
Tubuh Ayanda tersungkur, hatinya tak ingin berpisah dengan Gio. Sudah beberapa bulan ini dirinya lah yang membuat hidupnya merasa tak sendiri dalam menjalani setiap cobaan dalam hidupnya. Dialah yang memberikan kekuatan untuk terus bertahan dalam kepedihan. Kini, seseorang yang sangat berharga untuknya telah pergi meninggalkannya.
Tidak ada penyemangat, tidak ada lelucon garing dari seorang Giondra.
Echa yang melihat sang Mamah begitu pilu hanya bisa memandangnya dengan berderai air mata. Ia tidak bisa meraih tubuh Mamahnya, karena Echa masih sangat lemah.
Genta yang baru saja datang, langsung merengkuh tubuh Ayanda. Ia memapahnya menuju sofa. Melihat air mata putrinya tak kunjung berhenti, hatinya pun merasakan kesedihan seperti Ayanda rasakan sekarang. Ditinggalkan oleh putranya yang rela berkorban untuk putrinya.
Rion hanya terdiam melihat kesedihan dan kerapuhan istrinya. Baru kali ini ia melihat Ayanda sangat sepedih ini. Bukan hanya Ayanda, ia juga melihat putrinya yang sangat kehilangan Giondra.
Di mobil, Gio menyandarkan kepalanya pada kursi penumpang. Hatinya sangat sedih melihat kedua wanitanya menangis pilu karena kepergiannya. Tapi inilah keputusannya, Rion lebih pantas untuk mereka.
"Boss!" panggil Remon. Giondra tetap memejamkan matanya.
Remon sangat melihat jelas betapa sakitnya hati seorang Giondra. Ia pernah melihat Giondra patah hati tapi tidak separah ini. Sekarang yang Remon lihat hanyalah Bossnya yang tak berdaya, hanya siluet kesedihan dan kepedihan yang nampak pada wajah tampan atasannya. Hanya rasa sakit yang teramat menusuk yang sekarang Giondra rasakan.
Salahku, karena aku terlalu dalam mencintaimu. Hingga akhirnya aku yang tenggelam sendiri dalam perasaan ini, batinnya.
Mereka pun tiba di landasan, Remon pun menghentikan mobilnya.
"Boss, apa kita batalkan saja pergi ke Ausinya? Sepertinya Boss sedang tidak baik baik saja," ucapnya dengan sangat hati-hati.
Gio melirik kearahnya, tersenyum kepada Remon. "sakitnya hanya hari ini, besok juga akan sembuh," jawabnya singkat.
Remon menutup mulutnya ketika mendengar jawaban dari Gio. Hanya kebohongan belaka yang dikatakannya.
Inilah pilihanku, aku memilih sakit agar kamu bahagia. Aku terlihat tegar agar kamu tak terluka, batinnya lirih.
Gio baru saja keluar dari mobilnya, ia sudah disambut oleh pramugari dan pilot beserta co pilot. Sejenak ia menghentikan langkahnya, mengatur nafasnya supaya tenang agar bisa melepaskan dan melupakan seseorang. Tak lama ia melangkahkan kakinya menuju tangga jet pribadi.
"Giondra!" panggil seseorang. Langkah kakinya pun terhenti.
"Suami Bu Ayanda, Boss," bisik Remon pelan.
Hh, hanya helaan nafas yang terdengar.
Giondra memutar tubuhnya, memandang wajah Rion yang sudah berada disamping private jet miliknya.
"Boleh bicara sebentar," pinta Rion.
__ADS_1
"Aku sudah mau berangkat, sudah tidak ada waktu lagi," sahutnya.
"Bukannya ini private jet milik keluargamu, jadi tidak ada masalah jika keberangkatanmu telat beberapa menit," seru Rion.
Gio tak menggubris ucapan Rion, ia melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam pesawat.
"Ini tentang Yanda," teriaknya.
Langkah Gio seketika terhenti. Ia berbalik arah dan menghampiri Rion yang berada dibawah.
"Ada masalah apa?" tanyanya tanpa basa basi.
"Ini," kata Rion. Menyodorkan m map hijau kearah Gio.
Gio meraihnya, dibukanya lalu ia membacanya. Gio tercengang ketika membaca satu demi satu kata yang ada pada selembar kertas dari dalam map tersebut.
"Aku akan menceraikannya, kebahagiaan dia bukan padaku. Tapi padamu," lirihnya.
Gio hanya tersenyum kearah Rion, mengembalikkan map yang ia pegang.
