Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 32. Test DNA (part 2)


__ADS_3

Jam 08.00 wib Rion pun tiba di Toko Cabang, Seperti biasanya ia langsung masuk ke ruangannya.


"Udah siap lu?" Tanya Arya uang entah datang darimana. Rion hanya menganggukkan kepalanya dan langsung duduk dikursi kebesarannya sambil memijat pangkal hidungnya.


"Ada apa? Apa lu takut?" Tanya Arya lagi.


Rion hanya menghela nafas kasar, "Sepertinya Yanda benci banget sama gua," ucapnya lirih.


Aryapun tersenyum mendengar pernyataan dari sahabatnya itu sambil menggelengkan kepala, ternyata sahabatnya itu hanya pintar di bidang bisnis tapi sangat bodoh di dalam hal percintaan. Padahal ia mantan playboy kelas kakap, tapi dari dulu hingga sekarang gak pernah peka dengan perasaan wanita.


"Be*o banget dah lu jadi laki, kalo gua jadi bini lu terus dapat surprise kayak gitu udah gua tampol muka lu dan gak segan segan pergi ninggalin lu dan gak akan kembali lagi ke lu." Ucapnya sembari mendudukkan diri di kursi depan meja sang Boss. Terdengar helaan nafas kasar dari Rion sembari mengacak acak rambutnya frustasi.


Arya yang mengerti sekali perasaan sahabatnya itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa apa, karena kesalahan sahabatnya itu sudah sangat fatal menurutnya apalagi ini udah kedua kalinya ia menyakiti hati istrinya.


"Yang harus lu pikirin sekarang adalah hasil Tes DNA ini. Gua aja masih fifti fifti sama hasilnya, takutnya dulu lu khilaf terus ngelakuin itu dah." Ucapnya santai.


"Jadi lu gak percaya sama gua?" Tanya Rion sedikit emosi


"Bukan gak percaya, tapi gua masih ragu." Ucapnya sambil tersenyum memamerkan giginya.


"Sama aja kampret!!" Ucapnya sangat kesal dan dijawab kekehan kecil dari Arya.


"Siapa dokter yang akan bertanggung jawab atas tes DNA gua?" Tanyanya pada Arya yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"dr. Erlan Airlangga PhD."


"Erlan Airlangga? Gak asing namanya." Jawabnya sambil mengingat ingat nama itu.


"Gak usah kaya orang gelo lah, nama Erlan Airlangga di dunia ini banyak Bosskuh." Jawabnya sedikit kesal.


"Kita berangkat jam berapa?"


"Jam sembilan aja, biar bisa konsultasi dulu dengan dokternya." Rion hanya menjawab dengan anggukan kepala karena ia yakin jika Arya akan melakukan tugasnya dengan baik.

__ADS_1


****


Di Kantor Cabang Ayanda sedang gusar, ia sedang memikirkan tentang Tes DNA. Hati kecilnya sangat takut kehilangan orang yang sangat ia cintai tapi logikanya memikirkan nasib bocah laki laki yang tak berdosa itu yang sekarang sedang menjadi kelinci percobaan. Ayanda pun menghela nafas panjang. Kertas laporan yang menumpuk di atas mejanya pun ia abaikan, ia hanya bergelut dengan perasaan dan pikirannya saja.


Drrrtt,


Bisa ketemu sekarang? isi chat masuk.


Ayanda tersenyum tipis, lu datang di waktu yang tepat. Gumamnya pelan. Tak perlu menunggu lama ia langsung membalas chat tersebut


Bisa, balasanya.


****


Rion dan Arya sudah tiba di Rumah Sakit, mereka disuruh menunggu sebentar karena dr. Erlan masih ada pasien yang lain. Lima belas menit kemudian mereka pun dipersilahkan masuk ke ruangan dr. Erlan.


"Permisi dok," ucap perawat yang mengantar Rion dan Arya untuk menemuinya.


"Silahkan duduk," ucapnya sopan. Ketika melihat Rion di depannya Erlan pun kaget.


"Erlan!" Kagetnya juga.


Arya hanya melirik bergantian ke arah Rion dan Erlan karena mereka sudah saling kenal, mungkin mereka teman sekolah, batinnya dan tak ingin ambil pusing.


Erlan dan Rion dulunya adalah teman dekat, tapi persahabatannya retak ketika Erlan menyukai seorang cewek namun cewek itu menyukai Rion, sebenarnya Rion tidak menyukai cewek itu. Akhirnya terjadilah kesalahan pahaman antara mereka berdua.


"Gua mau Tes DNA." Ucapnya yakin pada dr. Erlan.


"Ha? Kenapa lu gak yakin sama anak lu sendiri?" Tanyanya bingung. Bukan pertama kalinya Erlan menangani hal seperti ini, tapi ia bingung kenapa teman lamanya melakukan ini?


