
Remon mendengus kesal mendengar ucapan Bossnya, Dengan mudahnya ia menyuruh pilot agar menerbangkan pesawatnya yang baru saja landing di Melbourne untuk kembali lagi ke Singapura. Remon hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Dia kira Jakarta-Bogor bisa pulang pergi dalam waktu singkat, dasar anak Sultan mah bebas, umpatnya dalam hati.
Mau tidak mau ia menuju tempat kemudi pilot. Remon menyuruhnya untuk menerbangkan pesawat sekarang juga kembali ke Singapura. Pilot dan co-pilot hanya saling pandang, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Ikuti saja perintah Boss Giondra, kalian dibayar olehnya. Tidak usah banyak protes dan tidak usah banyak tanya jika kalian masih mau bekerja dengan keluarga Wiguna," jelasnya.
Ucapan Remon membuat mereka menunduk, bekerja di keluarga Wiguna adalah suatu kehormatan bagi mereka. Selain gajinya yang besar ditambah tunjangan yang lain yang mereka dapatkan dan hidup mereka terjamin. Akhirnya mereka pun menuruti perintah dari Boss mudanya.
Selama dalam penerbangan kembali ke Singapura, wajah Gio nampak gusar sekali. Tak henti-hentinya ia memandangi foto Ayanda dan juga Echa yang sedang menangis. Namun, ia harus bersabar karena jarak Melbourne-Singapura tidaklah dekat, harus menempuh waktu tujuh setengah jam.
Di Rumah Sakit, Ayanda sudah terlelap dengan wajah yang menyedihkan. Berjam-jam ia menangis pilu karena kepergian Gio hingga membuat semua orang disana ikut merasakan kesedihannya.
Genta yang melihat putrinya seperti ini tak tega meninggalkannya sendiri, tapi ia harus kembali ke rumah besar karena sesungguhnya ia juga masih dalam kondisi pemulihan sakitnya.
"Saya titip putri dan cucu saya pada kalian, jika terjadi apa-apa langsung hubungi saya," ucapnya kepada Arya dan juga Rion. Ia memberikan kartu nama kepada Arya.
Arya dan Rion pun hanya mengangguk, Genta pun pulang ke rumahnya dengan hati yang berat untuk meninggalkan putrinya dan juga cucunya dalam kondisi seperti ini.
Sekarang hanya menyisakan Arya dan juga Rion di ruangan Echa. Rion mondar mandir mengecek kondisi putrinya dan juga istrinya. Ia duduk disamping Arya dan mengusap kasar wajahnya.
”Tadi lu kemana?" tanya Arya.
"Ada urusan," jawabnya singkat.
"Jangan bilang lu masih punya urusan sama ular sawah betina itu," sahut Arya.
Rion mendengus kesal. "gak ada hubungannya sama dia," ujarnya.
"Tapi lu masih ada rasa kan sama dia," jawab Arya .
Rion hanya terdiam mendengar ucapan Arya, ia sama sekali tidak bisa menjawab.
"Lu bisa bohongin anak istri lu, tapi lu gak bisa bohongin gua," kata Arya.
Hh ...
"Lu gak akan semudah itu meluk dia kalo lu udah gak punya rasa ke dia," ujarnya.
"Kemarin iya, tapi sekarang rasa benci gua yang dominan," jawabnya.
Obrolan mereka membuat seseorang yang sedang tidak sepenuhnya tidur meneteskan air mata.
Tiba tiba Ayanda mengigau memanggil-manggil nama Giondra dengan berurai air mata. Arya dan Rion pun mendekat ke arahnya.
"Panas, Bas," kata Rion ketika memegang dahi Ayanda.
Rion segera memanggil dokter karena ia tidak mau terjadi apa-apa dengan Ayanda. Tak lama tim medis pun datang ke ruangan Echa. Mereka kira Echa yang drop kembali, ternyata sekarang ibunya yang sakit.
"How's the condition, Doctor?" tanya Rion pada dokter setelah memeriksa Ayanda.
Bagaimana kondisinya, dokter?
__ADS_1
"She was just tired and needed lots of rest," jawab dokter.
Dia hanya kelelahan dan butuh banyak istirahat.
Rion hanya menganggukkan kepalanya.
"She condition is very weak now and must be infused to recover her body which a lot of fluid," jelasnya.
Kondisinya sangat lemah sekarang dan harus di infus untuk memulihkan tubuhnya yang banyak kehilangan cairan.
"Can she be treated here? She can't be far from his daughter," ujar Rion.
Apakah bisa ia dirawat disini? Ia tidak bisa jauh dari putrinya.
Dokter pun menganggukkan kepalanya dan mulai memasang jarum infus di tubuh lemah Ayanda, karena pengaruh obat juga ia pun terlelap.
Hanya Rion yang masih terjaga disini, Arya sudah memejamkan matanya. Putrinya pun sudah istirahat. Rion memandang wajah wanita yang sangat ia sayangi. Hatinya menangis ketika melihat secara langsung kesedihan Ayanda yang sebenarnya.
Hatiku sakit ketika melihatmu menangisi pria lain. Mungkin hatimu lebih sakit ketika berulang kali aku menyakitimu. Hanya saja kamu pintar menyembunyikan itu dariku.
Kamu selalu pura-pura bahagia meskipun sesungguhnya kamu sangat terluka dan sekarang aku tau bagaimana terlukanya dirimu karena perbuatanku.
Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu.
Suara langkah seseorang terdengar sangat keras, suaranya semakin mendekat dan masuk ke sebuah ruangan rawat.
