Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 83. Menikahlah Denganku (part 2)


__ADS_3

Ayanda mulai membuka matanya perlahan, matanya terus melihat ke setiap sudut ruangan.


"Di mana aku?" gumamnya.


Ia perlahan turun dari tempat tidur, mencari tasnya dan mengambil ponselnya. Deheman seseorang membuatnya terlonjak kaget.


"Sudah bangun ternyata kamu," ucapnya dengan seringai jahatnya.


"Ka-kamu ...." kata Ayanda dengan wajah terlihat sangat terkejut.


"Masih ingat kamu cantik denganku," ujarnya yang mulai mendekat ke arah Ayanda. Ayanda mulai panik dan pelan-pelan mundur menjauhi pria yang baru saja selesai mandi hanya menggunakan handuk di pinggangnya.


"Kemarilah Sayang! Kita bersenang-senang," ucapnya yang sedang berjalan mengikuti Ayanda.


"Mau apa kamu? Kenapa kamu membawaku kesini?" tanyanya sambil terus berjalan mundur menjauhi pria yang berjalan ke arahnya.


"Aku ingin menikmati tubuhmu Sayang, sebelum si Giondra posesif itu memilikimu," ungkapnya.


Ayanda sedikit berlari ke arah pintu, ia mencoba membuka pintunya namun tidak bisa. Pria itu pun tertawa.


"Semuanya sudah aku kunci, kamu tidak akan bisa lepas dariku saat ini," ujarnya.


Wajah Ayanda sudah sangat pucat mendengar perkataan pria itu. Ia terus mundur dan tubuhnya membentur tembok, tak ada lagi jalan untuknya kabur. Pria itu mendekat dengan senyuman mesum.


"Tolong,," teriaknya ketika sang pria sudah ada di hadapannya.


"Tidak akan ada yang bisa menolongmu saat ini," sahutnya.


Pria itu mulai mendekatkan pada wajah Ayanda, hembusan nafas Ayanda mampu membangkitkan gairahnya.


"Akan ku puaskan kau malam ini," bisiknya. Ayanda mulai bergidik ngeri mendengar ucapan dari pria itu. Pria yang ia ketahui adalah klien dari Giondra.


Pria itu mulai menarik paksa kemeja Ayanda hingga sedikit sobek, namun Ayanda tetap melawan. Sang pria terus memaksa Ayanda dan terus menarik tubuhnya hingga tubuhnya tersungkur di atas kasur.


Dengan wajah penuh nafsu dan senyuman mesum ia mulai menindih tubuh kecil Ayanda. Berkali-kali ia ingin mencium bibir mungil Ayanda berulang kali Ayanda menggeleng-gelengkan kepalanya hingga pria itu tidak bisa menikmati kenyalnya bibir Ayanda. Tamparan keras pun melayang ke wajahnya, membuat Ayanda meringis kesakitan.


"Aku tidak suka penolakan, semakin kamu menolak semakin ku siksa dirimu," ujarnya.


Pria itu semakin brutal menjambak rambut Ayanda, merobek kemeja yang sudah sedikit rusak hingga memperlihatkan dada putih mulusnya. Mata pria itu tertegun, ia terus menelan ludah melihat gundukan milik Ayanda.


Ayanda mencoba menutup dadanya dan menyingkirkan tubuh sang pria dari tubuhnya namun terasa sia-sia. Air matanya kini mengalir deras, tubuhnya kotor seperti seorang pelac*r.


Ketika pria itu hendak mendekatkan wajahnya ke dada mulus milik Ayanda tiba-tiba tendangan keras penuh amarah mampu merusak pintu kamar hotel.


"Rifki,,!!" teriaknya.


Gio berlari dengan wajah sudah merah padam dengan amarah yang sudah tak tertahan. Ia menarik tubuh kliennya yang sedang menindih wanitanya. Pukulan demi pukulan menghantam wajah tampan Rifki sedangkan Ayanda masih menangis dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya.


"Kurang ajar lu!" Meninju perut Rifki dengan sangat keras hingga ia tersungkur di lantai.


"Mau lu apa?" tanya Gio dengan penuh emosi dengan keadaan kakinya berada di atas perut Rifki.


"Gu-gua suka sama cewek lu," sahutnya pelan.


Kemurkaan Gio semakin bertambah, ia dengan membabi-buta menghajar wajah dan tubuh Rifki


tanpa ampun.


"Gi," panggil Ayanda lirih.


