
Di sinilah Ayanda, di sebuah desa yang indah dan masih asri. Kini, ia berada di Yogyakarta. Kota yang ingin ia jadikan tempat untuk menghabiskan masa tuanya.
"Dek, inilah rumah baru kita," ucap Ayanda ketika masuk ke dalam rumah.
Echa tersenyum, rumah yang sederhana dan mengingatkannya akan sepuluh tahun yang lalu.
"Mah, seperti kembali ke masa lalu, ya. Hanya saja kekecewaan Mamah dengan orang yang berbeda," ucapnya.
Ayanda hanya tersenyum mendengar perkataan Echa. "dulu aja kita bisa melewati semuanya, sekarang kita harus bisa lebih dari waktu dulu," balas Ayanda dengan senyuman.
Echa memeluk tubuh sang mamah. Dibalik senyummu itu banyak menyimpan duka yang kamu pendam, Mah. Echa bisa merasakan, batinnya.
"Cyiiinnn," sapa seseorang dengan suara melengking. Sontak membuat kedua perempuan itu menutup telinga.
"I miss you," ucap pria berbadan tegap tapi lemah gemulai.
"Miss you too," balas Ayanda, yang sudah memeluk tubuh tegapnya.
Body bodyguard tapi kelakuan hello Kitty mini, ucap Echa dalam hatinya.
"Dek, kenalin ini Om Andri," ucap Ayanda pada putrinya.
"Ish, kok om sih. Aunty," tolaknya.
"Echa," sapanya lalu mencium sopan tangan sahabat mamahnya.
"Andri. Kalo siang Andri dan kalo malam Andriyani," balasnya dengan tersenyum.
"Kalo malam aku panggil onty, kalo siang aku panggil onta," timpal Echa dengan wajah sok polos.
Tawa kencang Ayanda menggema ke penjuru ruangan, Andri melirik kesal ke arah ibu dan anak yang sangat menyebalkan. Echa tersenyum dengan memperlihatkan giginya kepada Andri, dibalas dengan mulut komat-kamit yang penuh dengan umpatan.
__ADS_1
Setelah kepulangan Andri, rumah ini terasa sepi lagi. Echa sedang berada di kamarnya dan Ayanda pun sedang menatap indahnya hamparan sawah dari balik jendela kamarnya.
"Rasa ragumu, mampu membuatku menjauh," gumamnya.
"Bangkit, Yanda. Bangkit!" serunya menyemangati diri sendiri.
Ayanda berniat untuk mengubur semua rasa yang pernah ia miliki kepada siapa pun yang pernah masuk ke dalam hatinya. Ia menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ia hanya meminta diberikan takdir baik, dan jika ia boleh meminta lebih baik ia hidup sendiri dan bahagia dengan putri semata wayangnya.
Hari demi hari telah Ayanda lalui dengan baik. Kesibukannya mengurus toserba yang ia miliki membuat Ayanda lupa akan kepedihan hatinya. Ditambah memiliki asisten yang konyol yang selalu membuatnya tertawa lepas. Hingga ia terlupa, jika esok adalah hari pernikahannya dengan Giondra yang ia batalkan secara sepihak.
-Di Singapura-
Hampir seminggu ini, tanpa lelah Gio mencari Ayanda ke semua penjuru Singapura dibantu oleh para anak buahnya. Negara singa yang notabene adalah negara kecil, harusnya bisa dengan mudah mereka lacak dan mereka putari. Pada nyatanya nihil, tidak membuahkan hasil apa-apa.
Wajah frustasi Gio sangat terlihat jelas. Setiap kali ia bertanya kepada ayahnya, setiap itu pula ucapan nan menyinggung hatinya yang ia dapatkan.
"Aku harus mencari Ayank kemana lagi,," teriaknya.
Di ambilnya cincin yang Ayanda lepaskan. Tatapannya sendu, mengguratkan rasa bersalah yang teramat mendalam.
"Aku akan memakaikan kembali cincin ini di jari manismu. Aku janji," gumamnya.
-Di Jakarta-
Batalnya pernikahan Ayanda dan Gio membuat semua orang bertanya-tanya. Tak lama didapat kabar jika Ayanda dan juga Echa pergi dari Singapura. Kabar itu mampu membuat Rion mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari mantan istrinya dan juga putrinya.
"Mereka pasti akan kembali ke Indonesia, gua yakin," ucapnya pada Arya.
"Tapi di mana? Lah masa mau kita cari dari Sabang sampe Merauke, berjajar pulau-pulau," ujar Arya.
Jitakan keras mendarat di ubun-ubun Arya. "gua lagi panik, lu malah ngebodor," balasnya.
__ADS_1
"Ya udah sih, biarin lah si Ayanda sama Echa menenangkan dirinya dulu. Pasti ada yang nggak beres dalam hubungan Andra dan Yanda. Karena gua tau, Yanda bukan tipe cewek yang main pergi begitu aja," jelas Arya.
"Gua khawatir," sahut Rion.
"Sebenarnya lu bukan khawatir, lu ingin nyari Ayanda biar nanti disebut pahlawan kesiangan gitu kayak di sinetron-sinetron +62. Basi woiy!" ucapnya.
Rion hanya terdiam mendengar ucapan Arya yang hampir seratus persen benar.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Ayanda langsung menuju rumahnya. Sapaan ramah para tetangga membuatnya semakin cinta akan desa ini.
Dibaringkan tubuh letihnya di atas kasur setelah selesai mandi. Ia membuka benda pipih miliknya yang sudah hampir seharian ini tidak ia sentuh sama sekali. Ketika baru saja membuka layar ponselnya, matanya berkaca-kaca ketika melihat tanggal yang berada di ponselnya.
"Harusnya besok kita akan mengucapkan sumpah sehidup semati, tapi sekarang itu hanya menjadi keinginan yang tak terlaksanakan," gumamnya. Tak terasa bulir bening membasahi pipinya.
"Kepergian ku, tak membuat kamu mencariku. Apa seragu itukah hatimu untukku?" ucapannya sendiri mampu menembus dinding pertahanan yang kuat menjadi roboh. Ayanda menangis dalam kamarnya, merasakan kepedihan yang teramat mendalam.
*****
Hay ,,,
Sebelumnya aku mau mengucapakan dulu Dirgahayu Indonesiaku yang ke-75. Sekali merdeka tetap merdeka✊
Semoga pandemi si covid ini cepat berakhir dan kita semua kembali hidup normal lagi.
Jangan minta crazy up hari ini karena aku mau ikut lomba 17-an. Lomba lari dari kenyataan,,😁
(Padahal mah kagak pernah crazy up🤣🤣🤣🤣)
Jangan lupa kencengin like, komen dan vote ya biar makin semangat menuju End.
-Menuju End-
__ADS_1
Happy reading semua,,