Air Mata Ayanda

Air Mata Ayanda
bab 68. Ayah biologis


__ADS_3

Sebelum aku lanjutin ceritanya yang sengaja kemarin aku gantung, aku kasih visual salah satu tokoh di cerita AIR MATA AYANDA.


ARYA BASKHARA



Sahabat karib dari Rion Juanda dan teman satu geng dari Giondra Aresta Wiguna ketika di bangku sekolah menengah. Wajahnya yang tampan dengan lesung pipi kecil yang membuatnya semakin menawan. Dengan wajah diatas batas standar pria normal pada umumnya, seharusnya Arya sudah memiliki pasangan, setidaknya pacar. Tapi ia seolah menutup diri kepada wanita sehingga Rion menjulukinya GGM (Ganteng-ganteng Mubazir).


Arya adalah manusia konyol tapi seketika pula ia bisa menjadi manusia bijak. Baskhara, panggilan khusus dari Rion untuknya. Ia seperti bayangan Rion yang selalu mengikuti kemana pun sahabatnya itu pergi.


Mohon maaf ya jika visualnya tidak sesuai dengan haluan kalian, tapi seperti itulah wajah Arya dalam haluan ku,😁


*****


Mendengar suara teriakan seseorang yang baru saja masuk ke ruangan Raska membuat akad nikah yang sedang berlangsung terhenti. Mata semua orang yang berada di ruangan itu tertuju pada sosok pria tampan yang sedang berdiri santai dengan wajah songongnya.


"Ada apa lagi ini?" tanya Pak Penghulu pada Dinda.


"Santai dulu Pak Penghulu yang terhormat, saya hanya ingin memastikan kepada saudari Dinda apa Anda benar-benar serius ingin menikah dengan yang mulia Rion Juanda?" tanyanya dengan wajah meledek.


"Kenapa? Lu gak berhak keberatan, Rion aja setuju kok," balasnya dengan emosi yang sudah diubun-ubun.


Rencananya yang tinggal seperempat langkah lagi malah tersendat seperti ini karena kehadiran Arya si jalangkung.


"Kalo Rion miskin masih mau nikah sama dia?" tanya Arya lagi.


"Hahaha, gua gak akan ketipu sama bac*t rese lu," jawabnya sangat berani.


Arya melemparkan sebuah map kedepan wajah Dinda.


"Baca tuh!" ujar Arya.


Mata Dinda seperti hendak copot dari tempatnya setelah membaca isi dari dalam map tersebut.


"Kalo lu kekeh ya udah lanjutkan pernikahan lu sama Rion. Gua pastikan lu akan jadi istri dari seorang gembel," ucapnya sambil tertawa.


Rion yang mendengar ejekan Arya hanya dapat mendelik kesal, yang dikatakan Arya adalah benar, karena saat imyang ia tau semua aset usaha dan hartanya atas nama Ayanda. Ia sangat bersyukur kehadiran Arya menyelamatkan dirinya yang sedikit lagi akan masuk kedalam jurang penyesalan seumur hidup.


"Ini gimana jadi lanjut apa nggak nikahnya?" kesal Pak Penghulu.


Dinda tak bisa menjawab, niatnya menjebak Rion dalam pernikahan ini karena ingin menguasai hartanya kini pupus sudah. Ternyata orang yang ia kejar selama ini sudah tak memiliki apa-apa. Apalagi jika Rion sudah bercerai dengan Ayanda, sudah pasti ia akan nelangsa tanpa harta.


"Lanjutin aja, Pak," sahut Arya.


Rion memelototkan matanya kepada sahabatnya, Arya hanya cuek bebek tak menganggap Rion ada.


"Mas kawinnya ganti, Pak. Seperangkat alat tulis dan alat hitung," balasnya lagi.


Ia mengambil satu set alat tulis dan juga satu sel alat hitung dari dalam tasnya dan meletakkannya dihadapan kedua calon pengantin dan juga penghulu.


"Untuk apa ini?" tanya Pak Penghulu heran dengan mas kawin yang aneh ini.


"Itu buat mencatat dosa-dosa yang udah si wanita ular sawah lakukan. Dan alat hitung itu buat menghitung berapa jumlah dosa besar dan dosa kecilnya selama hidup di dunia ini," ujar Arya.


