
Ucapan Rion membuat jantung Ayanda berhenti untuk beberapa detik. Raut wajahnya terlihat sangat tak terbaca, hatinya ikut merasakan nyeri dan juga sesak karena ucapan suaminya.
Hati Echa hancur seketika, ingin rasanya ia berkata tidak tapi apalah dayanya. Kebahagiaan sang Mamah kini lebih penting dari apapun.
Gio yang melihat wajah Ayanda yang tiba-tiba berubah sangat tau jika wanita yang ia sayangi sedang tidak baik-baik saja.
"Kejarlah dia! Aku tau kamu masih menyayanginya," ucap Gio.
Semua mata tertuju pada Gio, tak terkecuali Genta Ayahnya. Gio melepaskan tangannya yang sedang memeluk Ayanda.
"Pergilah! Sebelum kamu menyesal," katanya lagi.
Mata Ayanda berkaca-kaca mendengar ucapan Gio, ia menoleh kepada Echa dan sang putri hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan senyum tipis yang tersungging dari bibirnya.
Sebelum pergi, Gio melepaskan infus yang berada di tangan Ayanda agar ia leluasa dalam mengejar Rion. Genta sangat melihat ketulusan cinta putranya kepada Ayanda hingga Gio rela mengorbankan segalanya.
Ayanda bergegas mencari Rion meninggalkan semua orang yang berada disana.
"Gi!" panggil sang Ayah.
Gio tersenyum ke arah Ayahnya. "i'm okay," dengan suara yang terdengar memilukan.
"Ndra, kenapa?" tanya Arya.
"Mencintai tanpa dicintai itu sangat menyakitkan terlebih jika yang kita cintai hanya pura-pura mencintai kita, jadi lebih baik mengaguminya dalam diam dan selalu ada disaat dia membutuhkanku itu sudah cukup untukku," jelasnya.
Arya tercengang mendengar perkataan dari Giondra. Sikap dan perilaku Giondra sangat berubah drastis dari Giondra yang dulu ia kenal.
"Papa Gi," panggil Echa lirih.
Gio melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Echa. Ia mengusap lembut rambut putrinya.
"Papa Gi disini akan menemani kamu sampai kamu sembuh total, lalu kita pergi jalan-jalan mengelilingi Singapura," ucapnya bahagia.
Echa terpaksa tersenyum mendengar ucapan Papanya. Ia tau, selama ia koma Papa Gi yang berjuang untuknya. Dirinya yang selalu menemani Sang Mamah ketika Ayanda terpuruk akan kondisi Echa. Papa Gi lah yang menjadi penyelamat hidupnya.
Tak terasa bulir bening jatuh membasahi pipinya. Gio langsung menghapus air mata sang putri.
"Aku sayang Papa, makasih udah menyelamatkanku," serunya lirih.
Ia langsung memeluk tubuh Echa, tak terasa air matanya pun terjatuh
Aku hanyalah pria bodoh yang mengharapkanmu menjadi milikku. Padahal dari awal aku tau jika dirimu sudah ditakdirkan dengannya, batinnya.
Gua benar-benar gak ngerti gimana jalan pikirannya, kemarin nangis-nangis karena Ayanda. Sekarang dengan mudahnya ia melepaskan Ayanda kembali pada suaminya. Sebenarnya apa yang kau inginkan Boss? gumam Remon dalam hati.
__ADS_1
Di luar Rumah Sakit Ayanda terus mencari Rion. Langkahnya gontai karena tubuhnya masih lemah. Ia menyusuri taman dengan keringat bercucuran, seketika pandangannya kabur dan berubah menjadi gelap.
Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan dan ia pun terjatuh, untung saja ada seseorang yang dengan sigap meraihnya.
Pria itu membawanya ke sebuah kursi taman dibawah pohon rindang. Ia membaringkan tubuh Ayanda di kursi tersebut.
"Kenapa kamu memaksa keluar? Kamu sedang sakit," ucapnya pelan.
Pria itu dengan telaten mengusap cucuran keringat di kening Ayanda. Memandangi wajahnya dengan begitu dekat, wajah yang sangat ia rindukan lebih dari satu bulan ini.
Mata Ayanda perlahan terbuka, pelan-pelan ia menatap sekeklilingnya, orang yang pertama kali ia lihat adalah Rion. Rion tersenyum kearahnya.
Ayanda mencoba bangun dari tidurnya di pangkuan suaminya, namun Rion menahannya.
"Tetaplah seperti ini, izinkan aku memandang wajahmu lebih lama lagi," lirihnya.
