Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 42. Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Arya terus menghubungi Rion, tapi selalu saja operator yang menjawab panggilannya. Umpatan demi umpatan keluar dari mulut Arya.


Ayanda dan Gio sudah berada di dalam private Jet, mereka akan kembali ke Indonesia. Di dalam pesawat Ayanda terus berdoa agar tidak terjadi apa apa dengan anaknya dan sesekali air matanya pun ikut menetes, dalam setiap doa yang ia panjatkan.


"Tenang Yank, Echa gak akan kenapa kenapa." Sambil mengelus tangan Ayanda mengalirkan ketenangan padanya. Ayanda hanya menatap Gio dengan tatapan sendu.


*****


Bandung,


"Mah, aa kapan datang?" Tanya Nisa pada sang ibu karena melihat mobil kakaknya terparkir di halaman rumahnya.


"Semalam, itu juga udah tengah malam." Melanjutkan kegiatan memasaknya.


Tumben banget si aa, kok aku curiga ya.


"Mah," Rion menghampiri ibunya yang sedang masak di dapur dan ternyata ada adiknya juga disana. Adiknya memicingkan mata kepada kakaknya seolah menatapnya curiga.


"Biasa aja natapnya, ntar aa colok nih." Sambil menodongkan garpu ke depan mata Nisa.


"Ish, aa mah." Pergi berlalu meninggalkan kakaknya. Mamahnya mendekati Rion yang sedang duduk di meja makan.


"Ada apa? Apa ada masalah?" Rion hanya menggelengkan kepala.


"Istri dan anakmu kenapa gak dibawa? Mamah juga kan kangen sama mereka." Rion menghela nafas berat ketika sang mamah menanyakan istri dan anaknya.


"Yanda lagi ke Singapura dan Echa ada di rumah, dia kan harus sekolah makanya gak aa ajak." Terus melanjutkan kunyahan demi kunyahan sarapannya.


"Bohong banget, pasti lagi ada masalah kan sama si teteh? Jujur aja sih a." Timpal Nisa yang sedang berjalan ke arah kakak dan mamahnya.


"Diemlah, sok tau banget. Ambilin hape aa tuh di kamar." Nisa mengikuti apa yang di perintahkan kakaknya. Ia mengambil ponsel milik kakaknya yang baru selesai di charge lalu memberikannya kepada kakaknya. Rion pun menghidupkan ponselnya dan alangkah terkejutnya 69 panggilan dari Arya.


Ada apa ini?


Nisa dan sang mamah yang mendengar gumaman kakak dan anaknya itu langsung menoleh ke arah Rion, Rion beranjak dari duduknya dan mencoba menghubungi Arya di halaman luar agar tidak terdengar oleh mamah dan adiknya yang kepo itu.


Tut,, Tut,, Tut,,


*Arya : Eh beg* dimana lu? Cepetan kesini darurat***.


Rion : Gua lagi dijauh, gak usah nipu nipu gua sekarang, lagi pusing nih kepala gua.


Arya : Terserah lu mau percaya apa nggak, yang jelas sekarang gua lagi di Rumah Sakit. Echa pingsan dan sekarang lagi ditangani oleh dokter. Bu Boss udah terbang dari Singapur.


Sambungan telponpun diputuskan secara sepihak oleh Arya. Rion segera masuk ke dalam rumah sang mamah untuk mengambil kunci mobil.


"Mau kemana a?" Melihat kakaknya terburu buru mengambil kunci mobil dan dengan secepat kilat ia sudah berada di pintu luar.


"A, mau kemana?" Sang mamah berlari ke arah Rion karena melihat Rion terburu buru. Rionpun menghentikan langkahnya.


"Aa mau balik lagi ke Jakarta mah, ada hal penting yang harus aa selesaikan." Sambil mencium tangan. sang mamah, ia pun berlalu dan menuju mobilnya.

__ADS_1


Rion langsung menghidupkan mesin mobil dan menancap gas mobilnya kembali ke Jakarta. Dengan perasaan khawatir dan takut ia tak segan mempercepat laju kendaraannya. Tak ada rasa takut mati saat ini yang ia takutkan sekarang ini hanyalah keadaan anaknya.


Brugghh,,


Suara benturan benda keras menabrak pembatas jalan.


Echa!!


Ucapnya pelan, perlahan lahan pandangannya gelap dan ia pun tak sadarkan diri.


