
Ucapan Rion mampu membuat Gio terdiam seribu bahasa. Ia tidak mau merusak keluarga kecil ini. Ia tidak mau disebut sebagai pebinor (Perebut Bini Orang).
"Aku tidak bisa menjaga mereka, karena kamulah yang pantas untuk mereka," ujarnya.
Gio membawa tubuh Ayanda ke sofa, ia membaringkannya disana. Wajahnya sangat terlihat pucat.
"Mon, panggilkan dokter," perintahnya pada Remon.
Remon pun menuruti perintah Bossnya, bergegas memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Ayanda.
"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Rion pada Giondra.
Giondra menghela nafas berat. "jika ini menyangkut permintaanmu, aku tidak bisa," jelasnya.
"Gi, ikutlah dengannya. Ada hal yang harus kamu tau," pinta Genta kepada putranya.
Sang Ayah menatap Giondra dengan tatapan tajam, mengisyaratkan ia harus mengikuti perintah Ayahnya.
"Baiklah," katanya dengan nada malas.
Rion dan Gio pun menuju kantin, tapi mereka memilih kantin yang tertutup.
"Ada apa?" tanyanya pada Rion.
"Ini," jawabnya.
Menyodorkan map hijau ke depan Gio. Ia hanya melihatnya enggan untuk membukanya.
"Bukalah! Lalu bacalah!" pinta Rion.
Dengan ragu Gio membuka map itu, ia baca kertas yang ada di dalam map. Ia membaca isi dari kertas itu dengan sangat teliti dan hati-hati hingga ia melebarkan matanya.
Jantung Gio berhenti berdetak untuk sesaat. Hatinya sakit mengetahui kenyataan ini.
# flashback on
Setelah Ayanda melepaskan pelukannya dari Rion, ia menatap wajah suaminya dengan sendu. Wajahnya pun basah karena cucuran air mata. Sama halnya dengan Rion, ia pun menangis dan air mata sudah membanjiri pipinya.
"Aku juga sangat menyayangimu, Mas," ucapnya. Buliran air mata jatuh kembali di pipinya.
__ADS_1
Rion tersenyum bahagia mendengarnya. Setidaknya masih ada kesempatan untuknya kembali membangun Rumah Tangga dengan Ayanda.
Ayanda mulai menghapus jejak air matanya sendiri dengan lembut, mengatur nafasnya yang sudah teramat sesak.
"Ijinkan aku mencari kebahagiaanku sendiri," ujarnya.
Hati Rion bak dihantam batu besar, sakit teramat sakit mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ayanda.
"Luka ini masih ada dan mungkin tidak akan sembuh untuk selamanya. Terlebih penyebab luka itu adalah orang yang sama dari masa lalumu yang hampir menghancurkan masa depanku," jelasnya.
Ayanda mencoba untuk tegar mengucapkan kata demi kata kepada Rion, padahal hatinya seperti disayat-sayat pisau yang sangat tajam.
"Dia telah membohongi kita, Sayang. Dia berniat untuk menghancurkan Rumah Tangga kita dengan merekayasa hasil Tes DNA," serunya.
Ayanda hanya tersenyum mendengar ucapan dari Rion. Ia menghela nafas berat.
"Jika kamu benar-benar mencintai kami mungkin kamu tidak akan masuk ke dalam permainannya. Disitulah kekuatan cinta kamu diuji. Mampukah kamu mempertahankan keluargamu atau kamu sendiri yang malah menghancurkannya," timpalnya.
Mulut Rion langsung terkunci rapat-rapat. Ia tak mampu membalas ucapan Ayanda.
"Aku tau Mas, kamu masih mempunyai perasaan padanya karena kamu tidak akan memeluk sembarangan wanita jika tidak ada sesuatu," ujarnya.
Ucapan Ayanda dan juga Arya sangat sejalan, mereka mampu membaca hati Rion kemarin. Untuk sekarang sudah dipastikan perasaaannya sudah mati untuk wanita itu karena dengan kejam membohonginya dan hampir saja merenggut nyawa putrinya.
Ayanda memejamkan matanya sejenak. Menarik dan menghembuskan nafasnya pelan.
"Sekarang ini hatiku sudah benar-benar letih, aku ingin mengistirahatkan hatiku sejenak. Ingin melupakan semua yang telah terjadi, aku ingin menata hatiku kembali," jelasnya lagi.
"Apa karena Giondra?" tanya Rion.
Ayanda menatap Rion dengan tajam. Seakan ingin membunuhnya sekarang juga.
"Jangan sangkut pautkan dirinya dengan Rumah Tangga kita. Dia terlalu baik jika harus kamu tuduh sebagai perusak Rumah Tangga kita. Duri dalam daging itu ya kamu, kamulah yang menyebabkan ini semua terjadi," sahutnya dengan suara yang sedikit meninggi.
