
Enam bulan berlalu ....
Pasangan suami-istri ini semakin lengket dan mesra. Sebenarnya Gio tidak mengijinkan istrinya untuk bekerja, tapi karena rengekan Ayanda yang tiada henti membuat Gio akhirnya menyerah. Ayanda menjadi sekretaris Gio agar ia bisa selalu bersama istrinya.
Setelah kembalinya mereka dari bulan madu, Echa tidak ikut dengan Papa dan Mamahnya kembali ke Singapura. Putrinya memilih untuk tinggal bersama ayahnya. Echa ingin kembali ke Jakarta, bertemu dengan kedua sahabatnya Sasa dan Mima. Dengan perdebatan yang sengit antara Ayanda, Gio, Echa dan Rion akhirnya Ayanda mengalah. Kebahagiaan putrinya lebih penting dari apapun. Gio berjanji setiap bulan mereka akan pergi ke Jakarta menjenguk putri kesayangannya. Di Jakarta Gio memiliki beberapa apartemen dan hunian mewah yang bisa mereka tempati jika berkunjung ke sana.
Pagi ini, tubuh Ayanda terasa sangat lemas. Untuk berdiri pun ia tak sanggup. Gio baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat ada yang aneh dari wajah istrinya. Ia menghampiri istrinya yang tengah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Kamu sakit?" Hanya gelengan kepala sebagai jawaban dari Ayanda.
Gio meletakkan punggung tangannya di kening Ayanda. Semuanya normal, tapi wajah istrinya nampak pucat.
"Ya udah, aku gak usah ke kantor deh. Aku temenin kamu di rumah untuk istirahat," Ayanda memegang tangan suaminya.
"Hari ini ada meeting penting, kamu harus datang," ujarnya.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu dalam kondisi seperti, Yank. Ayah sedang ke Ausi dan tidak ada siapa-siapa di rumah ini," ucap Gio dengan nada yang terdengar sangat khawatir.
"Di sini banyak pelayan, Sayang. Aku tidak sendiri," Gio hanya menghela nafas kasar. Meeting hari ini adalah meeting besar yang tidak bisa diwakilkan. Kondisi istrinya yang terlihat tidak baik-baik saja membuatnya tidak tega untuk meninggalakannya. Dengan perdebatan yang panjang akhirnya Gio mengalah.
"Aku berangkat ya," Gio mencium kening Ayanda dan juga bibir mungil istrinya. Itulah kebiasaan mereka setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Ayanda hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Jangan lupa buahnya dimakan, aku akan menyuruh satu pelayan untuk menemanimu di sini."
Seluruh pelayan di rumah besar sudah berkumpul di bawah. Gio memerintahkan mereka semua untuk menjaga istrinya selama ia pergi ke kantor. Bukan Gio jika tidak mengancam. Ia mengancam semua pelayan, jika ada sesuatu yang tejadi terhadap istrinya mereka harus menerima hukuman yang setimpal.
Satu pelayan suruhan Gio masuk ke dalam kamar tuan mudanya. Dilihatnya nona muda sedang bersandar di ranjang dan memejamkan mata. Suara langkah kaki membuat Ayanda membuka mata.
"Maaf Nona, saya sudah membangunkan Anda," pelayan itu menunduk karena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Bi. Tolong siapkan air hangat untuk saya mandi," Pelayan pun menuruti perintah nona mudanya. Setelah pelayan selesai menyiapkan air hangat, Ayanda masuk ke kamar mandi dan mulai berendam. Dengan berendam mungkin akan menghilangkan pusing di kepalanya.
Rasa pusing kini semakin menjadi. Ia meminta pelayan untuk memijat lembut kepalanya. Perlahan pusingnya menghilang, namun kini perutnya terasa keram dan juga punggungnya terasa sakit. Ia pun sedikit meringis, pelayan mulai panik.
"Nona kenapa?" tanyanya. Tak sengaja pelayan melihat ada bercak darah di celana putih yang nona mudanya gunakan. Kepanikan pun melandanya ditambah nona mudanya semakin meringis kesakitan. Dengan penuh ketakutan ia menelepon asisten tuan muda. Berkali-kali ia menelpon tapi tak kunjung ada jawaban. Di panggilan ke tujuh baru Remon menjawabnya. Pelayan memberitahukan kondisi Ayanda. Wajah Remon seketika berubah. Remon pun langsung mengakhiri sambungan telepon. Ia hanya menghela nafas kasar. Sudah dipastikan Bossnya akan sangat murka.
__ADS_1
Meeting sedang berlanjut, Remon menghampiri Giondra dan berbisik di telinganya. Wajah khawatir dan murka Gio sangat terlihat. Tanpa pamit Gio meninggalkan ruangan meeting. Sudah ada mobil yang Remon persiapkan untuk Bossnya. Dengan kecepatan tinggi mobil pun melaju. Tidak memakan waktu lama, mereka telah sampai di rumah besar. Dengan langkah seribu Gio menuju kamarnya.
"Minggir," Gio mengusir seorang pelayan yang sedang mengompres perut istrinya.
Melihat wajah kesakitan istrinya, Gio langsung membawanya menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan hanya ringisan yang terdengar. Gio membelalakkan matanya ketika melihat celana yang istrinya gunakan ada bercak darah. Pikiran jelek kini menghiasi kepalanya.
"Tahan dulu ya, Sayang," ucapnya yang tak henti menciumi puncuk kepala istrinya.
Ayanda sudah ditangani tim medis. Gio hanya menyandarkan kepalanya di dinding. Ia hanya bisa berharap ketakutannya ini salah. Dokter pun memanggil Giondra.
