
Matahari sudah menampakkan wajahnya pada bumi menandakan jika sudah pagi. Tiga hari sudah Echa dirawat di Singapura. Kondisi Echa tak kunjung membaik. Bisa dikatakan tidak ada perubahan sama sekali, belum ada tanda tanda ia sadar. Ayanda mencium kening Echa sangat dalam.
"Bangun dek, temani mamah disini. Hanya kamu yang mamah punya saat ini." Tetesan air mata membasahi pipinya. Ia menggenggam erat tangan sang putri, menciumnya dan meletakkannya di pipinya.
"Mamah harus bagaimana lagi dek supaya kamu
bangun? Mamah gak sanggup melihatmu menderita seperti ini, lebih baik mamah yang menggantikan posisimu sekarang ini. Biarkan mamah yang tak berdaya, setidaknya jika mamah tiada kamu masih bisa bersama orang orang yang sangat menyayangi kamu." Rembesan air mata perlahan membasahi pipinya. Tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang mendengarkannya.
Kamu wanita tangguh yank,
Selama ini hidupmu penuh dengan kepura-puraan, apakah kamu tidak lelah dengan semua sandiwara yang kamu lakukan? Waktu ternyata tidak bisa mengubahmu menjadi wanita yang jujur. Masih sama seperti dulu, hanya mementingkan kebahagiaan orang lain tanpa pernah memikirkan kebahagiaanmu. Izinkan aku untuk mencoba membahagiakanmu saat ini dan jika aku boleh menawar aku akan membahagiakanmu untuk selamanya. Meskipun aku tau, aku hanya sebagai tempat singgah sementara untukmu dan tidak akan pernah bisa menggantikannya dihatimu.
Guratan muram menghiasi wajah Gio, ia menarik nafas kasar lalu masuk ke ruangan rawat Echa. Hatinya sangat sakit melihat Ayanda yang sedang beruraian air mata di depan tubuh tak berdaya Echa.
Baru kali ini aku melihat air mata yang sangat menyedihkan dan menyakitkan yang kamu teteskan. Aku harus bagaimana untuk menghentikan air matamu yank?
Gio merengkuh tubuh lemah Ayanda yang sedang menangis pedih melihat anaknya. Ia tak mampu untuk berbicara hanya air mata deras yang mengisyaratkan kepedihannya sekarang ini.
"Echa pasti sembuh, kamu harus kuat dan optimis. Jangan pernah lelah dan menyerah untuk kesembuhan Echa. Sekarang Echa memang tak berdaya, tapi pendengarannya masih normal. Ia bisa mendengar apa yang kamu katakan, jadi berikan semangat untuk Echa agar ia bangun dari tidur panjangnya. Kamu gak boleh kayak gini, pura pura kuat dan bahagia udah menjadi keahlianmu kan. Sekarang seperti itulah dihadapan Echa." Ayanda mendongakkan kepalanya, ia memandang wajah Gio. Ada sedikit siluet kesedihan diwajahnya, karena tidak biasanya ia berbicara sedikit menusuk seperti itu.
"Maaf," membuat Gio tersenyum mendengar ucapan Ayanda dengan suara bergetar. Ia menghapus semua air mata Ayanda yang membasahi pipinya, memberikan kecupan dalam pada keningnya.
"Aku yang harusnya meminta maaf karena sudah memaksakan perasaanku padamu. Aku akan tetap menunggumu sampai kapanpun." Memeluk erat tubuh Ayanda. Ayanda terdiam mendengar ungkapan perasaan tulus Gio.
Aku adalah wanita bodoh yang mengabaikan cinta tulus darimu. Hatiku tak bisa jika harus berpura pura mengenai perasaanmu itu, karena pasti akan semakin menyakitimu. Biarkanlah aku sendiri dulu menata serpihan serpihan hatiku yang sudah porak poranda karena badai kesakitan yang sangat dahsyat ini.
*****
Sementara di Indonesia Rion sudah diperbolehkan pulang. Wajahnya terlihat sangat bahagia karena ia ingin segera menemui putrinya namun hatinya juga pedih karena putrinya sekarang sedang terbaring sakit. Ia segera menghubungi Arya untuk mengurus kepulangannya dan segala administrasinya.
Arya bergegas masuk ke Rumah Sakit, tapi bukan tempat Bossnya dirawat melainkan tempat sahabatnya praktek. Hubungan pertemanan yang selama ini renggang karena tidak adanya komunikasi kini menghangat kembali antara Arya dan Eki. Ia mengantarkan undangan pernikahan teman SMA mereka karena Eki yang memintanya agar Arya mengantarkan ke tempat prakteknya. Dari kejauhan ia melihat bocah laki laki dan seorang pria berjas putih. Mereka sedang berbincang layaknya anak dan ayahnya. Arya perlahan lahan mendekat ke tempat mereka berbincang.
