Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 53. Kemarahan


__ADS_3

Setibanya di Rumah Sakit Rion memicingkan matanya, sudah ada Dokter Erlan di ruangan perawatan bocah kecil itu. Dokter Erlan yang melihat Rion sedikit gugup karena memang ia bukan dokter yang menangani Raska.


"Aku hanya membantu Raska, karena kondisinya


sudah sangat drop." ujarnya.


"Aku tak peduli, sekalipun kamu punya hubungan dengan ibu si bocah itu tidak penting untukku." ucapannya mampu menghancurkan hati Dinda. Namun beda dengan Dokter Erlan, senyuman tipis tersungging dari bibirnya.


Rion melihat kondisi Raska dengan wajah pucat dan badannya semakin kurus. Ketika ia melihat Raska entah kenapa wajah Echa yang ada dimatanya. Ia pun menunduk dalam menyembunyikan sedihnya, tapi bukan untuk Raska melainkan untuk putrinya, Echa.


"Umur Raska tidak akan lama lagi," Dokter Erlan membuka suaranya. Namun tetap tak dihiraukan oleh Rion.


Tidak pernah ada rasa apapun ketika melihat anak ini. Seolah hatiku membeku dan tak ada energi apapun yang menyentuh hatiku. Apa dia anak kandungku? Atau ....


"Ayah!" ucapan lirihnya membuyarkan lamunan Rion. Ia menoleh ke arah Raska tanpa pernah berkata sedikit pun dari pertama mereka bertemu. Mulut Rion enggan untuk terbuka jika diajak bicara oleh Raska.


"Aku mohon bersatulah dengan ibu." membuat Rion dan Dokter Erlan terkejut. Berbeda dengan Dinda, ia menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


"Tidak akan pernah terjadi." jawaban yang sangat menyakitkan untuk Raska. Matanya memerah menahan tangis karena jawaban dari ayahnya. Bukan hanya Raska yang sakit mendengar jawaban Rion tetapi hati Dinda juga sangat teramat sakit mendengarnya. Harapannya langsung hancur lebur seketika.


"Rion, aku mohon menikahlah dengan Dinda!" ucap Dokter Erlan tiba tiba membuat Rion semakin melongo.


"Mungkin saja itu permintaannya yang terakhir." Rion tidak bergeming dengan keputusannya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikahi wanita itu!" sambil menunjuk kearah Dinda.


"Cukup ayah!" dengan suara pelan nan lirih.


"Jika ayah tidak mau mengakui aku sebagai anak ayah aku tidak masalah, tapi aku mohon jangan pernah bentak ibu." dengan air mata yang sudah bercucuran di wajah Raska.


"Aku hanya akan mengakuimu sebagai anakku, tapi tidak dengan ibumu!" bentakan dari Rion mampu membangkitkan amarah Dinda.


"Cukup Rion! Dimana hatimu? Kenapa kamu membentak darah dagingmu sendiri?" ucapan Dinda mampu membuat seseorang tertusuk hatinya.


"Asal kamu tau, anakku hanya Echa dan istriku hanya Ayanda!" perkataannya mulai sedikit meninggi karena terbawa emosi.


"Raska juga anakmu Rion, lihatlah dia!" sambil menunjuk ke arah Raska yang sedang menangis. Rion menatap Raska dengan tatapan datar dan hampa.


"Kamu telah mengabaikannya, dia sedang sakit parah." ujarnya dengan berlinangan air mata.


"Bukan hanya bocah itu yang sakit, tapi anakku juga sakit karena ulahmu dan anak itu!" menunjuk ke arah Dinda dan juga Raska. Raska mulai menangis sejadi jadinya, Dokter Erlan mencoba menenangkannya dengan memeluk tubuh lemahnya.


"Lihat ini!" menunjukkan foto kepada Rion. Tangan Rion mengepal keras seolah ingin menghantam wajah seseorang.


"ini istrimu kan! Mesra sekali, berpelukan dengan lelaki gagah dan tampan disaat kondisimu sedang sakit. Lalu sekarang pergi bersama anakmu meninggalkanmu. Istri tercintamu tidak lebih dari seorang jal*ng." ucapan Dinda membangkitkan emosi Rion.

__ADS_1


Plak! Tamparan keras dari tangan Rion, membuat Dinda meringis kesakitan.


"Hentikan Rion!" Dokter Erlan langsung mendorong tubuh Rion dengan keras.


"Bisakah kau sedikit lembut kepada wanita?" imbuhnya.


"Ada hubungan apa antara kalian? Sungguh sangat cocok," dengan senyuman tipisnya.


Dinda dan Dokter Erlan terdiam tidak bisa berkata apa apa. Bukan Dinda namanya jika mengalah saat ini juga.


"Simpan foto ini agar kamu bisa membuka matamu tentang istrimu. Istri yang sangat kamu cintai itu." menarik telapak tangan Rion dan memberikan selembar foto kepadanya.


Tangan Rion tak henti hentinya mengepal melihat tingkah laku Dinda.


Jika bukan wanita, sudah ku habisi kamu!


Batinnya, dengan wajah penuh kemarahan dan meremas foto yang diberikan Dinda, berlalu meninggalkan Dinda yang sedang menatapnya sinis.