Ketika pintu ia buka, ia melihat pemandangan yang sangat menyakitkan dan juga menyedihkan. Seorang wanita yang sedang tertidur dengan jarum infus menempel ditangannya yang ditemani suaminya.
"Mau kemana?" panggil seseorang.
"Kemarilah, temani Yanda. Dia sangat membutuhkanmu," pinta Rion dengan suara pelan agar tidak membangunkan mereka yang sedang beristirahat.
Gio melangkahkan kakinya mendekat ke sofa yang menjadi tempat tidurnya. Ia memandang wajah Ayanda dengan tatapan penuh dosa.
"Tadi dia mengigau menyebut namamu, badannya panas. Jadi aku memanggil dokter untuk memeriksanya," jelasnya pada Gio.
Rion yang melihat tatapan Gio yang penuh dengan ketulusan hanya bisa pasrah dan kini ia sudah harus menyerah.
"Jaga dia, aku mau ke kantin dulu," ucapnya.
Rion meninggalkan ruangan Echa, dilihatnya dari kaca jendela luar Gio mengecup kening Ayanda sangat dalam dan menggenggam tangannya dengan erat.
Ulu hatinya sangat sakit, tapi apalah dayanya sekarang. Kebodohannya membuatnya kehilangan semuanya. Tak terasa buliran bening jatuh diujung matanya.
Rion melangkahkan kakinya ke luar Rumah Sakit, sekarang sudah jam dua pagi waktu Singapura. Ia duduk di kursi taman Rumah Sakit. Dirinya sekarang sendiri hanya bertemakan sepi dan sedih. Hatinya sangat sakit tapi tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain melihatnya bahagia.
Air matanya menetes, seumur hidupnya baru kali ini ia menangis. Ia menikmati kesedihannya diiringi angin malam yang menusuk tulangnya. Sekarang ia hanya bisa menyesal karena tidak bisa menjaga permata berharga miliknya.
Matahari sudah terbit dari ufuk timur, cahaya hangat sudah menyelinap masuk ke ruangan Echa. Arya menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal. Matanya membulat sempurna ketika melihat Giondra sudah berada disamping Ayanda, sedang menatapnya dan menggenggam tangannya. Namun, ia tidak menemukan sahabatnya di ruangan ini.
"Kapan lu datang, Ndra?" tanya Arya dengan suara khas bangun tidur.
Ucapan Arya membuyarkan tatapannya pada Ayanda.
__ADS_1
"Jam setengah duaan," jawabnya singkat.
Ayanda mulai menggerakkan matanya, perlahan ia membuka matanya. Orang yang pertama dilihatnya adalah Gio.
"Gi!" panggilnya pelan.
Gio hanya tersenyum ke arah Ayanda. Ia masih menggenggam erat tangan Ayanda.
"Aku gak mimpi, kan?" tanyanya yang sudah berkaca-kaca.
"Aku ada disini, bersamamu," ucapnya.
Air mata Ayanda pun seketika terjatuh, ia langsung memeluk erat tubuh Giondra.
"Jangan pergi," lirihnya.
Ucapan itu terasa sangat sakit untuk Giondra.
"Aku mohon jangan tinggalin aku, temani aku disini," pintanya dengan suara yang sangat berat karena menangis.
Giondra melepaskan pelukannya, memandang wajah Ayanda yang sudah dibanjiri air mata. Ia menghapus jejak jejak air mata yang membasahi pipinya.
"Kamu adalah orang yang pertama kali membuatku tersenyum ketika aku sedang tidak baik-baik saja, kamu banyak merubahku. Kamu sudah terlalu dalam dan satu-satunya dihatiku. Aku pernah berucap akan menjadikanmu yang terakhir dalam hidupku, hingga aku tidak bisa mencintai wanita lain selain kamu," ucapnya dan tak terasa air matanya jatuh. Ayanda semakin terisak mendengar pernyataan tulus dari lubuk hati terdalam dari Gio.
Arya dan Echa yang sedari sudah terjaga pun ikut terharu mendengar pernyataan Gio yang sangat begitu tulus.
"Bantu aku untuk mewujudkan itu semua, setidaknya ijinkan aku menemanimu hingga waktuku habis di bumi ini," katanya.
Ayanda langsung memeluk erat tubuh Gio, tak dihiraukan darah yang sudah naik di selang infus. Mereka berdua berpelukan erat dengan berlinang air mata.
Genta yang belum lama datang pun ikut menitikan air mata bahagia untuk putra putrinya.
Echa yang menyaksikan semuanya pun ikut menjatuhkan air mata.
Waktunya Mamah bahagia, Papa Gi orang yang tepat untuk Mamah, batinnya.
"Jaga Yanda dan Echa untukku," ucap Rion yang baru saja datang dengan wajah yang muram.
"Maafkan aku, aku akan menceraikanmu, Yanda," serunya dengan nada lirih
"Maafkan Ayah, Dek. Kebahagiaan kalian lebih penting dari apapun. Biarkan Ayah yang terluka untuk menebus semua kesalahan Ayah pada kalian selama ini. Semoga kalian bahagia."
Ucapan Rion mampu membuat semua orang yang berada disana terdiam, ia pun meninggalkan ruangan tersebut dengan rasa sesak di dadanya.
*****
Happy reading semua,,,
Masih banyak kejutan di cerita ini jadi selalu tunggu kelanjutan ceritanya ya,,
Gak bosen bosen aku ngingetin para readersku klo setelah baca dan mampir jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara like, komen dan vote agar aku makin semangat lanjutin ceritanya.
Aku padamu sayang😘😘
__ADS_1