
Sejak dari tadi Rion tidak keluar dari kamarnya. Ia masih sedikit ragu akan keputusannya, karena memang sesungguhnya dirinya tidak bisa melepaskan Ayanda dan juga Echa. Ia sangat tidak rela jika nanti Ayanda dimiliki oleh orang lain. Cintanya sangat besar, kesalahannya pun teramat sangat besar kepada istri dan anaknya.
Rion duduk di sofa single yang berada di kamarnya. Memantapkan hatinya dengan keputusan yang akan diambilnya. Ia menyenderkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Arya masuk kedalam kamar Rion tanpa basa basi, tanpa mengetuk pintu dan tanpa suara. Dilihatnya Rion sedang duduk di sofa, ia pun menghampirinya.
Terlihat sangat jelas wajah sahabatnya itu penuh dengan kesedihan dan kekacauan. Arya pun bisa merasakan kegalauan yang Rion rasakan.
"Ada apa?" tanyanya, membuat Rion membuka matanya yang baru saja ia pejamkan untuk sesaat.
"Gua udah hubungi Pengacara Endro untuk mengurus semuanya," jelasnya.
Arya hanya menganggukkan kepalanya, jika sudah menyangkut kata pengacara pasti akan ada keputusan besar yang akan diambilnya.
"Besok sebelum subuh kita kembali ke Jakarta," ujarnya. Rion pun menutup matanya kembali dan menyenderkan tubuhnya di sofa.
Arya melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.
"Lu juga tidur, besok di pagi buta kita udah harus pergi," ucapnya yang telah bergelung dibawah selimut, bersiap menuju ke alam mimpi.
Rion menghela nafas kasar dan mengikuti ucapan dari sahabatnya. Ia merebahkan tubuhnya, memandang langit langit kamar.
Semoga ini jalan terbaik untuk kita, kebahagiaan kalian adalah kebahagiaanku juga. Maaf selama bersamaku, aku belum bisa buat kalian bahagia.
Tak terasa buliran bening pun menetes diujung matanya. Penyesalan yang datang diakhir cerita, yang membuat dirinya semakin terluka dan menderita.
Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00, Rion dan Arya sudah rapih dan akan bersiap kembali ke ibukota.
"Mah," sapanya pada sang Mamah.
"Aa pergi ya, Mah. Jaga diri mamah baik baik," ucapnya sambil memeluk tubuh renta mamahnya.
Sang mamah hanya tersenyum mendengar ucapan sang putranya.
"Doakan aa agar aa kuat menghadapi cobaan ini," pintanya kepada beliau.
"Doa mamah akan selalu menyertai kemanapun aa melangkah," balasnya.
"Mah, aa tidak akan pernah mengungkit harta gono gini. Biarkanlah semuanya menjadi milik Yanda dan juga Echa," ucapnya sambil memakasakan tersenyum.
"Sebanyak apapun aa memberikan harta kepada istri dan anak aa, itu tidak akan bisa mengganti hati mereka yang sudah terlanjur sakit. Kebahagiaan tidak dapat dibeli dengan uang, a," jelas sang Mamah.
Rion pun hanya terdiam, Ia pamit kepada sang mamah dan tidak lupa mencium tangannya diikuti oleh Arya.
Arya melajukan mobilnya menuju Jakarta. Didalam mobil selama perjalanan ia melihat sahabatnya terlihat gelisah.
"Kenapa, lu?" tanya Arya pada Rion.
"Dari tadi hati gua gak enak banget, gelisah gak karuhan," katanya.
"Itu mah nervous karena mau menggugat cerai istri lu," balasnya.
Perasaan gelisah dan gundah yang ia rasakan sekarang sama halnya ketika ia akan kehilangan papahnya.
Rion hanya menarik dan menghembuskan nafasnya, untuk menenangkan dirinya.
Selama dua jam menempuh perjalan, akhirnya ia tiba di Kantor pusat. Sudah ada pengacara Endro yang menunggu mereka.
Set dah, rajin banget ini pengacara jam segini udah di Toko Pusat, gumam Arya.