Ayanda tidak mau semua orang beranggapan jika Giondra lah yang menyebabkan kehancuran Rumah Tangganya. Sebaliknya, Gio lah orang yang berjasa dalam kehidupan Ayanda yang membantunya dalam segala hal, terutama dalam menguatkan hatinya untuk menghadapi segala ujian hidup terberatnya.
"Kamu mencintainya, kan?" tanya Rion lagi dengan wajah sedikit memerah.
"Dia terlalu baik, aku tidak pantas untuknya," jawabnya.
__ADS_1
"Kamu perlu tau, kamu masih memenuhi hatiku, tapi hatiku sudah terlalu banyak menyimpan luka karena dirimu, Mas. Biarkan aku menepi, untuk beristirahat sebentar dari segala kesakitan yang pernah aku rasakan. Aku hanya ingin bahagia mencari kebahagiaan yang sesungguhnya."
"Kamu menyayangiku dan aku juga lebih menyayangimu, tapi untuk saat ini aku tidak bisa memberimu kesempatan lagi. Percuma jika kesempatan yang aku beri hanya dijadikan ajang untuk menyakitiku kembali. Hatiku ini bukan terbuat dari baja, hatiku terlalu lemah jika untuk dipermainkan lagi," terangnya.
Harapan Rion runtuh seketika, rasa optimisnya kini berubah menjadi kehancuran. Wajahnya berubah menjadi sendu dan pilu.
"Mas, kita percayakan semuanya pada Takdir. Jika kita memang ditakdirkan untuk bersama sejauh apapun kita terpisah pasti akan bersatu kembali. Sebaliknya, jika memang kita tidak berjodoh kita harus ikhlas. Kamu dan aku hanya sebagai tempat singgah sementara untuk menemukan jodoh kita yang sesungguhnya. Lepaskan aku, Mas," ujarnya sambil menggenggam tangan Rion.
Perkataan Ayanda ingin sekali ia tolak, namun ia teringat akan perkataan Arya bahagia melihatnya bahagia. Mungkin ini yang harus dilakukannya.
Dengan berat hati Rion mengabulkan permintaan Ayanda. Bukan karena sudah tidak saling sayang, tapi inilah saatnya untuk mencari kebahagiannya masing-masing. Mempercayakannya pada yang namanya takdir.
# flashback off
Gio mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak bisa membayangkan sehancur apakah Ayanda setelah ini. Sekarang ia mencoba tegar, tapi esok pasti ia akan kembali rapuh lagi.
"Kamu pria yang tulus dan lebih sempurna dariku, bahagiakan Yanda dan juga Echa. Jangan pernah sakiti mereka sepertiku. Sekarang hanya penyesalan yang aku dapatkan," ucapnya.
"Tidak usah kamu pikirkan Echa, karena ini juga keputusan Echa. Ia sangat yakin jika kamulah yang terbaik untuk Mamahnya."
"Dia hanya ingin melihat Mamahnya bahagia. Selama ini Yanda yang selalu berkorban dan memasang badan untuknya, sekarang saatnya Echa yang berkorban untuk Mamahnya."
"Echa tetaplah anak kami, tidak ada yang akan bisa merubah takdir itu. Tidak ada kata mantan untuk seorang anak. Dialah permata hati kami, aku dan Yanda sepakat untuk membesarkannya bersama dengan kasih sayang utuh," ucapnya panjang lebar.
"Kamu tidak perlu khawatir, semoga keputusan ini yang terbaik untuk kami. Sudah saatnya Yanda terlepas dari kesedihan dan kesakitan yang selama ini menguncinya karena perbuatanku. Aku percayakan Yanda dan Echa padamu, aku yakin kamu mampu membahagiakan mereka lebih dari aku membahagiakannya," serunya.
"Aku pamit, jaga mereka untukku. Pasti aku akan sering-sering kesini untuk menjenguk Echa setelah proses perceraianku selesai. Aku hanya ingin Yanda bahagia," terangnya.
Gio terdiam membisu mendengar semua penjelasan dari Rion. Hatinya sakit mendengarnya, padahal harusnya ia bahagia karena dengan mudahnya ia akan mendapatkan Ayanda.
Rion beranjak dari duduknya, sebelum pergi ia menepuk bahu Gio dengan tersenyum hangat dan berlalu meninggalkan Giondra yang sedang membeku di tempatnya.
******
Happy reading,
Maaf telat up karena semalam bablas ketiduran.
Jangan lupa like, komen, dan juga vote ya untuk terus menyemangati aku.
__ADS_1
Maaf jika banyak yang tidak suka dari beberapa part ini, 🙏 ya inilah hasil haluan ku.
Makasih sudah setia membaca karya remahan peyek aku,,