
Hari ini Rion akan berangkat ke Surabaya untuk meninjau proyek toko cabang barunya karena ada sedikit kekacauan. Pukul 09.45 wib. jadwal keberangkatannya.
"Sayang, selama aku di Surabaya kamu jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran. Aku ingin ketika aku pulang disambut dengan senyumanmu," ucapnya sambil memeluk erat pinggang sang istri.
"Kan cuma dua hari disananya, kayak mau berbulan-bulan aja," ejeknya.
"Dua hari tanpamu bagaikan dua tahun lamanya, Sayang."
"Masih aja ngereceh," balasnya sambil melepaskan pelukan suaminya, lalu mengambil tasnya di atas meja.
"Ayo berangkat, aku udah telat udah jam setengah delapan," ajak Ayanda. Rion hanya diam dan masih duduk santai di sofa sambil memainkan handphonenya.
"Sayang!" geramnya.
"Hemm," kata keramat nan menyebalkan yang keluar dari mulut Rion.
"Ya udah aku minta anter Pak Mat aja, buang-buang waktu," ujarnya penuh dengan kekesalan dan berjalan menuju pintu. Rion mengejarnya dan memeluknya dari belakang sehingga langkah Ayanda terhenti.
"Kamu mah gak peka," jawabnya dan meletakkan kepalanya di pundak Ayanda.
"Apa sih? Aku udah kesiangan ini," balasnya lagi.
Rion pun menghela nafas panjang.
"Ya udah, kerjaan lebih penting ini, suamimu mah gak penting," timpal Rion dan melepaskan pelukannya, kembali duduk diatas sofa.
"Aku berangkat," pamit Ayanda. Tidak ada jawaban dari Rion.
Rion membuang nafasnya kasar.
Semenjak kejadian kemarin sikapnya sangat-sangat berubah, batinnya frustasi seraya mengacak-ngacak rambutnya.
Di mobil Ayanda hanya terdiam dan bergelut dengan pikirannya sendiri. Jiwanya masih kaget dengan kejadian kemarin. Ia ingin marah kepada suaminya, tapi hatinya tak tega untuk melakukannya. Ketika logika dan hati saling bertolak belakang disitulah kebimbangan melanda. Ayanda menghela nafas kasar dan mencari benda pipih miliknya di dalam tas dan menghubungi seseorang.
Arya : Iya Bu boss.
Ayanda : Kapan kalian berangkat?
Arya : Jam sepuluh kurang seperempat, emang kenapa Bu boss?
Ayanda : Beritahu aku kalo kalian udah otw bandara.
Arya: Siap Bu boss.
Sambungan telepon pun terputus. Dan sambungan telpon lainnya masuk ke hp Arya dengan ID si pemanggil "Boss Gila"
Rion : Kita berangkat sekarang.
Arya : Hah? Kepagian bro.
Rion : Cepetan gak usah protes.
"Apalah daya gua cuma sebagai bawahan lu boss gila. Lama-lama ikutan gila juga nih gua," monolognya sambil mengacak-ngacak rambut.
"Bentar, bentar, tadi Bu boss telpon gua. Gak lama si boss gila juga telpon nah? Gua mencium aroma-aroma gak beres nih," bermonolog lagi.
Arya pun mengikuti perintah Bossnya, berangkat lebih awal dari jam penerbangan. Di sepanjang perjalanan Rion hanya diam sama sekali tidak berbicara.
"Kenapa lu? Muka lu kecut banget," tanya Arya. Rion hanya melirik Arya sebentar lalu kembali diam lagi.
"Ada masalah lagi sama ibu boss?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Bisa ga sih mulut lu diam," bentaknya. Arya hanya bisa menghela nafas panjang. Ia lalu merogoh sakunya mengambil ponselnya. Lalu ia mengetikkan sesuatu.
๐จ Bu Boss kita udah otw bandara
๐ฉ Kenapa cepet banget katanya 09.45 berangkatnya?
๐จ Pak Boss gila yang nyuruh berangkat sekarang, mukanya kecut banget Bu Boss melebihi biang cuka.
Ayanda menghela nafas panjang, menyenderkan kepalanya di kursi. Kejadian kemarin masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Ponselnya berdering kembali, menandakan ada pesan baru. Ayanda membuka pesannya dan yang ia terima adalah foto suaminya dengan tatapan sendu di dalam mobil.
Hatinya sedikit sakit melihat orang yang ia sayangi seperti ini karena keegoisannya. Sebenarnya itu bukan salah suaminya hanya saja waktu yang membuatnya menjadi salah. Kesedihan dan kesakitannya ternyata tak terkikis oleh waktu, masih tetap sama seperti waktu dulu masih tetap menyakitkan dan menyedihkan.
Ayanda pun bergegas menuju bandara diantar pak Mat.
Di Bandara Rion dan Arya masuk ke dalam sebuah kedai kopi. Mereka memesan kopi dan berbincang ringan.
"Lu kenapa sih bro?"
"Dinda balik lagi," ungkapnyq pada Arya sambil memainkan cangkir kopi.
"Terus?" jawab Arya sedikit terkejut.
"Yanda liat dia lagi meluk gua, terus hari ini dia berubah banget sama gua."
"Bener kan dugaan gua pasti lu lagi ada drama rumah tangga kan,"
Rion hanya menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sambil menyenderkan kepalanya di kursi.