"Sudah seperti malaikat Atid aja," sahut salah satu saksi nikah.


Pak Penghulu dan kedua saksi bayaran Dinda hanya menggeleng heran dengan tingkah Arya.


"Udah lanjutin Pak ijab kobulnya, saya jadi wali dari mempelai pria," katanya dengan santai dan berjalan menuju ranjang kesakitan Raska.


Arya merebahkan tubuhnya disana. Raska memasang wajah kesal karena sahabat Ayahnya ini sudah seenaknya membuat pernikahan kedua orangtuanya tertunda.

__ADS_1


Kesabaran Pak Penghulu pun sirna, wajahnya sudah merah menahan amarah dan kesal karena merasa dipermainkan oleh calon pasutri dan temannya yang tidak waras. Ia pun pergi tanpa pamit dan permisi.


"Pak Penghulu, tunggu!" seru Dinda. Namun, tak dihiraukan oleh Pak Penghulu.


"Ini semua gara-gara, lu!" teriaknya didepan Arya yang sedang berbaring.


Arya bangun dari rebahannya, tersenyum sinis kepada Dinda.


"Salah gua? Dosa gua?" tanyanya, sambil menunjuk ke dirinya sendiri.


"Kalo lu gak datang gua pasti udah nikah sama Rion," ucapanya dengan sangat emosi.


"Ya udah mau nikah sama Rion mah ke KUA sana, ngapain nyalahin gua," serunya.


Emosi Dinda sudah memuncak, tak bisa tertahan lagi.


Plak! Tamparan keras mendarat diwajah tampan Arya.


"Itu gak sebanding dengan hancurnya hati anak gua, lu liat Raska!" jelasnya dengan nada yang terdengar sangat emosi dan menunjuk kearah Raska yang sudah bermandikan air mata.


Arya melirik sekilas kearah Raska dan tersenyum jahat kepada Dinda.


"Jalasin!" teriak Arya, setelah melemparkan map cokelat kewajah Dinda.


Rion yang sedari tadi diam segera mengambil map yang dilempar sahabatnya.


Ia membacanya dengan seksama dan melebarkan matanya ketika membaca kata terakhir NEGATIF.


"Apa maksud dari semua ini, Bas?" tanyanya pada Arya.


"Lu tanya sama wanita sampah didepan lu," balasnya.


"Apa ini? Jelaskan!" teriaknya dengan suara yang sangat emosi.


Arya hanya tertawa ketika Dinda melempar kesalahannya pada dirinya.


"Itu hasil Tes DNA yang sebenarnya," ujar seseorang yang baru saja masuk ke ruangan Raska.


Dinda mematung tak percaya, Raska pun terdiam mendengar suara yang sangat ia rindukan dalam beberapa hari ini.


"Raska bukan anak biologismu, Rion. Dia anakku," ungkapnya dengan jujur dan penuh penyesalan.


"Selama ini kau membohongiku, Erlan! Kalian telah menghancurkan keluargaku dan juga sudah hampir membunuh putriku," teriaknya sangat keras dan penuh dengan emosi. Wajah Rion merah padam dan tangannya langsung menarik kerah baju dokter Erlan.


"Maafkan aku, Rion," sesalnya. Tangan Rion sudah mengepal tinggi untuk menghajarnya.


"Papa!" panggil lirih Raska. Rion pun mengurungkan niatnya untuk memukul dokter Erlan.


Dokter Erlan langsung berhambur memeluk putranya. Air matanya tak kuasa ia tahan, hatinya sakit karena telah membohongi darah dagingnya sendiri.


"Wanita sampah! Tak seharusnya aku percaya ucapan bohongmu," ucap Rion dengan penuh penekanan pada Dinda. Berlalu meninggalkan ruangan Raska.


Arya yang melihat si Gundul bertemu Ayah kandungnya ikut bahagia.


"Ndul, itu bapak kandung lu. Semoga lu bahagia ya bertemu bapak lu yang sebenarnya. Kalo lu mau marah, marah nih sama emak kandung lu yang kejam yang tega misahin lu sama bapak lu," ucap Arya pada Raska.