"Bahagiakan dia, aku hanya sebagai kakaknya tugasku adalah selalu melindunginya, karena dia adikku," ujarnya, dan memaksakan untuk tersenyum.
"Kamu salah, kamu adalah suami yang sangat Ayank cintai, dihatinya hanya ada kamu dan Echa tidak ada yang lain. Berjanjilah, bahagiakan dia untukku," serunya.
"Aku akan meninggalkannya, aku serius dengan ucapanku. Aku tidak pantas untuk Yanda dan Echa, aku hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan mereka," katanya lirih.
"Sebesar apapun kesalahanmu, pasti akan mereka maafkan. Kamu adalah jantung mereka. Sudahlah, aku harus pergi," jelasnya.
Gio menaiki satu demi satu tangga pesawat, Rion hanya menatap punggungnya dari bawah.
"Aku akan mencerikannya sekarang juga, aku mohon kembalilah pada Yanda dan juga Echa," teriaknya dengan nada yang lirih.
Mendengar ucapan Rion hati Gio semakin sakit, ia merasa sangat merasa bersalah karena telah membuat mereka menangis karenanya. Tapi, hanya ini jalan satu-satunya agar Gio melupakan Ayanda.
Private jet pun akhirnya lepas landas menuju Australia, tepatnya ke Melbourne. Penerbangan mereka memakan waktu 7,5 jam.
Setelah melihat private jet yang ditumpangi Giondra lepas landas, ia memilih untuk kembali ke Rumah Sakit dengan langkah yang gontai.
"Maafkan aku yang telah gagal membawanya kembali padamu," monolognya.
__ADS_1
Di Rumah Sakit Ayanda masih terisak, kepergian Gio membuatnya sangat sedih. Air matanya tak henti mengalir. Echa sangat merasakan kesedihan Mamahnya.
"Nak, Gio pergi untukmu. Agar kamu kembali pada suamimu," kata sang Ayah pada Ayanda.
Ayanda hanya terdiam dan semakin terisak mendengar perkataan Ayahnya.
"Cintanya tulus untukmu, hanya saja ia tidak mau merusak Rumah Tanggamu. Inilah cara Gio menunjukkan rasa cinta yang sangat luar biasa padamu," ujarnya lirih.
Isakan Ayanda semakin keras dan terdengar sangat lirih. Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tindakan hebat Andra.
Terlalu banyak berkorban akhirnya lu yang harus jadi korban sesungguhnya, batinnya.
Dibalik pintu ada seseorang yang sangat jelas mendengar ucapan dari Genta. Hatinya semakin berdosa karena sering menyakitinya. Sedangkan pria yang dimaksud oleh Genta sangat teramat tulus mencintainya, hingga rela mengorbankan rasa cintanya demi kebahagiaan wanita yang dicintainya.
Selama di perjalanan Gio hanya terdiam, tIdak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Remon yang sedari tadi memperhatikan Bossnya ikut sedih dibuatnya. Selama bekerja bersama Gio ia tidak pernah melihatnya separah ini jika kecewa terhadap wanita, dan juga tidak pernah seserius ini kepada wanita.
Selama menempuh perjalanan tujuh jam tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di Melbourne. Baru saja landing, ponsel Gio berbunyi.
Ia membuka satu demi satu pesan chat yang baru saja dikirimkan oleh nomor tak dikenal. Ia sangat fokus melihat ke layar ponselnya, tak terasa ujung matanya mengeluarkan bulir bening. Hatinya sangat terluka melihat foto yang sangat menyayat hatinya.
Ting! Satu pesan lagi masuk kedalam ponselnya.
Kali ini air mata membanjiri pipinya, suara isakan demi isakan yang terdengar sangat jelas membuat pertahanannya runtuh. Remon segera mendekat kearah Gio karena melihat Bossnya menangis seperti itu.
Perlahan ia mendekat, berapa terkejutnya ia ketika melihat ponsel sang Boss yang mendapatkan kiriman video Ayanda yang sedang menangis pilu dan tangisnya tak pernah reda, karena ia melihat matanya sudah sangat bengkak dan memerah. Hati Remon pun merasa terenyuh.
"Perintahkan kepada pilot agar kembali ke Singapura, sekarang!!" perintahnya dengan penuh dengan penekanan.
*****
Happy reading semua,,
Maafkan aku memberikan ceritanya tak maksimal, karena sedang dilanda writer block yang tiba-tiba membuat otakku blank.
Jangan lupa setelah mampir dan baca tinggalkan jejak kalian dengan cara Like, comment Dan juga vote biar aku makin semangat lanjutin ceritanya,
Aku padamu shayang,,😘
__ADS_1