Panggilan Ayanda mampu menghentikan amarahnya yang sedang sangat naik. Rifki sudah terkapar lemah tak berdaya dengan wajah yang sudah tidak berbentuk. Gio menoleh ke arah Ayanda yang sedang menangis di atas tempat tidur dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya.


Gio memeluk tubuh Ayanda yang sedari tadi bergetar karena menangis ketakutan.


"Aku takut Gi," ucapnya pelan.


Gio hanya menghembuskan nafas panjang, dirinya sangat bersalah dalam kejadian ini.

__ADS_1


"Ada aku di sini, Sayang," ujarnya.


Ayanda mengeratkan pelukannya terhadap Gio. Seakan meminta Gio untuk tidak meninggalkannya.


"Maafkan aku Sayang yang telah lalai menjagamu," ucapnya dengan penuh penyesalan.


Hanya isakan tangis yang Ayanda berikan dengan tangan yang terus memeluk erat pinggang Gio. Gio sangat tahu, kejadian ini pasti akan membawa trauma baru untuk kekasihnya.


Satu jam lebih Ayanda memeluk erat tubuh Gio. Hingga perlahan ia mengendurkan pelukannya. Mata kelasihnya yang sembab dan merah dengan wajah yang sudah sangat kacau membuat hati Gio sangat sakit.


"Pipimu ...." ucapannya mulai terhenti, rahangnya kembali mengeras setelah melihat pipi kekasihnya yang memerah dan ujung bibirnya ada darah yang sudah mengering.


"Tidak akan pernah ku ampuni pria brengs*k itu," sengitnya.


Ayanda menggenggam tangan Gio menatapnya dengan sendu. "sudah cukup Gi, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," imbuhnya.


"Dia sudah melecehkanmu dan juga menyakitimu. Apa aku harus diam saja?" bentaknya.


Hati Ayanda sedikit sakit ketika Gio yang selalu bicara lembut kepadanya kini mulai membentaknya. Menyadari hal itu Gio langsung meminta maaf.


"Aku hanya ingin kamu selalu ada di sampingku Gi untuk menjagaku," ungkapnya. Ia pun langsung memeluk tubuh Gio dan membenamkan kepalanya di dada Gio.


Hati Gio yang sudah dipenuhi amarah perlahan mulai mendingin mendengar ucapan dari Ayanda.


"Dari mana kamu tau aku disini?" tanya Ayanda.


# Flashback on


Setelah mengecek cctv yang berada di kantornya tak lama ponsel Gio berdering panggilan dari salah satu anak buahnya.


📞"Sudah ketemu?" tanya Gio.


📞 "Sudah Boss, Ibu Boss ada di hotel bintang tujuh Pan Pacific," jawabnya.


Rahang Gio mulai mengeras dengan kepalan tangan yang kuat.


📞 "Siapa dalangnya,"


Amarah Gio sudah tak terbendung lagi. Dengan kecepatan sangat tinggi ia melajukan mobilnya sendiri menuju hotel yang di maksud. Anak buahnya pun ikut mengekori mobil yang dikendarai Gio.


# Flashback off


Ayanda tersenyum ke arahnya. "terimakasih Gi," ucapnya.


Gio hanya mengangguk dengan senyuman manis lalu mencium kening Ayanda sangat lama.


Tok tok tok


Ketukan pintu membuat Gio melepaskan kecupannya. Ayanda masih menyelimuti tubuhnya sambil menunduk.


"Ini Pak," ucap pegawai hotel yang menyerahkan paper bag kepada Gio.


Gio menerimanya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan lalu memberikannya kepada pegawai hotel. Pengawal hotel pun mengucapkan rasa terimakasihnya lalu meninggalkan kamar itu.


"Ini Sayang," ucap Gio sambil menyerahkan paper bag.


"Apa ini?" tanya Ayanda.


"Baju untukmu, cepat ganti karena aku tidak akan membawamu pulang dengan kondisi begini, kan," balasnya.


Ayanda pun menuju ke kamar mandi dengan membawa paper bag di tangannya dengan selimut yang masih membalut tubuhnya.


Tak lama Ayanda keluar dari kamar mandi, sedangkan Gio sedang fokus dengan ponselnya.


"Gi," panggilnya ketika ia sudah berdiri dihadapan Gio.


Gio melihat Ayanda dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan kagum.

__ADS_1


"Jangan lihat seperti itu Gi," ia terus menunduk.


"Kamu terlihat sangat cantik, Sayang," ucapnya.


Gio menggandeng tangan Ayanda untuk keluar dari kamar ini, wajah Ayanda berubah menjadi muram.


"Gi ...."


