Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 92. Restu Berujung Pilu


__ADS_3

Ketika orang-orang di ruang tamu sedang berbincang, dan kedua anak manusia sedang saling pandang. Panggilan bu Dina kepada putranya membuat semua orang melihat ke arah mamah Rion.


"Kedatangan Teteh kesini untuk ...." Helaan nafas berat dari sang Mamah.


Rion dan juga Arya mengernyitkan dahinya tak mengerti. Arya menatap Nisa, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Arya si manusia peka lebih dari cenayang ini langsung mengerti kode dari adik sahabatnya.


"Teteh mau menikah dengan nak Gio," lanjut sang Mamah.


Seketika dunia Rion menghitam, jantungnya seolah kehilangan oksigen. Ingin rasanya ia menjerit menolaknya. Apalah dayanya sekarang, selain menyetujuinya. Ia tidak berhak untuk melarang.


"Selamat," hanya kata itu yang terucap dari mulut Rion dengan senyuman tipis penuh luka.


Arya, Nisa dan sang Mamah sangat mengerti perasaan Rion sekarang. Hancur itu sudah pasti , tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya tidak akan terjadi jika tidak ada sabab musababnya.


Rion menjabat tangan Gio dengan senyuman yang dibuat setulus mungkin. Kemudian beralih ke mantan istrinya. Tatapan penuh luka, hancur, dan sakit bisa Ayanda lihat dari pancaran mata mantan suaminya.


"Selamat Yanda, aku ikut bahagia," ucapnya seraya tersenyum.


Tidak ada jawaban dari Ayanda, hanya tatapan sendu yang ia perlihatkan. Apa yang Ayanda takutkan akhirnya terjadi. Meminta restu yang berujung pilu.


"Semuanya, saya ke kamar dulu ya. Mau bersih-bersih badan dulu," pamit Rion kepada semua orang di sana.


Mata Ayanda mengikuti langkah Rion yang menghilang di kamar utama. Kamarnya sewaktu dulu bersama Rion.


Maafkan aku, Mas, batinnya lirih.


Bu Dina mengajak Gio, Ayanda, Arya untuk makan bersama. Hanya Rion yang tidak ada di meja makan. Arya beralasan jika sahabatnya itu sudah makan sebelum pulang ke sini. Ayanda sangat tahu jika Arya sedang berbohong. Ia tau bagaimana Rion.


Setelah selesai makan, Gio dan Ayanda pamit untuk kembali ke Singapura. Bu Dina dan Nisa mencegahnya, mereka ingin Ayanda dan juga Gio menginap untuk malam ini. Dengan alasan mamah mertua dan adik iparnya masih kangen dengan Ayanda. Tidak dipungkiri Ayanda pun rindu akan sosok mamah mertua dan adik iparnya. Dengan sangat mudah Gio menyetujuinya. Mereka pun bermalam di kediaman Rion.


Gio dan Arya sedang berada di taman belakang, sedangkan Ayanda sedang berada di kamar atas. Kamar favoritnya dulu. Ia memandangi setiap sudut kamar, matanya mulai berkaca-kaca. Semua foto dirinya, Rion dan juga Echa masih terpajang rapih di kamar ini. Ia menatap haru ketika meja kerjanya masih dihiasi foto mereka bertiga yang sedang berlibur. Tak terasa bulir air matanya terjatuh.


Suara pintu terbuka membuat Ayanda membalikkan badannya. Seseorang yang belum sepenuhnya bisa ia lupakan menghampirinya sembari tersenyum. Ia mendekat ke arah mantan istrinya yang sedang berdiri di depan meja kerja. Langkah kakinya menuju jendela kamar, Rion pun membukanya. Ia berdiri dibalik jendela dengan pandangan lurus ke depan.


"Bukankah ini tempat kesukaanmu? Kamu selalu menghabiskan waktu di sini sendiri dan menatap indahnya langit dari balik jendela ini," ujarnya.


Ayanda tetap mematung di tempatnya. Mendengar ucapan Rion membuka lagi kenangan tentang kamar ini.


"Kamu tau, jika setiap malam aku selalu berdiri di sini. Menatap ke arah langit, berharap ada bintang jatuh. Agar aku bisa meminta permohonan padanya. Konon katanya, sang bintang jatuh itu akan mengabulkan segala permintaan kita."


Helaan nafas sangat berat sangat terdengar. Ia menoleh ke arah Ayanda dengan tersenyum kecut.


"Apa kamu tau apa yang ingin aku minta?" tanyanya pada Ayanda.


Ayanda hanya terdiam membisu, menatapnya dengan pandangan tak terbaca.

__ADS_1


"Aku ingin kembali lagi bersamamu dan juga putri kita," ungkapnya.


Rion memejamkan matanya menahan tangis yang sedari tadi ingin sekali dikeluarkan. Bulir bening pun jatuh diujung matanya.


Entah apa yang mendorong Ayanda, ia langsung memeluk tubuh mantan suaminya. Air matanya pun jatuh sangat deras. Ia sangat merasakan kesakitan yang Rion rasakan kini. Mereka saling mencurahkan kesakitan masing-masing dalam pelukan rindu nan hangat. Hanya isak tangis yang terdengar.


Dari balik pintu sang mamah dan juga Nisa ikut menangis haru melihatnya. Inilah yang mereka rencanakan. Bukan untuk memisahkan Ayanda dan juga Gio. Akan tetapi, memberikan kesempatan terakhir untuk Rion untuk berbicara dari hati ke hati tanpa emosi.


