar ucapan Gio.


"Suasana ini yang sangat ayah rindukan," Ayanda dan Gio pun memeluk tubuh ringkih ayahnya.


Setelah berbincang bincang dan bercanda ria Gio pamit masuk ke kamarnya untuk istirahat. Tinggallah Ayanda dan Genta.


"Apa kamu bahagia nak?" Membuat Ayanda terdiam mendengar pertanyaan sang ayah. Ia mencoba menyunggingkan bibirnya dengan manis walaupun dimatanya nampak sekali kepedihan.


"Maafkan ayah, jika ayah tidak mengizinkanmu untuk kembali padanya kamu pasti tidak akan seperti ini." Nenggenggam tangan Ayanda dengan penuh penyesalan. Mata Ayanda mulai berkaca kaca mendengar ucapan sang ayah, ia merasa sangat beruntung dibawa masuk kedalam keluarga yang sangat hangat. Ayandapun tersenyum kepada Ayah dan menggenggam erat tangannya.


"Ini bukan salah ayah, mungkin ini jalan takdir aku yang harus seperti ini. Takdir Tuhan sedang bermain main denganku sekarang, dan aku harus bisa mengimbangi permainan ini." Seraya menenangkan Ayahnya.


"Jika kamu lelah, meyerahlah. Kamu juga pantas untuk bahagia, dan jangan pernah merasa sendiri karena masih ada Ayah dan Gio disampingmu." Air mata Ayanda langsung meluncur bebas membasahi pipinya. Meskipun ia hanya sekedar anak angkat tapi Genta selalu memasang badan untuknya di situasi seperti ini.


"Biarkanlah genggaman tangannya terlepas, Masih ada genggaman tangan lain yang dengan tulus akan menggenggam tanganmu dengan erat dan membawamu meninggalkan jejak jejak kesedihan yang pernah kamu tinggalkan, tangan itu akan membawamu menyusuri jalan menuju kebahagiaan" Ayanda langsung memeluk tubuh Ayahnya dan menangis dipelukanya.


"Terimakasih ayah." Hanya itu yang bisa ia ucapkan sekarang dengan suara yang sangat lirih terdengar.


*****


Hay para readers,


Kemarin ada yang bilang katanya episodenya kurang panjang, hari ini aku kasih bonus 1200 kata lebih ya jangan bilang kurang banyak lagi karena kemampuan halu saya untuk bab ini cukup sampai disini😁


Happy reading kesayangan kesayanganku😘😘

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, and vote ya biar makin semangat lagi up nya.


__ADS_2