
Ayanda berlari di lorong rumah sakit masih dengan kebaya yang ia gunakan. Wajah cemasnya sangat terlihat jelas. Hingga ia berpapasan dengan Remon yang baru saja keluar dari ruang Gio.
"Mon," panggil Ayanda.
Remon menoleh ke arah suara. Ia sama sekali tidak menyangka Ayanda akan datang ke sini. Ia tersenyum, ia menduga akan ada angin segar setelah ini.
"Bagaimana kondisi Gio?" tanya Ayanda penuh dengan kekhawatiran.
"Boss perlu istirahat total, tidak boleh diganggu," jawabnya.
Wajah Ayanda berubah sendu, ingin sekali ia melihat keadaan Gio sekarang ini.
"Mon ...."
"Semua ini tidak seperti yang ibu pikirkan," imbuhnya. Remon sangat tahu jika Ayanda ingin bertanya perihal Gio yang tak menepati janjinya untuk datang di acara makan malam spesial.
Remon pun menceritakannya ....
# flashback on
Ketika Gio dan Remon sedang berada di Bukit Bintang, untuk menata meja yang akan digunakan makan malam bersama Ayanda, tiba-tiba ponsel Gio berdering. Setelah mendapat kabar via telepon, tanpa sadar Gio melepaskan genggaman ponselnya. Ia segera bergegas menuju landasan bersama Remon. Tak peduli dengan ponselnya yang telah meluncur bebas entah kemana. Raut wajah Gio sangat cemas malam itu. Ya, Genta Wiguna tiba-tiba drop dan dalam keadaan kritis.
Selama dalam perjalanan pandangan Gio kosong. Pikirannya hanya tertuju pada ayahnya. Harta yang ia miliki satu-satunya. Perjalanan Yogyakarta - Singapura terasa sangat lama baginya.
"Mon," ucapnya sendu.
"Boss besar sudah sedikit membaik," jawab Remon. Ia yang setiap menit selalu terhubung dengan tim medis yang menangani Genta.
Sesampainya di rumah sakit, Gio dengan sedikit berlari menuju ruang perawatan ayahnya. Hatinya sesak ketika melihat alat bantu yang terpasang pada tubuh ayahnya. Ingin rasanya ia menangis malam itu. Ia hanya bisa menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit.
"Boss," panggil Remon sambil memberikan air mineral.
"Jika ayah ...."
"Boss besar pasti kuat. Yakinlah boss," ucap Remon. Tidak dipungkiri hati Remon pun sedikit cemas karena hasilnya masih 50:50.
"Kita bawa ayah ke Australia, ada dokter terbaik di sana," ujarnya. Dengan cepat Remon mengurus keberangkatan mereka beserta boss besarnya ke Australia.
Cukup lama Gio berada di Australia menemani ayahnya. Kini, sudah hari ke-10 Gio menemani ayahnya di rumah sakit di Canberra. Ayahnya sudah sadar, tinggal proses pemulihan saja.
"Gi, kembalilah ke Singapur. Kasihan Remon menghandle semuanya sendiri," pinta Genta.
"Biarkan saja, Yah. Aku akan menaikkan gajinya tiga kali lipat," sahut Gio.
__ADS_1
"Ayah sudah sembuh, lagi pula di sini ada perawat pribadi Ayah. Perusahaan membutuhkanmu, Nak," ucapnya seraya memohon.
"Baiklah, Ayah. Tapi aku janji akan bolak-balik ke sini untuk menjenguk Ayah," balasnya.
Genta hanya tersenyum mendengar ucapan putranya. Jauh di lubuk hati Gio paling dalam, ada rasa sayang yang sangat besar terhadap ayahnya. Di dunia ini, ia tidak memiliki siapapun kecuali ayahnya.
Gio pun terbang ke Singapura, seperti yang ia katakan sebelumnya. Gio akan bolak-balik Singapura - Canberra untuk terus menjenguk ayahnya. Tiga Minggu sudah, Gio hanya fokus terhadap kesehatan ayahnya dan juga perusahaan yang sedikit goyang. Selama itu, semua akses komunikasi beralih kepada Remon karena Gio sama sekali tak memegang ponsel. Gio tetap menyuruh Remon untuk mengawasi Ayanda.
Gio hanyalah manusia biasa, ia bukan robot. Ketika meeting baru setengah perjalanan, dirinya tak sadarkan diri. Semua orang yang berada di ruangan meeting terlihat panik, tak terkecuali Remon. Remon segera membawa tubuh Bossnya menuju rumah sakit. Tak lupa ia memperingatkan semua karyawannya agar tidak menyebar luaskan berita ini kepada siapapun. Karena hari ini jadwal kepulangan Genta ke Singapura.
Ponsel Remon berdering, ia segera menjawab panggilan telponnya. Kali ini, ia menjawab panggilan di kamar perawatan Gio. Remon merasa Gio masih tertidur karena pengaruh obat.
