
Benar apa yang dikatakan oleh Mbak Ina, pagi harinya majikannya akan masuk ke kamar atas dan akan menghabiskan paginya disana. Ia menatap setiap sudut kamar atas. Matanya tertuju pada satu foto di meja kerja sang istri. Ia menyentuh foto itu dan tak terasa air matanya tumpah. Selemah ini dirinya sekarang ini. Hidup tanpa anak dan istrinya ternyata sangat menyakitkan.
Tidak bisa untukku melepaskanmu, permintaan mereka terlalu tidak masuk akal. Permintaan yang sangat tidak memungkinkan untuk aku lakukan.
Memeluk foto mereka bertiga yang sedang tertawa bahagia dengan tetesan air mata yang tak kunjung henti. Serapuh ini dirinya sekarang, seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Arya bergegas masuk ke dalam rumah Rion karena sedikit khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. apalagi semalam dia melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan sahabatnya seperti manusia yang hidup segan mati tak mau.
"Mbak Ina!" Ketika melihat ART Rion sedang menata makanan di meja makan.
"Eh Pak Arya," sedikit terkejut karena ia tidak mendengar suara ketukan pintu tapi tiba tiba Arya sudah ada dihadapannya.
"Pak Boss ada?" Tanyanya sambil mengambil selembar roti lalu digigitnya.
"Ada diatas Pak," sambil menunjuk kamar atas. Arya perlahan menuju kamar atas. Ia membuka pelan pintu kamar dan dilihatnya Rion duduk di tepian tempat tidur sedang memeluk sebuah figura foto dengan menundukkan kepalanya sangat dalam. Terlihat dari samping tubuhnya bergetar.
Gua gak tega liat lu seperti ini, tapi gua gak bisa lakuin apa apa sekarang. Semuanya nihil tidak ada secuil pun informasi tentang istri dan anak lu. Mungkin ini cara mereka untuk menghukum lu, lu adalah lelaki terbodoh yang pernah gua kenal.
Arya menghela nafas kasar dan menutup kembali pintu kamar atas dengan sangat pelan. Ia membiarkan Rion bergelut dengan kesedihan dan penyesalan. Ada halnya ia tidak bisa ikut campur terlalu jauh, cukup memantaunya dari kejauhan itu sudah cukup.
Ia kembali ke meja makan, dilihatnya mbak Ina sedang menatap ponselnya dengan punggung yang bergetar, Arya perlahan menghampirinya,
"Non Echa, Ibu!" Suara lirihnya berhasil menghentikan langkah kaki Arya yang sedang mendekat ke arah Mbak Ina. Arya bergegas menghampiri mbak Ina.
"Ada apa mbak Ina?" Tidak ada basa basi yang keluar dari mulutnya, membuat mbak Ina buru buru menghapus air matanya dan menyembunyikan ponselnya ke belakang tubuhnya.
Arya mengernyitkan dahinya, ada sesuatu yang disembunyikan dari ART sahabatnya ini begitulah dalam benaknya.
"Apa yang kamu sembunyikan?" Suaranya sedikit meninggi dan membuat Mbak Ina menundukkan kepalanya.
"Ti-ti-dak ada Pak," gugupnya dan semakin membuat Arya geram.
"Kamu mau saya pecat? Ingat semua urusan Rumah Tangga ibu Boss saya yang atur, termasuk pemecatan kamu!" Tak segan berbicara keras kepada ART yang bekerja di rumah Bossnya.
"Ja-ja-ngan Pak, jangan pecat saya." Dengan nada yang sangat takut.
"Kemarikan ponselmu!" Menengadahkan tangannya untuk meminta ponsel yang disembunyikan Mbak Ina.
__ADS_1
"Tapi Pak ... " Tak segan Arya mengambil paksa ponsel milik mbak Ina. Sebenarnya bukan sifat Arya yang pemaksa dan sedikit arogan seperti ini. Ia hanya tidak ingin ada yang menutup nutupi tentang Ibu Boss dan Echa. Ia juga sangat mengkhawatirkan keadaan mereka.
