
Hati anak mana yang tidak sakit ketika melihat ada anak lain memanggil Ayahnya dengan panggilan Ayah juga. Echa terus mengingat kejadian itu yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.
Baru seperti ini hatiku sudah sangat sakit, bagaimana dengan hatimu, Mah? tanyanya dalam hati.
Senyuman yang ia tunjukkan kepada sang Mamah, Ayah dan juga Papa Gi hanya kamuflase semata. Hati dan ucapannya tak sejalan.
"Dek!" panggil Sang Mamah.
Echa tersadar dari lamunannya, mencoba tersenyum kearah kedua orangtuanya.
"Kamu mau apa?" tanya Ayanda lagi.
Echa menggenggam tangan Sang Mamah dengan tangan kanannya, lalu ia menarik tangan Ayahnya dengan tangan kirinya.
"Aku hanya ingin ini," mempersatukan kedua tangan orangtuanya.
"Aku ingin kita selalu bersama," ucapnya dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Ayanda dan Rion saling menatap haru dengan keberadaan Echa diantara mereka.
Gio yang melihatnya pun menyunggingkan senyum kecilnya, senyum yang menyiratkan luka.
"Echa!" panggil pria paruh baya yang baru masuk ke ruangannya.
"Kakek," sahutnya.
Genta sangat bahagia karena cucunya telah sadar sepenuhnya. Tidak sia sia usahanya selama satu bulan ini untuk membangunkan cucu kesayangannya dengan segala macam cara.
"I miss you," ucap Echa yang masih memeluk tubuh renta Genta.
"I miss you so much, cucu cantik kakek," air mata bahagia jatuh begitu saja.
"Aku harus berangkat," ucap Gio tiba tiba. Semua orang yang berada diruang rawat menatap kepadanya. Tak terkecuali Ayanda yang menatapnya sedih.
"Papa Gi mau kemana?" tanya incessnya.
"Papa harus kembali ke Jakarta, sayang," balasnya.
Wajah Echa seketika berubah menjadi murung, sebenarnya Gio tidak tega melihatnya tapi berada disini pun akan semakin membuat hatinya sakit. Terlebih Echa masih menginginkan Ayah dan Mamahnya bersatu.
"Kakek, apa Papa Gi boleh stay disini dulu untuk temani aku dan juga Mamah?" tanyanya pada Genta.
Genta menatap wajah Gio, Gio hanya membalas dengan senyuman yang dipaksakan. Genta tau putranya sedang berada diposisi tidak nyaman saat ini. Ia bisa saja dengan mudah membatalkan keberangkatan Gio, tapi melihat wajah Giondra yang sendu membuatnya enggan untuk membatalkan keberangkatan anaknya.
"Tidak, sayang. Papa Gi harus tetap berangkat karena ada pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan," kilahnya.
Raut wajah Echa semakin sedih, kesedihannya sangat nampak jelas pada wajah kurusnya.
"Papa Gi tidak akan lama, incess. Hanya dua sampai tiga hari Papa Gi di Jakarta, setelah semuanya selesai Papa Gi janji akan kembali lagi kesini menemui kamu dan menjaga kamu," ujarnya untuk membuat Echa tidak bersedih lagi.
"Janji," kata Echa sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji," Gio menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Echa.
Maafkan Papa Gi, batinnya lirih.
"Ayah, apa tidak bisa Gio menemaniku dan juga Echa disini untuk beberapa hari kedepan?" tanya Ayanda agar Ayahnya bisa merubah keputusannya.
__ADS_1
"Aku belum juga pergi, kamu sudah rindu begitu," cela Gio dengan tawanya.
"Apa sih?" sahutnya sambil memukul lengan Gio dengan cukup keras.
Genta dan Echa tertawa melihat tingkah laku Gio dan Ayanda. Tapi tidak dengan Rion, ia hanya mematung sembari memperhatikan istrinya yang sedang bercanda dan tertawa dengan pria lain.
"Aku hanya beberapa hari meninggalkanmu, Yank. Lagi pula disini kan ada suamimu," ucapnya dan melirik kearah Rion.
Ayanda hanya terdiam mendengar ucapan Gio. Ia merasa lebih nyaman jika menjaga Echa bersama Gio. Karena jika Rion terus menempel padanya bisa dipastikan ia tidak akan bisa melepaskan suaminya.
"Aku berangkat, ya," ujarnya pada Ayanda. Memeluknya dan lalu memeluk tubuh Echa.
Sesungguhnya Gio sangat berat hati meninggalkan Ayanda, tapi apalah dayanya dan posisinya sekarang ini. Tugas untuk menjaga Ayanda mungkin saja sudah selesai.
"Jaga Ayank dan juga Echa," serunya pada Rion dan menepuk bahunya.
"Ayah antar kamu," ucap Genta kepada putranya.
Mereka pun meninggalkan ruangan Echa. Gio, Genta dan juga Remon berjalan beriringan di lorong Rumah Sakit.
"Gi!" panggil sang Ayah.
Gio menoleh kearah Ayahnya. "I'm used to it," balasnya dengan tersenyum.