# flashback on


Setelah selesai makan, Bu Dina masuk ke kamar putranya. Dilihatnya Rion sedang menatap pilu foto yang sedang ia pegang. Wajah sendu dengan hati yang sangat hancur bisa ibundanya rasakan.


"A, temui si Teteh," pinta sang mamah yang sudah duduk di samping tempat tidur.


"Untuk apa? Dia sudah bahagia, Mah. Sedangkan ...." Perkataannya terhenti.


"Mamah yakin aa rindu kan sama si Teteh. Bicaralah dari hati ke hati," ujarnya


"Tidak, Mah. Itu hanya akan menambah kesakitan aa," Ia memejamkan mata merasakan kesakitan yang sangat dalam. Kehadiran Ayanda di sini semakin membuatnya tenggelam dalam kesedihan.


"Temui a, Mamah sangat yakin si Teteh juga merindukan aa. Pergilah ke kamar atas, dia sedang berada di sana," jelas ibundanya.


# flashback off


"Andai kesalahan aa tidak fatal, Nisa yakin mereka akan jadi keluarga bahagia," ucap Nisa dengan suara berat menahan tangis.


"Mamah sangat yakin, di lubuk hati terdalam si Teteh pasti masih tersimpan cinta untuk si aa," jelasnya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga dan juga mata yang sedang mendengarkan dan juga melihatnya.


Ketika Bu Dina dan juga Nisa menjauh dari depan kamar atas. Gio yang sangat penasaran melihat ke arah dalam kamar. Ia pun tersenyum tipis kemudian menyandarkan kepalanya ke tembok.


Apa benar kamu masih mencintai mantan suamimu? Rasa cinta itu masih terlihat jelas di mata kalian, batinnya lirih.


Ketika semuanya sudah tertidur, Gio masih betah di taman belakang. Mengingat-ingat kejadian yang belum lama ini ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


# flashback on


Ayanda melepaskan pelukannya, ia menatap pilu ke arah Rion yang sudah bercucuran air mata. Ayanda menghapus jejak air mata di wajah mantan suaminya. Tangannya di genggam oleh Rion. Mereka saling tatap dengan mata yang sama-sama sendu.


"Apa kamu bahagia?" tanya Rion yang masih memegang tangan Ayanda.


Ayanda hanya mengangguk pelan, sebenarnya hatinya terasa sakit melihat pria yang dulu ada di dalam hatinya menangis seperti anak kecil di hadapannya.


Rion pun tersenyum. "aku hanya ingin kamu tau, sampai kapan pun aku tidak pernah bisa untuk melupakanmu. Aku masih mencintaimu, Yanda."

__ADS_1


# flashback off


Berkali-kali Gio menghembuskan nafas panjang. Walaupun calon istrinya tidak menjawab ucapan dari Rion tapi ia sangat tau bagaimana perasaannya sekarang. Gio masih bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Belum tidur, Gi," tanya seorang pria dengan mata yang sembab.


"Masih ingin menikmati suasana malam," jawab Gio dengan tersenyum.


Rion pun duduk bersama Gio di sebuah gazebo yang berada di taman belakang.


"Bahagiakan Ayanda dan juga Echa," kata Rion dengan wajah yang penuh luka.


Gio melihat ke arah Rion. "jika saya tidak bisa membahagiakan calon istri dan putri saya, Anda bisa merebutnya kembali," jawab Gio.


Rion hanya tersenyum tipis. "jangan kamu lakukan kesalahan seperti ku, mereka terlalu berharga untuk disakiti. Jadilah imam yang baik untuk Yanda dan jadilah papa yang baik untuk Echa," pinta Rion sambil menepuk bahu Gio.


"Apa Anda masih mencintai Ayanda?" tanya Gio.


"Kamu sudah pasti tau jawabannya, tapi tenang saja. Saya tidak akan merebut paksa kebahagiaan kalian. Ini mungkin terakhir kalinya saya menyentuh calon istrimu, maaf jika saya lancang," jelas Rion.


"Mencintai dalam diam, itulah yang akan saya lakukan," tegasnya dan berlalu meninggalkan Gio.


Di balik pintu arah taman, ada sepasang mata yang tengah menangis pilu.


"Maafkan, aku."


*****


Hay semuanya,,


up lagi,


Sedih, views turun, jempol sedikit komen berkurang. vote ....😭😭😭🤧


Empat faktor itu yang membuat semangatku menurun. Ayo dong, jika kalian mau aku up tiap hari tekan jempolnya, komen di setiap bab-nya sama kencengin lagi votenya,,


Oiya, kemarin aku baca komen kalian. Ada yang minta crazy up, mohon maaf banget aku gak bisa🙏


Alasannya :


° Kesibukanku di dunia nyata padat merayap, nulis aja pas malam kalo gak ketiduran😁, setor naskah aja tengah malam.


° Ada masanya aku mengalami writer block, kebuntuan menulis dan ada kalanya juga aku punya banyak ide tapi gak ada waktu untuk ngetiknya karena terlalu sibuk ataupun terlalu malas😁


So, harap bersabar ya sayang,,

__ADS_1


Aku usahakan up tiap hari jika tidak ada halangan, asalkan jempol, komen, sama votenya kenceng,,


Happy reading semua,,


__ADS_2