
Rion tersenyum mendengar ucapan Echa. Berbeda dengan Ayanda yang membeku dengan wajah datarnya. Rion bisa menebak jika mantan istrinya tidak menyetujuinya.
"Yah," panggil Echa dengan sorot mata yang memohon.
Rion tersenyum ke arah putrinya. "tidak semudah itu, Dek," jawabnya sambil mengelus rambut Echa.
"Mah," Kini ia melihat ke arah Ayanda.
Ayanda tersenyum. "Mamah capek, kita bahas nanti aja, ya," jawabnya. Ayanda melenggangkan kakinya menuju kamarnya.
Ia menghela nafas panjang. Banyak sekali kejutan hari ini. Pertemuannya dengan Giondra dan juga Rion di hari yang sama. Kini, permintaan gadis kecilnya yang di luar pikirannya.
"Aku harus bagaimana?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia duduk di tepian ranjang, membuka ponsel milikinya. Tertera satu pesan dari nomor yang tak ia kenali.
📩 Selamat istirahat sayang. I love you so much 😘
Bibirnya pun terangkat ketika membaca isi pesan. Ia sangat tau siapa pengirim chat itu. Apalagi emoticon di belakangnya.
"Dari mana dia tau nomorku?" tanyanya seraya berfikir.
"Pasti si manusia dua dimensi," jawabnya.
Ayanda enggan untuk membalas pesan dari Gio, meskipun tidak dipungkiri hatinya sangat bahagia saat ini. Ia membiarkan Gio untuk membuktikan keseriusannya.
Di ruang tamu masih ada Echa dan juga Rion. Mereka memang sangat dekat, bisa dibilang Echa lebih dekat dengan ayahnya dibanding dengan sang mamah.
"Ayah, tidakkah permintaan Echa tadi kalian kabulkan?" tanyanya sendu.
"Dek, jujur Ayah masih sangat mencintai Mamahmu dan Ayah pun ingin kembali bersama kalian. Mamahmu? Apa masih mau menerima Ayah lagi?" tanya baliknya pada Echa.
Echa terdiam, sebenarnya Echa tidak setuju dengan kembalinya mamahnya dengan sang ayah. Hanya saja, ia terlalu kecewa akan papanya yang dengan tega membuat mamahnya menangis lagi. Echa selalu mengintip keadaan namahnya setiap malam. Bibirnya mampu tersenyum, namun hatinya menangis keras.
Echa hanya ingin melihat mamahnya bahagia. Tersenyum dengan penuh ketulusan. Mungkin ini caranya, menyatukan kembali dua hati yang telah patah. Walaupun ia tahu, ini sangat tidak mudah.
__ADS_1
Pagi harinya, Ayanda sudah bersiap untuk pergi ke toserba miliknya. Hanya saja, hari ini ia tidak ke Malioboro. Ia hanya ke toserba yang berada di seberang jalan yang tak jauh dari rumahnya.
Ting,
Suara dering pesan berbunyi.
📩 Sayang, aku udah di dekat rumahmu.
Ayanda mengerutkan dahinya, tangannya mulai mengetik pesan balasan.
📩 Tidak ada penolakan, cepat temui aku. Aku risih menjadi bahan tontonan layaknya badut.
Ayanda hanya mendengus kesal. Sifat buruk Gio yang selalu seenaknya memerintah siapapun. Sebelum berangkat tak lupa ia pamit kepada anak gadisnya yang sedang duduk di sofa, menunggu guru yang akan mengajarinya.
Setelah sampai di jalan yang Gio maksud, Ayanda memicingkan matanya yang mengobarkan api kemarahan. Gio sedang dikerumuni gadis-gadis desa yang masih belia. Apalagi dengan wajah tampannya bak aktor Korea. Jangankan gadis, mungkin ibu-ibu dan janda-janda pun akan terpesona dengan wajahnya. Ditambah kendaraan yang ia bawa. Menandakan jika Gio bukan dari kalangan biasa.