"Kita harus memeriksakannya ke dokter obgyn, biar lebih jelas," Gio hanya menghela nafas kasar. Ia masuk ke dalam ruang perawatan istrinya. Tubuh lemah dan wajah pucat istrinya membuatnya merasa sedih. Ditambah jika pikiran jeleknya benar terjadi. Ia hanya bisa pasrah.
"Masih sakit?" tanya Gio yang sedari tadi menggenggam tangan Ayanda.
"Sedikit."
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan, memberitahukan jika dokter obgyn sudah menunggu. Gio membawa tubuh istrinya dengan kursi roda. Ada ketakutan di hatinya saat ini.
Mereka sudah berada di ruang pemeriksaan. Dokter Sarah yang diminta langsung oleh Gio untuk menangani istrinya. Sarah sudah mengetahui tentang gejala yang dialami Ayanda dari laporan medis. Untuk lebih memastikannya ia melakukan USG pada perut rata Ayanda. Dilihatnya dengan seksama, senyuman kecil terangkat dari bibirnya.
Gio memperhatikan layar. "gak ada apa-apa, cuma dua titik doang yang gua liat," ucapnya. Senyuman merekah dari bibir Ayanda.
Sarah hanya berdecak kesal. "beli testpack gih, biar lu paham," sahut Sarah sedikit emosi.
Gio hanya melongo mendengarnya. "istri gua hamil?" tanyanya tak percaya.
"Tau ah, kenapa mendadak bege begini sih lu," ucap kesal Sarah.
Gio memandang wajah Ayanda dengan haru. Hanya senyuman bahagia yang Ayanda pancarkan. "terima kasih, Sayang," tak terasa air mata Gio menetes. Ia pun mengecup dalam kening istrinya.
"Akhirnya, aku akan menjadi Daddy," gumamnya.
"Jangan senang dulu, tugas lu berat nih," potong Sarah. Sarah menjelaskan semuanya tentang kehamilan pada penderita kandungan lemah. Gio mendengarkan dengan seksama.
"Gua pastiin anak lu kembar," Sarah menyudahi bicaranya. Ketakutan yang sedari tadi melanda hatinya kini berubah menjadi kebahagiaan yang luar biasa.
__ADS_1
"Hebat kan aku, satu benih tapi langsung tumbuh dua sekaligus," pukulan map laporan mendarat di kepala Gio yang sedang berbicara kepada istrinya.
"Lu itu anak kembar, gen kembar lu lebih dominan dibanding gen istri lu. Dasar bodoh," omel Sarah pada Gio dan langsung meninggalkan mantan dokter yang berotak cetek.
Kabar kehamilan Ayanda sudah terdengar ke semua sudut rumah besar dan juga surat kabar di Singapura. Kebahagiaan dirasakan oleh semua penghuni rumah besar. Gio pun menaikkan gaji semua pelayan di rumahnya 5 kali lipat, sebagai ucapan syukurnya karena istrinya kini tengah mengandung.
Gio menjadi suami siaga sekarang ini. Pekerjaannya selalu dikerjakan di rumah. Setiap meeting pun hanya via online. Ia tidak ingin jauh dari istrinya. Begitupun Ayanda yang tidak ingin jauh dari suaminya. Setiap aktifitas Ayanda pasti dibantu oleh Gio. Dari makan hingga mandi, dengan sabar dan telaten Gio akan membantunya. Kebahagiaan Ayanda amat tak terkira. Ditambah semua keluarganya ikut menjaga kandungan Ayanda. Terlebih Echa yang sangat antusias dan bahagia dengan kabar kehamilan mamahnya.
"Akhirnya Echa punya adek juga," ucapnya bahagia seraya mengusap lembut perut mamahnya yang masih rata.
"Kamu langsung punya adik dua loh," timpal Papa Gi.
Rona bahagia sangat terlihat jelas di wajah putrinya ini. Rion pun ikut bahagia mendengarnya.
"Panggil aku Ayah jika anakmu telah lahir," ucapnya pada Gio. Gio hanya tersenyum mendengarnya.
"Baiklah, aku akan menyuruh duo kembarku memanggilmu Ayah. Tapi tetap aku Daddy-nya," ucapan Gio membuat semua orang tertawa.
Kebahagiaan kini menyelimuti semua orang yang menyayangi Ayanda dan juga Gio. Mereka tidak sabar menunggu kehadiran dua malaikat kecil yang dititipkan Tuhan kepada pasangan ini. Mereka berdoa agar Ayanda dan juga Gio selalu bahagia selamanya. Luka dan air mata Ayanda kini menjadi kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hasil dari sebuah kesabaran yaitu datangnya kebahagiaan. Semua kan indah pada waktunya benar adanya. Ayanda merasakan kebahagiaan yang sebenarnya setelah membina rumah tangga dengan Giondra.
Tuhan, takdirmu begitu indah. Satu pintaku, Jangan pisahkan kami, kecuali maut yang harus memisahkan.
TAMAT.
*****
Akhirnya ....
Selesai juga tugasku di novel pertama yang penuh dengan kritik pedas yang menusuk hati dan sanubari.
Terimakasih semuanya ....
Buat yang kecewa dengan akhir cerita ini mohon maaf. Aku udah menyiapkan cerita tentang Rion setelah menjadi duda.
Untuk para pecinta Gio dan Ayanda, ini bukan akhir dari kisah mereka berdua. Masih banyak cerita tentang mereka dan juga si duo kembar. Semuanya akan tulis di karya baru aku ya ....
__ADS_1
Baca bab akhir untuk mengetahui judul karya baruku. Sudah aku sisipkan sedikit tentang kelanjutan dari Air Mata Ayanda.