*****


Arya, Sita, Mbak Ina dan Pak Mat menunggu hasil pemeriksaan dokter. Tapi sampai sekarang kondisi Echa belum sadarkan diri. Arya meminta pihak Rumah Sakit memberikan perawatan semaksimal dan sebagus mungkin untuk Echa, karena sekarang ini Echa menjadi tanggung jawabnya.


"Arya!!" Dengan nafas terengah engah dan suara yang sedikit serak. Raut wajahnya terlihat sangat sedih, matanya dan hidungnya pun memerah.


"Gimana keadaan Echa?" Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Echa belum juga sadarkan diri Bu Boss." Sambil menundukkan kepalanya seolah meminta maaf kepada Bu Bossnya. Tubuh Ayanda seketika lemas seperti tak bertulang, pertahanannya roboh seketika. Seorang laki laki menangkap tubuh tak berdaya Ayanda. Arya membelalakkan matanya ketika melihat sosok laki laki tampan dan gagah itu.


Andra!!


Gio tak memperdulikan keadaan disekelilingnya, ia membopong tubuh Ayanda menuju Ruang IGD agar Ayanda bisa mendapatkan pertolongan pertama. Tanpa ia sadari langkahnya diikuti seseorang.


Apa yang dimaksud Eki itu Ayanda? Istri orang yang sedang dikejar kejar oleh Andra, dan Ayandalah yang berani menolak cinta Andra.


"Ngapain lu disini?" Menepuk bahu Arya dengan tiba tiba yang membuat Arya kaget. Eki mengintip sedikit ke dalam Ruang IGD, tapi tidak ada yang aneh.


"Andra!!" Suara panggilan itu membuat Gio menghentikan sambungan telponnya. Laki laki berjas putih seusianya langsung memeluknya, dibelakangnya ada Arya yang mematung tak percaya.


"Eki!!" Senyum bahagia tersungging dari bibirnya. Setelah melepaskan pelukannya ia melihat laki laki yang tak asing bagi dirinya.


"Arya!!" Mereka pun berpelukan layaknya seperti serial anak di tv yaitu Teletubbies. Setelah dirasa cukup acara lepas kangennya, Gio pamit pergi sebentar.


"Ki, gua titip Ayank sebentar. Gua ada urusan." Tak lupa ia juga pamit pada Arya dan dijawab anggukan oleh Arya.


Ayank?


Pikiran Arya mulai sedikit bingung dengan kejadian kejadian tak terduga hari ini. Layaknya menemukan potongan puzzle dari gambar yang baru.


Ponselnya berdering, ia lihat nomornya sama sekali tidak ia kenali. Ia ragu untuk menjawab, namun ponselnya tak berhenti berdering.


Hallo,


.....


Baik, saya akan segera kesana.


Setelah menerima sambungan telpon, Arya langsung bergegas meninggalkan Rumah Sakit menuju tempat yang diberitahukan oleh pihak kepolisian. Kepala Arya serasa mau pecah, memikirkan setiap kejadian yang tak terduga hari ini.


Hanya karena satu orang, semuanya jadi kacau.

__ADS_1


Arya terus melajukan mobilnya, mulutnya tak berhenti mengeluarkan umpatan demi umpatan untuk sahabatnya itu.


*****


Ayanda sudah sadarkan diri dan ia meminta kepada dr. Eki untuk bisa bergabung bersama asisten asistennya, dr. Eki pun mengizinkannya. Ayanda bergabung dengan Sita, Mbak Ina dan juga Pak Mat untuk menunggu dokter. Tak lama dokter yang menangani Echa pun keluar.


"Siapa keluarga pasien?" Ayanda langsung berdiri dan mengikuti perintah dokter untuk masuk ke ruangannya.


"Apakah Elthasya punya riwayat sakit jantung?" Ayanda terdiam mendengar pertanyaan dokter itu.


"Iya dok, anak saya memiliki riwayat Aritmia." Tak dipungkiri wajah Ayanda sangat terlihat sendu ketika mengucapkan penyakit yang pernah diderita Echa ketika masih kecil.


"Jika anak ibu sampai besok tetap tak sadarkan diri, kami nyatakan anak ibu koma."