*****
Di lain negara, matahari masih malu-malu menampakkan dirinya pada langit Singapura. Kicau burung, angin sejuk, udara yang segar menjadi kesatuan yang sangat sempurna untuk mengawali hari.
__ADS_1
Patient Monitor berbunyi kencang, membuat Ayanda yang sedang berada di kamar mandi berlari keluar, Gio sudah menekan tombol urgent untuk memanggil dokter dan tim medis lainnya.
"Gi," lirihnya, air matanya tak mampu ia tahan sambil terus memandangi angka yang semakin menurun di patient Monitor.
Gio hanya menghela nafas kasar dari tadi melihat penurunan dari tubuh Echa. Tak lama tim medis sudah memasuki ruangan Echa.
Dokter dan para perawat mulai memeriksa detail kondisi Echa. Segala cara mereka lakukan untuk menormalkan semua tekanan yang menurun.
"Please save my daughter," pintanya pada Dokter Lie. Dokter Lie hanya menganggukkan kepalanya.
Tolong selamatkan putriku,
Tim medis berusaha sekuat tenaga mereka untuk menormalkan keadaan drop Echa. Segala cara telah mereka lakukan.
Dokter Lie menatap kearah Gio, menggelengkan kepalanya tanda ia menyerah,
"No! She is still alive," teriaknya.
Tidak! Dia masih hidup,
Ayanda menangis histeris, hati ibu mana yang tidak akan teriris dan sakit mendengar anaknya tidak bisa diselamatkan lagi. Kenyataan pahit yang belum bisa ia terima.
Gio pun tak kuasa menahan air matanya melihat kedua perempuan didepannya sekarang ini, hatinya ikut sangat terluka melihatnya.
"Bangunlah, dek! Bangun!" teriak lirih Ayanda, dengan wajah yang dibanjiri air mata. Tim medis yang berada di ruangan itupun ikut menyeka air mata mereka, karena Ayanda terus menerus mengguncang tubuh putrinya untuk membangunkannya.
"Don't touch her!" teriaknya lagi dan lagi.
Jangan sentuh anakku!
Tim medis yang hendak mencabut semua alat penopang hidup Echa pun melirik kearah Gio. Gio hanya menggelengkan kepalanya.
"How long she will last?" tanyanya pada Dokter Lie.
Berapa lama ia akan bertahan?
Tiga jam,
"In after three hours there is no change in the conditions, you may remove all the devices installed in her body," ucapnya.
Jika selama tiga jam tidak ada perubahan pada kondisinya, kalian boleh melepaskan semua alat yang terpasang pada tubuhnya.
"No!" jerit Ayanda sambil menangis.
"Echa masih hidup, Gi," lirihnya dengan wajah yang sudah bermandikan air mata.
Gio mendekat kearah Ayanda, menghapus semua air mata yang membasahi pipinya.
"Nama kita sudah ditulis pada daun-daun di pohon yang dijaga malaikat maut, bila waktunya sudah gugur pasti akan jatuh kebawah. Jika daun yang gugur itu bernama Echa, kita harus mengikhlaskannya kembali ke tanah," ucapnya, membuat Ayanda menangis lagi.
Gio pun menghampiri Echa, menatap wajahnya yang sudah tak bercahaya dan pucat pasi.
"Bertahanlah! Papa Gi akan membawanya kesini," bisiknya ditelinga Echa.
Gio meninggalkan mereka yang berada di dalam ruangan perawatan.
Pertemuan antara pengacara Endro dan Rion sebenarnya sudah selesai, hanya tinggal basa basi sambil menikmati secangkir kopi.
"Udah beres semua, kan," ucapnya. Kedatangan Arya membuat pengacara Endro dan juga Rion tercengang ditambah wajah Arya yang terlihat sangat panik.
"Ayo, ikut gua," serunya, langsung menarik tangan Rion dan sedikit menyeretnya karena berjalan dengan langkah panjangnya.
"Ada apa?" tanyanya yang merasa sakit diseret paksa oleh Arya.
