
Menuju jalan pulang Ayanda terus terdiam dan menyenderkan kepalanya di kaca mobil. Rion pun merasa ada sesuatu yang beda dari istrinya ketika ia menjemputnya.
"Sayang, ada apa?" Ucap Rion lembut sambil menggenggam tangan istrinya.
"Tidak apa-apa, aku hanya lelah saja," jawabnya sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kalo kamu lelah, besok tidak usah pergi lagi ke toko cabang. Kamu cukup berdiam diri di rumah," tegasnya.
"Nggak Sayang, aku nyaman dan senang dengan pekerjaanku mungkin badanku masih belum terbiasa karena keenakan santai di rumah," kilahnya.
"Ya sudah seharusnya Nyonya Juanda itu santai di rumah kan, menghabiskan uang Tuan Rion Juanda. Biarkan aku yang kerja keras untukmu," ujarnya.
"Apa harus kita berdebat disini? Aku lelah Yank," kata Ayanda memelas.
Rion hanya terdiam dan terus melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Tidak lama kemudian mereka pun tiba di rumah.
"Aku balik ke toko pusat lagi ya, kamu langsung istirahat," ucap Rion sebelum Ayanda turun dari mobil dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Ayanda. Rion pun mengecup kening istrinya lalu pergi.
Ayanda langsung melangkahkan kakinya ke kamar atas, kamar yang dijadikan tempat kerja dan tempat untuknya merenung. Masih terngiang-ngiang di kepalanya tentang wanita tadi. Wanita yang memporak porandakan hidup dan cintanya.
#flashback on
Ketika Ayanda sedang menunggu Rion di ruang tunggu depan Toko, ia melihat seorang wanita di seberang jalan sedang membawa paper bag. Dia sangat familiar dengan wajah itu. Tak lama berselang wanita itu lewat ke depan toko cabang, tapi tidak menyadari ada Ayanda sedang duduk di kursi tunggu. Hanya dengan melihat wajah wanita itu, seketika tubuhnya lemas tak bertulang. Ingatan-ingatan pahit di masa lalu berputar kembali, luka yang telah ia coba tutup rapat menganga lagi.
"Dinda, dia kembali lagi."
#flaahback off
Epilog.
Dinda sudah mengetahui semua usaha Rion bangkrut dan tidak ada yang bisa di harapkan lagi dari Rion. Dia pun pergi meninggalkan Rion dan membatalkan pernikahannya ketika Rion sudah mengucapkan ijab qobul dan tinggal menunggu kata sah yang dijawab para saksi. Padahal Rion telah mempersiapkan semuanya dengan mewah meskipun mereka hanya akan menikah siri. Akan tetapi kenyataan pahit harus diterima Rion, ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah usaha bangkrut dan pernikahannya harus batal pula, dan juga dia harus menanggung malu tiada terkira kepada para tamu undangan. Yang sebagian besar adalah koleganya. Mungkin ini yang dinamakan hukum tanam-tuai. Karma datang tidak selalu diakhir cerita, tapi bisa diawal cerita seperti ini.
Rion benar benar murka, sangat kecewa dan seperti orang gila. Ditambah dengan keadaan usaha yang bangkrut, betapa kacaunya dia. Hanya Arya sahabatnya lah yang selalu mensupport-nya, keluarganya pun sudah enggan mengurusinya karena kecewa dengan kebodohan Rion yang telah mengusir menantu dan cucunya, malah menyia-nyiakan mereka demi sebuah sampah yang tak berguna.
Arya selalu setia disamping Rion. Hingga Rion harus berkali-kali dibawa ke psikiater untuk mengobati psikisnya yang sangat amat terguncang. Untuk berada di fase sembuh Arya harus sangat bersabar karena butuh waktu enam bulan lamanya agar Rion kembali percaya kepada dirinya.
Sebenarnya Arya adalah orang yang pertama kali menentang dengan keras tindakan bodoh Rion. Akan tetapi, Rion telah dibutakan oleh cinta dan malah berbalik membencinya. Ketika semua orang meninggalkan Rion hanya Arya yang setia menemaninya. Ketika dia sudah tidak punya apa-apa lagi hanya Aryalah yang membantunya untuk merintis usahanya kembali hingga bisa sukses seperti sekarang.
****
__ADS_1
Berkali-kali Rion menelopon Ayanda tapi tidak pernah ada jawaban. Mengirim pesan pun tidak ada balasan.
Sebenarnya Rion sangat khawatir tapi pekerjaan yang menumpuk yang mengharuskan ia kerja lembur.
Pukul 20.30 Rion baru selesai dengan pekerjaannya. Ia pun bergegas pulang karena khawatir kepada istrinya yang dari sore tidak menjawab telpon darinya.