Hati Ayanda seperti dihantam batu besar, sesak dan nyeri yang kini ia rasakan. Ia keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai, ketika menutup pintu ruangan dokter tubuhnya lemas tak berdaya. Sita, Mbak Ina dan Pak Mat membantu Ayanda bangun dan memapahnya menuju kursi tunggu. Air matanya tak henti menetes, mereka sangat mengerti apa yang dirasakan Boss dan majikannya itu. Terlebih Sita yang sedikit banyak tau apa yang sedang terjadi antara Ibu Boss dan Pak Boss.


Sungguh malang nasibmu Bu Boss, mungkin jika aku berada diposisimu sekarang ini aku gak akan setegar dan sekuat dirimu.


"Ayank!!" Ayanda yang sangat familiar dengan suara itu langsung berhambur memeluknya. Tangisnya tak bisa terbendung lagi dalam dekapan Gio. Gio hanya bisa mempererat pelukannya.


Dua pasang mata yang sedang melihatnya merasa sangat bingung dengan adegan di depan mata mereka. Mereka bertanya tanya siapa lelaki itu? Dan kemana suami majikannya itu?.


Dokter Erza keluar dari ruangannya dan terkejut ketika melihat Gio sedang memeluk ibu dari pasiennya. Ia menyangka bahwa Ayanda adalah istri Gio.


"Dokter Gio!!" Dokter Erza pun menghampiri Gio dan mengulurkan tangannya disambut oleh Gio.


"Berikan penanganan yang terbaik untuk putri saya, laporkan semua perkembangannya agar saya bisa memantau keadaan putri saya. Jika putri saya sampai besok belum ada perkembangan juga saya akan kirim dokter terbaik dari Singapura untuk membantu Anda." Dokter Erza hanya menganggukkan kepala seolah berkata iya dan tak menolak. Dokter Erza pun pamit meninggalkan mereka.


*****


Arya tiba di Rumah Sakit yang diberitahukan pihak kepolisian. Ia mencari ruangan Bossnya, hingga ia melihat satu ruangan yang dijaga polisi. Polisi menceritakan kronologi kejadian, polisi menyatakan jika ini kecelakaan tunggal karena korban mengendarai mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Arya berterimakasih kepada pihak kepolisian yang sudah membantu sahabatnya itu.


Arya masuk ke ruangan rawat Rion, dilihatnya kepala Rion yang diperban akibat benturan dan beberapa luka lebam di bagian tangan dan wajah. Ia mendekat ke arah ranjang pesakitan Bossnya.


Kenapa sih lu suka banget ngerepotin gua? Lu sehat aja ngerepotin gua banget, apalagi sakit begini. Mending mati ajalah lu sekalian biar kagak nyusahin gua.


Mulutnya bersungut-sungut memaki dan mengumpat Bossnya itu. Tidak ada pergerakan dari Bossnya membuat Arya merasa sedih juga. Dengan setia Arya menunggu Bossnya hingga tersadar, sudah 3 jam menunggu Bossnya tapi tidak ada tanda tanda Bossnya akan sadar. Perut Arya mulai meronta Minta diisi, ia pun meninggalkan Bossnya seorang diri di kamar pesakitannya itu.


Setelah mengisi perutnya, Arya bergegas kembali ke kamar perawatan Bossnya. Keadaan Bossnya masih sama seperti tadi, tidak ada perubahan. Arya hanya bisa menghela nafas kasar.


Kalo lu mau mati sekarang gua ikhlas, tapi buka mata lu sebentar. Minta maaflah kepada anak istri lu dulu, mereka banyak menyimpan luka yang teramat pedih atas segala kesalahan lu. Pandanglah mata mereka, banyak kekecewaan yang mereka pancarkan, banyak air mata yang mereka teteskan untuk suami dan ayah yang bodoh seperti lu. Manusia yang hanya punya otak tapi tak memiliki hati.


Namun tidak ada pergerakan sama sekali dari tubuh Rion. Arya hanya bisa memandang sedih wajah sahabatnya yang tak berdaya itu.


*****


Happy reading semua,,


Kemarin banyak ya yang bilang kok gantung sih ceritanya? Itu aku buat sengaja ya biar kalian penasaran. Kan sinetron juga begitu, pas rame ramenya brsambung. 😁


Nih biar mengobati kekecewaan kalian aku kasih bonus salam episode ini, 1527 biar kalian puas bacanya.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment and vote agar semangatku on terus.


__ADS_2