"Gua gak yakin itu anak gua." Ucapnya lagi.


"Oke, tapi lu harus tau dulu prosedur Tes DNA. Pertama kita ambil beberapa sample dari lu dan anak lu, bisa dengan tes darah, air liur, dan akar rambut. Bisa pilih salah satu. Ada beberapa tahapan dalam melakukan Tes DNA, jadi harus bersabar menunggu hasilnya. Biasanya dalam kurun waktu 14 hari hasil Tes DNA keluar." Ucap dr. Erlan.

__ADS_1


"Tes DNA ini hasilnya akurat kan?" Tanya Rion penasaran.


"Kami tidak bisa menjamin 100%, hanya 99,9-99,99% keakuratannya. Dengan Tes DNA ini juga kita bisa mengetahui penyakit yang ada di dalam tubuh. Untuk pengambilan sample DNA yang biasa dilakukan adalah tes darah, tapi yang diambil bukan sel darah merah melainkan sel darah putih karena sel darah putih memiliki inti sel." dr. Erlan mencoba menjabarkan secara singkat namun jelas.


Perawat mengetuk pintu dr. Erlan, "Permisi dok, anaknya sudah datang." Ucap perawat. dr Erlan pun menyuruh perawat membawa anak itu ke ruangannya. Rion sedikit gugup, ada rasa cemas, khawatir dan takut dihatinya. Arya hanya bisa menepuk pundak Rion dan berbisik,


"Hadapin semuanya biar cepet selesai, apapun hasilnya harus lu terima karena semua ini adalah kesalahan lu." Bukan kalimat yang menenangkan yang Arya ucapkan, kalimat yang mematikan yang keluar dari mulut Arya. Entah kenapa Arya pun merasa tidak yakin akan hasil Tes DNA ini. Ia takut hasilnya diluar dugaannya.


Raska masuk ke ruangan dokter didampingi ibunya, sudah ada Arya dan Rion disana. Tiba tiba langkahnya terhenti ketika melihat satu orang lagi disana, orang yang sangat ia kenal dr. Erlan. Sama halnya dengan Dinda, dr. Erlan pun terkejut dengan kedatangannya disini bersama seorang anak laki laki, anak yang akan menjalani Tes DNA dengan Rion.


"Ibu, ayo!" Ucap Raska yang menarik tangan ibunya agar melanjutkan langkah mereka. Wajah Raska sangat bahagia ketika melihat Rion seolah ia menemukan kebahagiaannya. Ia pun langsung berlari menuju tempat dimana Rion duduk.


"Ayah!" Ucapnya sambil memeluk Rion. Tak ada pergerakan dari tubuh Rion dan tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya tatapan datar dan dingin. Tak lama ia melepaskan pelukan Raska dengan sedikit paksa.


"Cepetan lakukan pengambilan sample, gua gak punya banyak waktu." ucap Rion pada dr. Erlan disambut dengan gelengan kepala oleh Arya.


Wajah Raska seketika berubah, rona bahagia yang sedari tadi ada di wajahnya sekarang berubah menjadi murung. Ibunya hanya bisa memegang tangan Raska dan mengelusnya lembut, ini adalah kali pertama Raska merasakan sentuhan lembut dari ibunya sendiri. Wajahnya pun kembali bahagia karena perlakuan ibunya.


"Kita ambil sample rambut aja ya biar tidak terlalu sakit dan lebih mudah." Ucap dr. Erlan dijawab dengan anggukan kepala oleh Rion.


"Tapi aku tidak punya rambut om dokter," jawab Raska sangat polos dan membuka kupluk yang selalu ia pake.


Tiga laki laki itu kaget dengan ucapan Raska, dan ternyata memang benar Raska tak memiliki rambut di kepalanya. dr. Erlan merasa ada yang janggal pada anak ini, namun segera ia tepis karena belum ada bukti jadi ia belum bisa menyimpulkan apapun.


"Kalo gitu kita Tes darah aja ya, kamu gak takut jarum suntik kan?" Tanya dr. Erlan kepada Raska. Dijawab dengan gelengan kepala dan juga senyuman manis khas seorang Raska. Ada kehangatan dan getaran berbeda ketika pertama kali ia melihat Raska.


Mereka pun menjalani pengambilan sampel untuk Tes DNA, setelah pengambilan darah selesai mereka meninggalkan rumah sakit satu per satu. Tak ada perkataan apapun dari Rion untuk Raska, hatinya tetap dingin ketika melihat anak itu.


*****


Hay para readers,,


Aku butuh like, comment, Dan vote nih dari kalian biar aku makin semangat nulisnya,,

__ADS_1


Tetap setia pada cerita Air Mata Ayanda ya dan tekan ikon ❤️ biar tau update cerita terbarunya.


Happy reading kesayangan kesayanganku,,😘😘


__ADS_2