Di Rumah.
"Mbak, Ibu dimana? Apa ibu sudah makan?" tanya Rion pada Mbak Ina.
"Di atas Pak, dari tadi pulang kerja ibu belum turun."
"Mamah lagi tidur Yah mungkin kecapean, tadi Echa udah ke atas," ujar Echa sambil membawa cemilan.
Rion pun bergegas ke kamar atas. Dilihatnya sang istri sedang meringkuk di tempat tidur tanpa selimut dan masih memakai pakaian yang tadi ia kenakan ke toko cabang. Rion menghampirinya dan memandang dalam wajah istrinya yang sedang terlelap. Ia mengecup kening istrinya dan membenarkan rambut rambut Ayanda yang menutupi wajahnya.
"Apa selelah ini kamu bekerja?" ucapnya pelan seraya memandang dalam wajah istrinya, mengelus lembut pipinya.
Ayanda merasa ada yang mengusik tidurnya dan perlahan membuka matanya, dan wajah suaminya yang pertama kali dilihatnya ketika dia benar-benar membuka mata.
"Kamu udah bangun?" tanya Rion masih mengelus rambut istrinya.
"Jam berapa ini?" tanyanya lagi
"Jam sembilan."
"Kamu lembur? Jam segini baru pulang," ujarnya melihat suaminya masih menggunakan pakaian kerjanya.
"Iya, tadi aku lupa bilang terus telponin kamu tapi gak diangkat-angkat makanya aku khawatir."
"Hp aku di dalam tas Yank, jadinya gak kedenger."
"Apa kamu lelah? Diam di rumah aja ya."
Ayanda hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menandakan dirinya tidak apa-apa.
"Ya udah kita makan yuk, kamu kan belum makan," ajak Rion dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Ayanda.
Di Kamar.
__ADS_1
Rion sudah selesai membersihkan badannya begitu juga Ayanda. Mereka berada di atas tempat tidur sekarang.
"Sayang, kamu di rumah aja ya jangan kerja lagi. Aku gak tega melihat kamu kelelahan seperti tadi," katanya sambil mengelus rambut istrinya.
Ayanda hanya tersenyum dan memeluk suaminya dengan erat dan menelusupkan wajahnya ke dada Rion.
"Udahan ya kerjanya."
Ayanda hanya menggelengkan kepalanya masih diposisi memeluk Rion dan bersandar di dadanya.
Rion hanya menarik nafas dalam, karena dia tau watak seorang Ayanda itu keras. Tidak ada siapapun yang bisa merubah keputusannya.
"Ada apa Sayang?" tanya Rion, karena merasa aneh sekaligus senang karena tanpa diminta istrinya sangat erat memeluknya seolah tak ingin lepas.
"Tidak ada apa-apa Sayang. Apa tidak boleh aku bermanja seperti ini?" tanya balik Ayanda yang masih memeluk erat tubuh Rion, suaminya pun membalas pelukan istrinya dan berkali kali mengecup puncuk kepalanya.
"Sangat boleh Sayang, justru aku sangat-sangat senang," jawabnya.
Tuhan, aku tau otak dan hati ku tidak sejalan. Otakku masih mengingat jelas kejahatannya di masa lalu, tapi hatiku luluh ketika dia memperlakukan ku dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. Jika aku boleh serakah kuncilah hatinya hanya untukku dan jadikan aku satu satunya untuknya. Jujur, aku takut Tuhan, aku takut dia kembali ke masa lalunya dan pergi meninggalkan ku seperti dulu lagi. Aku masih takut untuk membuka hatiku untuknya. Bantu aku Tuhan untuk meyakinkan hatiku, apa dia memang benar benar untukku? Dan aku memang satu satunya untuknya?
Gumaman hati Ayanda di dalam dekapan Rion. Karena yang sesungguhnya ia rasakan bukanlah lelah akan pekerjaan tapi lelah akan pikiran-pikiran masa lalunya yang teramat pahit, yang sekarang sedang berkeliaran di kepalanya. Terlebih lagi Ayanda melihat dengan matanya sendiri bahwa dia telah kembali.
******
Hay para readers ,,
Aku up lagi ya walopun malam banget, bisa jadi saur baru terbit iniπ
Maafkan aku, Karna aku bukan Tim Siang dan juga Tim Malam. Aku hanya Tim sesempetnya saja.π
Tapi aku usahakan up tiap hari.
Sayang sayangku,,
Tolong dong banti votenya biar aku makin banyak ide dan semangat untuk nulisnya.
Jangan lupa juga like dan comment ya,,
Tetap jadikan Air Mata Ayanda favorit kalian
__ADS_1
Happy reading sayang sayangku,,ππ