
Pagi hari sesuai dengan janji Gio, ia menjemput Ayanda di rumah sakit. Ayanda sudah bersiap untuk kembali ke Singapura. Di sana sudah ada Mamah, Nisa, dan Arya.
"Gak ada yang ketinggalan?" tanya Gio.
Ayanda hanya menggelengkan kepalanya. Ia berpamitan kepada Nisa dan juga Mamah. Mereka saling berpelukan seolah tak akan pernah bertemu kembali. Kemudian ia pamit kepada Arya dan berjalan ke arah Rion yang diikuti oleh Gio.
Rion tersenyum ke arah Gio dengan tatapan teduh. "jaga Yanda dan juga Echa untukku," ucapnya.
Gio hanya menganggukkan kepalanya dan bersikap dingin. Sedari tadi Ayanda sudah menyadari perubahan sikap dari Giondra, hanya saja waktunya belum tepat untuk menanyakannya.
"Mas, aku pergi, ya. Jangan melakukan hal-hal aneh lagi karena kamu sudah berjanji kepadaku," ujar Ayanda.
Hati Gio sangat sesak mendengar ucapan Ayanda yang terdengar sangat lembut dan juga penuh kasih sayang.
"Iya aku janji padamu," seraya tersenyum kepada Ayanda.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan ruangan itu. Giondra berjalan dengan langkah besarnya meninggalkan Ayanda yang mengekorinya.
"Gi, tunggu!" panggil Ayanda, namun Gio tetap tak menghiraukannya. Hatinya masih sesak.
"Aw!" pekik Ayanda.
Langkah kaki Giondra terhenti. Ia membalikkan tubuhnya.
Plak! Suara tamparan keras menukik telinga.
Gio melebarkan matanya ketika seseorang menampar wanitanya dengan brutal dan tangannya tak melepaskan rambut Ayanda yang sedang dijambaknya. Ayanda terus meringis kesakitan.
"Hentikan!" teriak Giondra.
Dinda pun menghentikan kebrutalannya tanpa melepaskan tangannya dari rambut Ayanda.
"Jangan ikut campur!" jawabnya.
Gio melihat keadaan Ayanda yang sudah sangat kacau dan ujung bibir yang berdarah membuat amarahnya meluap.
Dengan keras Gio mendorong Dinda hingga ia tersungkur ke lantai.
"Sekali lagi kamu menyakiti calon istriku, akan ku patahkan tanganmu tanpa ampun," ucapnya penuh dengan emosi.
Gio merengkuh tubuh Ayanda yang sudah kacau balau dan bibir yang mengeluarkan darah.
"Calon istri katamu," gelak tawa keluar dari mulut Dinda.
"Dasar wanita jal*ng, kau ternyata lebih murahan dari aku," jawabnya.
Plak! Tamparan keras meluncur bebas ke pipi Dinda. Gio sangat geram dengan perkataan Dinda yang sangat menghina kekasihnya.
"Jika kau masih berani menyentuh Ayanda dan mulutmu itu dengan renyahnya mengatai calon istriku aku pastikan besok aku akan kirim kamu masuk ke liang lahat," jelasnya dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah.
"Jangan main-main dengan keluarga Wiguna, nyawa mu saja bisa aku beli dengan sangat mudahnya," timpalnya lagi.
Nyali Dinda seketika langsung ciut, mendengar nama Wiguna saja seakan jadi ajang bunuh diri untuknya.
Gio segera membawa Ayanda menjauhi Dinda yang sudah diamankan oleh security. "kau tak akan pernah bisa lepas dariku, wanita sial*n. Wanita pembunuh!" teriaknya.
# Flashback on
Setelah kegagalannya menjebak Rion untuk menikahinya, keesokan harinya keadaan Raska drop. Tim medis sudah berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa putranya, namun Tuhan berkehendak lain.
__ADS_1
Raska menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Papanya yaitu dokter Erlan dengan tersenyum bahagia. Itulah doanya kepada Tuhan ketika sudah bertemu sang Ayah ia ingin menemani neneknya di surga.
Kepergian Raska meninggalkan pedih yang mendalam untuk dokter Erlan dan juga Dinda. Semakin hari kejiwaan Dinda semakin terganggu, ia dibawa ke psikiater oleh dokter Erlan untuk proses pemulihan jiwanya.
