
Ayanda dengan sabar menunggu Echa seorang diri, wajahnya terlihat sangat sayu dan menyimpan banyak sekali pilu. Ia terus menggenggam tangan Echa. Hingga tak terasa matahari sudah menampakkan wajahnya pada bumi, namun Echa tetap belum sadarkan diri.
"Yank!" Memeluk tubuh Ayanda yang sangat tak berdaya dan bergairah. Hanya guratan kesedihan yang terpancar dari wajah cantiknya.
"Gi, kalo Echa tetap gak sadarkan diri gimana?" Tangisnya pun pecah dalam pelukan Gio. Hanya Gio tempat berkeluh kesahnya saat ini. Nama Rion hilang seketika dalam pikirannya. Ia hanya fokus dengan keadaan anaknya sekarang.
"Echa anak yang kuat, gua yakin Echa akan sadar." Terus memeluk tubuh Ayanda.
"Lebih baik Echa kita bawa ke Singapura, ayah udah menyiapkan Rumah Sakit dan dokter terbaik disana." Ayanda melonggarkan pelukannya, menatap mata Gio menyiratkan ketidak mauannya akan ide Gio.
Suara pintu terbuka,
"Bu maaf, saya membawakan makanan untuk Ibu. Dari kemarin ibu belum makan." Berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa bungkusan makanan ditangannya .
"Saya tidak lapar mbak," kembali menatap Echa yang masih terbaring tak berdaya di ranjang pesakitannya.
"Makan dulu Yank, lu gak kasian sama Echa. Ketika Echa sadar pasti orang pertama yang ingin ia lihat adalah lu, mamahnya." Merangkul bahu Ayanda yang terlihat rapuh. Ucapan Gio benar, ia harus kuat sekarang demi anaknya.
"Gua titip Echa." Disambut anggukan oleh Gio. Ayanda dan Mbak Ina pun pergi meninggalkan kamar perawatan Echa untuk sarapan.
"Incess papa Gi, bangunlah! Jangan buat Mamahmu bersedih lagi, hanya kamu yang bisa membuat Mamahmu tersenyum. Bangunlah incess Papa." Tidak ada respon sama sekali dari tubuh Echa. Gio melihat jam tangannya lalu menghembuskan nafas kasar. Naluri dokternya menyatakan jika sekarang Echa koma.
*****
Ayanda mencoba menelan setiap makanannya, namun semuanya terasa hambar. Ia pun menyudahi makannya.
__ADS_1
"Mbak, sebenarnya apa yang terjadi?" Rasa penasarannya masih membuncah di kepala Ayanda.
Mbak Ina hanya menunduk dalam, takut jika emosi majikannya pasti akan tumpah.
"Jawab dengan jujur mbak, saya gak akan marah." Mbak Ina pun menceritakan semuanya. Tidak ada satupun yang terlewat. Wajah Ayanda terlihat sangat murka. Gurat kemarahan ada pada wajahnya.
"Ketika non Echa pergi ke mall, saya melihat bapak dengan seorang anak laki laki, saya gak tau itu siapa. Tiba tiba non Echa menangis dan mengajak saya pulang."
Deg,
Bukan hanya dirinya yang sekarang terluka, hati anaknya pun ikut kecewa dan terluka.
Mbak Ina terus menceritakan apa yang terjadi, hingga Echa pinsan dan dilarikan ke Rumah Sakit. Amarah di hati Ayanda mulai membara, wajah yang sendu kini berubah menjadi wajah yang ingin menerkam mangsanya. Hatinya seketika membeku.
Jika terjadi apa apa dengan anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu.
"Bu, sebenarnya saya tidak mau menambah beban pikiran Ibu tapi ini harus saya sampaikan." Ayanda mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan ucapan Arya. Arya menghela nafas kasar sebelum ke inti pembicaraannya.
#flashback on.
Arya masih setia menunggu Rion di Rumah Sakit. Naluri kemanusiaannya menang dalam hal ini, ia tak tega melihat Rion terbaring tak berdaya seperti sekarang ini. Arya sudah menghubungi orangtua Rion dan adiknya, tapi Arya enggan untuk menghubungi istri sahabatnya itu. Sudah terlalu banyak derita yang Ayanda tanggung, apalagi sekarang anak semata wayangnya belum sadarkan diri, ia tidak mau menambah deritanya lagi. Hanya getah yang mereka dapatkan dari nangka yang Rion makan.
