Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 25. Test DNA


__ADS_3

Rion sangat cemas, sudah senja tapi ia belum menemukan istrinya. Ia sudah menanyakan orang rumah ternyata istrinya belum pulang. Mencoba menghubungi sahabatnya pun sama, nihil.


"Kamu dimana sayang?" Ucapnya frustasi sambil mengacak acak rambut.


"Apa yang harus aku katakan kepada Echa?" Ucapnya lirih. Istri dan putrinya adalah harta yang sangat berharga dalam hidupnya. Sebisa mungkin ia akan membahagiakan kedua wanitanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membuat kedua wanitanya sedih dan kecewa. Terutama kepada malaikat kecilnya, karena ia sangat menyayangi ayahnya dan selalu menganggap ayahnya adalah pahlawan bagi hidupnya.


*****


"Are you ok?" Tanya Gio.


"I'm ok," dengan seulas senyum yang dipaksakan.


Gio hanya menghela nafas panjang karena Ayanda tidak berubah tetap seperti Ayanda yang dulu, yang suka menyusahkan dirinya sendiri.


"Lu gak perlu jadi obat untuk orang lain, padahal sebenarnya yang perlu diobati adalah lu." Ucapnya dengan pandangan ke depan.


Ayanda mengerti akan maksud dari perkataan Gio, tapi ia tak menghiraukannya.


"Jika lu lelah dengan semuanya, duduk disini sebentar bareng gua, siapa tau pundak gua bisa dijadiin sandaran kerapuhan lu." Ucapnya sambil menepuk kursi yang ia duduki.


Reflek Ayanda merangkul lengan Gio dan menyandarkan kepalanya di bahu Gio. Masih sama seperti dulu Giolah yang selalu membuatnya nyaman di kondisi rapuh dan sedih seperti ini. Hanya bahu Gio tempat terhangat yang ia punya untuk bersandar, meskipun Ayanda hanya menganggapnya sebagai teman. Walaupun pada kenyataanya tidak ada pertemanan antara kaki laki dan perempuan.


Kamu tetap Ayangku, aku akan memberikan kenyamanan dan kehangatan untukmu.


"Gua gak akan memaksa lu untuk cerita, tapi gua yakin lu lagi gak baik baik aja kan." Ucapnya sambil mengelus rambut Ayanda.


Cairan bening jatuh diujung matanya mendengar ucapan Gio, karena sesungguhnya sekarang ini ia sedang kacau. Baru membuka hati tapi sudah dipatahkan lagi. Sakit teramat sakit yang sekarang ia rasakan.


Senja berubah menjadi awan kebiruan yang sebentar lagi akan menggelap. Hatinya sudah cukup tenang meskipun perasaannya masih kacau balau.


"Gi, gua pulang dulu udah mau malem," pamitnya.


"Gua anter ya?"


"Gak usah GI, udah dijemput sama supir kok." Jawabnya dengan tersenyum. Ayanda bangun dari kursi, melangkah meninggalkan Gio namun tangannya ditarik oleh Gio.


"Apa sudah baikan?" Menatap matanya tajam. Dijawab dengan anggukan kepala.


"Gua akan selalu ada untuk lu disaat saat seperti ini," mendengar ucapan Gio mata Ayanda berkaca kaca. Gio seperti kakaknya yang selalu memasang badan ketika ia rapuh dan terjatuh. Ayanda pun langsung memeluk Gio.

__ADS_1


"Makasih GI, kembalinya lu ditakdirkan untuk menemani kerapuhan gua." Air matanya terjatuh sambil memeluk tubuh Gio.


"Gua gak suka ini," menghapus air mata Ayanda.


"Gua lebih suka ini," menarik ujung bibir Ayanda membentuk sebuah senyum. Ayanda pun tersenyum seraya memandang mata Gio. Tatapannya selalu menghangatkan siapapun yang memandangnya, masih ada rasa cinta di dalam matanya yang hangat itu.


"I love you my brother," ucapnya kepada Gio.


"I love you sista," balasnya sambil mengacak acak rambut Ayanda. Hatinya sedikit sakit karena sampai sekarang orang yang dicintainya masih menganggapnya sebagai kakak, padahal yang diinginkannya lebih dari itu. Menyakitkan memang jika cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi apalah dayanya, cinta itu tidak bisa dipaksakan.


