Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 82. Hilang


__ADS_3

Sore hari Gio dan Ayanda kembali ke Singapura. Selama diperjalanan Gio tak sedikitpun pun melepaskan genggaman tangannya pada Ayanda. Ia hanya ingin melindungi kekasihnya dari bahaya yang kapan saja akan selalu mengintainya. Terlebih ia sudah mencari tau siapa Dinda.


Selama di pesawat, Ayanda menyenderkan kepalanya di bahu Gio dan ia pun memejamkan matanya. Luka di pipi Ayanda masih sangat jelas dan luka robek di sudut bibirnya juga masih terlihat. Gio harus menyiapkan diri untuk di ceramahi dan juga di marahi oleh Ayah dan juga putrinya.


Dua jam sudah penerbangan, Ayanda belum juga terbangun. Dengan tegapnya Gio membopong tubuh wanitanya menuruni pesawat menuju mobil yang menjemputnya. Padahal sudah beberapa asisten dan pengawalnya yang menawarkan diri untuk membawa tubuh Ayanda namun ditolak mentah-mentah oleh Gio. Ia tak ingin ada yang menyentuh kekasihnya selain dirinya.


Gio masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di kamar Ayanda. Ia memandangi wajah kekasihnya dengan binar bahagia. Meskipun ia belum dicintai oleh Ayanda sepenuhnya tapi ia merasa lega karena Ayanda ingin belajar mencintainya.


Aku tak akan membiarkanmu terluka lagi, Sayang, batinnya.


Gio keluar dari kamar Ayanda, di depan pintu sudah ada Echa yang berdiri dengan kedua tangan diatas dadanya dengan tatapan membunuh. Gio hanya menghembuskan nafas pelan.


Nih anak kalo udah marah lebih parah dari emaknya, batinnya.


"Kita ngobrol di bawah aja, ya. Mamah lagi tidur," ujarnya.


Echa pun menuruti perkataan Gio dan mereka pun berdua duduk di ruang tamu.


"Kenapa dengan Mamah?" tanyanya nada tinggi.


"Ssstttt! Jangan keras-keras nanti Kakek bangun," pintanya.


"Biarin, biar Papa Gi dimarahin sama Kakek karena gak bisa jaga Mamah," balasnya.


Gio hanya bisa mengusap wajahnya kasar, jika sudah berurusan dengan Ayahnya sudah dipastikan hukuman yang ia dapatkan.


"Kamu tau Dinda?" tanya Gio.


Echa mencoba mengingat-ingat nama Dinda, ia menggelengkan kepalanya.


"Dia wanita selingkuhan Ayahmu dulu," ujarnya.


"Echa gak tau Pa, Mamah gak pernah bicara apa pun tentang wanita itu ke Echa begitu pun Ayah," jawabnya.


"Tadi dia menampar Mamah kamu," ucapnya.


Echa nampak sangat terkejut mendengar penuturan dari Papanya.


"Jadi mulai besok kamu dan Mamah kamu akan ada yang jagain," tuturnya.


"Wanita itu kan di Indonesia, Pa," jawab Echa.


"Ini hanya untuk berjaga-jaga Sayang, Papa gak mau kamu dan Mamah kamu terluka. Mengerti," jelasnya.

__ADS_1


Echa menganggukkan kepalanya. "terimakasih Pa," ucapnya sambil memeluk Gio.


"Tidak perlu berterimakasih, karena ini kewajiban Papa melindungi putri dari calon istri Papa," jawabnya mantap.


"Echa sangat beruntung, akan memiliki Papa sambung yang ganteng, baik, sayang sama Echa dan yang terpenting tajir melintir," ungkapnya.


Gio melepaskan pelukannya, ia memicingkan matanya.


"Kok kamu matre?" tanyanya.


"Hidup ini harus realistis Pa, bohong banget wanita akan bahagia tanpa harta. Echa yakin tanpa harta Mamah gak akan bahagia," jawabnya santai.


"Kamu tuh, ya," sambil menarik hidung Echa.


"Sakit, Pa," ucapnya sambil tertawa.


Di lantai atas ada sepasang mata yang baru saja terbangun dari tidurnya sedang tersenyum lebar ke arah Echa dan juga Gio. Hatinya menghangat ketika melihat kedekatan kekasihnya dan juga putrinya.


Aku akan berusaha terus untuk mencintaimu, Gi. Karena aku yakin kamu yang terbaik untukku, batinnya.


Waktu berlalu dengan begitu cepat, enam bulan sudah Ayanda dan juga Gio menjalin hubungan. Semua orang di kalangan pebisnis di Singapura sudah mengetahui jika Ayanda adalah bakal calon istri dari penerus tunggal Wigumart. Semua orang selalu menghormatinya, terlebih Ayanda juga ikut turut serta mengurus perusahaan.


