
Rion sangat tidak fokus dengan pekerjaannya, hatinya tiba tiba sangat gelisah. Ia memutuskan untuk membereskan semuanya dan meninggalkan ruangannya.
"Pak Boss! Mau kemana lu?" seru Arya tiba tiba.
Rion menghentikan langkahnya, menoleh ke Arya yang sudah menghampirinya.
"Mau pulang ke Bandung," katanya.
"Ada apa?" tanya Arya sedikit curiga.
"Kangen sama nyokap," jawabnya singkat.
"Gua ikut," balas Arya. Rion memicingkan matanya dengan tatapan curiga.
"Ngapa lu? Mata pake digitu gituin," ucapnya kesal pada Rion.
"Jangan bilang lu mau deketin adik gua," serunya pada Arya.
"Cih, pengen banget lu punya adik ipar kayak gua," godanya sambil menaik naikan alisnya.
"Ora sudi! Gak akan gua restuin adik gua sama cowok modelan buaya rawa kayak lu," tukasnya.
"Buaya bilang buaya, ngaca atuh kang," celanya pada Rion. Rion pun melengos pergi dibuntuti Arya dari belakang.
"Nih, lu yang bawa mobilnya," ucapnya sambil melempar kunci mobil ke Arya.
Udah kayak Boss Besar aja, gumamnya sedikit keras.
"Gua denger woy," kata Rion.
"Punya kuping lu," balasnya dengan tertawa mengejek. Rion hanya dapat mengumpat akan ucapan dan tingkah laku sahabat tidak warasnya ini.
Arya melajukan mobilnya ke arah Bandung, selama diperjalanan mereka hanya terdiam. Hanya alunan musik yang terdengar. Rion menyenderkan badannya, menutup matanya.
"Kenapa lu?" tanya Arya, membuat Rion membuka mata.
"Apa mereka akan bahagia tanpa gua?" tanyanya.
"Bertahan atau lepaskan pelan pelan," ujarnya.
"Sama sama menyakitkan buat gua," balasnya.
Arya hanya terdiam, tidak mau memaksakan kehendaknya. Biarkanlah itu menjadi keputusan sahabatnya.
Tiga jam sudah, akhirnya mereka sampai di rumah orangtua Rion. Rion turun dari mobil dan Arya memarkiran mobilnya.
"Assalamualaikum," ucap Rion. Sang mamah menghampiri asal suara dan tersenyum melihat putra kebanggaannya datang.
"Waalaikum salam, kok gak bilang dulu mau kesini," ujarnya.
"Kangen sama mamah sama ..."
__ADS_1
"Aa!" teriak Nisa.
"Gandeng," celanya pada Nisa. Nisa hanya memonyongkan bibirnya.
"Assalamualaikum Tante," ucap Arya. Nisa tersenyum manis melihat kedatangan Arya. Tingkah Nisa membuat Rion curiga.
"Ulah so geulis," ucapnya. Nisa memicingkan matanya tanda tak suka.
Arya menghampiri Mamah Rion dan juga Nisa, tak lupa ia mencium tangan Mamah sahabatnya dan basa basi kepada adik Rion.
"Hayu atuh kita makan dulu," ajak sang Mamah kepada Rion dan Arya.
"Aa mau istirahat aja Mah, temenin Arya aja tuh. Dia udah gak nemu makan selama sebulan," jawabnya sambil mencela sahabatnya.
"Iya nih Tante, orang gaji Arya gak dicairin sama Boss Gila itu," serunya pada mamah Rion, membuat mereka yang ada disana tertawa.
Arya menikmati makannya dan Rion menikmati istirahatnya. Insting seorang ibu itu sangat kuat, ia merasakan ada sesuatu hal pada putranya.
Sang mamah mengetuk pintu, perlahan Rion membukakan pintu. Ia tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur anaknya.
"Ada apa, a?" tanya sang mamah ketika sudah duduk di tempat tidur putrany. Rio menghampiri mamahnya dan duduk disampingnya.
"Aa harus bagaimana Mah?" lirihnya tiba tiba.
Sang mamah mengerti akan pertanyaan anak sulungnya, menggenggam erat tangan putranya menyalurkan kehangatan dan ketenangan.
"Jika kalian memang ditakdirkan bersama, sejauh apapun kalian berpisah pasti akan disatukan lagi," ujar sang mamah.
Rion terdiam mendengar nasihat sang Mamah. Ia merebahkan kepalanya dipangkuan sang Mamah.
"Aa gak bisa hidup tanpa mereka, Mah. Mereka segalanya buat aa," ungkapnya.
"Terlambat jika aa bicara ini sekarang, yang hancur tidak akan pernah kembali utuh. Yang sakit belum tentu akan sembuh seperti semula, itulah yang istri dan anak aa rasakan sekarang," jelas sang Mamah.
"Kesakitan istri aa lebih dalam dibandingkan dengan kesakitan Mamah dulu, Mamah berterima kasih sekali kepada si teteh karena telah mau sabar menjadi istri aa," ucapnya lagi.
"Kalo aa pisah sama Yanda, kita gak punya apa apa lagi, Mah. Semua toko sudah atas nama Ayanda semua," terangnya kepada sang Mamah.
Ia mengelus rambut sang putra, tersenyum mendengar ucapan yang anaknya lontarkan.
"Harta bisa dicari lagi, a. Selagi aa sehat dan mau berusaha," tegasnya.
