Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 89. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Sudah dua bulan dari acara lamaran dadakan nan mengharukan. Gio dan juga Ayanda belum juga membicarakan tentang hubungannya agar berlanjut ke gerbang pernikahan. Bukan tanpa alasan, Giondra tidak ingin memaksa calon istrinya. Ia tahu, jika Ayanda masih trauma dengan pernikahan sebelumnya. Gio hanya akan menjadi calon suami yang harus selalu siap ketika Ayanda mengatakan "aku sudah siap."


Weekend is family time, itulah aturan di rumah besar. Malam ini Genta, Gio, Ayanda dan juga Echa sedang berada di taman belakang. Mereka sedang mengadakan acara barbeque-an permintaan dari Echa.


Gio dan Genta sedang memperhatikan anak dan ibu yang kompak membolak-balikkan daging. Kedua perempuan itu terlihat sangat kompak jika dari kejauhan, pada nyatanya dua manusia itu sedang beradu argumen sambil membolak-balikkan daging.


"Gi, kapan kamu menghalalkan hubunganmu?" tanya Genta.


"Aku hanya menunggu Ayank, Yah. Kalo aku sih siap-siap aja, sudah aku persiapkan semuanya. Hanya waktunya yang belum tau," jawabnya.


"Ayah semakin bangga padamu, Giondra. Bocah nakal yang sering bolak-balik masuk ruang BP, kini tumbuh menjadi pria setia dan bertanggung jawab," ucap ayahnya haru dan menepuk bahu putra sulungnya. Gio hanya tersenyum mendengar pujian dari sang ayah.


"Ayah, Bang Gi, sudah siap semua," panggil Ayanda yang sudah berada di meja untuk mereka menikmati makanan di acara malam ini.


Genta dan juga Gio segera menghampiri Ayanda yang tengah sibuk menyiapkan semuanya. Ia pun mengambilkan potongan daging untuk ayahnya dan juga Gio.


"Makasih, Sayang," ucap Gio sambil mengecup ujung kepala Ayanda. Genta yang sering menyaksikan hal seperti ini hanya bisa tersenyum.


Gio dan Genta menikmati makanannya, sedangkan Ayanda memilih menyandarkan kepalanya di bahu Gio. Entah kenapa, bahu dan dada Gio sekarang sudah menjadi tempat ternyaman untuknya disaat lelah melanda. Lelah akan pekerjaan atau pun hatinya.


"Kamu gak makan?" tanya Gio. Ayanda hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku suapin, ya," ujarnya.


Ayanda tetap tidak mau dan semakin mengeratkan rengkuhan ke lengan Gio. Sang kekasih hanya tersenyum dengan sifat manja calon istrinya ini.


"Echa! Kemari Sayang," panggil Genta.


Echa bergegas menghampiri kakeknya dengan membawa piring yang berisi jagung bakar.


"Astaga cucu kakek, itu alat barbeque bukan buat bakar jagung," serunya dengan tertawa.


Echa hanya tertawa mendengar ucapan kakeknya. Dilihatnya sang Mamah yang sedang terpejam di bahu Papa Gi membuatnya menyunggingkan senyum.


Semoga Papa bisa menyembuhkan lukamu dan menjadi obat penawar dari semua rasa sakitmu, Mah.


"Papa aku mau," pinta Echa sambil membuka mulutnya, ketika Gio hendak menyuapakan potongan daging ke mulutnya sendiri.


Gio pun menyuapi Echa dengan telaten, sedangkan Ayanda sudah nyaman bersandar di bahu Gio.


"Repot ya Gi, kalo buy one get one free," ejek Genta sambil tertawa.


"Lumayanlah Yah, berasa punya dua istri," jawabnya asal.


Mata Ayanda dan Echa menatap Gio tajam. Gio mulai terancam, ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bercanda, Sayang," ucapnya pada Ayanda dan mencium keningnya.


"Awas aja kalo Papa bikin Mamah nangis," ancam Echa dengan tatapan sangat membunuh.


"Nggak akan Sayangnya Papa, Papa janji," serunya dengan nada serius.


Setelah selesai makan, Ayanda memilih duduk di halaman belakang dengan sudah berganti piyama tidur. Ia menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang sambil duduk di ayunan rotan.


"Sayang," panggil Gio


"Iya," sahutnya.


Gio menghampiri Ayanda, ia duduk di lantai menghadap ke wanitanya.


"Kenapa Bang?" tanyanya.


"Apa kamu belum siap melanjutkan hubungan ini ke pelaminan?" tanya Gio hati-hati.


