Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 113. Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Hati-hati !!


Banyak ranjau ....😁


*****


Sekarang sudah jam sepuluh malam. Semua penghuni rumah sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Tak terkecuali sepasang pengantin baru. Gio sedang memeluk tubuh istrinya yang polos tanpa sehelai benang pun. Hanya tanda merah yang menghiasi tubuh Ayanda. Mereka baru saja selesai menyelami kenikmatan dunia.


"Sayang, kamu ingin bulan madu ke mana?" tanya Gio yang kembali menciumi leher istrinya.


"Ke Bali," jawabnya sedikit mendesah.


"Baiklah," Gio sudah mulai bermain di area yang bisa ia his*p seperti bayi. Desahan kembali terdengar. Gio semakin nakal dan ganas membuat Ayanda tak tahan. "Sayang, aku ...."


"Aahh ...."


Istrinya kembali mengalami pelepasan untuk ke sekian kalinya. Gio sangat bahagia bisa memuaskan hasrat istrinya. Ia membiarkan Ayanda istirahat sejenak.


"Sayang, aku mau honeymoon bersama semuanya," pintanya yang kini sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Gio.


"Sayang, ini kan honeymoon masa iya bawa keluarga," tolaknya.


"Tapi ...."


"Tidak Sayang," tolaknya lagi.


Ayanda mulai menyentuh tubuh Gio dengan nakal. Tangannya mulai turun dan memegang adik kecil suaminya. "Aahh ...." Desahan yang keluar dari mulut Gio.


"Aku akan bermain aktif jika kamu mengijinkan mereka ikut," bisiknya, membuat birahi Gio semakin meningkat.


"Jika kamu bisa membuatku kalah, aku akan membawa mereka," balas Gio dengan senyum penuh kemenangan.


Akhirnya mereka melakukan pertarungan, Ayanda yang kini bermain aktif. Gio hanya menikmati saja, ada sensasi yang berbeda yang ia rasakan. Lenguhan dan desahan bersahut-sahutan. Gio yang katanya perkasa hanya mampu bermain lima belas menit dan akhirnya tak sanggup untuk menahan semburan laharnya. Permainan aktif Ayanda mampu memporak porandakan keperkasaan Gio.


"Tepati janji kamu," ucapnya yang tengah berada di atas tubuh Giondra.


"Pasti," Gio mencium kening istrinya. "kamu hebat," lanjutnya.

__ADS_1


"Janda memang lebih berpengalaman," tambahnya. Ayanda hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya ini.


Pagi hari Gio menghampiri Arya dan Rion yang sedang menikmati kopi di halaman belakang. Sedangkan ayahnya sedang check-up bulanan dan juga terapi.


"Kita ke Bali siang ini," ucap Gio tiba-tiba. Membuat kedua pria yang asyik mengobrol menoleh ke arahnya.


"Dalam rangka apa?" tanya Rion.


"Bulan madu," jawab singkatnya.


"Lu mau honeymoon apa liburan keluarga," cela Arya.


"Kalah gua dari Yanda, makanya gua bawa keluarga," kedua pria itu pun tertawa. Meskipun mereka tidak tau permainan apa yang dilakukan oleh pengantin baru itu.


Setelah memberikan kabar kepada semua orang di rumah itu, Gio yang baru saja hendak ke dapur menghentikan langkahnya karena melihat istrinya jalan dengan tertatih.


"Aku yang kalah kenapa kamu yang begini," Ayanda melirikkan mata tidak suka namun Gio menarik istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya.


"I love you, Sayang," seraya mencium ujung kepala istrinya.


"Love you too," Ayanda pun mengeratkan pelukannya. Banyak mata yang melihat adegan pengantin baru ini. Mereka hanya mengucapkan syukur karena telah memberikanistri yang begitu baik dan cantik untuk tuan muda mereka. Pancaran kebahagiaan nampak sangat jelas di wajah pengantin baru tersebut.


"Kalo kamu masih mau lanjut, aku pastikan aku akan berangkat ke Bali menggunakan kursi roda," Ayanda sudah terkapar lemas di atas tubuh suaminya. Ia melihat jelas adik kecil suaminya masih berdiri dan belum mau tidur. Gio mengecup kening Ayanda, merebahkan tubuh istrinya dan memeluk tubuh polosnya. Karena terlalu lelah mereka pun tertidur.


Remon sudah datang ke rumah besar menandakan jika sekarang waktunya keberangkatan mereka ke Bali. Semua orang sudah berada di ruang keluarga dengan barang bawaan masing-masing. Hanya pasangan suami-istri ini yang belum menampakkan diri. Satu jam berlalu, mereka semua menahan kesal hingga kesabaran Remon pun habis. Ia menelpon atasannya. Sudah dua kali ia melakukan sambungan telpon kepada Bossnya namun tidak pernah ada jawaban.


