
"Gua udah terlalu banyak melihat air mata lu, Simpen air mata lu untuk esok atau lusa sebagai air mata kebahagiaan, gak perlu lu keluarin untuk hal hal sedih kayak gini, gak guna." Ucap Gio dengan tatapan serius ke Ayanda. Dijawab dengan anggukan kepala.
"Janji," ucapnya sambil menunjukkan kelingkingnya ke hadapan Ayanda dan disambut dengan kelingking Ayanda. "Janji" jawabnya sambil tersenyum.
Mereka menghabiskan waktu untuk bercanda ria, seketika kesedihan Ayanda menghilang, karena Gio selalu berusaha mencairkan suasana dan membuatnya tersenyum. Hingga senja pun sedikit menampakkan wajahnya pada sang langit.
"Gi, udah sore gua balik dulu ya." Ucap Ayanda dan berdiri mengambil tasnya.
"Gua anter," jawabnya
"Gak usah, gua udah minta supir gua jemput kok. Makasih untuk hari ini, lu emang kakak terbaik buat gua." Ucapnya dengan senyuman hangat.
"Sama sama," jawabnya singkat, rasa sakit di ulu hati sangat terasa di dadanya. Dari dulu hingga sekarang ia hanya jadi badut penghibur untuk Ayanda, cintanya tak pernah terbalas sama sekali. Hanya rasa sayang sebagai adik ke kakaknya yang Ayanda berikan kepada Gio.
Ayanda meninggalkan villa megah milik Gio, tanpa ia ketahui ada orang yang sedang menunggu kepulangannya dengan frustasi dan penuh emosi.
Gio membantingkan tubuhnya ke sofa panjang, di sofa single ada Remon yang sedang asyik memutar musik dari ponselnya.
Bila kau butuh telinga tuk mendengar
Bahu tuk bersandar raga tuk berlindung
Akulah orang yang selalu ada untukmu
Meski hanya sebatas teman
Yakin kau temukan aku di garis terdepan
Bertepuk dengan sebelah tangan
"Sialan banget," ucapnya sambil mendudukkan diri di sofa. Remon yang mendengar ucapan sang Boss langsung melirik aneh ke Bossnya.
"Kenapa Boss?" Tanyanya bingung.
"Itu lagu apaan? Nyindir hidup gua banget." Ucapnya dengan sedikit nada meninggi. Hanya dijawab dengan tertawa sangat puas oleh Remon.
"Kenapa masih bertahan kalo cuma bertepuk sebelah tangan, tangan aja susah kalo bertepuk sebelah mah apalagi hati, menunggu yang tidak pasti itu nyeri Boss." Jawabnya dengan sedikit meledek.
"Sial lu!" Sambil melemparkan bantal ke arah wajah Remon dan berlalu meninggalkan Remon sendiri.
******
__ADS_1
Ayanda tiba di rumah ia bergegas masuk ke kamar atas, ia kaget ketika melihat suaminya ada di kamarnya dengan wajah kacau.
"Kamu dari mana?" Tanyanya dengan sedikit meninggikan suara.
"Kamu tidak perlu tau aku darimana." Jawabnya datar dan dingin.
"Aku ini suamimu Ayanda, aku berhak tau atas dirimu," ucapnya penuh dengan penekanan dan emosi.
"Aku hanya menenangkan diri," jawab Ayanda sangat datar.
"Kamu keluar tanpa izin dari aku" Ucap Rion semakin menggebu gebu.
Ayanda hanya tersenyum tipis, "Izin? Apakah kamu minta izin kepadaku ketika meniduri dia?" Jawabnya penuh dengan penekanan.
"Ingat mas, hubungan kita sedang tidak baik baik saja ini semua karena perbuatanmu." ucap Ayanda sambil menunjuk ke wajah Rion.
"Jika dari awal aku tau kamu punya anak dari wanita itu, aku pastikan aku tidak akan kembali lagi padamu. Aku akan membesarkan Echa seorang diri," jawabnya kembali dengan emosi menggebu gebu.
"Tapi dia bukan anakku," jawabnya dengan sedikit teriak.
"Sekarang kamu bisa bilang seperti itu, tapi jika kenyataannya beda kamu mau bilang apa? Apa masih tidak mengakui itu anakmu dan akan mengabaikannya seperti Echa kecil juga?" Tanyanya dengan penuh emosi. Lidah Rion terasa peluh tak bisa berkata apa apa.