"Terimakasih, Om. Om udah bantu aku buat ketemu Papa aku," balasnya dengan linangan air mata.


Arya hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tulus dan bahagia.


Dinda menatap Arya tajam seolah ingin membunuhnya sekarang juga.

__ADS_1


"Mana bisa mematikan lu? Sekarang hanya jadi ular sawah doank," ejeknya.


"Kalo lu bikin onar lagi gua pastikan lu akan gua kirim ke neraka jahanam secepat kilat," terangnya dengan tertawa penuh kemenangan.


Arya pun meninggalkan ruangan rawat si Gundul dengan bahagia, karena telah menang telak atas permainannya melawan ular sawah betina.


*****


Giondra masih tampak sendu dan tak bersemangat. Seolah tak ada harapan hidup lagi untuknya. Ia membuka ponselnya, melihat foto dirinya dengan Ayanda yang sedang saling tatap lucu.


Aku berubah karena dirimu, dirimu membawa banyak perubahan dalam hidupku. Tapi kenapa rasa sayangmu tidak berubah untukku? Hanya sebatas rasa sayang antara adik dan kakak.


Sekarang aku lelah,,


Aku berlari mengejarmu sampai garis finish, tapi yang kudapatkan bukan kemenangan hanya sebuah kekalahan. Dirimu sudah naik podium kemenangan bersama dirinya dan tersenyum bahagia diatas sana.


Aku bisa apa sekarang? Hanya meratapi nasibku yang menjadi pria bodoh karena cinta, batinnya sangat lirih dan sakit.


Hh, helaan nafas terdengar dari mulutnya.


Sudah waktunya aku pergi, sudah ada dirinya yang menemanimu dan aku yakin dia akan membuatmu bahagia. Aku tidak ingin menjadi perusak kebahagiaanmu, Aku cukup jadi penonton untuk kebahagiaanmu esok dan seterusnya. Mungkin juga untuk selamanya.


Dirimu tetap memiliki tempat spesial dihatiku dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Dan rasa sayang ini masih akan tetap ada dan tak akan berubah sampai kapanpun. Aku menyayangimu dengan tulus, semoga kelak kamu akan melihat ketulusan cintaku ini, lirihnya dalam hati.


Gio menyenderkan tubuhnya pada kursi kerjanya dan memejamkan mata.


"Ternyata sesakit ini mencintai tanpa dicintai," monolognya pelan.


Remon yang baru masuk kedalam ruangan Bossnya mendengar gumaman kecil yang sangat menyayat hati.


*****


Di Singapura, Ayanda dan Ayah Genta sudah berada di kantin Rumah Sakit.


"Ada apa, Yah?" tanya Ayanda tanpa ragu-ragu.


"Nak, apa kamu akan kembali lagi dengan suami kamu?" tanya Genta.


Ayanda membeku mendengar pertanyaan sang Ayah. Mulutnya seakan terkunci rapat, tidak dapat menjawab.


"Jika anak itu bukan anak kandung suamimu, apa kamu akan kembali padanya?" tanyanya lagi.


Ayanda hanya menghela nafas kasar, mulutnya enggan menjawab. Namun, mata Ayahnya seolah meminta jawaban jujur.


"Kenapa Ayah bertanya seperti itu?" balasnya dengan melontarkan pertanyaan kembali.


"Ayah hanya ingin melihat anak-anak Ayah bahagia," jelasnya.


"Aku hanya ingin mencari kebahagiaanku yang selama ini sudah hilang dariku, Ayah," jawabnya ambigu.


Hanya Ayanda yang tau apa maksud dari ucapannya tersebut.


*****


Happy reading semua ,,


Aku lanjutin nih ceritanya yang ngegantung kemarin 😁


Bukan karena aku di mode malas aku ngegantung bab kemarin, tapi emang udah direncanakan dengan matang agar kalian penasaran. 😀


Jangan lupa setelah mampir dan baca tinggalkan jejaknya dengan cara like, komen, dan juga vote biar malas aku hilang diganti dengan rajin up😁

__ADS_1


Aku padamu sayang ,,😘😘


__ADS_2