Rion terdiam mendengar semua ucapan sang Mamah, ia tidak bisa berkata apa apa lagi. Mamahnya memang menginginkan jika ia berpisah dengan istrinya. Bukan karena sang Mamah membencinya, tapi karena ia menyayangi Ayanda dan tidak ingin mendengar ataupun melihat menantunya disakiti lagi oleh dirinya.
"Ya udah, besok aa ke Pengadilan Agama. Mengajukan permohonan perceraian, jika Mamah menyetujuinya," lirihnya.
"Ini untuk kebaikan dan kebahagiaan istri dan anak aa, bukan untuk mamah. Dari kejadian ini aa harus menyadari bagaimana rasanya menyakiti dan disakiti. Sama sama menyakitkan dan sama sama merugikan," ujar sang Mamah.
Benar yang dikatakan oleh Mamahnya, menyakiti akan mendatangkan sebuah penyesalan dan disakiti akan menyebabkan kesakitan.
Jika aku boleh meminta, aku ingin memutar kembali waktu yang sudah lewat. Aku ingin memperbaiki semuanya, hidup dalam penyesalan sungguh teramat menyakitkan. Sesakit inikah yang kamu rasakan, Yanda. Atau lebih sakit dari apa yang aku rasakan saat ini?
__ADS_1
Tak terasa air matanya menetes, sakit yang Ayanda rasakan kini ia rasakan juga. Ia hanya bisa melepaskan jika itu akan mendatangkan kebahagiaan untuk kedua malaikat hatinya.
Di Singapura, Sasa dan Mima sudah kembali ke Indonesia bersama Remon. Sedangkan Gio memilih bermalam disini menemani Ayanda.
"Gi, apakah Echa akan bangun?" tanyanya, pandangannya tertuju pada tubuh lemah Echa.
Sudah Gio duga, pasti Ayanda akan menanyakan ini. Gio bingung harus menjawab apa. Jujur akan menyakitkan dan berbohong pun semakin menyakitkan. Pilihan yang berbeda namun menghasilkan jawaban yang sama.
"Hanya keajaibanlah yang akan membangunkannya dari tidur panjangnya," lirihnya.
Tubuh Ayanda lemah dan tak sanggup menopang dirinya sendiri, ia terkulai lemas di lantai dengan suara tangisan yang terdengar memilukan.
Gio memeluk tubuhnya yang terduduk di lantai, air matanya pun ikut jatuh. Sesungguhnya ia pun tak rela jika putri angkatnya harus dipanggil Sang Pencipta.
"Kenapa takdir Tuhan selalu menyakitkan untuk aku Gi? Kenapa?" serunya dengan suara bergetar diiringi Isak tangis.
"Aku sudah merelakan Rion, apakah aku harus mengikhlaskan Echa juga untuk kembali padaNya?" ujarnya sambil terus menangis.
Gio hanya terdiam membisu, ia tidak dapat menjawab apa yang ditanyakan oleh Ayanda. Sesungguhnya memang takdir Tuhan itu tidak bisa ditebak.
"Jika Echa pergi, lebih baik aku pergi. Nyawaku ada pada putriku," lirihnya.
Gio semakin memeluk erat tubuh Ayanda, membiarkannya menangis dalam dekapannya. Air mata Ayanda terus membasahi pipinya, isak tangisnya sangat terdengar jelas di telinga Gio.
Lambat lain Isak tangisnya semakin kecil, kini sudah tak terdengar lagi. Gio menyibakkan rambut yang menutupi wajah Ayanda, dilihatnya Ayanda sudah terlelap. Dibopongnya tubuh Ayanda dan diletakkan dengan hati hati disebuah sofa yang bisa diatur menjadi tempat tidur.
Gio menatap wajah Ayanda yang menyiratkan banyak luka, terlalu berat ujian hidup yang harus Ayanda lalui. Memilih pergi untuk tidak disakiti lagi, dan sekarang harus berjuang sendiri untuk putri tercintanya tanpa seorang suami.
Kamu wanita terhebat untukku, berjuang melawan segala kerapuhan, kesakitan dan luka yang teramat menyiksa dan pada akhirnya kamu juga mengakui kekalahanmu. Anakmu adalah senjatamu yang akan membuatmu kuat sekaligus akan membuatmu mati dengan tanganmu sendiri. Kapan aku melihatmu bahagia Ayank? Sungguh tragis jalan hidupmu membuat hatiku menangis.
Di Ibukota, seorang bocah kecil sedang terbaring lemah sendiri. Tidak ada siapapun yang menemaninya, hanya dentingan suara jam dinding yang menemani kesunyian hatinya.
"Jangan mengundur waktu kepergianku, Tuhan. Sesungguhnya aku sudah siap untuk kembali padaMu," ucapnya sambil menengadahkan tangannya seraya berdoa.
"Biarkan malam ini aku tertidur untuk selamanya, jangan bangunkan aku lagi. Aku sudah bertemu Ayahku dan kini saatnya aku bertemu denganMu dan menemani nenek di surga," sambungnya, ia pun mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya dan memejamkan matanya.
Sepasang mata memperhatikannya dari jendela, ia tak kuasa menahan tangis. Anak yang tak tidak tahu apa apa tapi harus masuk kedalam kubangan dosa kedua orangtuanya.
*****
Hay semua,
Maaf kemarin aku gak up karena kondisiku drop, jadi harus istirahat dulu.
Jangan lupa mampir dan baca karya aku ya, tinggalkan jejaknya disini dengan like, komen, dan juga vote. Gampang kan,,
Biar viewsnya naik dan akunya semangat buat lanjutin ceritanya,
Ayo, ayo semangatin aku,,
Happy reading semua,,
__ADS_1