"Aku lelah mas, aku mau istirahat. Jika kamu mau tidur disini aku akan tidur dibawah." Bergegas meninggalkan kamar itu.
"Terserah kamu aja mas," jawabnya sembari membalikkan badannya.
"Jika itu anakmu bertanggung jawablah, jangan menyia nyiakannya. Cukup Echa yang kamu sia siakan, dan mungkin aku akan mundur pelan pelan dari hidupmu." Ucapnya kuat meskipun sebenarnya air matanya sudah ingin membanjiri pipinya. Segera ia meninggalkan Rion di dalam kamar atas sendiri.
Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengar pertengkaran mereka.
Anak? Test DNA? Gumamnya dan terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Otaknya ingin mencari tau namun hati kecilnya berkata tidak.
Ayanda masuk ke dalam kamar utama lalu menguncinya dari dalam. Ia kuat berkata seperti itu kepada suaminya karena ia terikat janji dengan Gio, jika ia tidak akan mengeluarkan air mata kesedihan lagi dan hanya air mata kebahagiaan yang boleh ia teteskan. Ia masuk ke kamar mandi menghidupkan shower air dingin untuk menyiram kepalanya yang terasa sangat panas, air matanya pun ikut membasahi pipinya bersamaan dengan air dari shower. Ucapannya tak sesuai dengan hatinya, karena hatinya masih menginginkan Rion berada di sisinya.
Jeritan demi jeritan yang keluar dari mulutnya, ia pun terduduk di lantai masih dengan menangis pilu. Tak ada kekuatan yang ia miliki sekarang, hanya kekacauan dan kepiluan yang ada di raut wajahnya.
"Aku lelah Tuhan, sangat lelah." Ucapnya lirih dan terduduk sambil mendongakkan kepalanya ke shower, membiarkan ciptaan air menghujam wajahnya.
Selang 1 jam berada di kamar mandi, Ayandapun membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, tidak hanya tubuh otak dan pikirannya pun tak bisa mencerna apapun. Hanya mata sembab yang ada di raut wajahnya sekarang.
*****
__ADS_1
Rion masih terngiang ngiang dengan ucapan Ayanda yang akan mundur dari hidupnya jika terbukti anak itu anaknya.
"Arghh!!" Teriaknya sambil mengacak acak rambutnya frustasi.
Drrrtt,, Drrrtt,,
Arya : Lu ke Toko Pusat sekarang.
Rion : Ada apa?
Arya : Si liar ada disini pengen ketemu lu, udah cepetanlah.
Tut Tut Tut,
Sambungan telpon pun akhirnya terputus,
"Ngapain si wanita itu datang ke Toko Pusat?" Ucapnya dan bergegas keluar dari kamarnya menuju Toko Pusat.
"Ayah, mau kemana?" Tanya Echa di ruang keluarga.
"Ayah ada urusan mendadak dulu dek, tadi om Arya telpon ayah." Jawabnya menuju pintu luar.
Echa hanya ber-O ria, dan melanjutkan menonton televisi. Entah memang ikatan batin antara Rion dan Echa yang kuat atau memang Echa yang terlalu peka, ia merasa ada yang aneh dan berubah dari sikap ayah dan mamahnya. Namun ia mencoba untuk menepisnya, karena mimpinya dari kecil yaitu mempunyai keluarga yang utuh dan menyayanginya sepenuh hati seperti kasih sayang Ayah dan Mamahnya selama ini untuknya.
Mungkin perasaan gua aja kali ya, gak mungkin kan Ayah nyakitin mamah sedangkan Ayah sayang banget sama mamah. Terlalu banyak nonton drama nih kayaknya gua, jadinya otak gua berdrama ria, gumamnya sambil cekikikan. Mbak Ina yang hendak menuju dapur pun merasa ada yang salah dengan tingkah Echa, tontonannya itu drama yang lagi nangis nangisan kenapa anak majikannya itu malah cekikikan, mbak Ina hanya bisa menggelengkan kepalanya karena merasa aneh.
*******
Assalamualaikum readers,,
Taqaballahu Minna wa minkum,
Minal aidzin walfaidzin ,
Mohon maaf lahir batin
🙏🙏🙏
Maaf aku baru sempet up, karena aku bener bener sibuk di dunia nyata, ini juga aku usahain disela sela kesibukan yang melandaku.
Tetap jadikan Air Mata Ayanda favorit kalian ya agar gak ketinggalan kelanjutan ceritanya,
__ADS_1
Happy reading kesayangan kesayanganku😘
Aku padamu,,