
Ponsel Rion berdering menandakan ada chat masuk. Di bukanya isi pesan tersebut. Badannya lemas tak berdaya, hatinya sangat sakit dan seketika hancur lebur. Kristal bening pun terjatuh dari pelupuk matanya.
Arya yang masih berada di ruangan Bossnya segera menghampiri Rion. "ada apa?" tanyanya ketika melihat Rion menenggelamkan wajahnya di atas meja.
Ponsel Bossnya yang masih menyala dan terdapat sebuah gambar dua insan manusia yang sedang terharu dalam sebuah pelukan ditambah seorang gadis yang sedang memeluk kedua orang tersebut seraya menitikan air matanya dengan senyuman sangat lebar.
Arya hanya bisa menghela nafas, hatinya ikut bahagia melihat gambar tersebut tapi di sisi lain hati sahabatnya hancur berkeping-keping. "harusnya lu ikut bahagia," ujar Arya.
"Apa semudah itu mereka melupakan gua? Apa semudah itu mereka menggantikan posisi gua dengan dia?" tanyanya dengan isak tangis.
"Gimana gak mudah coba, pria itu seribu kali lebih baik dari lu Rion Juanda," jawabnya dengan tegas.
"Apa lu amnesia atau pura-pura lupa ketika lu nyakitin mereka, dengan sangat mudah lu membalikkan keadaan yang tadinya baik-baik saja menjadi sangat amat kacau. Cinta yang tumbuh berubah menjadi sakit dan hancur menjadi serpihan-serpihan dalam waktu sekejap. Apa lu masih gak ingat, hah?" tanya balik Arya.
Mulut Rion terkunci seketika, tak ada yang bisa ia sanggah maupun ia bantah.
"Tidak akan ada asap jika tidak ada api, tidak akan terjadi seperti ini jika lu gak mulai duluan. Lu tau mereka butuh waktu untuk menerima Andra sebagai pengganti lu. Kalo mereka punya otak dan hati kayak lu, sebelum cerai mereka bisa dengan mudah menerima Andra dalam hidup mereka," terang Arya.
Rion semakin terisak mendengar ucapan Arya yang terus memojokkan dirinya. Ingin rasanya menjawab semua ocehan Arya namun bibirnya terasa peluh.
"Lu baru ngeliat Andra ngelamar Ayanda aja udah merasa paling hancur, gimana kabarnya mantan istri lu sembilan tahun lalu? Lu lebih milih si ular sawah dan rela membuang anak dan istri lu. Hampir saja lu menikah dengan pelakor tanpa menceraikan Ayanda terlebih dahulu. Apa lu pernah mikir kesana?" bentaknya.
"Apa lu tau bagaimana hati Ayanda ketika dia tau lu akan menikah dengan si kecoak centil ketika kondisi anak lu sedang sakit parah?" tanyanya. Akhirnya Arya menceritakan semuanya.
# flashback on
Sembilan tahun lalu, setelah Ayanda dan juga Echa diusir dari rumah oleh Rion, mereka tinggal dengan keluarga Wiguna. Ayanda sebenarnya tidak mau tapi Genta sang Ayah angkat yang memaksanya agar tetap tinggal di sana dengan alasan kehadirannya dan juga Echa membawa kehangatan dalam rumah besar tersebut.
Sebulan berselang, Echa sakit dan harus di opname di salah satu rumah sakit ternama di Bogor. Hal yang membuat Ayanda rapuh yaitu ketika putri yang sangat ia cintai di vonis mengidap Aritmia yaitu gangguan irama jantung. Ketika hatinya masih sakit karena perlakuan suaminya yang tega mencampakkannya juga anaknya, kini ia harus menghadapi kenyataan jika Echa memiliki penyakit yang serius. Air mata Ayanda tidak bisa terbendung lagi, dadanya sangat sesak merasakan kesakitan yang sangat amat luar biasa ini.
Ayanda duduk sendiri di depan ruang perawatan putrinya. Ia menunduk dalam dengan memegang dadanya yang teramat sakit. Suara seseorang membuyarkan kesedihannya.