"Apa kamu senang punya ayah seperti Rion?" Dijawab dengan anggukan oleh Raska. Tak lama wajahnya nampak murung.
"Ayah dan Ibu sama saja, tak menyayangi aku. Ayah tak pernah sekalipun memanggil namaku, dan tak pernah mau membalas pelukanku. Dan ibu ... " Ucapannya terhenti ia semakin menunduk dalam.
"Ibu sama sekali tidak peduli denganku." Terdengar sangat pilu jika siapapun yang mendengar ucapan anak tak berdosa itu.
"Sebenarnya aku ini anak siapa? Aku senang ketika aku tau jika aku punya ayah dan ayah aku itu adalah suami Tante baik, tapi kenapa perlakuan ayah berbeda kepadaku? Sedangkan perlakuannya ke Tante baik sangat manis dan penuh kasih sayang." Ia pun mulai terisak.
Pria itupun menghela nafas kasar, lidahnya peluh tak bisa berkata apa apa. Mengatakan apa yang harusnya ia katakan mungkin akan membuat anak itu semakin tersiksa karena kejahanaman ibu kandungnya.
"Kalo ayah Rion tidak menyayangimu, masih ada om yang sangat menyayangimu dan sudah menganggapmu seperti anak om sendiri." Matanya berkaca kaca ketika dengan tidak sadar ia mengutarakan kenyataan yang sebenarnya. Raska menatap wajah pria itu. Tatapan pria itu mampu menghangatkan hati Raska, ia pun memeluk tubuh pria itu dengan erat.
__ADS_1
"Makasih om dokter, udah mau anggap aku sebagai anak om dokter." Pria itu melonggarkan pelukannya, menatap mata Raska sangat dalam. Desiran kehangatan ada pada hatinya ketika melihat mata bulat milik Raska.
"Mulai sekarang, panggil om dengan sebutan Papa. Ok!" Sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Ok papa dokter." Sambil menautkan jari kelingking mungilnya.
Ada rasa iba di hati Arya mendengar semua yang dikatakan bocah itu, tapi jika mengingat semua kebusukan orangtua bocah itu rasa ibanya berubah menjadi kelicikan di otaknya.
Perfect.
Tiba tiba ada yang menepuk pundaknya, membuat ia terlonjak kaget.
"Sialan lu!" Di jawab dengan lirikan tajam oleh Eki.
"Ngapa muka lu serem banget begitu dah?" Sambil memukulkan undangan ke kepala sahabatnya.
"Apa yang lagi lu intai?" Tak ada basa basi yang keluar dari mulut Eki.
"Tuh," Arya memonyongkan bibirnya ke arah bocah kecil berkupluk yang sedang tertawa riang bersama seorang pria.
"Bocah itu kan ... " Memperjelas apa yang dilihatnya.
"Kenapa?" Arya penasaran dengan ucapan menggantung Eki.
"Gua disuruh melaporkan semua info tentang anak itu ke Ayanda. Katanya ia ingin tau perkembangan anak itu tanpa orangtuanya tau. Emangnya itu anak siapa sih?" Eki meminta penjelasan balik kepada Arya.
Arya menghela nafas kasar, dan mengusap wajahnya dengan gusar.
"Anak suaminya Ayanda sama wanita lain." Eki dibuat kaget dengan jawaban Arya. Ia hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya seolah tak percaya.
"Disaat disakiti seperti itu ia masih bisa menyayangi itu anak, wanita berhati mulia." Ucapnya penuh kekaguman.
"Entahlah, terlalu banyak teka teki tentang bocah botak itu." Membuat Eki semakin tak mengerti. Arya hanya menepuk pundak Eki dan pamit pergi karena harus menemui Boss gilanya.
*****
"Mah, mamah!!" Nisa mencari mamahnya karena ingin menunjukkan sesuatu.
"Ada apa Nis?" Ketika Nisa sudah berada disamping mamahnya. Nisa menunjukkan beberapa foto kepada sang mamah. Air matanya tumpah deras, ia tak percaya apa yang sedang ia lihat saat ini.
"Apakah Echa bisa sembuh mah? Melihat foto ini saja hati Nisa sangat sakit." Dengan menahan air matanya, meskipun lama kelamaan air matanya meluncur bebas dan sangat deras ketika melihat foto yang lainnya.
"Apakah teteh ditakdirkan untuk tidak bahagia? Kenapa selalu kesakitan dan kepedihan yang teteh dapatkan?" Dilihatnya foto Ayanda sedang mencium tangan Echa dengan tubuh yang sedikit kurus dan guratan lelah sangat nampak pada wajahnya. Sang mamah tak hentinya menangis melihat menantu dan cucunya sekarang. Rasa sakit sangat ia rasakan.