Ayanda pun pergi meninggalkan Taman dan bergegas pulang karena siang sudah berganti malam.


*******


Sudah di depan pagar pintu rumahnya tapi Rion enggan untuk masuk. Ia masih teramat cemas dengan keadaan istrinya dan juga takut menghadapi pertanyaan putrinya. Sudah setengah jam ia berada di dalam mobil. Lalu ia memutuskan untuk masuk.


Sesampainya ia di depan halaman rumah, ia melihat mobil istrinya dan Pak Mat sudah ada di sana. Ia langsung bergegas masuk ke dalam.


"Ayah kok pulang malam? Mamah mana?"


Pertanyaan Echa membuatnya mematung, "Pergi dengan siapa kamu sayang? Dimana kamu?" Batinnya lirih.


"Ambilkan ayah minum dek, ayah haus." Ucapnya untuk mengalihkan pertanyaan Echa. Echa pun menuruti perintah ayahnya.


Di ruang tamu Rion benar benar gelisah, karena sama sekali dia tidak bisa mengecek dan mengetahui keberadaan istrinya, dan sekarang sudah malam ia sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada istrinya .


"Ini yah," menyodorkan gelas berisi air putih kepada Rion.


"Mamah mana yah? Emang ga pulang bareng ayah?" Tanyanya lagi karena pertanyaannya belum mendapat jawaban.


"Mamah ... " jawabnya menggantung.


"Mamah ada kerjaan beda dek, makanya mamah gak pulang bareng ayah." Rion langsung menoleh ke arah suara dan langsung berhambur memeluk istrinya.


Melihat pemandangan sedikit aneh ini, Echa mengernyitkan kedua alisnya ada apa ini? Tanya hatinya.


"Kita bicara di kamar atas," bisik Ayanda.


Rion pun terkejut mendengar kamar atas, tempat untuk membahas semua permasalahan antara dirinya dan Rion. Mau tidak mau Rion mengikuti perintah Ayanda.

__ADS_1


"Dek, mamah ke kamar atas dulu ya ada pekerjaan yang harus dibicarakan," dijawab anggukan kepala oleh Echa yang sedang asyik ngemil.


Di Kamar Atas.


Ayanda berdiri menghadap jendela kamar menatap pemandangan malam. Seseorang memeluknya dari belakang namun dilepaskannya. Ayanda berbalik badan menatap Rion.


"Jika anak itu adalah anakmu, bertanggung jawablah." Ucap Ayanda dengan penuh penekanan.


"Aku yakin itu bukan anakku sayang, itu hanya akal akalan wanita liar itu."


"Bagaimana jika Raska benar anak kandungmu?"


Deg,


Sudah dua orang yang bertanya ini padanya. Jujur ia pun tidak tau akan melakukan apa jika itu benar benar terjadi.


"Aku akan melakukan Test DNA agar dan membuktikan bahwa anak itu bukan anak aku." Jawabnya.


Ayanda terdiam mendengar jawaban Rion


"Baiklah, untuk sekarang kita introspeksi diri masing masing." Ucap Ayanda karena sekarang ini hatinya sedang porak poranda.


Rion hanya terdiam mendengar ucapan Ayanda yang sedikit menyiksa untuknya.


"Tapi jika di depan Echa, tetaplah terlihat baik baik saja. Jangan pernah mengecewakan Echa." Ucapnya kembali.


Ayanda menarik nafas panjang, mendudukkn dirinya di tepi tempat tidur.


"Aku akan tidur disini," ucap Ayanda.


Rion pun tidak berbisa berbuat apa apa, membiarkan Ayanda sendiri itu akan lebih baik. Ia pun keluar dari kamar itu dengan langkah yang gontai. Ia tidak menyangka jika wanita liar itu akan kembali lagi, baru beberapa bulan ini merasakan cinta yang terbalas oleh istrinya namun sekarang badai kembali lagi menerpanya.


*****


Gio duduk di sofa kamarnya, pikirannya melayang layang. Melihat orang yang dicintainya menangis membuat hatinya teriris.


Apakah ini yang sudah diprediksikan ayah? Mengirimku kesini untuk menemani kerapuhan dan kesakitan Ayank. Tapi ayah tau darimana jika ini akan terjadi? Batinnya yang penuh dengan pertanyaan.


*****

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2