"Ada aku Sayang, aku tidak akan melepaskan genggamanku ini," ujarnya.


Ayanda menuruti perkataan Gio dengan rasa takut yang menyelimutinya. Tangan Ayanda terasa dingin dan tangannya merem*s kuat tangan Gio. Gio hanya bisa mengusap punggung tangan Ayanda dengan lembut, menyalurkan ketenangan untuk kekasihnya.


Di lain tempat Dinda sedang merusak semua barang yang ada di kamarnya. Ia berteriak-teriak histeris.


"Bodoh kamu Rifki, bodoh!" teriaknya.


Rifki adalah sepupu dari Dinda, mereka bekerja sama untuk merusak Ayanda karena Rifki memang menyukai Ayanda pada pertemuan pertama kali mereka ketika meeting.


Ketika Dinda tau sepupunya menyukai wanita yang sangat ia benci ide jahatnya muncul. Ia menyuruh Rifki untuk menculik Ayanda lalu memperkosanya hingga anak konglomerat itu tidak jadi menikahinya dan meninggalkannya. Sesungguhnya Dinda menginginkan kehancuran untuk Ayanda bahkan kematian.


*****


Gio membawa Ayanda pulang, tapi bukan pulang ke rumah besar melainkan ke tempat lain. Di sepanjang perjalanan Ayanda terus menggenggam erat tangan Gio. Rasa takutnya masih ada.


"Tenang ya, Sayang. Aku disamping kamu sekarang," kata Gio.


Tak lama berselang, sampailah mereka di salah satu hotel mewah yang dekat dengan pantai.


"Gi, kita di mana?


"Tempat ini untuk menghilangkan takutmu, Sayang," jelasnya.


Di lihatnya kerumunan banyak orang membuat Ayanda enggan untuk melangkahkan kakinya.


"Sayang," Gio memeluk tubuh Ayanda. Bisa dirasakan dada Ayanda masih berdegup dengan kencangnya.


"Ayo, Sayang," ajaknya masuk ke dalam dengan eratnya menggandeng tangan Ayanda. Semua mata tertuju pada mereka.


Tibalah mereka di restoran megah yang berada di dalam hotel. Semua makanan sudah tertata rapi hanya ada satu meja yaitu meja untuk mereka. Pemandangan malam yang indah dan sempurna karena meja mereka menghadap ke laut, suara deburan ombak menambah keromantisan malam ini.


Ayanda melangkahkan kakinya pada jendela besar yang terbuka. Ia memejamkan matanya dengan menghirup udara malam yang terasa sangat dingin. Seketika ia bisa melupakan apa yang menimpa dirinya kejadian yang baru saja menimpanya.


Sepasang tangan memeluknya dari belakang, wangi parfumnya membuatnya semakin menghangat. Ayanda menyandarkan kepala pada dada bidang Gio. Gio menciumi ujung kepala Ayanda. Tidak ada obrolan apa pun dari mereka. Mereka hanya menikmati malam ini dengan berpelukan.


"Sayang, aku harus pergi ke luar negeri satu bulan," ucapnya membelah keheningan.


Kehangatan yang Ayanda rasakan kini berubah menjadi aura dingin. Ayanda membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Gio. Di pandangnya Gio dengan tatapan sendu.


"Tugas perusahaan sudah dialihkan kepadaku semua, jadi pasti aku akan sering meninggalkanmu dan sejujurnya aku sangat khawatir padamu, " imbuhnya.


"Menikahlah denganku!" pinta Gio dengan tatapan serius.


Mulut Ayanda terkunci seketika, tidak bisa menjawab apa yang diutarakan oleh Gio.


"Aku tidak ingin jauh dari kamu, Sayang. Aku takut terjadi apa-apa lagi denganmu. Hatiku tidak tenang jika kamu jauh dari aku."


"Jika kamu belum siap untuk melakukan tugasmu sebagai seorang istri aku tidak masalah, aku hanya ingin melindungi dan menjaga kamu. Setidaknya jika kita menikah kamu bisa ikut denganku kemana pun aku pergi. Bersama putri kita juga, karena kalian wanita yang sangat aku cintai," jelasnya.


Hati Ayanda terasa meleleh mendengar ucapan Gio, namun ketidaksiapan yang mendominasi hatinya sekarang. Di tatapnya wajah Gio, keseriusan lah yang ia temukan. Mulut Ayanda masih terbungkam.


Akankah Ayanda mau menerima permintaan Gio kali ini?


*****


Hay ,,


Maaf telat up karena semalam aku sibuk berkelana.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan juga vote ya


Happy reading semua


__ADS_2