Ayanda terdiam, ia menatap wajah Gio yang menginginkan jawaban darinya.


"Ya sudah, aku tidak akan memaksamu Sayang. Aku akan tetap menunggumu," katanya. Lalu mencium kening Ayanda dalam.


"Tuan, ada nona Cantika di luar. Memaksa untuk bertemu dengan Tuan," ucap seorang pelayan yang sudah berada di taman belakang.


"Suruh dia pergi," jawab Gio.

__ADS_1


"Tapi tuan ...."


"Saya tidak akan mengulang perkataan saya barusan. Mau tetap kerja di sini atau saya pecat," ancamnya.


"Bang," ucap Ayanda sambil menggenggam tangan Gio.


Ayanda melihat wajah si pelayan yang sudah pucat pasi, dan sedikt bergetar. Sedikit demi sedikit ia mulai banyak tahu tentang seorang Giondra. Sifat konyol Gio kini berubah menjadi sifat tegas nan keras kepada bawahannya. Setiap ucapannya sama sekali tidak boleh di bantah. Kemurkaan Gio adalah kematian untuk para pekerjanya.


"Kita temui ya, Bang," ajak Ayanda.


Gio menatap Ayanda tak mengerti. Hanya senyuman manis sebagai jawabannya.


"Ayo, Bang," ajak Ayanda sambil menarik tangan Gio.


Ketika mereka sampai di ruang tamu, terlihat sosok wanita dengan rambut terurai dengan baju yang sangat minim.


"Mau apa kamu?" tanya Gio yang sedang menggenggam tangan Ayanda dengan erat.


"Di-dia ...."


"Ia, ini calon istriku. Hatiku sudah tertutup untukmu, dan aku sudah tidak menyimpan rasa apa pun terhadapmu," ungkapnya dengan tatapan tajam.


Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Hingga Ayanda mundur perlahan bersembunyi di balik tubuh Gio.


Tangan Gio terkepal sangat keras, wajahnya memerah melihat muka seseorang yang ia benci sampai ke ubun-ubun. Gio tidak melepaskan genggamannya pada Ayanda.


"Ngapain lu kesini?" tanya Gio dengan sangat emosi.


"Maaf Pak, saya hanya ingin menjemput sepupu saya," sahutnya sambil menarik tangan Cantika.


"Gi," panggil Ayanda dengan suara bergetar. Gio hanya menganggukkan kepalanya bertanda semuanya akan baik-baik saja.


"Ngapain Kakak ke sini?" tanya Cantika.


"Aku hanya ingin menjemputmu, tidak usah berbuat onar di rumah orang. Dan jangan pernah berbuat hal bodoh seperti Dinda," ucap Rifki.


Gio dan Ayanda membelalakkan matanya tak percaya. Dua manusia di hadapannya ini ternyata adalah kerabat dari Dinda.


"Maafkan saya," ucap Rifki tulus dan hendak mendekat ke arah Gio dan Ayanda.


"Jangan pernah mendekat, atau akan gua kirim lu ke liang lahat," tegas Gio dengan emosi menggebu-gebu.


Rifki dan Cantika pun diseret paksa oleh para penjaga rumah besar. Tubuh Ayanda bergetar hebat. Gio langsung memeluknya.


"Aku takut, Gi," lirihnya.


Gio semakin mempererat pelukannya. Dan menuntunnya duduk di sofa.


"Jangan takut, ada aku di sini," ucap Gio dengan senyuman manisnya.


"Mau ya menikah denganku, agar tidak ada yang dengan mudah mengganggumu," pinta Gio.


Sejenak Ayanda terdiam seraya berfikir, tak lama ia menganggukkan kepalanya. "ia aku mau," jawab Ayanda.


"Makasih Sayang," ucap Gio sambil memeluk tubuh Ayanda.


Rona bahagia terpampang nyata pada wajah Giondra.


Paginya di meja makan sudah duduk Genta, Gio, Ayanda dan juga Echa.


"Ayah, aku mau ambil cuti beberapa hari untuk mempersiapkan pernikahanku," kata Gio.


Genta dan juga Echa menghentikan kunyahan. Mereka berdua menatap ke arah Gio.


"Kamu serius?" tanya Genta pada Gio.


"Mamah serius mau nikah sama Papa?" tanya Echa pada Ayanda.


Gio dan juga Ayanda menganggukkan kepalanya bebarengan.


"Yeay," teriak Ecga sangat bahagia. Ia berlari menuju kursi Mamah dan Papanya menciumnya bergantian.

__ADS_1


"I'm so happy to you, Mah, Pa," ucap haru Echa.


