Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 114. Honeymoon


__ADS_3

Kicauan burung bernyanyi dengan merdu. Sedikit bias cahaya membuat Ayanda membuka matanya. Tangan kekar melingkar di tubuhnya. Ayanda menatap wajah tenang Gio yang masih terlelap. Dikecupnya kening sang suami, "i love you my husband," gumam kecilnya.


Perlahan ia melepaskan tangan Gio yang sedang memeluknya. Bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Setelah wajahnya segar, dengan pelan ia membuka pintu kamar yang menghubungkan dengan kolam renang, pemandangan alam yang luar biasa indahnya yang disuguhkan. Resort yang mereka tempati berada di lereng bukit di Ubud, menghadap langsung ke arah sungai Ayung yang terkenal cantik. Senyuman bahagia melengkung indah di bibir Ayanda. Tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur karena telah ditakdirkan untuk bersama pria yang sangat tulus mencintainya. Ayanda memejamkan mata menikmati suasana alam yang begitu segar, hingga ada kedua tangan yang melingkar di pinggangnya. Perlahan Ayanda membuka kedua matanya, tersenyum ke arah Gio yang sedang meletakkan dagunya di bahu Ayanda dengan mata terpejam. Ayanda mengusap pipi mulus sang suami.


"Lanjut tidur lagi aja, masih sangat pagi," ucapnya. Tidak ada jawaban dari Gio ia masih sangat nyaman mendekap tubuh mungil istrinya.


Setelah puas menikmati udara pagi dengan dekapan hangat, kini Gio sudah duduk berdua di kursi santai di depan kolam renang. Menikmati secangkir kopi panas untuk mengawali hari ini. Gio menatap wajah Ayanda dengan intens sedangkan istrinya risih dengan tatapannya.


"Aku beruntung memiliki kamu," wajah Ayanda seketika merona.


Gio menarik tangan Ayanda hingga tubuh mereka menempel. Dengan lembutnya Gio menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya. Melu*atnya lembut, menyesapi manisnya bibir sang istri. Perlahan ia membuka mulut Ayanda, mengabsen semua yang berada di sana. Permainan lidah pun tak terelakan. Ciuman pagi yang hangat kini kian memanas. Sudah ada yang mengganjal yang minta dimanja di bawah sana. Gio membawa tubuh Ayanda ala bridal tanpa melepaskan ciumannya. Ia menurunkan tubuh istrinya dengan perlahan. Membuka setiap kancing piyama yang Ayanda kenakan. Kulit putih mulusnya terpampang nyata. Dengan lembut Gio mengecupi bagian tubuh istrinya tanpa ada yang terlewat. Meninggalkan jejak kepemilikan lagi dan lagi, menambah koleksi di tubuh Ayanda. Gio membuka penutupan bagian yang amat ia sukai. Gundukan yang terlihat semakin besar seolah memintanya agar segera dilahap. His*pan lembut membuat Ayanda mendesah. Hasrat Gio semakin berkobar ketika mendengar desahan dari bibir istrinya. Tangan nakalnya mulai masuk ke dalam area paling sensitif wanita, ia terus menghisap dan juga tangannya terus bermain di area bawah. Desahan keras mulai terdengar. Gio merasakan getaran hebat dari tubuh istrinya dan juga denyutan kencang dari area bawah. Istrinya sudah mencapai klimaks. Ia mulai menciumi wajah istrinya yang terengah-engah, mengecup lembut bibir Ayanda dan sedikit memainkannya. "aku mulai, ya," bisiknya.


Gio mulai menyatukan miliknya ke dalam milik Ayanda. Desahan demi desahan keluar dari mulut mereka. Suara kicauan burung terkalahkan oleh desahan mereka yang semakin keras. Menandakan mereka menikmati penyatuan tubuh di pagi hari. "Aahh ... aku mau keluar," suara parau Ayanda terdengar samar di telinga Gio.


"Kita keluarin bareng, Sayang," sahut Gio yang semakin menaikkan ritmenya.


Suara lenguhan dari keduanya menandakan mereka mencapai klimaks secara bersamaan. Gio kembali menanamkan benih di rahim Ayanda. Ia bertekad untuk berusaha ekstra agar bisa membuat istrinya hamil. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang ada di dalam benak Gio sekarang.

__ADS_1


Hari ini Ayanda dan Gio hanya menikmati waktu di kamar saja. Menikmati surga dunia pengantin baru. Tak ada puasnya Gio menerkam tubuh istrinya. Meskipun Ayanda sudah terkapar tak berdaya, ia tetap menerjangnya. Tidak ada kata lelah pada tubuh Gio. Hanya kenikmatan yang terus bertambah ketika ia menyelami kehangatan lubang istrinya. Pada akhirnya, Ayanda menyerah. Badannya sudah tak kuat untuk bangun, tubuhnya seperti ayam tulang lunak. Gio pun mengakhiri permainannya dan membiarkan istrinya istirahat.