Gio tersenyum melihat Ayanda yang tengah mendekat ke arahnya memasang wajah garang seperti singa betina yang ingin menerkam mangsanya.
Brugh!
Ia melihat Ayanda yang sedang menekuk wajahnya dan melipatkan kedua tangannya di atas dadanya.
"Pagi-pagi jelek tau cemberut gitu," ledeknya.
Ayanda hanya melirikkan matanya sekilas pada Gio. Tak ada jawaban apapun darinya. Gio melajukan mobilnya dengan bibir yang menahan senyum.
Mobil mereka melaju bukan ke arah toserba milik Ayanda yang berada di Malioboro. Karena rasa cemburunya Ayanda tidak sadar. Hingga, ia melihat petunjuk jalan yang sudah jauh dari kawasan Malioboro.
"Gi, kita mau kemana?" tanya Ayanda masih kesal.
Gio hanya melihat ke arah Ayanda sebentar lalu fokus kembali pada jalanan. Emosi Ayanda mulai memuncak.
"Gi," teriaknya.
Gio menepikan mobilnya. Ia menatap wajah Ayanda yang sudah memerah. "aku rindu dengan panggilan sayangmu padaku," ujarnya.
__ADS_1
Ayanda semakin murka, bukannya menjawab pertanyaannya Gio malah menggombal di depannya. Ayanda segera membuka pintu mobil, namun lebih dulu Gio kunci. Ia menarik tangan Ayanda masuk ke dalam pelukannya.
"Jangan pergi lagi, aku mohon," pintanya sembari memeluk erat tubuh Ayanda.
Suara yang terdengar sangat lirih dan juga serius membuat amarah Ayanda sedikit mereda. Ia pun membalas pelukan Giondra.
"Aku sangat mencintaimu," kata Gio dengan serius. Kemudian mencium kening Ayanda sangat dalam. Menyalurkan rasa sayang dan cinta yang tulus pada wanitanya.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan tangan Gio yang terus menggenggam tangan Ayanda. Sesekali ia mencium tangan wanita yang sangat ia rindukan.
Tiba sudah mereka di sebuah kawasan sejuk yang dipenuhi pohon pinus. Ayanda tersenyum bahagia melihat pemandangan yang luar biasa indahnya, yang belum ia lihat sebelumnya.
"Suka?" tanya Giondra yang sudah memeluk Ayanda dari belakang.
"Banget," jawabnya yang menyandarkan kepalanya di dada bidang Gio.
Gio membalikkan tubuh Ayanda agar menghadapnya. Hanya senyuman tulus yang Gio tunjukkan. Tangannya merogoh saku celananya. Ia mengambil kotak kecil berwarna merah yang berisikan kalung dengan berliontin kan cincin yang Ayanda kembalikan.
"Pakailah ini," pintanya. Gio pun memakaikan kalung di leher Ayanda.
Ia menatap cincin yang Ayanda lepaskan. "Meskipun kamu belum mau memakai cincin itu, tapi setidaknya cincin itu selalu ada bersamamu. Bersama wanita yang tepat yang kelak akan menjadi pendamping hidupku. Aku sangat mencintaimu, Ayanda," ungkapnya.
Tidak ada jawaban dari Ayanda, tapi mampu membuat Ayanda memeluk Gio dengan eratnya. Perlakuan kecil Giondra yang sangat manis mampu mencairkan sedikit demi sedikit kebekuan dalam hati Ayanda.
Aku akan selalu membuatmu bahagia, dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini, batinnya.
*****
Hay,,
Sorry telat up, pas ngedit malah ketiduran 😁
Sampe sini udah bisa nebak belum, akan sama siapa Ayanda?
Kencengin lagi likenya, komennya, dan juga votenya biar crazy up-nya terealisasikan😁
__ADS_1
Happy reading semua,,