Genta pun tersenyum lebar mendengar berita bahagia putra-putrinya di pagi hari.


Kabar bahagia ini sudah menyebar ke semua penjuru rumah besar. Mereka ikut bahagia dengan kabar tuan mudanya. Setelah kepergian Giandra rumah ini seperti rumah tak berpenghuni, sunyi dan sepi. Akan tetapi, setelah kehadiran Ayanda dan juga Echa rumah ini memancarkan aura berbeda, aura sangat bahagia bagi siapa pun yang masuk ke rumah ini.


Hari ini Gio mengajak Ayanda ke sebuah hotel termewah di Singapura. Ia sudah membooking hotel ini dari jauh-jauh hari. Meskipun belum tau tanggal pernikahannya kapan. Wajar saja, setengah saham di hotel ini milik keluarga Wiguna. Jadi, bisa sangat dengan mudah Gio meminta kapan pun waktunya untuk mengadakan acara.


"Bang Gi, apa ini tidak terlalu mewah?" tanya Ayanda.


Gio tersenyum, mengecup ujung kepala Ayanda. Mereka sedang melihat-lihat setiap sudut ruangan untuk acara besar mereka nanti.


"Ini bukan pernikahan yang pertama untukku," lirihnya.


Gio menangkup wajah Ayanda. "tapi kamu yang pertama dan terakhir untukku," balasnya.


Gio mengecup kening Ayanda lalu memeluknya.


Setelah melihat hotel, mereka memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari hotel.


Mereka berbincang ringan, hingga suara seseorang mengalihkan pandangan mereka.


"Mr. Giondra," sapa Mr. Steven.


Gio pun berdiri dari kursinya dan tersenyum hangat kepada satu dari ribuan koleganya.


"Ibu Ayanda?" tanya Mr. Steven.


Ayanda hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Mr. Steven. Beliau adalah salah satu kolega mantan suaminya yaitu Rion. Ada rasa risih dan tidak nyaman ketika Mr. Steven bergabung di meja mereka.


Gio yang melihat ketidak nyamanan calon istrinya menggenggam erat tangan Ayanda seraya tersenyum, menyiratkan jika semuanya akan baik-baik saja.


"Saya baru saja dengar kabar jika Mr. Gio akan segera melepas masa lajang. Benarkah itu?" tanya Mr. Steven antusias.


"Iya, ini calon istri saya," jawab gio mantap.


Mr. Steven memasang wajah tak percaya. Ayanda hanya menundukkan kepalanya, karena apa yang dipikirkannya akan terjadi.


"Bukannya ...."


"Iya, wanita ini adalah mantan istri dari Rion Juanda, pengusaha bakery ternama," tukas Gio setelah memotong ucapan dari koleganya itu.


Mulut Mr. Steven langsung tertutup rapat. Ia tahu jika Gio sudah menjawab pertanyaan sedikit keras itu tandanya ia tidak suka. Akhirnya Mr. Steven pamit.


Ayanda masih bergelut dengan hati dan


pikirannya.


"Sayang," panggil Gio.


Ayanda menoleh ke arah Gio dengan tatapan sendu.


"Bang, apakah kamu yakin akan menikahiku? Sementara aku ini janda beranak satu, apa tidak akan mencoreng nama baikmu di dunia perbisnisan?" tanya panjang lebar Ayanda.


"Pertama, aku sangat yakin untuk menikahi mu. Kedua, aku tidak peduli dengan nama baikku. Jika aku menorehkan prestasi nama baikku akan melambung dengan sendirinya. Kenapa harus takut?" jawab Gio santai.


"Pasti kamu akan menjadi perbincangan media, Bang," serunya lagi.


"Biarkan saja media memberitakan hal buruk tentangku, asal jangan tentang dirimu. Karena aku tidak segan-segan akan memporak-porandakan media itu dengan tanganku sendiri," balasnya dengan penuh penekanan.


"Jangan pedulikan omongan orang lain. Kita cukup peduli dengan kebahagiaan kita saja. Sudah ya, jangan pernah berkata apapun tentang masa lalu mu, karena aku sungguh tak peduli. Yang aku peduli kan hanya masa depan kita dan juga Echa," jelasnya kepada Ayanda.


Ucapan Gio mampu menghangatkan hati Ayanda yang sedikit minder karena status janda yang disandangnya.


*****


Hay,,


Hari ini dua bab sekaligus ya, sebagai permintaan maaf ku karena gak up kemarin.


Jangan lupa like, komen, dan juga vote biar tambah semangat lagi. Dan biar aku up tiap hari lagi,,

__ADS_1


Happy reading semuaa


__ADS_2