Arya membuka ponsel Mbak Ina dan membelalakkan matanya, tak terasa air matanya menetes. Ia melihat tubuh kurus Echa yang sedang di bersihkan oleh Ayanda. Semua selang dan kabel medis masih dipasang pada tubuh Echa malah ada penambahan alat medis. Ditambah ia melihat raut wajah Ayanda yang suram dan mendung. Tidak ada gairah hidup yang dipancarkan matanya. Hati Arya seperti teriris pisau yang sangat tajam, perih sekali. Ia pun menyeka air matanya.
"Ikut saya ke taman belakang!" Perintahnya kepada mbak Ina dan mengembalikan ponsel milik mbak Ina.
"Apa kamu sudah sering menerima foto foto tentang kondisi Echa dan Bu Boss?" Setelah sampai di Taman belakang.
"Dari semenjak non Echa dan Ibu pergi ke Singapura Pak. Tapi setiap hari nomor si pengirim selalu berbeda beda dan tidak bisa dihubungi."
"Apa kamu memperlihatkan foto itu kepada Pak Boss?" Mbak Ina Hanya menggelengkan kepalanya.
"Dalam pesan tersebut saya tidak boleh memberitahu Bapak, jika itu terjadi saya tidak akan pernah mendapatkan kiriman foto kondisi non Echa dan Ibu terkini. Saya sedih melihat keluarga ini hancur." Suaranya sangat berat dan tak terasa air matanya pun tumpah.
Arya hanya bisa menghela nafas kasar. Sesungguhnya ia pun tidak rela jika hubungan sahabatnya ini hancur dikarenakan kehadiran orang yang sama yang pernah menghancurkan keluarga ini di masa lalu.
Terdengar langkah kaki dari tangga, Arya dan mbak Ina segera menuju meja makan.
Rion mengernyitkan dahinya ketika melihat Arya ada di meja makannya. Namun ia acuh tidak mau tau dan bergegas mengambil tas kerjanya berlalu meninggalkan Arya.
"Sarapan dulu," ajaknya. Rion hanya menggelengkan kepala dengan mata yang sembab dan wajah yang kusut. Sangat terlihat jika sekarang Rion sedang hancur. Arya menarik paksa tangan Rion ke meja makan dan mendudukkannya secara paksa.
"Gua gak lapar!" Suaranya sedikit meninggi namun tidak dihiraukan oleh Arya. Arya sibuk dengan menuangkan susu ke gelas dan juga mengoleskan selai cokelat diatas roti.
"Makan!" Setelah memberikan piring yang berisi roti dan segelas susu kepada Rion. Rion hanya menatap makanannya tanpa menyentuhnya. Bayangan kebisingan di pagi hari di meja makan mengisi pikirannya. Teriakan khas putrinya di pagi hari, perdebatan kecil antara istri dan anaknya, kemesraannya dengan istrinya membuatnya berkaca kaca. Ia memejamkan matanya sejenak, menghela nafas kasar dan pergi meninggalkan meja makan. Arya pun langsung mengejar Bossnya.
Mbak Ina yang sedari tadi berada di dapur merasa kasihan melihat majikannya seperti itu. Wajah yang tampan dan penuh kharisma berubah menjadi wajah yang sendu dan banyak menyiratkan kesedihan.
Saya hanya ingin melihat kalian bersama lagi, menghidupkan rumah ini lagi dengan canda tawa dan pertengkaran pertengkaran kecil kalian. Semoga Tuhan mendengar doaku.
Menutup matanya seraya berdoa dan memohon.
Sementara di halaman depan rumah Rion, Arya memaksa Rion untuk menaiki mobilnya. Sekuat apapun Rion menolak sekeras itupun Arya memaksa. Akhirnya Rion mengalah, karena tubuhnya memang sangat lelah. Lelah dengan keadaan hatinya sekarang ini.
Arya melajukan mobilnya tapi bukan ke arah Kantor Pusat melainkan ke tempat yang lain.
"Mau kemana kita?" Rion mulai berucap karena ia sangat tau ini bukan arah menuju kantornya. Tidak ada jawaban dari Arya, ia tetap fokus membelah jalanan.
