
Tiba di Kantor Pusat Rion sudah ditunggu oleh dua orang yang sangat tidak asing baginya.
"Rion!" Ucap Dinda dan berdiri dari duduknya.
"Tetap disitu dan jangan mendekat, atau aku akan mengusirmu dengan paksa." Jawabnya dingin.
Nyali Dinda seolah ciut, ia tidak berani mendekat sama sekali. Sekarang Rion bagai orang asing untuk Dinda, tidak ada kehangatan yang terpancar dari sorot matanya, hanya kebencian yang ada di matanya. Dinda hanya menghela nafas panjang, ia pikir ia masih menjadi "kesayangan" seorang Rion Juanda ternyata tidak.
"Ada apa kamu kemari?" Tanyanya tanpa basa basi sedikitpun sembari mendudukkan diri di sofa single.
"Raska yang memberi alamat ini padaku, katanya ini adalah alamat ayahnya." Jawab Dinda penuh percaya diri.
"Ayah? Siapa ayahnya? Jangan asal bicara kamu." Bentak Rion.
"Kamu tetap tidak mau mengakui Raska sebagai anakmu?"
"Tidak, karena aku tidak merasa membuatnya. Dan besok bawa anakmu ke Rumah Sakit untuk Test DNA."
"Apa? Test DNA?" Kagetnya Dinda.
"Kenapa? Takut? Jika terbukti itu bukan anak aku?" Jawabnya meremehkan.
"Oke, aku akan bawa Raska untuk Test DNA. Tapi jika dia anakmu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanyanya penasaran.
"Aku akan bertanggung jawab." Jawabnya sangat yakin. Membuat Arya melongo mendengar ucapan Rion. Mereka pun menyepakati akan bertemu di Rumah Sakit tersebut pukul 10.00 wib esok. Dinda pun pamit kepada Rion dan juga Arya. Selepas Dinda pergi, tak segan segan ia menginterogasi sahabatnya itu.
"Lu serius akan bertanggung jawab?" Tanyanya penasaran.
"Itu permintaan Yanda, bukan maunya gua." Jawabnya lesu dan frustasi.
"Lu mau nikahin tuh si liar?" Tanyanya lagi.
"Be*o banget sih gua punya temen kayak lu, bertanggung jawab tidak harus menikahi wanita itu. Gua hanya akan mengakui anak itu sebagai anak gua tidak lebih tidak kurang." Ucapnya sangat yakin.
"Kalo si liar minta lebih gimana?"
__ADS_1
"Gua akan buat surat perjanjian sebelum mengakui anak itu, gampang kan."
"Ck, apa yang lu anggap gampang pada kenyataannya tak semudah itu Rion."
"Satu pertanyaan lagi, kalo semua aset diambil alih oleh Ayanda gimana?"
Rion menghela nafas berat, "Gua udah bilang kan gua gak peduli, gua hanya ingin keluarga kecil gua bahagia, itu udah cukup. Kebahagiaan gua ada pada istri dan anak gua." Jawabnya sangat serius.
Arya hanya bisa diam jika Rion sudah berbicara tentang keluarga, meskipun ia belum berkeluarga tapi ia melihat betapa luar biasa cinta dan sayangnya Rion untuk anak istrinya. Setelah kembali bersama Ayanda hanya rona kebahagiaan yang selalu sahabatnya pancarkan. Sahabatnya yang dulu kacau dan hampir gila sekarang sudah bahagia, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Arya tenang. Tapi inilah hidup, penuh dengan lika liku. Entah karma atau apa sesungguhnya Arya tidak mengerti. Tidak ada angin tidak ada hujan orang dari masa lalu yang membuat sahabatnya hancur kini kembali lagi, dengan masalah baru dan cerita baru. Mungkin ini cara Tuhan untuk menguji cinta sahabatnya itu. Itulah yang ada di benak seorang Arya.
*****
Gio menatap foto candid Ayanda yang sedang tersenyum bahagia bermain di kolam. Entah sudah berapa lama ia terus memandangi foto itu.
Aku ingat pertama kali kita bertemu, tanpa permisi kamu masuk dalam hidupku dan selalu berputar bagai gasing di pikiranku. Hingga aku terlalu nyaman dengan pikiranku yang selaly diputari oleh dirimu, dan pada akhirnya aku tidak bisa mengeluarkanmu dari kepalaku. Aku tau kamu milik orang lain, tapi aku akan tetap mengejarmu dengan wajar, menyayangimu dengan luar biasa dan mustahil bagiku untuk menyakitimu. Aku akan terus membuatmu bahagia ketika bersamaku Ayank, gumamnya pelan dan masih menatap foto Ayanda di ponselnya.