# Flashback off.
Gio dan Ayanda sudah berada di dalam mobil. Ayanda masih meringis kesakitan menahan perihnya bekas tamparan Dinda.
"Aw!" Ketika Gio menyentuh ujung bibirnya.
"Kita obati dulu lukamu ke hotel, ya," ucap Gio lembut. Ayanda menganggukkan kepalanya pelan.
Selama di perjalanan Gio hanya terdiam, sesekali ia melirik ke arah Ayanda yang sedang menyandarkan kepalanya di kursi penumpang di sampingnya. Rasa bersalah menghantui Giondra, jika dia tidak egois mungkin Ayanda tidak akan terluka seperti ini.
Gio menarik tangan Ayanda ke dalam dekapannya. "maafkan aku," ujarnya.
Ayanda hanya terdiam, merasakan kehangatan pelukan dari Giondra. Walaupun ia tau Gio masih marah padanya.
Tibalah mereka di hotel, Gio menggandeng tangan Ayanda menuju kamar hotel yang dikhususkan untuknya. Hotel ini adalah hotel milik keluarga Wiguna jadi ketika Giondra menginap disini ada kamar yang sudah disiapkan khusus untuk Giondra dan juga Genta.
Gio menarik tangan Ayanda masuk kamarnya. Langkah Ayanda terhenti. "Gi, kita kan belum ...." Takutnya.
Gio menghampiri Ayanda yang sedang mematung dengan kotak obat di tangannya. Ia menarik tangan Ayanda untuk duduk di atas tempat tidur.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam kepadamu, karena aku bukan pria brengs*k yang hanya ingin merusak wanita," ujarnya.
Mulut Ayanda terkunci, ia menatap wajah Gio dengan intens yang sedang mengobati lukanya dengan telaten. Memberikan salep di pipinya yang memerah dan meneteskan betad*ne di ujung bibirnya.
Gio hendak beranjak dari duduknya untuk menaruh kembali kotak obat pada tempatnya. Lengannya ditahan oleh Ayanda.
"Maafkan aku," ucapnya lirih.
Gio hanya bisa menghela nafas. Perlahan ia melepaskan tangan Ayanda yang sedang menahan tangannya. Ia melanjutkan langkahnya menuju tempat penyimpanan kotak obat.
Pelukan hangat membuatnya terlonjak. "maaf, aku tidak bisa menjagamu," ujar Gio.
Ayanda hanya menggelengkan kepalanya di dada bidang Gio. "aku yang salah, aku yang tidak peka dengan perasaanmu. Aku egois, Gi."
Gio hanya bisa mengeratkan pelukannya, hatinya masih perih dan sesak jika harus mengingat kejadian tadi pagi.
Pelukan Gio perlahan mengendur, Ayanda menatap wajah Gio dengan tatapan sendu.
"Kamu tau melupakan seseorang yang telah sekian lama mengisi hati dan hidupku itu sangatlah tidak mudah. Sesakit apapun dia melukaiku tapi rasa cinta itu masih ada meskipun sudah tertimbun dengan ribuan luka. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat, banyak sekali kenangan diantara kita. Kenangan manis maupun kenangan pahit."
"Tolong bimbing aku untuk melupakan dia secara perlahan, jangan memintaku untuk cepat-cepat melupakannya karena sesungguhnya aku tak akan sanggup."
"Pada kenyataannya melupakan itu tidak semudah membalikan telapak tangan, tidak semudah cerita di sinetron-sinetron dan tidak sesingkat cerita di novel. Melupakan itu butuh waktu dan proses tidak bisa instan dan express," jelasnya.
Gio tersenyum kepadanya dengan tatapan hangat. Keegoisanya terkalahkan oleh ucapan jujur dari kekasihnya.
"Apa janji kalian tadi?" tanyanya dengan sedikit cemburu.
# Flashback on
Setelah ditinggal sang Mamah, Nisa dan juga Gio tinggalah sepasang mantan suami istri di kamar perawatan ini. Rasa canggung menghampiri Ayanda. Begitu juga dengan Rion, terlebih ini suasana malah hari.