Bulir air mata Ayanda pun terjatuh, terlalu sakit baginya mendengar ucapan dari suaminya.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Rion.
Hanya isakan yang begitu pilu yang terdengar.
"Maafkan aku, aku belum bisa jadi suami yang baik bagimu dan tidak bisa membuatmu bahagia. Aku hanya bisa membuatmu terluka dan merana," ujarnya.
Ayanda hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Ia pun bangun dari posisi tidurnya.
Ayanda menghapus air mata Rion yang membasahi pipinya. Memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku," katanya, yang tidak melepaskan pelukannya kepada Rion.
Hati Rion menghangat dan ia pun membalas pelukan Ayanda.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihatnya dengan penuh kesedihan dan kesakitan. Senyum yang bibirnya sunggingkan hanya senyum palsu yang hanya sekedar menutupi kepiluannya.
Di ruangan Echa hanya tinggal Arya, Genta dan juga Echa. Echa masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Sesungguhnya ia tidak rela jika harus melihat perceraian Ayah dan Mamahnya. Tapi di lain sisi ada Papa Gi yang sangat menyayangi Mamahnya dan ia percaya Papa Gi akan membahagiakan sang Mamah.
"Apa Mamah dan Ayah akan berpisah? Apakah Mamah dan Papa Gi akan bersama?" tanyanya tiba-tiba.
Arya dan Genta saling pandang, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan dari gadis ini.
"Apa kamu tidak sedih jika Ayah dan Mamahmu bercerai?" tanya Genta.
Echa hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan sang Kakek.
"Apa kamu menginginkan Papa Gi bersatu dengan Mamahmu?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Echa hanya tersenyum lagi.
Tidak ada yang bisa menyimpulkan arti dari senyuman gadis ini. Arya hanya tersenyum, ia tau betul betapa gadis ini sangat menyayangi orangtuanya dan tidak ingin orangtuanya berpisah. Di sisi lain ia berhutang budi kepada Papanya.
"Memang pilihan yang sulit ya, Cha," ujar Arya sambil melirik Echa.
Ucapan Arya mampu merubah mimik wajah Echa, dan memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya.
"Apapun keputusan Ayah dan Mamahmu, Om pastikan mereka akan selalu menyayangimu. Kamulah nyawa mereka, kamulah mutiara paling berharga untuk mereka yang akan terus mereka sayangi dan terus mereka jaga hingga akhir hayat mereka," jelas Arya.
Arya menghampiri ranjang kesakitan Echa dan memeluk keponakannya dengan penuh kasih sayang. Echa sudah menangis tersedu dalam pelukan hangat Arya.
"Apa yang mereka pilih itulah yang terbaik buat mereka. Kamu tetaplah anak mereka, dan mereka akan selamanya menjadi orangtuamu," terangnya.
Echa mengangguk pelan dalam pelukan Arya. Perlahan Arya menghapus air mata Echa dan tersenyum ke arahnya.
"Gua gak suka liat lu begini, cengeng!" serunya pada Echa.
Echa mendelikan matanya kesal, Omnya satu ini selalu saja meledeknya jika bertemu.
"Sepertinya si bocah kaleng rombeng udah hilang berganti sama bocah cengeng," ledeknya.
"Om!!" teriak Echa dengan wajah yang benar-benar sudah kesal.
Arya dan Genta pun tertawa melihat kekesalan Echa.
Ceklek! Pintu terbuka.
Mereka yang berada di ruangan itu pun menoleh ke arah pintu. Terlihat Rion dan Ayanda yang sudah bergenggaman tangan, berjalan beriringan memasuki ruangan itu dan mendekat ke arah Echa.
Echa dan Arya saling pandang, Arya hanya mengangkat bahunya.
Sekuat inikah cintamu kepada suamimu, Nak. Meskipun berkali-kali kami disakiti masih mau kembali padanya, batin Genta.
*****
Hay semua,,
Maaf baru up lagi, aku lagi di fase down kemarin😩 karena ada ucapan pedas nan tak berhati menyerangku.
Bantu aku untuk menata hati dan mengumpulkan kekuatan dan semangat ku untuk melanjutkan cerita ini ya reader,,
Sebenarnya aku mau up 2 bab untuk hari ini, tapi takut kalian tidak suka😁 jika komentar kalian banyak hari ini siang/sore aku up kembali ya,,
Setelah membaca dan mampir jangan lupa like, komen dan juga vote ya biar aku bisa kembali semangat lagi ,,,
__ADS_1
Happy reading semua,,