__ADS_1
Tidak ada jawaban apapun dari mulut Arya. Arya langsung membukakan pintu mobil untuk Rion. Tanpa berkata apapun ia langsung melajukan mobilnya, tidak seperti biasanya Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Bas, gua masih pengen hidup," teriaknya. Namun, tak digubris oleh Arya.
Tak lama mereka tiba di landasan, sudah ada Remon menunggu mereka disana.
"Pak Arya!" sapanya. Lalu membawa mereka masuk kedalam jet pribadi.
Selama mengudara, Rion selalu bertanya kepada Arya ataupun Remon tapi mereka semua diam membisu. Ia hanya bisa menghela nafas kasar.
Tiba sudah mereka dilantai atas Rumah Sakit, Remon menyuruh mereka untuk mengikutinya. Langkah mereka berhenti pada satu ruangan. Remon membukakan pintu, mempersilahkan mereka masuk.
Didalam ruangan sudah berkumpul beberapa orang dan juga semua tim medis, mereka yang berada didalam ruangan menoleh kepada orang yang baru saja datang. Semua yang berada di ruangan itu mundur dari ranjang kesakitan yang sedang mereka tunggui. Mata Rion terbelalak tak percaya, air matanya tumpah ketika melihat langsung kondisi putrinya sekarang ini untuk pertama kalinya dan mungkin juga untuk terakhir kalinya.
"E-Echa," ucapnya gemetar dengan Suara berat karena tangisnya.
Suara yang sangat Ayanda kanali dan rindukan selama hampir tiga Minggu ini, Ayanda menoleh keasal suara. Ia sangat terkejut ketika Rion sudah ada dihadapannya.
Dengan langkah gontai ia mendekati ranjang kesakitan putrinya, dilihatnya tubuh kurus Echa dan juga beragam alat medis yang menempel pada tubuhnya membuat Rion menangis histeris.
Ia mendekap tubuh Echa yang tak berdaya, menangis meraung raung sambil memeluknya.
"Maafkan Ayah, dek! Maafkan Ayah!" Hanya itu terucap dari bibir Rion.
Kedatangan Rion membuat suasana semakin haru, tidak ada yang tidak menangis di ruangan itu.
Rion mencium kening Echa sangat dalam, menggenggam tangannya dan menciuminya.
"Berikan Ayah kesempatan lagi untuk membahagiakanmu, Dek. Ayah mohon bangunlah!" lirihnya sambil menempelkan tangan Echa dipipinya.
"It's been three hours," ucap Dokter Lie memecah keharuan.
Sudah tiga jam,
Suasana semakin haru biru, karena semua orang di ruangan ini tau hanya tiga jam Echa akan mampu bertahan.
Gio hanya menghela nafas berat, dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya. Tanda ia pun menyerahkan semuanya kepada Dokter Lie.
"She responds, she cries," seru seorang perawat yang melihat ada cairan bening yang menetes disudut mata Echa.
Dokter Lie langsung mengecek semuanya, patient Monitor pun sudah kembali normal. Ia mengecek secara detail kondisi tubuh Echa.
"This is an extraordinary miracle," ujarnya sambil tersenyum.
Ini adalah keajaiban yang luar biasa,
Semua orang yang berada di ruangan itu pun mengucapkan rasa syukur yang tiada henti.
Ternyata selama ini kamu merindukanmu Ayahmu, maafkan Papa Gi yang sudah memisahkan kalian.
Gio meninggalkan semua orang yang masih berada di ruangan rawat tersebut.
*****
Happy reading semua,,
Entahlah part ini akan bikin kalian nangis dengan rasa yang sudah aku beri atau rasanya belum nyampe jadi B aja,☹️
Karena aku pun nulis dalam mode kesal, 808 kata sudah diketik lalu hilang bagai ditelan bumi😭
Ingin aku banting hapenya tapi sayang,😀
Maafkan aku jika ngasih part ini gak maksimal, gara gara 808 kata yang hilang membuat ideku jadi mandeg.🙏
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, and vote ya biar aku makin semakin nulisnya,
aku padamu,😘