Untuk bangun pun Ayanda tak berdaya, tapi suaminya akan selalu siaga berada membantunya. Dari memakaikan baju, hingga mengantarkannya ke kamar mandi dan membantu membersihkan diri. Gio selalu memanjakan Ayanda, merawat istrinya dengan telaten.


"Aku ingin keluar, ini semua gara-gara kamu," omelnya pada Gio. Suaminya hanya tertawa. Dari awal, niatnya memang ingin mengurung istrinya agar terus berada di kamar melayaninya. Karena ia tau, Ayanda sangat menyukai pantai. Pasti akan banyak alasan yang Ayanda gunakan untuk keluar dari resort ini. Rencana Gio berhasil, ia membuat Ayanda terbaring di tempat tidur seharian.


Hari kedua honeymoon,,


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke pantai yang benar-benar private. Pantainya sangat indah dan sangat terjaga kebersihannya. Hanya ada beberapa orang di sini. Gio dan Ayanda menikmati suasana pantai dengan terus bergenggaman.


"Sayang, kenapa baju dan celanaku hanya hot pants dan kaos?" Hanya seulas senyum yang Gio berikan.


"Kamu terlihat lebih cantik menggunakan itu," tanpa permisi Gio mengecup bibir mungil Ayanda.


"Tapi kan semua orang melihat tubuhku," Gio memeluk tubuh Ayanda dengan posesif.


"Kamu memakai ini jika hanya bersamaku, karena kamu milikku. Jika kamu keluar sendiri, sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkanmu memakai pakaian seperti ini," Ayanda hanya tersenyum mendengar penjelasan dari sang suami. Ia mengecup bibir Gio sekilas. Sorot mata Ayanda mengutarakan jika ia bahagia menjadi istri dari seorang Giondra Aresta Wiguna.

__ADS_1


Gio menarik dagu istrinya, mendaratkan ciuman hangat di bibir mungilnya. Deru ombak dan hembusan angin menjadi saksi atas kebahagiaan mereka saat ini. Perjuangan cinta selama sepuluh tahun dari seorang Giondra berbuah manis. Tuhan mengabulkan doanya agar dipersatukan dengan wanita yang tak bisa hilang dari ingatannya dari dulu hingga sekarang. Ketika ia mengucapkan janji pernikahan, di situlah ia berjanji pada dirinya sendiri. Jika ia tidak akan pernah meninggalkan atau menyakiti hati istrinya. Ayanda akan menjadi yang pertama dan terakhir untuk dirinya, meskipun dirinya bukan yang pertama untuk Ayanda. Ia hanya bisa berharap jika dirinya menjadi yang terakhir untuk istrinya.


Di relung hati Ayanda paling dalam ia merasakan nikmat yang luar biasa yang Tuhan berikan untuknya. Air matanya yang dulu sering menetes, kini menjadi air mata kebahagiaan. Meskipun sudah lima belas tahun membina rumah tangga dengan mantan suaminya, jika Tuhan mengatakan dia hanya tempat persinggahan mu, ia bisa apa. Takdir Tuhan sangat unik dan tidak bisa ditebak. Rasa yang tidak pernah dirinya miliki untuk Giondra malah muncul dengan seiring berjalannya waktu. Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Dari awalnya biasa, kini menjadi luar biasa. Itulah yang Ayanda rasakan.


Giondra Aresta Wiguna adalah pria yang luar biasa untuknya. Pria playboy yang ia kenal, kini berubah menjadi sosok suami yang bertanggung jawab dan juga hebat. Gio mampu menerima kekurangan Ayanda dan tidak mempermasalahkan status dirinya. Cinta yang tulus seorang Giondra mampu membuka hati Ayanda yang telah membeku. Perlahan tapi pasti, hatinya mulai mencair dan akhirnya cinta yang Gio perjuangkan sudah sangat lama terbalaskan. Mereka saling mencintai dan berjanji tidak akan pernah saling menyakiti.


******


Besok End ya Sayang ....


Terus dukung dan baca karya aku ya ...


Di akhir cerita, akan aku publikasikan judul karya dari kelanjutan cerita Air Mata Ayanda.


Terimakasih semua atas dukungannya.


Jangan lupa like, komen dan juga vote ya ...

__ADS_1


Kalo bisa kencengin lagi, detik-detik End ini loh😁


Happy reading semua ....


__ADS_2