
Ayanda meneruskan langkah kakinya dengan mengisyaratkan agar Gio mengikutinya. Langkah kakinya terhenti di depan toilet.
"Aku tunggu di mobil," ucap Gio dingin.
Hawa dingin dan tatapan dingin Gio di dalam mobil menyempurnakan suasana hati Ayanda yang tengah tegang.
"A-a-ku ...."
Gio langsung memeluk tubuh kekasihnya ini. "aku tau, ini rencana Echa, kan," ujarnya yang tengah memeluk erat tubuh Ayanda. Ia hanya membalas dengan anggukan.
"Aku tidak akan marah dengan hal ini, tapi jika ada apa-apa aku mohon bicaralah padaku," ucapnya setelah melepaskan pelukannya.
"Aku hanya tidak ingin merusak momen bahagia yang baru saja tercipta," imbuhnya.
Gio tersenyum bahagia mendengar jawaban dari mulut Ayanda. "aku sangat mencintaimu. Semoga kamu bisa menjaga cintamu hanya untuk aku," kata Gio.
Ayanda mengangguk pelan seraya tersenyum. "aku akan berbicara pada Echa pelan-pelan," ujarnya.
------
Semakin hari hubungan Ayanda dan Gio semakin dekat. Rasa sayang dan cinta mereka semakin besar. Gio yang rela bolak-balik Singapura - Yogyakarta membuat Ayanda semakin mantap dengan hatinya. Di sisi lain, Rion pun dengan gencarnya mendekati Ayanda dengan bantuan Echa. Dengan sikap Ayanda yang tidak pernah menolaknya membuatnya semakin yakin jika mantan istrinya bersedia kembali lagi dengannya.
"Gua mau melamar Yanda," kata Rion.
Arya yang hendak meminum kopinya langsung menyemburkan kopinya. "gak salah? Emang Yanda mau?" tanyanya bertubi-tubi.
"Fifty-fifty" jawabnya.
"Apa lu gak ngerasa kalo Yanda itu terpaksa jalan sama lu karena Echa? Apa pun akan dia lakuin demi anak lu," jelas Arya.
"Jika Echa setuju pasti Yanda juga setuju," timpalnya.
"Manusia egois emang lu," sarkas Arya.
"Gua bukan egois, tapi ini permintaan Echa," kata Rion.
"Itu sama aja lu mencari kesempatan dalam kesempitan. Lu bahagia bisa balik lagi sama Yanda, lah Yanda. Apa akan bahagia kembali lagi sama lu?"
Rion terdiam mendengar ucapan dari sahabatnya ini. Apa yang dikatakan Arya memang benar. Hanya saja ia sudah berjanji kepada Echa.
Malam ini Gio sudah mempersiapkan makan malam romantis untuk Ayanda. Dinner di bukit bintang sekaligus untuk melamar Ayanda kembali. Raut bahagia nampak jelas dari wajahnya. Remon yang ikut mempersiapkan makan malam spesial Bossnya ini turut senang. Bossnya yang dulu telah kembali lagi.
Malam pun tiba, Ayanda sudah terlihat cantik dengan penampilannya. Ketika Ayanda keluar dari kamarnya, Echa menarik tangan sang mamah.
"Ayah sudah jemput, ikutlah dengan Ayah," pinta Echa.
"Tapi, Dek ...."
__ADS_1
"Tidak ada penolakan, Ayah jauh-jauh dari Jakarta datang ke sini demi Mamah," ujarnya.
Ayanda hanya menghela nafas kasar, ia tak kuasa menolak permintaan Echa.
Di dalam mobil hanya tercipta keheningan. "Mas, bisa turunkan aku di Secret Coffee and Chocolate. Maaf, aku sudah ada janji dengan Gio sebelumnya," pinta Ayanda.
Dada Rion mulai terasa sesak. Apa yang Arya ucapkan benar adanya. Ayanda hanya tidak ingin mengecewakan putrinya. Sedangkan hati Ayanda sudah berlabuh pada Gio.
Akhirnya, Rion menuruti permintaan Ayanda. Tanpa ia sadari, Rion masih menunggunya dari kejauhan.
Ayanda sudah duduk di meja yang telah dipesan oleh Gio. Sebelum berangkat ke bukit bintang, Gio mengajak Ayanda bertemu restoran ini.
Waktu terus berjalan, namun Gio tak kunjung datang. Lama ia menunggu, Ayanda selalu berfikiran positif terhadap kekasihnya itu. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 wib. Gio sama sekali tak datang. Ia mencoba menghubungi nomor Gio, namun selalu di luar jangkauan.
"Kemana kamu, Gi? Kenapa kamu mengingkari janji?" gumamnya. Tak terasa air matanya terjun bebas. Segera ia hapus dan meninggalkan cafe itu.
Langkah gontai Ayanda dengan wajah sendunya membuat Rion berlari mengejarnya.
"Yanda," panggil Rion.
Langkah Ayanda terhenti, melihat ke arah orang yang sedang mengejarnya.
"Apa dia tidak datang?" sergap Rion karena melihat mata mantan istrinya memerah.