Hubungan Gio dan juga Rion pun sudah membaik, sebulan sekali Rion berkunjung ke rumah besar untuk bertemu dengan putrinya. Mereka sering jalan bersama, Ayanda, Gio, Echa, dan juga Rion. Perlahan hati Rion lega karena melihat kebahagiaan yang dipancarkan Ayanda. Selama enam bulan ini pula ia masih menutup hatinya untuk wanita lain. Masih menempatkan Ayanda satu-satunya di hatinya.


Di ruangan meeting Gio terlihat sangat gelisah, Remon berkali-kali melirik ke arah Gio yang sedang tak nyaman dengan hatinya.


"Boss," bisik Remon.


"Akhiri meeting ini sekarang juga," perintahnya.


Gio langsung meninggalkan ruang meeting tanpa pamit, semua orang yang berada di ruangan itu menatapnya heran. Remon pun menutup rapat tersebut dan langsung mengejar Bossnya.


Gio sedang sibuk dengan ponselnya, umpatan demi umpatan terlontar dari mulutnya. Dari kejauhan Remon hanya bisa mengelus dada.


"Mon, ke kantor Ayanda sekarang," ucapnya.


Remon pun menuruti perintah Gio. Selama di perjalanan tak hentinya ia menghubungi Ayanda namun tak pernah ada jawaban. Mencoba menghubungi Ayahnya dan juga Echa mereka menjawab sama jika Ayanda belum pulang.


Rasa panik, khawatir, cemas jadi satu. Mencoba mengecek GPS handphone Ayanda pun tidak bisa.


"Kemana kamu, Sayang," gumamnya.


Gio langsung menghubungi seseorang untuk mengecek keberadaan Ayanda. Ia sangat khawatir sekarang, bukan tanpa alasan karena sudah satu Minggu ini Gio mendapatkan teror dari seseorang. Isi dari teror itu selalu mengancam akan menyakiti wanita yang sangat ia sayangi, itu yang membuat Gio memperketat penjagaan pada Echa dan juga Ayanda. Entah kenapa hari ini penjagaan begitu kendor, hingga membuat Ayanda hilang tanpa jejak.

__ADS_1


Ketika sampai di kantor, Gio langsung menuju ke ruangan Ayanda namun nihil kekasihnya tidak ada. Ia langsung mengecek semua CCTV yang berada di sana, tangannya langsung mengepal keras ketika melihat Ayanda yang dibekap oleh orang yang tak dikenal menggunakan kupluk dan dibawa oleh mobil. Keadaan pada saat itu memang sedang sepi, semua security sedang mengadakan apel.


Gio mencoba mengecek nomor plat mobil itu, namun sayang plat mobil itu adalah rekayasa.


"Sial*n," umpatnya dengan penuh emosi.


Gio sudah menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk mencari Ayanda. Ia benar-benar frustasi saat ini, padahal ia sudah mengirimkan beberapa orang untuk menjaga Ayanda tapi semuanya malah gagal.


Murka Gio adalah kematian bagi orang-orang suruhannya. "jika Ayanda tidak ditemukan sampai malam ini, sudah dipastikan kalian akan saya kirim ke neraka."


*****


Senyum tipis menghiasi bibir seseorang yang sudah menunggu kedatangan Ayanda. Ia tersenyum lebar ketika yang dibawa orang suruhnnya benar adalah wanita yang diinginkannya. Ia pun membawa tubuh Ayanda ke sebuah kamar hotel yang sudah ia booking sebelumnya.


Direbahkannya tubuh Ayanda, di pandangnya wajah cantik nan menggoda karena saat ini Ayanda sedang menggunakan rok yang sedikit memperlihatkan paha mulusnya.


"Kamu milikku saat ini, aku akan menikmati tubuhmu sebelum dirinya," ucapnya dan diakhiri tertawa keras.


Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya sebelum memulai permainannya.


Nah siapakah orang itu?


*****


Hay,,


Maaf baru up lagi,


Ada konsleting di badanku makanya aku memilih rehat dulu satu hari tanpa up.


Dari jawaban kalian kemarin bisa aku simpulkan jika melupakan seseorang yang sudah lama mengisi hidup kita itu lumayan sulit, ya.


So, itulah yang terjadi pada Ayanda, mencoba membuka hati yang masih dibayang-bayangi sang mantan itu tidak mudah sayang. Jadi nikmati saja alur ceritaku ini,,


Pada nyatanya kisah cinta seseorang itu tidak mulus, pasti banyak kerikil-kerikil tajamnya. Itulah yang aku tulis disini.


Selamat menikmati ceritaku ini, jika tidak suka abaikan saja jangan meninggalkan komentar yang bikin kepalaku nyut-nyutan.🤧


Karena membuat 1 bab cerita ini sangat sulit loh, tidak semudah ketika kalian membacanya. Jadi hargai cerita receh aku ya,,😁


Jangan lupa setelah baca dan mampir like, komen dan juga vote biar aku makin semangat,,


Happy reading,,

__ADS_1


__ADS_2