"Bu Boss," panggil Arya lalu menghampirinya.
Ayanda buru-buru menghapus jejak air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.
"Siapa yang dirawat Bu Boss?" tanya Arya.
Wajah Ayanda kembali sendu dan murung. "Echa," jawab singkatnya dengan suara lirih.
Arya pun terdiam, sedikit banyak ia mengetahui jika anak dari sahabatnya ini sering sakit. Itulah yang menyebabkan Rion menduakan Ayanda karena terlalu fokus dengan putrinya.
"Sakit apa Bu Boss?" tanya Arya lagi.
"Gangguan irama jantung dan itu bisa menyebabkan kematian," tuturnya dengan air mata yang jatuh kembali membasahi pipinya.
__ADS_1
Ya Tuhan, betapa menderitanya hidupmu Bu Boss. Baru saja di usir dari rumah sekarang harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit, batinnya.
"Arya, saya mohon jangan bicarakan ini pada Pak Boss. Saya tidak ingin memberi beban kepadanya. Cukup semua beban ini saya pikul dan tanggung sendiri," ucap Ayanda dengan senyum tipis di bibirnya.
Arya hanya bisa mengangguk pelan menuruti permohonan dari istri atasannya.
Benar-benar wanita hebat. Hanya pria bodoh dan tol*l yang mencampakkan wanita seperti ini. Di balik tubuh kecilnya, tersimpan ketangguhan yang luar biasa, sudah jatuh tertimpa tangga pula, ucapnya dalam hati.
Ponsel Arya bergetar, panggilan masuk dari sang Boss menghiasi ID pemanggil.
📞 "Kenapa?"
📞 "Urus persiapan pernikahan gua buat besok, sekarang juga."
📞 "A-apa? Nikah?"
📞 "Lu budek apa cong*k sih, iya GUA MAU NIKAH."
Panggilan telepon pun langsung terputus. Arya masih mematung di tempatnya.
"Siapa yang mau nikah, Arya?" tanya Ayanda.
Arya hanya bisa diam, ingin sekali ia jujur tapi pasti akan membuat Ibu Bossnya semakin hancur. Menutupinya pasti lama-lama juga akan terbongkar.
"Siapa Arya?" tanyanya lagi dengan tatapan tajam melihat Arya.
Hati Ayanda bagai di hujani ribuan peluru saat ini. Sakitnya dicampakkan, hancurnya mendapat kenyataan jika putrinya mengidap penyakit serius dan remuknya ketika mengetahui suaminya akan menikah dengan seorang pelakor. Bagai mati rasa hatinya sekarang ini, seperti pepatah mengatakan hidup segan mati tak mau.
"Sampaikan ucapan selamat saya untuk mereka. Semoga mereka bahagia," ujarnya dengan senyuman terpaksa.
Arya melihat ke arah Ayanda, nampak jelas luka yang sangat dalam yang menghiasi wajahnya. Ayanda pergi meninggalkan Arya. Tanpa Ayanda sadari ternyata Arya mengikutinya.
Ayanda duduk di taman rumah sakit, Arya melihat betapa hancurnya istri dari atasannya ini. Isakan tangis terdengar sangat pilu dengan air mata yang tak henti mengering membuat seorang Arya iba. Ia menghampiri Ayanda lalu menyodorkan tissue.
Ayanda menatap ke arah orang yang memberinya tissue. Dengan mata yang sembab, pipi yang sudah basah dibanjiri air mata ia menerima tissuenya.
"Jangan katakan apa pun tentang saya dan putri saya pada atasanmu. Biarkan saya membesarkan anak saya sendiri dengan kemampuan saya sendiri."
"Kami tidak ingin seperti pengemis yang menengadahkan tangan dan memohon sambil bersujud kepada dia. Akan saya buktikan jika saya mampu membesarkan putri saya. Sekiranya Tuhan lebih sayang dengan Echa, biarkan saya yang berjuang sendiri tanpa ada campur tangan dia. Dan saya tidak akan memberitahukan semuanya, karena anak saya memang anak yang tidak diinginkan olehnya. Apa pun akan saya korbankan untuk Echa meskipun nyawa saya sebagai penggantinya," ujarnya panjang lebar.
