Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 102. Quality Time


__ADS_3

Rona bahagia terpancar dari wajah Ayanda dan juga Gio. Menikmati suasana indahnya hutan Pinus dengan saling bercerita dan juga tertawa. Melepas rindu setelah enam bulan terpisah. Mungkin, ini yang dinamakan takdir Tuhan yang sangat indah. Mereka masih menjaga cintanya masing-masing. Bertemu kembali dengan keadaan masih sama-sama sendiri.


Siang harinya, Gio mengantarkan Ayanda ke toserba miliknya di Malioboro. Belum cukup rasanya waktu berdua dengan Ayanda. Hanya saja, ia harus mengerti dengan kesibukan wanitanya yang terbilang padat.


"Makasih, Bang," ucapnya setelah sampai toserba.


Gio pun tersenyum, panggilan sayang untuknya telah kembali lagi. Gio ikut turun bersama Ayanda dengan tetap menggenggam tangan kekasihnya.


"Mas Korea!" teriak seseorang dari dalam.


Ayanda tertawa melihat tingkah Andri seperti cacing kepanasan.


"Kamu dapat asisten modelan banci taman Lawang dari mana sih?" bisiknya.


Ayanda tertawa, namun langsung mencubit pinggang Gio hingga ia meringis kesakitan.


"Ay, bagi tutorial memikat hati para Mas-Mas Korea dong," pinta Andri sambil mengedipkan matanya pada Gio.


Gio bergidik ngeri. "Sayang, lama-lama di sini aku terkontaminasi dengan virus-virus berbahaya," ucapnya pada Ayanda.


Ayanda tersenyum, ia dan Gio pun masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Andri yang tengah menelan air liurnya memandangi Gio dari belakang.


"Bang, benarkah Echa kemarin mengusirmu?" tanya sendu Ayanda seraya menatap wajah Gio.


"Mungkin dia masih kecewa," jawab Gio dengan santai.


"Bang, aku takut kalo ...."


Gio langsung memeluk tubuh Ayanda. Ia mengerti akan ketakutan yang dirasakan kekasihnya sekarang ini. Tembok penghalang mereka sekarang ialah Echa. Sedangkan, Ayanda tidak akan pernah mengecewakan putri satu-satunya.


"Aku harus berjuang extra sekarang ini. Meyakinkan hatimu dan juga putriku," kata Gio.


Ucapan Gio mampu menenangkan hati Ayanda yang tengah risau. Hanya saja, ia belum mau membicarakan perihal Echa yang memintanya untuk kembali bersama mantan suaminya. Ia tidak mau merusak momen bahagia yang baru saja tercipta.


Di lain tempat, ada dua sosok manusia yang selalu beradu argumen. Mereka seolah tak mengenal tempat. Di manapun, selalu saja adu mulut.

__ADS_1


Seperti sekarang ini, meskipun sedang menikmati makan siang mulut mereka enggan untuk akur.


"A, kalo ada cewek yang nembak aa. Bakalan aa terima atau tolak?" tanya Nisa pada Arya.


"Tergantung, ceweknya siapa dulu. Terus gua suka gak sama dia. Gua bukan tipe cowok yang dengan mudahnya nerima cewek. Gua anti berhubungan tanpa sebuah perasaan," jawabnya.


Nisa tersenyum lebar mendengar jawaban serius dari Arya. Jarang-jarang Arya berbicara benar di hadapan Nisa.


"Kalo Nisa bilang ...."


"Nisa sayang aa," ucapnya.


Seketika Arya tersedak makanannya sendiri. Buru-buru mengambil air minum miliknya.


"Lama-lama gua mati keselek makanan ini," ujarnya.


Nisa tertawa lepas, Arya tertegun dengan wajah cantik Nisa yang sedang tertawa.


"A, jawab ih," pinta Nisa. Arya masih memandang kagum wajah Nisa.


"A!" teriak Nisa.


"Hati Nisa potek ini, a," lirihnya.


"Tinggal lu beli power glue yang serebuan di warung," sahutnya.


"Asaghfirullah a, tuh mulut pedes banget sih lebih dari mulut netizen yang suka mancing keributan, tapi kalo diajak ribut malah hilang kayak ditelan bumi," timpalnya.


Arya tertawa, mengusap lembut kepala Nisa. "lu adek gua, sama halnya hubungan lu dengan si Rion," jelasnya.


Nisa hanya mengangguk pelan, meskipun dadanya sedikit sesak.


--------


Sore hari, Ayanda sudah tiba di kediamannya. Baru saja hendak merebahkan dirinya di kamar, suara pintu kamarnya terbuka. Echa dengan senyum manisnya menghampiri Ayanda.

__ADS_1


"Mah, makan di luar yuk," ajaknya.


Ayanda mengernyitkan dahinya. Ia merasa sedikit aneh dengan Echa yang tiba-tiba mengajaknya makan di luar. Padahal, putrinya adalah tipe anak yang senang sekali dengan yang namanya rebahan.


"Tumben banget, ada apa?" tanya Ayanda sedikit curiga.


"Aku cuma pengen quality time sama Mamah," jawabnya dengan bergelayut manja di lengan sang mamah.


Akhirnya, Ayanda mengikuti kemauan putri semata wayangnya ini. Tidak ada kata lelah untuk sang anak. Tawa Echa adalah penawar rasa lelah Ayanda.


Mereka telah tiba di sebuah restoran kekinian di Jogja. Echa terus menarik tangan mamahnya, hingga tiba di sebuah meja. Sudah ada Rion yang sedang tersenyum ke arah dua perempuan itu.


Ayanda melirik ke arah Echa. Dibalas dengan nyengir kuda. "quality time, mom, dad and me," Menunjuk Ayanda, Rion dan juga dirinya.


Sebenarnya Ayanda risih, demi anaknya ia menuruti saja. Toh, semenjak bercerai mereka sangat jarang sekali menghabiskan waktu bersama.


Bagi sebagian orang yang melihat sekilas, mereka adalah keluarga yang sempurna. Gelak tawa Echa dan Rion terdengar sangat riang. Beda dengan Ayanda yang hanya menyimak saja.


Dari kejauhan, ada dua orang pria yang sedang memperhatikan mereka. Satu diantaranya adalah Gio, yang tak lepas memandangi keluarga kecil itu.


Ayanda pamit ke toilet, tak sengaja pandangannya dan juga Gio bertemu. Ayanda mematung di tempatnya, sedangkan Gio masih memandangnya dengan tatapan datar yang tak terbaca.


*****


Hay,,,


Maaf up-nya jauh diluar jadwal😁


Mood ku lagi jelek jadinya begini deh😖


Tapi tenang, hari ini aku akan up 2 bab. Tapi gak akan aku barengin. Satu bab lagi akan terbit sore ya,,


Karena kalo dibarengin pasti like bab yang atas sedikit, dibanding like episode yang paling bawah.


So, tunggu aja ya ....

__ADS_1


Kencengin lagi like, komen dan votenya biar aku crazy up lagi😂


Happy reading semua,


__ADS_2