Suara pesan masuk dari ponsel Remon.


πŸ“© Berangkat duluan, istri gua masih tidur.


Hanya helaan nafas kasar yang Remon lepaskan. Ia pun akhirnya membawa keluarga Ayanda terbang terlebih dahulu ke pulau Bali. Banyak pertanyaan yang dilontarkan para penumpang private jet tentang keberadaan Gio dan Ayanda.


"Mereka berangkat belakangan," hanya Kalimat itu yang keluar dari mulut Remon. Kelakuan Bossnya yang seenaknya tidak lah berubah. Malah semakin menjadi setelah memiliki istri.


Gio sudah rapih dengan pakaian santainya, sedangkan istrinya masih terlelap. Ia membiarkan istrinya istirahat karena telah memuaskannya untuk siang ini. Biarlah honeymoon mereka tertunda, karena mereka bisa berangkat kapan saja dan kemana saja. Anak Sultan mah bebas.


Ayanda baru saja membuka matanya, sedangkan Gio sedang fokus dengan laptopnya. Tangan Ayanda melingkar di pinggang Gio membuatnya menghentikan aktifitasnya. Gio tersenyum dan mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Jam berapa?" tanya Ayanda yang masih setengah sadar.


"Tiga," Ayanda langsung bangun dari posisi tidurnya dengan sedikit meringis. Panik setengah mati, sedangkan suaminya masih santai dan melanjutkan aktifitasnya.


"Sayang, kita terlambat. Kenapa kamu masih santai begini sih," Ayanda menutup laptop Gio.


Gio merengkuh tubuh istrinya, memeluknya erat. "tidak ada kata terlambat untuk kita. Pesawat itu yang akan menunggu kita, bukan kita yang menunggu pesawat," ucapnya.


Ayanda baru tersadar ternyata sekarang ini ia menikahi putra Sultan. Mereka yang menundukkan kepala kepada suaminya dan pastinya tidak akan ada bantahan dari mereka. Akhirnya hati Ayanda sedikit lega dan menikmati dekapan hangat Giondra.


Ayanda sudah selesai mandi, ia nampak heran di atas tempat tidur sudah ada hot pants dan juga kaos berwarna putih. "pakai Sayang, jangan dilihatin aja," ucap Gio yang baru keluar dari kamar ganti.


"Tapi ini ...." memperlihatkan celana jeans pendek ke arah Gio. Disambut kekehan oleh suaminya.


"Biar makin sexy," bisik nakalnya. Gio langsung menarik tali simpul handuk Ayanda. Membuat Ayanda refleks mendorong tubuh suaminya.


"Mau ngapain?"


"Pakein baju kamu lah. Kelamaan kamunya," Gio mulai membuka handuk kimono yang istrinya gunakan. Tubuh seksi Ayanda sangat jelas ia lihat. Akan tetapi, kali ini Gio hanya memakaikan pakaian kepada istrinya. Tidak kurang tidak lebih. Ayanda melihat ke arah kaos yang ia gunakan. Lalu beralih menatap kaos yang suaminya gunakan pula.


"Oh, couple-an," ucapnya.


"Telat," omel Gio. Ayanda langsung memeluk pinggang suaminya dan membenamkan kepalanya ke dada bidang Gio. "thanks a lot," dijawab dengan kecupan manis diujung kepala oleh sang suami.


Pukul 5 sore mereka baru berangkat ke Bali. Di mana orang-orang sudah lelah bermain pasir dan mulai terlelap mereka baru saja tiba. Villa yang mereka tempati jauh dari villa yang di tempati keluarga mereka. Semuanya Gio lakukan agar dirinya dan juga istrinya bisa memproduksi Gio junior dengan khusyuk. Tidak ada gangguan dari siapapun.


Malam ini pasangan suami-istri itu pun hanya terlelap tanpa melakukan aktifitas apapun. Tubuh mereka sudah terlalu lelah untuk melakukan hal yang menyenangkan. Masih ada beberapa hari ke depan untuk menikmati suasana alam dan juga menikmati suasana jadi pengantin baru.


*****


Dua bab lagi menuju End. Aku kasih bonus momen rada panas dulu ya di bab akhir ini😁


Jangan lupa kencengin lagi jempolnya, komennya dan juga votenya ya ....


Ayo dong semangatin aku biar bisa secepatnya nyerahin buku baru kelanjutan AIR MATA AYANDA ke pihak NT .


Happy reading semua ....

__ADS_1


Oiua, sambil nunggu Ayanda dan juga Gio up kalian bisa baca karya author ini ya. Karyanya lebih bagus dari cerita receh aku. Jangan lupa tekan gambar hati biar gak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa juga jempol dan komentar positifnya ya ...



__ADS_2