📱"Apa? Menikah?" pekiknya.
📱 "Kamu serius Ayanda akan menikah dengan Rion?" tanyanya tak percaya.
"Mon," panggil Gio dengan suara lemahnya.
"B-boss," sahutnya.
"Itu bohong kan?" tanyanya.
Remon hanya diam tak menjawab apapun. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Kabar itu benar, boss," sahutnya.
Hati Gio sangat sakit mendengar kabar itu. Ia terduduk di tepian ranjang kesakitan. Bulir air matanya terjatuh membasahi pipinya. Ia sadar, ini kesalahannya. Ia terlalu fokus terhadap ayahnya dan juga perusahaan. Hingga melupakan perasaan seseorang dan perasaannya.
Jam menunjukkan pukul 05.00 waktu Singapura. Gio sudah menyuruh ABK pesawat untuk bersiap dengan keberangkatannya menuju Yogyakarta. Dengan selang infus yang masih menempel pada tubuhnya, ia berjalan perlahan menuju pintu keluar.
"Boss," suara Remon menghentikan langkahnya
"Terserah kamu mau ikut atau tidak. Aku mau mengejar cintaku. Jika kali ini gagal, aku akan menyerah," tuturnya.
Remon pun mengikuti permintaan Gio, dengan membawa tim medis tanpa sepengetahuan Bossnya.
# flashback off
Air mata Ayanda tumpah begitu saja mendengar penuturan Remon. Ia merasa bersalah dalam hal ini.
"Bagaimana dengan Ayah?" tanyanya.
"Boss besar sudah di Singapura, keadaanya sudah membaik," jawab Remon.
__ADS_1
"Apakah Ibu datang ke sini untuk kembali kepada Boss?" tanya Remon tanpa basa-basi.
Ayanda terdiam, ia akhirnya menggelengkan kepalanya. Remon hanya bisa menghela nafas kasar. Dugaannya salah, kini Bossnya harus menanggung kesedihan dalam kesakitannya.
"Sampaikan salamku untuk Giondra dan juga Ayah," ucapnya lirih. Ayanda pun meninggalkan Remon dengan hati yang sangat pedih.
Setelah di pintu keluar rumah sakit, sudah ada Andri yang menunggunya di dalam mobil.
"Sudah?" tanya Andri pada Ayanda sambil melajukan mobilnya.
"Aku tidak bertemu dengannya, karena dia harus istirahat. Padahal aku ingin bertemu Gio untuk terakhir kalinya," jawab Ayanda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Andri menepikan mobilnya. "menangislah jika kamu ingin menangis," ucap Andri.
Tangis Ayanda tumpah dalam pelukan Andri. Andri hanya membiarkannya saja. Kisah hidup sahabatnya ini begitu rumit. Tidak semua wanita bisa seperti Ayanda. Menahan luka demi putrinya agar Echa tak kecewa.
Mereka telah tiba di kediaman Ayanda pukul 11.45 wib. Ayanda diberikan waktu 2 jam oleh Rion untuk menemui Gio terakhir kalinya. Kemudian, acara ijab kobul akan dilanjutkan kembali.
Pak Penghulu dan para saksi sudah tiba. Wajah Ayanda sudah di touch-up, karena sudah sedikit luntur karena tangisannya. Secantik apapun riasan wajah Ayanda tak menghilangkan raut sedih di matanya. Berkali-kali Arya meminta kepada Rion untuk membatalkan pernikahan ini, namun Rion tetap dengan pendiriannya. Hanya tatapan sedih dari Bu Dina, Nisa dan juga Arya.
"Bisa kita lanjutkan acara yang tertunda tadi?" tanya Pak Penghulu pada Rion.
Di jawab dengan anggukan oleh Rion, Pak Penghulu beralih kepada Ayanda dan mendapatkan anggukan kecil dari Ayanda dengan terus menunduk ke bawah. Menahan sesak di dadanya.
"Baiklah kita mulai," ujar Pak Penghulu melihat kepada para saksi.
Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Ri ....
"Stop!" teriak seseorang dari belakang dengan suara berat menahan tangis.
Pak Penghulu pun menghentikan ucapannya.
*****
Nah, ada yang bisa tebak. Siapa yang menghentikan acara itu ??
Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih banyak kepada kalian yang sudah mengikuti ceritaku dari awal. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika tulisan dan kosa kata di dalam cerita ini masih berantakan, karena ini adalah karya pertama ku.
Kemarin aku baca komen kalian aku ketawa sendiri. Komen kalian pada emosi semua😁
Makasih telah menghiburku dengan komen kalian yang terbawa masuk ke dalam cerita remahan ini.
Jangan lupa kencengin lagi like, komen dan votenya ya,,,
__ADS_1
Happy reading semua,,