__ADS_1
Mobilnya berhenti di salah satu Rumah Sakit ternama di Jakarta. Rion mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Turun! Kita cek kesehatan lu." Dengan enteng dan santainya ucapan itu keluar dari mulutnya. Rion hanya mengikuti perintah Arya karena memang tubuhnya sekarang ini sedang tak sehat terutama hatinya sedang tidak baik baik saja.
Mereka masuk ke ruangan dokter, berbincang bincang sejenak tentang keluhan yang dirasakan Rion dan untuk memastikan kondisi kesehatannya Dokter melakukan tes darah. Dokter berkata jika hasil tes kesehatan akan keluar dalam tiga hari ke depan. Setelah dirasa cukup Rion dan Arya pergi meninggalkan Rumah Sakit. Senyum mengembang dari bibir Arya.
*****
Sita mengirimkan pesan kepada Arya agar ia datang ke Kantor Cabang. Sita terus memandang ponselnya yang setiap pagi pasti mendapatkan kiriman gambar terkini kondisi Ibu Boss dan anaknya. Hati Sita terasa sesak ketika melihat gambar Ibu Bossnya yang sedang menangis menggenggam tangan Echa. Tak terasa air matanya pun terjatuh.
Jika saya di posisi seperti itu belum tentu saya akan kuat menjalaninya. Sangat dahsyat cobaan yang kau alami Bu Boss, hasil dari sebuah pengkhianatan yang berakhir dengan kesakitan dan kepedihan. Entah berapa luasnya kesabaranmu Bu Boss? Menjalani semua ini sendiri tanpa sosok suami yang mendampingi. The real of wonder woman.
Sita hanya bisa menghela nafas kasar. Ia pun melanjutkan pekerjaannya kembali. Namun tetap saja ia tidak fokus. Ia masih kepikiran tentang Ibu Bossnya, meskipun dulunya ia licik tapi setelah Ibu Bossnya memaafkannya dan menerimanya menjadi asistennya, ia semakin mengenal atasannya itu. Wanita pintar, lembut, penyayang dan sekarang ia tau Ibu Bossnya itu wanita tangguh dan sangat sangat sabar. Hingga panggilan dari seseorang membuyarkan pikirannya.
"Mana berkas yang kamu maksud." Seperti biasa tanpa basa basi. Arya memiliki dua kepribadian, dia akan menjadi tegas dan garang kepada para pegawai dan akan menjadi manusia konyol nan bijak jika dihadapan Bossnya.
"Ini Pak," Sita menyerahkan berkas berkas yang dimaksud, Arya pun membaca dengan sangat teliti dan hati hati.
Ketika semuanya sudah selesai ia baca, ia menutup semua berkas dan membereskannya.
"Rahasiakan ini dari Pak Boss." Sita dibuat kaget oleh ucapan Arya. Pikiran-pikiran buruk berkeliling di otaknya.
"Jangan salah paham dulu," Arya tahu apa yang dipikirkan Sita.
"Saya bukan manusia licik, tapi saya hanya ingin melindungi apa yang seharusnya saya lindungi. Saya tidak ingin Toko A&R ini hancur setelah dengan susah payah saya dan Boss bangun. Ada orang yang sedang mengincar ini, terlebih jika semua Toko A&R ini sudah atas nama Pak Boss dengan sangat mudah serangga itu masuk dan menguasai semua ini. Tidak akan pernah saya biarkan." Sita mengernyitkan dahinya sangat tak mengerti apa yang dikatakan Arya. Tapi dengan kata kata terakhirnya ia sedikit paham, ia menganggukkan kepalanya di hadapan Arya. Sekarang menjadi tugasnya juga untuk melindungi Toki A&R ini demi Ibu Bossnya.
*****
Hay readers,,
Up lagi aku, meskipun waktunya gak tentu Sesempetnya aku aja ya,😁
Tadinya aku mau libur up untuk hari ini, tapi karena ada ide dan waktuku lagi santai langsung aku ketik deh karena jika di nanti nanti akan basi ceritanya.
Begitu pula kalo otak aku di mode buntu, semakin aku memaksa untuk berfikir, semakin susah untukku menuangkannya dalam sebuah kalimat. Menulis itu harus dalam keadaan enjoy dan tenang, ide akan muncul dan mengalir dengan sendirinya,,
Happy reading sayang sayangkuh😘
__ADS_1