
Ayanda seolah membeku ketika Gio memintanya untuk menikah dengan dirinya. Hati kecilnya ingin tapi rasa takutnya masih mengalahkan keinginannya. Sedikit demi sedikit benih cintanya tumbuh untuk Gio. Benar kata pepatah, cinta hadir karena terbiasa. Tidak dipungkiri juga kadang ia teringat akan sosok mantan suaminya karena memang belum sepenuhnya ia melupakan Rion.
"Ya sudah jika kamu belum siap," kata Gio dan langsung melepaskan pelukannya. Ia menuju meja makan yang sudah tertata apik.
Ayanda merasa bersalah, egonya masih mendominasi hatinya sekarang ini. Entah sampai kapan ia akan menggantung Gio, karena hatinya belum sepenuhnya yakin.
Ayanda mengikuti Gio duduk di table yang sudah disediakan, mereka makan dengan suasana hening. Ditambah wajah yang diperlihatkan oleh Gio adalah wajah sendu dan pilu.
Aku masih belum yakin, Gi. Maafkan aku, batinnya.
*****
- Di Jakarta -
Rion dan Arya sedang berada di salah satu cafe, Rion menyandarkan kepalanya ke sofa dengan memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing.
"Kenapa gua selalu ingat Yanda, ya?" tanyanya pada Arya.
"Move on lah bro, gua yakin Ayanda udah bahagia sama Andra," jawab Arya.
"Gua ikut bahagia jika Ayanda bahagia, tapi gua gak akan bisa move on dari dia. Dia akan menjadi wanita satu-satunya dalam hidup gua," balasnya.
"Satu-satunya, bukankah dulu lu menduakan Ayanda dengan si ular sawah," cela Arya.
Rion menghela nafas panjang, ia mengingat-ingat kejadian hampir sepuluh tahun lalu yang dengan bodohnya memilih seonggok sampah dibandingkan mempertahankan segenggam mutiara yang sudah ia genggam. Itulah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dulu ia pernah menanam benih kesakitan dan luka yang sangat dalam untuk Ayanda, sekarang ia harus menerima Ayanda yang pergi meninggalkannya. Hukum tanam-tuai sangat nyata adanya.
Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga, Arya berdendang dengan suara falsnya sekaligus mengejek sahabatnya.
"Sahabat sialan lu," dengusnya.
Arya hanya tertawa ketika melihat ekspresi Rion.
"Lu beneran gak akan mencari teman hidup lagi?" tanya Arya.
Rion hanya menggelengkan kepalanya. "gua udah gak berhak bahagia, bahagia gua hanya pada Ayanda. Biarkan di sisa hidup ini gua hidup dalam sebuah penyesalan," ucapnya.
Arya mengernyitkan dahinya tak mengerti. "sisa hidup maksudnya? Berasa mau mati besok aja lu," imbuhnya.
Rion tertawa mendengar ucapan Arya. "beg* lah, percuma lu temenan sama gua otak kagak ada pinter-pinternya," sahutnya.
"Kampret lu, otak gua seratus kali lipat lebih cerdas dari otak udang lu. Coba pikir setiap ada masalah apapun pasti gua yang harus mikir, kerjaan lu mah cuma jadi manusia beg* yang planga-plongo," ejeknya.
Rion hanya melengos kesal dengan ucapan Arya.
__ADS_1
"Eh bloon, gua nanya maksud dari ucapan lu itu tadi apa? Tampang doang ganteng, otak kagak ada satu senti," ujar Arya.
Ck,
"Mulut lu udah kayak ember bolong yang nyerocos aja kagak kenal rem," sahutnya.
"Jelasin!" pinta Arya.
"Gak ada yang perlu gua jelasin, intinya gua akan pendam cinta ini sampai akhir hayat gua," ucapnya.
Arya tertegun mendengar ucapan Rion. Sejak kapan teman bodohnya ini bisa sedramatis dan sebijak ini.
*****
Setelah selesai makan Gio langsung berdiri dari duduknya. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Gi," panggi Ayanda.
Langkah Gio terhenti. "kamarmu di sebelahku, di lantai 17, disitu hanya ada dua kamar," sahutnya dan berlalu meninggalkan Ayanda.
Gio tidak marah pada Ayanda, tapi seiring berjalannya waktu Ayanda masih saja menolak ajakannya untuk menikah dadanya terasa sakit juga. Sejenak ia berfikir, apakah ia tidak pantas untuk Ayanda?
Gio melangkahkan kakinya menuju bibir pantai. Keadaan pantai yang gelap, suara gemuruh ombak yang menghiasi keheningan malam membuatnya nyaman duduk di atas pasir tanpa alas duduk apapun.
