Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 35. Kacau


__ADS_3

Kondisi Ayanda sekarang ini sungguh tak baik baik saja. Tak usah ditanya bagaimana hatinya sekarang ini, remuk, hancur, sakit, sesak semua jadi satu. Raut wajahnya tampak sangat pilu menahan semua kesakitan yang sangat mengejutkan.


Jika ia bukanlah jodohku, jauhkanlah ia dariku Tuhan, sesungguhnya hati aku sangat teramat sakit, doanya dengan berlinang air mata.


Kesendirian dan tempat yang sepi adalah teman sejati dari semua kesedihan Ayanda, ia menumpahkan semua kesedihannya, kepiluannya yang ia tahan sedari tadi. Takdir Tuhan yang benar benar luar biasa membuatnya hancur berkeping keping seperti ini. Hingga tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang, seraya berbisik "Menangislah jika itu akan membuatmu tenang"


Tangis Ayanda mulai pecah, ia sangat terisak, tersedu dan tangisannya terdengar sangat pilu. Wajahnya dibanjiri air mata yang seakan tak ingin berhenti meskipun matanya telah lelah karena menangis. Raut wajah sendu, pilu dan kacau yang sekarang terlihat diwajah cantiknya.


"Jika dia benar benar peduli, dia akan menghentikan air mata lu bukan malah membuat air mata lu jatuh seperti ini." Sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Ayanda.


"Ketika semuanya tidak berjalan dengan semestinya, angkatlah tangan lu untuk menyerah atau untuk berdoa."


"Sekarang gua yang akan pulang dan mengangkat tangan untuk menyerah. Terlalu sakit Permainan Takdir ini, hingga gua gak sanggup untuk menghadapinya." Lirihnya.


Gio langsung memeluk erat tubuh Ayanda, entah kenapa ucapannya itu sangat menyakitkan untuknya. Padahal harusnya ia senang dengan yang diucapkan Ayanda, cintanya yang bertepuk sebelah tangan ini akan memiliki kesempatan untuk bertepuk tangan karena akan bisa secepatnya memilikinya. Gio tetaplah Gio, meskipun hatinya sangat menyayangi Ayanda tapi ia tak mampu bahagia diatas kesedihan Ayanda. Gio adalah sosok lelaki yang tak ingin merebut wanita yang ia sayangi dari pemiliknya. Lebih baik ia menunggu, meskipun entah sampai kapan ia harus menunggu dan pada kenyataannya menunggu itu sangat melelahkan terkadang pula menyakitkan.


*****


Rion pun sama kacaunya seperti Ayanda, pakaian kerjanya sudah acak acakan, rambutnya yang selalu rapi pun entah jadi gaya apa sekarang. Ia selalu merutuki kebodohannya dan sesekali meninju tembok dengan tangganya, dan tak ayal membuat tangannya terluka.


"Apa apaan lu? Emang dengan lu kayak gini akan ngembaliin keadaan yang udah kacau." Bentak Arya penuh emosi.


"Sadar Rion, ini semua salah lu jangan selalu berkilah dengan kenyataan yang ada. Lu yang berbuat lu yang harus bertanggung jawab."


Rionpun menjatuhkan dirinya dilantai sambil berteriak dan menjenggut rambutnya. "Kenapa Takdir Tuhan begitu jahat seperti ini?" Teriaknya sangat kacau.

__ADS_1


"Bukan Takdir Tuhan yang jahat, tapi ini karma dari Tuhan untuk lu. Apa lu udah lupa dengan kejadian 8 tahun yang lalu, lu dengan jelas mengatakan jika Echa itu anak penyakitan, dan sekarang bocah botak anak kandung lu itu lebih penyakitan dari Echa." Sambil tersenyum sinis.


Rion pun sangat mengingat jelas ucapannya yang terlontar untuk Echa anak yang sangat ia sayangi. "Maafkan ayah dek," ucapnya lirih dan tak terduga air matanya pun menetes. Arya yang melihat kejadian langka itupun ikut terbawa sedih, ia sangat jelas mendengar ucapan penyesalan yang sangat dalam dari mulut Rion. Awalnya Arya ingin memaki Rion tapi akhirnya ia malah menenangkan Rion.


"Jujurlah, meskipun jujur itu menyakitkan." Sambil menepuk bahu Rion.


"Tak akan ada asap jika tak ada api, Apinya lu yang nyalain dan sekarang waktunya lu yang matiin apinya."