"Sayang!" Rion mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali, namun ditepisnya. Mungkin hanya halusinasinya saja karena ia sedang memikirkan orang itu.
"Sayang,"suaranya semakin dekat, Rionpun membuka matanya dan terkejut. "Yanda!" panggilnya. Ketika melihat istrinya sedang berdiri disampingnya.
Rion mengerutkan dahinya, menarik lengan istrinya agar memeluknya. "aku sangat senang karena kamu kesini untukku, terimakasih Sayang," ucapnyq seraya mengecup lembut kening Ayanda.
Terdengar suara deheman dari kursi seberang.
"Gua masih manusia ya, liat tingkah laku pasutri drama kayak lu gua jadi ngenes sama diri gua sendiri ini," terang Arya.
Dijawab dengan kekehan Rion dan Ayanda. Mereka pun berbincang ringan tentang pekerjaan maupun hal-hal tak penting. Hingga sudah tiba jam keberangkatan Rion dan Arya.
"Jaga diri kamu baik baik ya, jangan lupa makan dan jangan kecapean," ujarnya sambil mencium dalam kening istrinya. Dijawab anggukan oleh Ayanda yang masih memeluk erat pinggang suaminya.
"Yaelah, cuma dua hari juga ke Surabaya-nya kayak mau pamit bertahun-tahun aja lu, cepetan ntar ketinggalan," timpal Arya.
"Aku berangkat ya," pamitnya lalu mencium bibir Ayanda sebentar. Kemudian pergi masuk ke pintu keberangkatan.
Ayanda pun kembali ke toko cabang, seperti biasa laporan-laporan menumpuk di mejanya. Hingga tiba jam istirahat.
Tok tok tok
Sita membuka pintu ruangan Bossnya dan langsung masuk ke dalam.
"Bu, mau makan siang apa?" tanyanya.
"Kita makan siang diluar aja ya," jawabnya yang sudah menenteng tasnya.
"Baik Bu," jawab Sita yang selalu mengikuti perintah Bossnya.
Mereka pun pergi ke Mall. Hari ini Ayanda ingin makan di salah satu restoran favoritnya yang berada di dalam mall ini. Setelah selesai makan ia mengajak Sita santai sejenak di kedai kopi kesukaannya yang masih berada di Mall tersebut.
__ADS_1
Ayanda pun menyuruh Sita untuk mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka, sedangkan ia memesan kopi.
Di meja lain ada seseorang yang sedang menikmati kopi dalam kesendiriannya.
Ini kan kedai kopi kesukaanmu, apa kamu masih sering kesini? Bermonolog dalam hati.
Sita memilih meja di samping kaca. Setelah Ayanda memesan kopi ia mencari Sita. Lalu ia menghampirinya dengan dua gelas coffee ice ditangannya.
"Ini punyamu," kata Ayanda.
"Terimakasih Bu."
Mendengar suara yang familiar lalu ia menoleh ke meja disampingnya. "Ayank!" ucapnya dengan binar bahagia ketika melihat wanita yang ia rindukan selama ini. Ia pun langsung menghampiri meja itu.
"Ayank!!" panggilnya. Ayanda dan Sita pun menoleh ke arah suara.
Akhirnya aku bertemu dengan rinduku, ucapnya dalam hati.
"Gio!" sahut Ayanda yang tak kalah terkejutnya. Gio langsung berhambur memeluk Ayanda.
"Aku merindukanmu Ayank," serunya sambil memeluk Ayanda.
Ayanda melepaskan pelukannya, "namaku Ayanda bukan Ayank Gio," jawabnya sambil memukul lengan Gio.
"Hahaha, kamu masih aja tetap galak kepadaku. Boleh aku gabung di meja kalian?" Ayanda dan Sita menganggukkan kepalanya.
Mereka pun berada dalam satu meja. Gio menatap intens Ayanda dengan tatapan penuh rindu dan juga bahagia.
"Kenapa liatin akunya kaya gitu? Aku tau aku memang cantik," katanya narsis sambil tertawa.
"Tawamu masih sama seperti dulu, itu yang membuatku rindu," balas Gio yang masih tetap memandang Ayanda.
Ayanda hanya tersenyum tipis. Lima tahun berlalu tak membuat lelaki yang satu ini berubah.
"Masih saja kamu gembelin aku," Ucap Ayanda.
"Gombal Ayank gombal, bukan gembel," timpalnya dengan sedikit emosi. "nih rambut anak reggae baru gembel," imbuhnya.
"Itu gimbal Gio," jawab Ayanda disambut kekehan Gio.
Ponsel Ayanda berdering, dan langsung ia angkat.
๐ Iya sayang, aku lagi makan diluar bareng Sita.
.......
๐ Iya, kamu baik baik juga disana ya.
,.......
๐ Love you too.
Deg,
Hati Gio seperti dihantam batu besar mendengar obrolan Ayanda dengan suaminya yang penuh dengan kemesraan. Ia melihat ada binar kebahagiaan di mata Ayanda ketika berbicara dengan suaminya.
Ternyata kamu sudah bahagia dengannya.
*******
Happy reading kesayanganku๐
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, Dan juga vote untuk terus menyemangati aku dalam menulis,,
Terimakasih semuanya,,