Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 109. Rahasia Ayanda


__ADS_3

Selama selang infus masih menempel pada tubuh Ayanda, selama itulah Gio tak beranjak meninggalkan calon istrinya. Menikmati waktu berdua, dengan bercerita yang dipenuhi canda tawa.


Hari ini, H-3 dari acara pernikahan mereka. Gio membawa Ayanda ke sebuah tempat. Sepanjang perjalanan Ayanda mendesak Gio agar memberitahu tujuan mereka hari ini kemana. Selalu dijawab dengan surprise. Bosan pertanyaannya selalu tidak dijawab, Ayanda memilih untuk diam. Gio hanya menahan senyum ketika melihat wajah kesal dari calon istrinya.


Tibalah mereka disebuah hunian megah di pinggir pantai. Gio mengajak Ayanda untuk turun. Dengan raut yang masih teramat kesal ia pun mengikuti perintah Gio dengan wajah yang ditekuk.


"Jelek ih, jangan kesel gitu dong mukanya," ucap Gio yang sudah menggenggam tangan calon istrinya. Ayanda tetap diam tak merespon.


Gio membuka salah satu diantara hunian megah itu, desain dan interior modern yang terlihat. Ayanda menatap takjub dan kagum dengan rumah ini. Rumah yang diisi perabotan mahal dengan bernuansa putih.


"Selamat datang Tuan muda," sapa seorang pelayan.


Ayanda menoleh ke arah Gio dan hanya seulas senyum yang Gio tunjukkan.


"Rumah siapa ini, Bang?" tanyanya heran karena ada pelayan dalam rumah ini dan memanggil Gio dengan sebutan Tuan muda. Hanya para pelayan di rumah besarlah yang memanggil Gio seperti itu.


Gio tak menjawab, ia malah membawa Ayanda ke lantai atas. Masuk ke sebuah kamar yang sangat luas dengan interior mewah dan serba putih. Gio mengajak Ayanda ke balkon. Dari balkon mereka bisa melihat langsung sunset dan menikmati angin pantai yang berhembus. Bersamaan dengan suara deburan ombak yang sangat terdengar jelas.


"Bang, ini rumah siapa?" tanyanya lagi seraya menatap wajah Gio.


"Ini salah satu mahar pernikahan kita," jawabnya.


Ayanda hanya terdiam. Hunian semegah ini dijadikan mas kawin. Jika dirupiahkan akan ....


"Tidak usah bingung seperti itu. Kamu harus sudah terbiasa dengan barang mewah pemberianku. Tidak mungkin kan seorang Giondra Aresta Wiguna memberikan hadiah murah dan KW untuk istrinya," sombongnya.


Ayanda mencubit pinggang Gio dengan sangat kencang hingga Gio meringis kesakitan.


"Diatas langit masih ada langit. Jangan sombong," nasihatnya.


Gio tersenyum mendengar nasihat dari Ayanda. Ayanda yang ia kenal dulu ternyata masih sama. Selalu sederhana, itulah yang membuat Gio jatuh cinta kepadanya.

__ADS_1


Mereka masih di rumah megah ini, Gio sudah mempersiapkan makan malam romantis di balkon. Menikmati malam yang penuh bintang, semilir angin pantai dan juga suara deburan ombak yang syahdu. Perlakuan manis Gio membuat Ayanda semakin mencintainya dan tak ingin jauh darinya.


Ada sesuatu hal yang masih mengganjal di benak Ayanda. Ingin sekali ia utarakan kepada calon suaminya, namun di sisi lain ia takut Gio akan kecewa. Menyimpannya juga pasti akan menyakiti Gio nantinya.


"Ada apa, Sayang?" tanyanya. Ayanda mencoba tersenyum kepada Gio dan menggelengkan kepalanya.


"Lanjut lagi makannya, nanti kita bicara lagi," ucap Gio yang seakan tau ada yang disembunyikan dari calon istrinya ini.


Setelah selesai makan malam, mereka turun ke bawah. Berjalan menuju bibir pantai dengan saling menggenggam.


"Ada apa, Sayang?" tanya Gio lagi.


Ayanda hanya terdiam, mendudukkan tubuhnya di atas pasir. Menatap ombak yang menari-nari.


"Sayang, jangan pernah kamu tutupi apapun dariku. Bahu ku akan jadi tempatmu untuk bersandar dan dadaku akan menjadi tempat untuk menumpahkan air matamu," tegasnya yang kini Gio sudah duduk dihadapan Ayanda.


