Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 46. Keberangkatan


__ADS_3

"Boss, Ada yang ingin bertemu dengan Ibu Ayanda. Katanya Ibu mertuanya." Ketika salah seorang pengawal masuk ke ruang rawat Echa.


Rion melihat ke arah Ayanda, Ayanda hanya menganggukkan kepalanya menandakan setuju. Gio menyuruh pengawalnya untuk mempersilahkan masuk ibu mertua Ayanda.


Sang mamah masuk ke dalam ruang rawat inap dengan didampingi anak perempuannya, mereka mendapatkan informasi dari Arya bahwa Echa dirawat di Rumah Sakit ini. Ketika mereka melihat tubuh Echa yang terbaring di ranjang kesakitan dan tubuhnya dipenuhi dengan kabel alat medis mereka menangis histeris, Ayanda hanya bisa menenangkan mereka dengan air mata yang berjatuhan di pipinya. Gio dan yang lain meninggalkan ruangan rawat, membiarkan mereka bersama Echa sebentar sebelum Echa dibawa ke Singapura.


"Maafin nenek Cha," Dengan terus berurai air mata memeluk tubuh tak berdaya Echa.


"Bangun Cha, ini onty. Jangan tinggalin onty." Terus terisak melihat keadaan Echa yang tak merespon apapun.


Ayanda tak sanggup menahan pilunya saat ini, ia hanya bisa menangis melihat sang mamah mertua dan adik iparnya memeluk tubuh Echa dan menciumi wajahnya. Dilihatnya tidak ada pergerakan sama sekali dari putri kesayangannya yang membuat ia semakin sakit


"Mah, doakan Echa ya semoga perawatannya disana berhasil dan Echa bisa berkumpul lagi dengan kita." Suaranya sangat bergetar menandakan kepedihan yang sangat mendalam.


Sang mamah menggenggam tangan menantunya yang sedang menunduk dalam menahan segala kesedihannya.


"Sampai sejauh ini teteh masih kuat menghadapi segala cobaan ini mamah gak tau harus bilang apa? Dari Echa kecil teteh sanggup menahan rasa sakit yang telah anak mamah berikan dan berjuang sendiri demi kesembuhan Echa, dan sekarang keadaannya pun sama. Teteh harus berjuang sendiri lagi tanpa anak mamah. Maafkan mamah yang tak bisa mendidik anak mamah menjadi suami yang baik untuk teteh. Mamah telah gagal mendidiknya." Menunduk dalam menahan penyesalannya.


Ayanda memeluk erat tubuh sang mamah mertua dengan air mata yang terus mengalir deras dipipinya.


"Mamah udah jadi orangtua yang sangat baik untuk anak dan menantu mamah, jangan salahkan diri mamah untuk ini. Mungkin ini takdir yang telah Tuhan gariskan untuk teteh dan Echa. Makasih selama ini telah menyayangi teteh seperti anak mamah sendiri, dan juga telah menerima segala kekurangan teteh untuk menjadi menantu mamah." Nisa menghampiri mamah dan kakak iparnya dan memeluk mereka berdua.


"Kalian wanita hebat, Nisa sayang kalian." Air matanya pun tak mampu berhenti.


"Doakan teteh mah, semoga teteh bisa membawa Echa kembali sembuh dan berkumpul bersama kalian lagi." Setelah melepaskan pelukannya.


"Doa mamah selalu menyertai langkahmu teh, teteh udah seperti anak mamah sendiri dan anak mamah seperti orang lain sekarang. Teteh yang kuat ya, yang sabar. Dibalik semua ini pasti akan ada hikmahnya. Semoga teteh menemukan kebahagiaan teteh. Maafin anak mamah," dengan air mata yang berlinag. Ayanda hanya tersenyum.


"Teteh sudah memaafkan anak mamah dari jauh jauh hari, teteh gak mau menyimpan dendam. Bagaimanapun Rion adalah ayah kandung Echa, itu tidak akan merubah statusnya kan. Teteh berdoa semoga Rion menemukan kebahagiaannya, begitupun teteh. Kebahagiaan teteh hanya ada pada kesembuhan Echa." Menatap tubuh anaknya yang masih tak bergerak.


"Teh, aku beruntung punya kakak ipar kayak teteh. Aku banyak belajar dari teteh, dari ketulusan hati teteh dan kesabaran teteh selama ini. Jangan lupakan aku dan mamah kalo teteh udah menemukan kebahagiaan teteh. Teteh akan tetap menjadi kakak perempuan aku dan anak perempuan mamah." Mendengar ucapan tulus dari bibir Nisa, Ayanda tidak bisa membendung air matanya. Ia pun memeluk tubuh adik iparnya dan mamah mertuanya.

__ADS_1


"Terimakasih atas ketulusan kalian menyayangi teteh, terimakasih."