Pikirannya menerawang jauh menatap luasnya lautan. Pandangannya kosong namun pikirannya dipenuhi oleh Ayanda.
Ayanda hanya bisa menghela nafas pelan. Meyakinkan hatinya berulang kali untuk menyetujui atau menolak ajakan Gio.
Dengan langkah kalut Ayanda berjalan ke arah jendela kamar hotel. Ia membuka gorden yang menutupi jendela. Seulas senyum di bibirnya ketika melihat pemandangan yang indah dari balik jendela kamar. Di depannya air laut yang sedang menari-nari di gelapnya malam yang dipercantik dengan gemerlap cahaya bintang dan juga bulan yang sempurna.
Pandangan Ayanda terkunci ketika melihat seseorang yang sedang menunduk di tepian pantai seorang diri. Waktu sudah hampir tengah malam namun orang itu dengan sengaja duduk di atas pasir yang sudah dibasahi air laut.
Ayanda membuka jendela, ia seperti kenal dengan orang itu. Dari pakaian hingga postur tubuh ia sangat mengenalnya.
"Apakah itu Gio?" tanyanya pada diri sendiri.
Tak lama pria itu mendongakkan kepalanya menatap indahnya langit malam. Terdengar teriakan samar-samar dari arahnya. Ayanda terus memperhatikannya tak terasa air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Di bibir pantai Gio sudah terbangun dari duduknya. Celana yang ia kenakan sudah basah karena terkena air laut yang dibawa sang ombak.
"Jika kali ini ia menolaknya, aku akan mundur. Membiarkannya kembali kepada mantan suaminya," ucapnya sendu sambil memejamkan mata menghadap ke langit.
Hembusan angin pantai yang sangat kencang membuatnya melipatkan kedua tangan di atas dada. Ia sengaja membiarkan kakinya terkena air yang didorong oleh ombak.
__ADS_1
Dengan air mata yang terjatuh Ayanda bergegas turun menghampiri Gio yang sedang berada di tepi pantai seorang diri. Ia melangkah dengan pelan ketika yang ia lihat di hadapannya memang Gio.
Ia berlari dan memeluk Gio dari belakang dengan isakan pelan. Gio sangat tau ini pasti wanita yang ia cintai.
"Maafkan aku," hanya itu yang terucap dari bibir Ayanda.
Hembusan nafas pelan tapi menyiratkan banyak arti kini yang dikeluarkan Gio. Ia membalikkan tubuhnya.
Ia menangkup wajah Ayanda yang susah dibasahi oleh air mata. Ia menghapusnya dengan lembut.
"Jika kamu belum siap, tidak apa-apa, aku tidak akan pernah memaksamu," ujarnya dengan senyuman dibuat semanis mungkin, padahal faktanya hatinya sangat sakit.
"Aku tidak ingin menikah tanpa adanya rasa cinta, itu akan menyulitkan hubungan kita ke depannya," ucap Gio.
Ucapan Gio mampu menyayat hati Ayanda, entah kenapa ucapan yang dulu sering Gio katakan kepadany dan dianggap hanya sebuah lelucon oleh dirinya kini sangat menyakitkan baginya. Air matanya pun tak bisa terbendung lagi.
"Kamu jahat, Gi," kalimat itu yang terlontar dari mulut Ayanda dengan air mata yang sudah terjatuh di pipinya.
Gio mematung mendengarnya, Ayanda berlari meninggalkan Gio seorang diri.
Derai air mata mengiringi langkahnya, namun pelukan dari arah belakang membuat langkahnya terhenti.
"Maafkan aku," hanya itu yang mampu Gio katakan. Gio membalikkan tubuh Ayanda agar menghadapnya.
"Aku tidak ingin memaksamu karena keegoisanku, aku tau kamu masih sangat mencintai mantan ...."
"Aku mencintaimu Giondra."
*****
Hay,,,
Semoga kalian suka bab ini,
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar ada semangat lagi buat nerusin ceritanya.
Maaf ya Komen kalian gak pernah aku balas, tapi yakinlah semua komen kalian selalu aku baca. Komen kalian tuh bikin aku senyum-senyum sendiri dan sering juga bikin kepalaku nyut-nyutan.
Terimakasih telah bersedia membaca karya remahan aku.
Jika kalian ingin berinteraksi denganku yang otaknya rada sengklek ini secara langsung bisa masuk ke grup chat Nyonyahalu ya,,
Kita bersenang-senang di sana,😁
__ADS_1
Atau bisa follow aku, nanti aku pasti follback kalian,,
Happy reading semua,,