"Yanda." Terdengar sangat pelan. Arya senang melihat sahabatnya sudah membuka matanya. Ia langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaaan Rion. Dokter mulai memeriksa keadaan Rion dan kondisinya sudah mulai membaik hanya tinggal menunggu pemulihan. Setelah dokter selesai memeriksanya, ia pun pamit.
"Aa!!" Suara dua wanita memanggilnya serempak. Mereka pun mendekat ke arah Rion yang lemas tak berdaya.
__ADS_1
"Kenapa ini bisa terjadi a?" Air Mata sang mamah meluncur bebas ketika melihat keadaannya sekarang ini.
"Kecelakaan tunggal Tante, dia bawa mobilnya kayak setan terus ada setan lewat dia kaget akhirnya dia nabrak pembatas jalan." Jelasnya sedikit bercanda.
"A, teteh mana? Dari tadi Nisa hubungi teteh tapi gak aktif dan sekarang aa lagi kayak gini si teteh pun gak ada. Apa apaan sih istri aa? Apa emang setiap hari aa gak pernah diurusin sama si teteh?"
Arya mulai geram dengan perkataan adik sahabatnya itu yang langsung menjudge seseorang tanpa tau kebenarannya. Ingin rasanya menimpali ucapan adik sahabatnya itu tapi ini bukan urusannya. Wajah sang mamah pun terlihat marah mengetahui menantunya tidak ada disamping anaknya yang sedang terbaring lemah seperti ini.
Mendengar sahabatnya selalu memanggil manggil nama istrinya terus Arya pun tak tega, ia pun pamit kepada mamah Rion dan juga Nisa untuk keluar sebentar.
#flaahback off.
Ayanda menghembuskan nafas kasar. Mendengar kabar itu hatinya tak bergeming, tak ada rasa apapun. Arya memohon kepada Ayanda agar menemui suaminya, karena yang Rion cari pertama kali adalah dirinya. Ayanda menimbang menimbang ajakan Arya untuk menemui Rion. Akhirnya Ayanda setuju dengan ajakan Arya.
Ayanda melangkahkan kakinya ke ruangan rawat anaknya untuk bersiap siap pergi dengan Arya. Ketika masuk ke ruangan Echa, dadanya terasa sesak ketika para dokter sudah memasang beberapa alat pada tubuh putrinya. Gio langsung memeluknya hangat.
"Echa koma," Dunia Ayanda seakan hancur tak tersisa, air matanya mengalir deras dipipinya.
"Gi, apakah tawaranmu untuk melakukan perawatan penyembuhan Echa di Singapura masih berlaku?" Gio menatap mata indah Ayanda mencari keseriusan ucapannya.
"Tawaranku tidak ada masa expirednya untukmu dan Echa. Kalian dua wanita berharga untukku, apapun akan aku lakukan untuk kalian." Ayanda mengeratkan pelukannya pada Gio dengan air mata yang terus mengalir tiada henti. Sebelum keberangkatannya ia meminta izin kepada Gio untuk mengurus urusannya yang tertunda sebentar. Urusannya untuk menemui Rion.
Selama diperjalanan Ayanda memantapkan hatinya. Jika ini memang pilihan yang terbaiknya.
Aku masih terima kamu sakiti seperti apapun, tapi jika sudah menyangkut Echa aku tidak akan pernah memaafkanmu, sekarang kondisi Echa memburuk, ia koma. Apa kamu tau bagaimana perasaanku sekarang? Duniaku gelap dan hancur, karena ulahmu kami harus menanggung semua kesakitan ini. Sekarang biarkan aku dan Echa pergi untuk menyembuhkan luka yang telah kamu goreskan. Luka yang teramat pedih namun tak berdarah. Luka yang sangat membekas dan tak mungkin sembuh dalam waktu yang sebentar. Ini pertemuanku denganmu untuk terakhir kalinya. Aku harap kamu bahagia dengan putra kecilmu dan aku bahagia dengan gadis kecilku.
__ADS_1
*****
Happy reading semuanya,,