Suara pintu terbuka dan membuyarkan lamunannya.
"Boss, Boleh saya masuk?" Tanya Remon dengan kepala sudah nongol di pintu. Dijawab dengan deheman oleh Gio. Remon pun masuk setelah menutup pintu kamar Bossnya.
"Saya cuma mau nanya Boss, Wanita tadi siapa?" Jawabnya tanpa ragu ragu, walupun akhirnya dia akan dimaki maki oleh Bossnya ia akan terima.
Gio menghela nafas panjang, sebenarnya ia tidak suka dengan kekepoan asistennya itu tapi ia juga butuh teman untuk cerita tentang perasaannya.
"Dia Ayanda Rashani," ucap Gio singkat.
Remon terdiam, sepertinya nama itu tidak asing ditelinganya. Ia mengingat ingat tentang nama itu dan tak lama kemudian ia mengingatnya.
"Bukannya dia owner A&R bakery and cake? Yang sekarang merambah ke internasional." jawabnya dengan balik bertanya.
"Tau darimana lu info itu?" Gio sangat penasaran, karena Gio pun tidak tau jika A&R bakery and cake udah dipegang Ayanda, yang ia tau Toko itu milik suami Ayanda.
"Siapa yang tidak mengenal dia Boss, Wanita cantik bertangan dingin satu kesempurnaan yang hakiki. Banyak yang ingin bekerja sama dengan bisnis ibu Ayanda, tapi ia sangat jeli dan berhati hati dan terbukti bisnisnya melaju pesat. Dalam hitungan kurang dari dua tahun ia bisa memiliki 10 anak cabang di beberapa kota."
Gio yang mendengarnya pun merasa takjub dengan kinerja Ayanda, sudah cantik, pintar, pekerja keras dan berhati lembut benar benar membuatnya semakin sayang kepada Ayanda. Rasa ingin memilikinya pun semakin besar.
__ADS_1
"Tapi setau saya juga beliau memiliki suami yang sangat sempurna, dan dikalangan para koleganya ia terkenal sekali dengan kebucinannya pada istrinya."
Mendengar ucapan Remon amarah Gio seolah memuncak, ia mengepalkan tangannya.
Jika memang suami Ayank bucin kepadanya tapi kenapa ia menyakiti Ayank lagi? Membuat Ayank menangis untuk kesekian kalinya, batinnya dan Mukanya sudah merah padam.
Remon mengerti perubahan sikap sang Boss pun tak melanjutkan ucapannya dan pamit untuk keluar meninggalkan Bossnya sendiri. Setelah Remon hilang dari kamarnya Gio mulai berteriak.
"Lu berani nyakitin Ayank lagi, akan gua bawa pergi jauh Ayank dari hidup lu." Ucapnya penuh emosi sambil meninju tembok seolah tembok itu adalah suami Ayanda.
*****
Seperti biasa keluarga kecil Rion mengawali hari dengan sarapan bersama, Echa sedikit demi sedikit merasakan ada hal yang aneh diantara kedua orang tuanya. Ingin bertanya namun tak ada keberanian. Ia pun tetap melanjutkan makannya dalam keheningan, hanya dentuman suara sendok dan piring yang terdengar. Tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut mereka bertiga. Hingga Echa menyudahi makannya dan berpamitan kepada kedua orangtuanya.
"Mah, hari ini Echa pulang telat ya mau ke rumah Sasa." Ucapnya sambil mencium tangan sang mamah. Dijawab anggukan oleh Ayanda. Ayahnya yang biasanya selalu bawel sekarang ini hanya diam saja.
Ada apa dengan mamah dan ayah? Batinnya dan berlalu meninggalkan kedua orangtuanya.
Di meja makan hanya tinggal Ayanda dan Rion, Rion sangat melihat jelas kepiluan dan kesedihan di mata Ayanda. Ia merutuki kebodohannya sendiri.
"Hari ini aku dan anak itu akan tes DNA jam 10." Rion mulai memecah keheningan. Ayanda menyudahi makanannya. Tidak ada jawaban apapun dari mulut Ayanda.
"Aku berangkat duluan, banyak kerjaan."
Ucapnya dan berlalu meninggalkan Rion seorang diri di meja makan.
*****
Hai para readers,,
Aku up lagi nih, jangan lupa like, komen, rate and vote Air Mata Ayanda yaa,,
Happy reading kesayangan kesayanganku,,😘
Aku padamu❤️
__ADS_1