Ayanda hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan tangan Rion mengepal dengan keras, seolah ingin menghantam tubuh seseorang.
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh Echa. Ketika melihat sang mamah dengan wajah sendu, Echa memicingkan matanya pada sang ayah. Hanya mendapat gelengan kepala dari Rion.
Ayanda menatap gelapnya malam dari balik jendela. "kenapa kamu bohong Gi," gumamnya.
"Kan udah Echa bilang, perginya sama Ayah. Jangan sama Papa Gi," ucap Echa tiba-tiba.
Ayanda menoleh ke arah Echa yang sedang berdiri di belakangnya dengan wajah emosi.
"Sekarang Papa Gi bohongin Mamah lagi, kan," lanjutnya.
"Dek ...."
"Selama ini Echa tau Mamah sama Papa Gi deket lagi, tapi Echa mencoba diam. Coba lihat Ayah! Hargai perjuangan Ayah selama ini. Tidak bisakah Mamah mengabulkan satu permintaan Echa," ujarnya.
Ayanda memandangi wajah putrinya yang sedang menahan tangis. Hatinya sangat sakit, karena sekarang dirinya yang membuat Echa kecewa.
"Kembalilah dengan Ayah," pintanya. Echa pun meninggalkan Ayanda yang sedang membeku.
Di depan pintu kamar Ayanda, Echa menyandarkan kepalanya dengan bulir air mata yang membasahi pipinya.
"Echa hanya ingin melihat Mamah bahagia," lirihnya.
__ADS_1
Setelah kejadian makan malam yang gagal. Gio tidak pernah menemui ataupun menghubungi Ayanda. Hati Ayanda semakin sakit. Janji yang Gio ucapkan ternyata hanya janji manis belaka. Ia benar-benar tidak serius dengan hubungannya.
Waktu terus berputar, tidak ada tanda-tanda kehadiran Gio lagi. Sekarang Ayanda sudah tidak ingin berharap lagi. Mungkin, memang dirinya tidak ditakdirkan bersama Gio.
Sebulan berlalu, Rion semakin sering bolak-balik ke Jogja hanya untuk menghabiskan waktu bersama putri dan mantan istrinya. Meskipun, di wajah Ayanda masih ada siluet kesedihan.
Suara ketukan pintu terdengar. Ayanda membuka pintu, senyuman bahagia melengkung dari bibirnya.
"Teteh," sapa Nisa dan langsung memeluk tubuh Ayanda.
"Mamah," ucap Ayanda haru. Ia langsung memeluk tubuh sang mamah mertua.
Kehadiran Nisa dan mamah mertuanya mampu menghilangkan rasa sedih di hati Ayanda. Kesedihan jika bayang wajah Giondra mampir di ingatannya.
Bukan hanya Ayanda, Echa juga sangat bahagia kedatangan onty dan juga neneknya. Rumah yang biasa sepi kini terasa riuh dengan gelak tawa dan juga saling bercerita.
"Teh," ucap Bu Dina serius.
Keheningan pun tercipta, Ayanda menatap wajah mamah mertuanya dengan penuh tanda tanya.
"Mamah datang ke sini ingin melamar Teteh untuk putra Mamah," ungkapnya.
Raut wajah Ayanda langsung berubah. Datar dan tidak terbaca. Echa menggenggam tangan sang Mamah. Menatapnya penuh harap.
"Berikan waktu untukku berpikir," jawabnya.
Bu Dina pun tersenyum. Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Apapun keputusan Ayanda pasti akan ia terima dengan lapang dada. Menyatukan dua hati yang telah terpisah bagai menyatukan minyak dengan air.
*****
Hay..
Aku tepatin janji aku nih, meskipun keriting banget nih otak dan nyempetin nulis di sela-sela weekend ku yang sangat sibuk.
Tadi aku baca komenan dari kalian yang bilang kisahnya mulai rumit dan terlalu lama. Aku cuma bisa tersenyum. Ini cerita emang memakai alur lambat, dan setiap kejadian harus ada penjelasannya dulu. Biar reader paham apa masalahnya bisa sampe terjadi konflik hati yang tak berkesudahan. Aku bisa aja bikin si Ayanda sama si Gio atau Rion bersatu dengan cepat, tapi apakah akan enak dan diresapi jika dibacanya?
Jujur aja ya, target aku di episode 100 udah End, tapi ide mulai bermunculan lagi. Jadi, aku tuangin aja ide aku ini. Sebenarnya aku juga pengen bikin End lebih cepat cerita ini, hanya saja harus memikirkan waktu yang tepat juga. Tidak semudah yang kalian pikirkan. 🤧
Hari ini aku jadi author kalem dulu, kalian mau komentar apapun terserah. Sok mangga..😁
Yang udah janji mau ngasih aku koin kalo aku crazy up aku tunggu di GC Nyonyahalu ya...😂
Aku usahain, besok pagi aku up lagi kok ...
Mengejar End, sesuai permintaan beberapa reader,,,😁😁😁
Happy reading semua..
__ADS_1