Hanya suara dentingan jam dinding yang terdengar, mulut mereka seolah terkunci rapat-rapat.
"Apa kamu ingat ketika kamu masuk rumah sakit dulu?"
__ADS_1
Ayanda mengingat-ingat kejadian itu, ia pun tersenyum karena sudah berhasil mengingatnya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku begitu posesif dan ...."
"Itu hanya sebuah kenangan indah, Mas. Pada nyatanya kita tidak bisa kembali ke masa itu, hidup kita sudah berbeda," ujarnya.
"Kamu pernah menjadi bagian dari hidupku dulu, rasa cinta dan sayangku masih tetap ada untukmu hanya saja rasa sayang dan cinta untuk seorang kakak bagiku dan ayah bagi anakku."
"Aku masih mencintaimu, Yanda," ucap Rion.
"Aku tau, Mas. Aku pun sama, hanya saja luka yang kamu korek lagi semakin menyakitiku. Tidak mudah untukku melupakanmu, tapi aku yakin seiring berjalannya waktu aku pasti melupakanmu, Mas."
Ayanda menggenggam tangan Rion, menatap wajahnya serius.
"Ijinkan aku untuk mencintai Gio, dialah dewa penyelamat ku. Tanpa dia mungkin anak kita sudah tiada," ujarnya lirih.
"Ikhlaskan aku Mas, lepaskan aku. Aku lelah dibayang-bayangi dirimu terus, aku juga perlu ruang untuk sendiri dan menata hatiku kembali."
"Apa kamu mencintainya?" tanya Rion sedikit sesak.
"Cinta akan tumbuh karena terbiasa. Berkorban lah sedikit untukku dan anakku. Kamu tetap menjadi ayah dari anakku dan kamu tetap ada disini," ucapnya sambil menunjuk dadanya.
Ketidak relaan sangat nampak di wajah Rion, namun apalah dayanya sekarang. Kebahagiaan Ayanda itu yang utama. Mungkin ini takdir Tuhan untuk dirinya. Harus menerima hukuman di saat ia sedang sayang-sanyangnya kepada Ayanda. Kesalahannya di masa lalu membuatnya sadar akan arti tuai-benih. Semuanya tidak akan pernah terjadi jika tak ada yang memulai. Inilah saatnya ia belajar merelakan untuk melepaskan.
"Aku akan melepaskanmu, tapi dengan satu syarat," balasnya.
"Apa?"
"Jangan larang aku untuk mencintaimu, meskipun kamu bukan milikku dan telah menjadi miliknya. Kamu selamanya akan tetap disini, sampai maut menjemputku," jelasnya.
Ayanda tersenyum, menganggukkan kepalanya
Mereka pun berjanji akan menjaga anak mereka dengan kompak dengan kasih sayang penuh. Biarkanlah cinta yang ada pada mereka pudar dibawa sang waktu.
# Flashback off
Giondra langsung memeluk tubuh kekasihnya. Ia berjanji tidak akan pernah melarang Ayanda dan Rion bertemu terutama untuk kebahagiaan Echa. Ia akan membuka lebar pintu rumahnya untuk Rion.
"Bantu aku untuk mencintaimu," katanya.
"Aku akan tetap setia menunggu dan mendampingimu hingga kamu bisa mencintaiku."
*****
"Sial*n, wanita jal*ng itu nasibnya selalu lebih beruntung dariku. Sekarang anak konglomerat yang dia gebet. Jangan harap kamu bisa bahagia Ayanda, karena Dinda is come back," monolognya diiringi dengan tertawa keras.
"Anakku sudah mati akan ku balas juga dengan kematian, akan aku buat kau menderita lebih dari apa yang aku rasakan."
*****
Hay,,,
Aku mau nanya nih, pada kenyataan melupakan seseorang sangat mudah apa susah sih?
Apalagi yang sudah 15 tahun bersama.
Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya ..
Jangan marah-marah padaku lah, aku hanya menuangkan ide yang ada di kepalaku untuk melanjutkan cerita recehku ini. Komentar-komentar kalian bikin kepalaku nyut-nyutan.🤧
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan juga vote yaa setelah membaca ini,,
Happy reading semua