"Ayank, sudah waktunya kita berangkat. Tenaga medis akan mempersiapkan semuanya untuk keberangkatan Echa. Kita berangkat lebih awal karena ayah sudah menunggu kita." Membuat sang mamah dan Nisa heran. Setau mereka ayah Ayanda sudah meninggal, dan siapa ayah yang dimaksud pria itu? Dan siapa pria itu? Banyak pertanyaan yang ada di kepala sang mamah dan adik iparnya.


Ayanda pun pamit kepada semuanya yang ada disana, tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih karena telah setia berada disampingnya selama ini. Hanya Rionlah yang tidak tau dengan keberangkatan Ayanda dan juga Echa ke Singapura.


*****


Rion hanya sendiri di kamar rawatnya tak ada satupun yang menemaninya. Seolah mereka menjauh dan tak peduli akan kondisinya. Ia hanya bisa menatap langit langit kamar dengan pandangan tak terbaca.


Bagaimana dek keadaanmu? Maafkan ayah yang telah menyakitimu, maafkan ayah,,


Air matanya jatuh, dadanya sesak seakan merasakan sakit yang putrinya rasakan.


Ketika ayah sembuh, ayah akan menemui dek. Ayah akan menjagamu dengan sepenuh hati ayah dan sekuat raga ayah, ayah gak akan membiarkanmu sakit lagi. Ayah janji dek.


Matanya terpejam merasakan penyesalan yang sangat dalam, tanpa ia ketahui putri kecilnya sekarang sedang terbaring koma tak berdaya dan akan dibawa ke Singapura.


Guratan guratan kesedihan dan penyesalan sangat nyata ada pada wajahnya. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang karena tubuhnya masih lemah, tapi ia berjanji akan memperjuangkan dua wanita kesayangannya itu ketika ia pulih.


*****


Setelah keberangkatan Gio dan Ayanda, tak lama keberangkatan Echa tiba. Semuanya melepas Echa dengan penuh keharuan dan tangis. Gadis kecil yang berisik kini sedang tak berdaya, hidupnya kini bergantung dengan alat alat yang berada pada tubuhnya. Setelah keberangkatan Echa satu per satu dari mereka pergi meninggalkan Rumah Sakit.


"A Arya!" Panggilan itu membuat Arya menghentikan langkahnya. Nisa dan mamahnya menghampirinya dan mengajaknya duduk dikursi tunggu Rumah Sakit.


"Ada apa?" Dengan tatapan curiga.


"Laki laki yang sama teteh tadi siapa?" Nisa to the point dengan kekepoannya.


"Biarkanlah Ayanda bahagia, jangan usik hidupnya lagi. Sudah sering ia menderita karena ulah kakakmu." Langsung berdiri dan meninggalkan Nisa dengan mamahnya yang bengong dengan ucapan Arya.

__ADS_1


Maafkan aku Bu Boss, aku hanya ingin sekarang dirimu bahagia melupakan semua luka yang pernah ada. Aku tidak ingin ada orang yang mengusik kebahagiaanmu, sudah cukup kamu menderita dengan pengkhianatan dan kini deritamu semakin bertambah dengan terbaringnya Echa dalam ketidak sadarannya. Semoga dirimu bahagia Bu Boss dengan siapapun yang telah bisa menghilangkan semua lukamu, dan aku berharap dirimu kembali lagi dengan membawa gadis bawel itu dengan segala keceriaannya dihadapan kami.


Harapan yang ia sampaikan pada langit sore yang teduh. Hari ini adalah hari terberat untuknya dan juga para asistennya yang lain. Kepergian Bossnya membuat mereka merasa hampa, dan juga keadaan Echa yang membuat mereka meneteskan air mata.


*****


Happy reading semua,,


*Curhatan*😪


Mbaknya : Kak Thor, please crazy up.


Akunya : Maaf mbaknya, aku gak bisa. Otakku buatan China kalo dipaksain ntar gak kuat dan langsung ngeblank. Ntar ujung ujungnya aku gak up mbaknya sensi sama akuh😑


Mbaknya : Ya udah banyakin donk cerita per babnya kalo gak bisa crazy up.


Akunya :. Itu udah 1100 kata lebih mbaknya, masih kurang banyak juga. Terus harus berapa dong?🤔


Mbaknya : 5000 kata kak,😁


Akunya :. Bunuh aja aku mbaknya, bunuh,,😥


Mikir 1000 kata per bab aja udah bikin rambutku memutih, apalagi 5000 kata. Botak akunya mbaknya😖


Mbaknya : Biar kayak Bocah botak di cerita ini, 🤣🤣🤣


Akunya : 😭😭😭😭😭


*****


Tapi makasih loh udah setia baca karya aku ini, sampe pada kebawa emosi. Aku senang loh bisa bikin kalian mewek baca cerita aku,

__ADS_1


Aku padamu kesayanganku,,😘😘


__ADS_2