Ayanda menarik nafas terlebih dahulu sebelum mengungkapkan keresahannya. Ia harus terima seperti apapun reaksi Gio.


"Bang, apa setelah menikah kamu ingin segera memiliki anak?" tanyanya sendu.


"Semua orang yang telah menikah pasti ingin memiliki keturunan, kan. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu tidak mau memiliki anak dariku?" tanya baliknya.


Dengan cepat Ayanda menggelengkan kepalanya. Ia menatap wajah Gio dengan tatapan sedih. "kandunganku lemah," lirihnya.


Ayanda menundukkan kepalanya, ia akan menerima apapun keputusan Gio setelah mengetahui tentang rahasia dirinya. Ia sengaja menutup ini rapat-rapat dari siapapun, termasuk Rion mantan suaminya. Dulu, ketika Rion kembali lagi bersama dirinya Rion sempat meminta untuk memiliki momongan lagi. Ayanda beralasan, cukup Echa saja karena Echa kurang kasih sayang dari ayahnya. Rion pun akhirnya tak mempermasalahkan itu. Memang benar, mereka harus fokus hanya kepada putrinya itu karena kurang kasih sayang dari keduanya.


"Sayang," Gio mengangkat wajah Ayanda.


"Masih ada kemungkinan kan kamu bisa hamil?" tanya Gio.


"Kecil," jawabnya menahan tangis.

__ADS_1


"Kita masih bisa usaha. Aku akan membawamu ke dokter kandungan terbaik di dunia ini agar kamu bisa hamil," tuturnya.


"Jika gagal?" Ayanda merasa pesimis.


"Manusia hanya berusaha, biarlah Tuhan yang menentukan hasilnya. Anak adalah titipan Tuhan, jika Tuhan menitipkannya kepada kita berarti kita sudah dipercaya. Jika tidak, berarti Tuhan belum mempercayakannya kepada kita," jelasnya.


"Tapi kamu perlu memiliki keturunan untuk pewaris perusahaanmu," balasnya.


"Kan ada Echa, dia juga putriku," sahutnya. Gio memeluk tubuh Ayanda. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan keturunan jika Ayanda memang tak mampu memberikannya. Ia hanya akan berusaha semampunya agar rahim bakal istrinya normal kembali. Jika usahanya gagal, ini sudah takdir Tuhan. Ia harus menerimanya dengan lapang dada.


Ayanda merasa beruntung Giondra menjadi pasangannya. Lelaki yang ketulusannya luar biasa dan berhati sangat luas. Mau menerima dirinya yang berstatus janda beranak satu dan sekarang mau menerima kelemahan yang ia miliki.


Semoga kamu akan menjadi imam yang baik untukku dan juga putriku. Aki berharap kamu yang terakhir dalam hidupku, hingga maut yang akan memisahkan kita, batinnya seraya berdoa.


*****


Hay ...


Maaf baru up🙏


Aku mabok obat karena hari Rabu kemarin baru saja terkena musibah, kaki kananku ke siram minyak panas. Jadi, harus minum obat pereda nyeri biar aku bisa menjalani aktifitas seperti semula.


Untuk yang berkomentar positif makasih banyak dan untuk yang komen negatif makasih juga. Tanpa kalian karyaku bukan apa-apa. Mon maaf jika aku sering mencak-mencak kepada para reader yang komen gak ngenakin🙏


Aku hanya ingin kalian bisa menghargai karya para author agat tidak komen seenak jari kalian. Karena semalam aku dapat kabar ada author yang bunuh diri karena gak sanggup merima bully-an dari para netizen.


Jangan dicontoh ya netizen seperti itu. Ayo hargai karya para author kesayangan kalian. Mau ceritanya sesuai ekspektasi kalian ataupun tidak tetap hargai ya.


Untuk bab-bab akhir ini kita selow aja ya..


Soalnya aku lagi ngumpulin episode buat ngelanjutin cerita ini dengan judul yang berbeda. Tadinya mau aku satuin di sini, tapi aku ingin mencoba keluar dari zona aman. Makanya aku pisah. So, tamatin ini dulu baru nanti kita lanjut ke novel baru. Tetap dengan kelanjutan dari Air Mata Ayanda.

__ADS_1


Ayo dong kencengin likenya, komennya dan juga votenya mau End nih🤣


Happy reading semua..


__ADS_2