Rion melajukan mobilnya seperti orang kesetanan. Tidak mengenal rem, hanya gas yang ia kenal sekarang. Pikirannya kacau, terlebih ketika melihat foto istrinya yang sedang berpelukan dengan pria lain disaat ia sedang terbaring tak berdaya.


"Kenapa kamu tega Yanda? Kenapa?" teriaknya di dalam mobil. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seolah tak takut mati.


Rion masuk ke dalam rumahnya dengan urat urat kemarahan di wajahnya. Mbak Ina hendak menyapanya pun takut dan langsung mengurungkan niatnya.


Ada apa dengan bapak?


Prang! Pecahan kaca terdengar sangat nyaring membuat Mbak Ina lari ke arah kamar majikannya.


"Pak!" setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Tidak ada jawaban. Terdengar samar samar majikannya sedang menyebut nama sang istri dengan teriakan histeris.


Mbak Ina pun mulai panik, takut terjadi apa apa dengan majikannya terlebih kamarnya terkunci. Mbak Ina langsung menelpon Arya, karena hanya Aryalah yang bisa menaklukan Rion sekarang ini.


Sudah beberapa kali ia menelpon Arya, namun tak pernah dijawab. Mbak Ina pun mencoba menelpon ibunda sang majikan.


*****


Arya baru saja sampai rumahnya. Ia hendak turun dari mobilnya dan mengecek ponselnya ada 13 panggilan tak terjawab dari Asisten Rumah Tangga Rion. Ia menerka nerka sendiri.


Gak biasanya mbak Ina telpon gua, ada apa ya? Eh, apa jangan jangan majikan stresnya mau bunuh diri?


Monolognya,


Arya langsung melajukan mobilnya ke arah Rumah Rion. Selama diperjalanan, pikiran Arya bergerilya kesana kemari.


Jangan mati dulu deh, tunggu gua sampe dulu. Siapa tau ada wasiat terakhir dari lu untuk gua. Apalagi lu ninggalin warisan buat gua, sangat berterimakasih banget deh gua.

__ADS_1


Ucapan Arya mampu membuat dirinya terkekeh geli.


Tak hanya Arya yang panik, sang mamah pun sangat panik ketika mendapat kabar jika sang putra sedang diliputi kemarahan sangat besar. Beliau bergegas menuju Jakarta beserta putri bungsunya.


Sesampainya di rumah Rion, dilihatnya Mbak Ina dan Pak Mat sedang berada di depan pintu kamar Bossnya. Arya kadang merasa aneh kepada para ART Rion, kenapa terlalu takut sama majikannya sih. Begitulah dipikirannya, mereka yang terlalu takut ataukah emang Arya yang terlalu berani.


"Pak, Bapak Pak!" ucapan Mbak Ina penuh dengan ketakutan.


Arya menempelkan telinga ke pintu. Terdengar teriakan teriakan kemarahan dari dalam kamar.


"Bro! Buka pintunya!" ucap Arya masih di tahap sabar. Tapi tidak ada jawaban sama sekali.


"Bro! Gua pegel nih berdiri terus di depan pintu. Cepetan buka!" sambil terus terusan menggedor gedor pintu kamar Rion. Tak ada jawaban dan tanda tanda pergerakan dari dalam.


"Woiy!! Buka gak pintunya! Gua dobrak nih!" Arya sangat sudah tidak sabar lalu mendobrak pintunya.


Dilihatnya kamar Rion sudah seperti kamar yang terkena angin ****** beliung sudah porak poranda semua.


Ck! Ck! Ck!


"Berasa anak Sultan lu? Semuanya lu hancur hancurin begini!" sambil mendekat ke arah Rion yang sudah dalam keadaan kacau balau.


"Parfum mahal ini, ngapa lu pecahin sih? Tadinya buat gua aja kalo lu udah gak mau mah." menatap sayang karena mubazir pada botol parfum merk b*lgari yang sudah pecah.


Tak Sengaja ia melihat selembar foto yang sudah lusuh diantara pecahan dan serpihan barang barang milik Bossnya itu. Arya pun tertawa lucu.


"Hanya karena foto ini bikin lu makin gila!" ucapan Arya mampu membuat Rion menoleh padanya.


"Hey kakak bro! Dengan ngeliat ini aja lu bisa semarah dan segila ini. Bagaimana kabarnya hati Ayanda dan Echa? Apa pernah lu mikir kesitu?" bukannya menenangkan Arya Malih semakin membuat Rion menggila.


"Argh!!" teriaknya sambil menjenggut rambutnya sangat kencang.


"Nikmati karma yang diberikan oleh Tuhan untuk lu. Jujur ya, gua aja ngeliat istri lu disakitin terus sama lu gak tega dan kasihan." menepuk pundak Rion dan berlalu meninggalkannya sendiri.


Mbak Ina dan Pak Mat yang menyaksikannya hanya bisa melongo melihat kelakuan sahabat majikannya itu. Bukannya meredakan emosi Bossnya malah memperkeruh keadaan.


Arya yang melewati Mbak Ina dan Pak Mat pun tersenyum dan meninggalkan rumah Rion.


Ulah si kecoak centil dan anak tuyulnya nih pasti.


*****


Hai my readers,,


Aku up lagi,,

__ADS_1


Jangan lupa like, comment and vote ya kalo ada poin lebih untuk aku😉


Happy reading kesayangan aku,,


__ADS_2