__ADS_1
"Mah!!" Terdengar suara teriakan dari luar yang membuat Nisa dan sang mamah menghampiri suara yang sangat mereka kenali itu.
"Dimana anakku mah? Dimana istriku?" Sang mamah hanya diam tak menjawab pertanyaan anak laki lakinya itu.
Plakk!!
Tangan sang mamah mendarat keras di pipi Rion. Guratan amarah dari wajah sang mamah sangat kentara.
"Itu mewakili tangan menantu mamah untuk segala kesakitan yang kamu berikan selama ini." Sang mamah pergi menjauh dari hadapan Rion karena sekarang ini ia benar benar kecewa dengan anak laki lakinya. Rion hanya bisa memegang pipinya.
"Itu gak sebanding a dengan kepedihan yang teteh alami sekarang ini." Nisa menperlihatkan beberapa foto kepada kakaknya. Tubuh Rion seketika lemas seolah tak bertulang.
"Aa udah buat Nisa dan mamah kecewa, terutama istri dan anak aa." Tak terasa air mata Rion menetes mendengar ucapan dari adiknya.
"Harusnya aa mikir sebelum bertindak, kita dari kecil hidup dengan keadaan orangtua yang tidak utuh. Papah ninggalin mamah demi selingkuhannya, aa tau bagaimana perasaan mamah saat itu? Itu sama seperti perasaan teteh sekarang. Mamah masih beruntung karena anak anaknya sehat meskipun kita hidup sederhana. Tapi apa yang dialami teteh sekarang a? Hidup dengan kesakitan yang luar biasa dan harus menghadapi kenyataan pahit tentang Echa. Bagaimana perasaannya a? Bagaimana?" Sambil mengguncang guncang tubuh Rion yang duduk bersimpuh dan menangis.
"Nisa juga perempuan a, apakah aa rela jika nanti Nisa dikhianati oleh suami Nisa? Sama seperti apa yang dilakukan oleh aa kepada teteh. Apa aa rela?" Suaranya sedikit meninggi karena terbawa emosi. Nisa melangkah menjauhi kakaknya yang sedang menikmati penyesalannya. Namun langkahnya terhenti dan menatap kakaknya yang sedang menunduk dalam.
"Sudah terlalu banyak luka yang aa kasih, sudah terlalu banyak derita yang aa tanam. Sudah saatnya teteh bahagia. Jadi pergilah dari hidup teteh dan Echa. Biarkan mereka bahagia dan carilah kebahagiaan aa sendiri." Berlalu dari hadapan kakaknya dengan meninggalkan ucapan sangat menusuk ulu hatinya.
# flashback on
Arya sudah sampai di Rumah Sakit ia mengurus semua administrasi Bossnya dan juga mengurus kepulangannya.
"Sudah beres semua Boss, sekarang kita pulang." Setelah memasuki ruang rawat Bossnya. Dijawab dengan anggukan oleh Rion.
Setelah sampai di pintu luar Rumah Sakit ia meminta Arya untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit tempat Echa dirawat. Arya hanya terdiam dan membuat Rion sangat geram, akhirnya ia membawa mobilnya sendiri meninggalkan Arya yang masih mematung di depan pintu masuk Rumah Sakit.
Gua yakin, lu akan menyesal setelah mengetahui semua ini. Maaf, bukannya gua tega tapi ini hukuman buat lu karena telah menyia nyiakan mereka. Penyesalan lu sekarang ini gak ada gunanya. Nasi sudah jadi bubur, yang pergi pasti akan sulit untuk kembali. Mungkin juga tidak akan pernah kembali lagi.
Rion melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah mengetahui Rumah Sakit tempat Echa dirawat. Setelah sampai di sana, ia langsung menanyakan tentang tempat perawatan Echa. Nihil, tidak ada informasi yang ia dapat. Ia menyusuri setiap Rumah Sakit yang berada di Jakarta, namun tidak satupun Rumah Sakit yang memiliki pasien atas nama putrinya. Ia mulai frustasi dan ia langsung menancap gas ke rumah mamahnya untuk mencari tau tentang kondisi anak dan istrinya.
# flashback off.
*****
Happy reading kesayanganku,,
Maaf ya untuk weekend aku off dulu untuk up, otak aku juga butuh istirahat ya sayang. Maaf juga kalo aku lagi di mode buntu pasti aku gak up karena aku ingin memberikan rasa pada ceritaku, biar kalian bisa masuk ke dalam ceritanya. Maafkan jika di beberapa bab kemarin kemarin ceritanya tanpa rasa, sedikit hambar karena itu di mode maksa.
Semoga kalian terhibur dengan cerita aku ya, jangan lupa like, comment dan kalo punya poin bisa lah vote aku 😁
Aku padamu,,😘😘
__ADS_1