Hati Genta sangat teriris mendengar ucapan sang putra ditambah melihat wajah putranya yang penuh dengan kesedihan. Namun, ia pun bangga kepada Gio karena telah setia menjaga cintanya selama delapan tahun ini hanya untuk Ayanda, walaupun hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan tanpa ada balasan.
Selama penerbangan menuju Jakarta Gio hanya terdiam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Remon tau betul apa yang sedang terjadi dengan Bossnya, ia membiarkannya tidak akan ikut campur dalam masalah pribadi sang Bossnya.
Setelah sampai di Jakarta, Remon melajukan mobilnya menuju kantor pusat Wigumart.
Remon kaget dengan perkataan Bossnya yang tiba tiba. Membantah dalam kondisi Giondra sedang kacau akan mempersulit dirinya. Akhirnya ia mengikuti kemauan Boss mudanya. Ia pun langsung menelpon sekretaris Gio agar membatalkan semua pertemuan hari ini.
"Kita ke villa," suruhnya pada Remon yang baru saja selesai menelpon Tari, sekretaris Giondra.
Remon pun mengikuti perintah sang Tuan Mudanya.
Kalo lu bukan Boss gua udah gua tampol lu, nyapein gua doank, umpatnya dalam hati.
Mereka pun sampai di villa milik Giondra. Mereka disambut oleh semua asisten yang bekerja di villanya.
Giondra langsung masuk ke kamar utama, merebahkan tubuhnya. Bukan tubuhnya yang lelah, tapi hatinya yang sudah teramat lelah dengan kisah sedihnya.
**Kehadirannya membuat hatiku sakit. Tatapannu kepadanya sangat terlihat jelas jika kamu masih sangat mencintainya. Tugasku sudah selesai untuk menemanimu, semoga kalian akan bahagia selamanya.
Giondra memejamkan matanya merasakan kesakitan hatinya, cintanya tetap saja seperti fatamorgana. Nampak namun tak bisa tergapai, hanya sebuah khayalan dan angan angan.
Sudah dua jam Bossnya berada di kamarnya, Remon khawatir dengan keadaan Bossnya sekarang yang sedang menyimpan luka teramat dalam.
Ia membuka knop pintu, dilihatnya sang Boss sedang berdiri didepan jendela kaca memandang kearah luar. Remon memberanikan diri menghampiri Giondra.
"Boss!" panggilnya. Namun, Giondra tak bergeming dari tempatnya.
"Kita keluar yuk, BOss. Boss kan belum makan dari tadi," ujarnya.
Gio tetap tak menjawab ucapan Remon, masih diam menatap keluar jendela.
__ADS_1
"Boss!" panggilnya lagi.
"Hmm," jawabnya.
"Saya tunggu dibawah ya, Boss," ucapnya.
Remon pun meninggalkan Gio. Setelah setengah jam menunggu Bossnya akhirnya Giondra turun dengan pakaian santainya.
Remon pun langsung melajukan mobilnya ke Rumah Makan khas Sunda. Tempat makan sederhana namun memiliki rasa yang sangat luar biasa.
Mereka duduk lesehan di depannya terdapat kolam ikan. Sungguh suasana yang sejuk dan menenangkan. Tak jauh dari tempat mereka duduk ada panggung kecil khusus untuk para pengamen yang mengais rejeki disana.
Mencintai dalam sepi
Dan rasa sabar mana lagi
Yang harus kupendamkan
Dalam mengagumi dirimu
Melihatmu genggam tangannya
Nyaman didalam pelukannya
Yang mampu membuatku, tersadar
Dan sedikit menepi
Lirik lagunya mampu menusuk hati Giondra. Sesuai dengan perasaannya saat ini.
Tak ada waktu kembali
Untuk mengulang lagi
Mengenang dirimu diawal dulu
Ku tau dirimu dulu
Hanya meluangkan waktu
Sekedar melepas kisah sedihmu
Helaan nafas terdengar dari mulut Gio, sungguh sangat mengena lagunya sebagai soundtrack kisah cintanya yang tragis.
Sekarang saatnya aku pergi, lebih baik aku yang mengalah dan menyerah, karena aku hanya sebagai tempat pelarianmu sementara. Sedangkan pelabuhan hatimu yang sesungguhnya adalah suamimu.
Senyum tipis yang ambigu tertarik dari ujung bibirnya. Gio mengambil ponselnya.
Ijinkan aku stay di Ausi, ucapnya pada sambungan telepon.
*****
Happy reading semua,,,
Makasih banyak udah mau membaca cerita remahan aku ini yang ceritanya tak sebagus author yang lain.
Aku gak bosen selalu mengingatkan kalian jika setelah mampir dan membaca jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan juga vote. Hanya tiga poin yang buat aku makin semangat lanjutin ceritanya.
__ADS_1
Maaf ya semuanya jika komen komen kalian gak pernah aku balasπ karena aku juga punya kesibukan di dunia nyata, tidak setiap saat aku megang hp, sekali lagi maaf semuanya π
Aku padamu,,π