Rion hanya tertunduk mendengar semua ucapan Arya. Memang dirinyalah yang membuat keadaan menjadi kacau, cinta yang mulai bersemi kini harus diuji lagi dengan ujian yang sangat dahsyat. Entah sekarang istrinya akan memilih bertahan atau akan menghilang, itulah yang ditakutkan Rion saat ini. Ia tak bisa hidup tanpa Ayanda, dan membiarkan Ayanda tetap disisinya pun akan menyakiti Ayanda. Seperti makan buah simalakama. Andaikan ia bisa bernegosiasi dengan Tuhan, ia tak ingin mendapat cobaan seperti ini, terlalu menyakitkan baginya.


*****


"Apakah udah sedikit tenang?" Ayanda hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Apa lu masih ingat ajakan gua dua Minggu yang lalu?" Ayanda pun terdiam mendengar pertanyaan dari Gio. Ia mulai mengingat ingatnya tapi nihil otaknya tak bisa diajak berfikir sekarang. Ia pun menggelengkan kepalanya.


"Emak emak rasa anak muda loh gua," godanya sambil tertawa pelan. Gio tersenyum mendengar ucapan Ayanda.


"ABG juga kalah sama lu mah, buktinya gua rela nungguin lu jadi janda." Diiringi tertawa renyah.


"Gio!!" Teriaknya sambil memukul lengan Gio. Gio hanya tertawa meskipun tubuhnya dihujam pukulan Ayanda. Tertawanya hanya untuk sekedar menutupi kebodohannya yang masih mengharapkan istri orang untuk menjadi miliknya. Ternyata Cinta bisa membuat orang menjadi bodoh.


"Kita ke Singapur yuk, ayah kangen katanya sama lu" ajak Gio dengan suara memelas. Ayanda sebenarnya ingin pergi jauh untuk sekarang ini, berada di tempat ini dan tetap bertemu suaminya akan membuat ia sakit dan terluka terus menerus. Tapi ia tak sampai hati meninggalkan anaknya seorang diri.


"Mau kan?" Ayanda hanya diam, tidak bisa bilang iya atau tidak.

__ADS_1


"Hidup lu itu perlu hiburan, gua tau otak lu udah kayak benang kusut dan hati lu udah kaya remahan peyek." Candanya.


"Astaghfirullah Gio, lu kalo ngomong suka bener," jawabnya sambil tertawa.


Gio tersenyum melihat Ayanda tertawa, meskipun ia sangat tau tawa yang Ayanda berikan itu sangatlah palsu. Hatinya belum sepenuhnya menerima kenyataan ini. Raut wajah cantiknya tertutup oleh aura kesedihan.


"Gua tunggu lu jam 4 sore ini." Ucapnya seolah memaksa.


"Tapi Gi, bagaimana dengan Echa?"


"Bukankah usaha lu akan masuk market Asean kan, ya jawab aja seperti itu. Gua yakin Echa pasti ngerti." Jawabnya. Akhirnya Ayandapun mengalah, ia ingin melupakan semua masalahnya sejenak sebelum masalah baru datang. Tidak ada yang tau bagaimana kehidupannya hari ini, esok atau lusa.


*****


Dinda menatap wajah Raska yang tertidur sangat damai. Ia mengelus pipi putranya dan mencium keningnya. Tak terasa air matanya terjatuh, selama ini ia sudah menjadi ibu yang jahat, tak peduli apapun yang dilakukan Raska karena sesungguhnya ia terpaksa membawa Raska bersamanya karena ibunya sudah sakit sakitan, jadi tidak bisa merawat Raska lagi. Entah orangtua Dinda merahasiakan penyakit ini atau memang mereka juga tidak tau. Hatinya hancur saat ini, mungkin ini cara Tuhan menghukumnya karena telah menyakiti Ayanda dulu, meremehkannya karena ia memiliki anak penyakitan, dan sekarang hal itu berbalik pada dirinya. Air mata Dinda terus mengalir membasahi pipinya. "Maafkan ibu nak," hanya itu yang bisa ia ucapkan kepada Raska.


Aku tak kan melepaskanmu Rion, apa yang sudah aku genggam harus menjadi milikku. Dengan begitu anakku akan selamat karena kamu akan membiayai pengobatan anakku hingga ia sembuh dan kembali normal lagi, gumamnya sambil tersenyum licik.


*****


Hay para readers,,


Jangan lupa like, comment and vote yaa


Happy reading kesayangan kesayanganku,,😘😘

__ADS_1


Aku padamu,,


__ADS_2