Hati Arya sangat terenyuh mendengar ucapan dari Ayanda. Pedih mendengar semuanya, Ingin rasanya ia menyeret tubuh Bossnya agar melihat kondisi istrinya saat ini.
Satu tahun berselang, tak sengaja Arya bertemu dengan Ayanda di salah satu retail Wigumart di Bogor. Arya meminta waktu sebentar agar bisa bicara dengannya. Ayanda pun menyetujuinya. Mereka duduk di depan minimarket Wigumart.
"Ada apa?" tanya Ayanda.
__ADS_1
"Bagaimana Echa?" tanya balik Arya.
"Aku sedang berusaha semampuku, sekuat tenagaku untuk menyembuhkannya," jawab Ayanda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku kerja siang-malam untuk memenuhi semua biaya pengobatan putriku. Karena Echa ...." Isakan tangis yang terdengar sangat pilu.
"Echa kenapa?" tanya Arya semakin penasaran.
"Umur Echa tidak akan lama lagi," jelasnya.
.
Arya tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Selain pedih hatinya seakan tersayat oleh silet bermata tajam.
# flashback off
Arya menceritakannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Terlalu sakit jika harus kembali ke masa itu.
Rion semakin terpukul ketika mendengar kisah sedih mantan istrinya hampir sembilan tahun lalu. Perbuatannya ternyata sangat kejam hingga sampai detik ini ia baru tahu sakit sebenarnya putri semata wayangnya. Selama ia bersatu lagi dengan Ayanda, mantan istrinya tidak pernah berbicara apa-apa kepadanya. Seolah semuanya baik-baik saja. Pada kenyataannya ia rela menukar kebahagiaannya demi kebahagiaan putrinya.
"Berulang kali lu sakiti dia, merobek-robek hatinya dan menenggelamkan hatinya di lautan nestapa. Hanya wanita bodoh yang mau kembali lagi kepada pria macam lu. Udah dikasih kesempatan malah membuangnya dengan percuma. Apa perlu suami seperti lu di pertahankan?" tanya Arya.
"Andai lu bisa lihat bagaimana wajah mantan istri lu sembilan tahun lalu, gua yakin lu akan bersujud meminta maaf sama dia."
"Lu tau, kenapa Ayanda mau balik lagi sama lu?"
Rion menggelengkan kepalanya.
"Cerna baik-baik ucapan gua, sebelumnya Ayanda sudah memberikan pengertian kepada Echa tentang sakit yang di deritanya. Lu tau apa permintaan terakhirnya? Dia ingin bertemu sama lu, ayah kandungnya."
"Alasan Ayanda menerima lu lagi ya karena Echa, dia rela mengubur kesakitannya dalam-dalam hanya untuk membuat anaknya bahagia."
"Masa lalu Ayanda baru gua bongkar karena sekarang saatnya lu tau yang sebenarnya. Supaya lu gak selalu memandang Ayanda sebagai wanita gampangan. Padahal ia adalah wanita yang patut diperjuangkan," jelas Arya.
Rion mencerna dalam-dalam kisah mantan istrinya selama sembilan tahun ini tanpa ia ketahui. Pengorbanan yang berujung pengkhianatan kembali membuat mantan istrinya terluka lagi dan lagi hingga membuat Ayanda pergi.
*****
Hy,,,
Tuh aku kasih pengkhianatan Rion kepada Ayanda sembilan tahun lalu. Bagaimana jika kalian berada di posisi Ayanda? Akan tetap bertahan atau pergi pelan-pelan?
Saya hanya mengingatkan, jika cerita ku ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian dan membuat kalian kecewa lebih baik tidak usah di baca dari pada meninggalkan komentar yang bikin saya emosi jiwa.
Bikin cerita ini tuh gak mudah loh, jadi hargailah pemikiran saya. Biarkanlah otak saya berimajinasi sendiri tanpa ada tekanan dari manapun. Berimajinasi itu perlu kebebasan.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan juga vote ya biar makin banyak lagi idenya.
Happy reading semua,,