
Giondra masih terdiam di tempatnya, ia masih mencerna setiap ucapan dari Rion. Sekarang ini dirinya merasa bersalah atas perceraian antara Ayanda dan juga suaminya. Hatinya sama sekali tidak bahagia dengan berita ini.
Mungkin jika dirinya sedikit keras kepada hatinya Ayanda dan Rion pasti akan bersama kembali. Membangun rumah tangga harmonis seperti dulu kala. Ia memejamkan matanya dan memijat pangkal hidungnya yang teramat pusing.
Berkali-kali ponselnya berdering, panggilan dari asisten pribadinya namun selalu ia abaikan. Ia menikmati kesendiriannya karena rasa bersalahnya, dirinya beranggapan bahwa ia telah menghancurkan keluarga kecil orang lain.
Panggilan ke-56 kali dari Remon pun membuat ponselnya berdering lagi. Akhirnya ia beranjak dari duduknya. Melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan Echa dengan pikiran kalut.
Perlahan ia membuka pintu, terlihat Echa sedang bercanda dengan sang Kakek. Pandangannya beralih ke arah Ayanda yang masih terbaring dengan jarum infus ditangannya. Ia hanya bisa menghela nafas berat dan masih mematung di depan pintu.
"Papa Gi!" panggil Echa sambil tersenyum.
Giondra membalas senyumnya dan menghampirinya yang sedang berbaring di ranjangnya. Ia langsung memeluk tubuh Echa dan tak terasa air matanya menetes.
"Maafkan Papa Gi," ucapanya lirih.
Echa bingung dibuatnya, tiba-tiba saja Papanya ini meminta maaf padanya. Apa salah sang Papa? Itulah yang ada dibenaknya sekarang.
Giondra melepaskan pelukannya, Echa yang melihat Papa Gi menangis langsung menghapus air mata yang membanjiri wajah Papa angkatnya.
"Kenapa Papa Gi minta maaf? Papa Gi tidak pernah berbuat salah," katanya.
"Jika Papa Gi tidak kembali mungkin kalian akan tetap bersama, kamu akan memiliki Ayah dan Mamah yang lengkap," balasnya.
Echa tersenyum, mengusap pipi tampan Papanya.
"Ayah dan Mamah akan selalu ada untuk Echa, hanya saja mereka tidak satu rumah. Echa yakin kasih sayang mereka tidak akan berubah untuk Echa sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun," jelasnya.
"Bukan salahmu, Nak. Ada kalanya kesabaran manusia itu ada batasnya, itulah yang dialami Ayanda. Jadi jangan pernah merasa bersalah dalam keputusan mereka," timpal sang Ayah.
Echa tersenyum lebar mendengar penjelasan sang Kakek kepada Papanya. Ia menggenggam tangan Papa Gi.
"Ini keputusan Ayah dan Mamah yang sudah Echa setujui, jadi tidak ada yang di sakiti dan tersakiti disini. Tidak ada juga orang ketiga dalam perpisahan Ayah dan Mamah. Sekarang waktunya aku dan Papa membahagiakan Mamah. Jangan biarkan Mamah bersedih lagi, karena Mamah juga berhak bahagia," terangnya dengan senyuman manis.
Giondra masih memandang wajah Echa dengan tatapan sendu. Echa tidak jauh beda dengan Ayanda, mampu menutupi kesedihannya dengan senyuman indahnya.
"Papa Gi harus janji akan menemani Mamah dan juga Echa sampai Echa sembuh total. Jangan pernah tinggalin kita lagi," serunya.
Echa mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Giondra, ia pun menautkan jari kelingkingnya ke kelingkingnya Echa. Mereka pun tersenyum, entah tersenyum bahagia ataupun sebaliknya.
Di dalam pesawat Rion hanya terdiam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hatinya masih terasa sakit dan belum bisa menerima keputusannya sendiri. Wajahnya sangat sendu dan pilu, sangat terlihat jelas garis-garis kepiluan yang menyedihkan di wajahnya.
__ADS_1
Ingin rasanya mulut pedas Arya berkoar, tapi untuk sekarang ia membiarkan sahabatnya itu sendiri dulu. Mungkin ia masih syok dengan permintaan Ayanda, begitulah yang ada di kepala Arya. Sebelum keberangkatannya Rion sudah menceritakan semuanya di Bandara. Arya hanya bisa menghela nafas. Hati kecilnya ikut lega dengan keputusan Bossnya ini. Setidaknya ke depannya ia tidak akan menyia-nyiakan pasangannya kembali hanya karena masa lalu yang masih ia sayangi meskipun hanya sedikit.
Setelah dua jam penerbangan mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta.
"Lu telpon supir lu gih, biar jemput kita," ucap Arya yang mencoba memecahkan keheningan diantara mereka berdua sedari tadi.
"Gua mau ke Bandung," sahutnya.
"Terus gua gimana?" tanyanya.
"Taxi online ada, tinggal pesan doang," jawab Rion dengan enteng.
"Eh Paijo, lu ya yang ngajak gua ke Singapura terus seenak jidat lu gua disuruh pesan taxi online gak lu antar sampai rumah. Tega banget lu, habis manis sepah dibuang," ujarnya dengan berapi-api.
Rion tak mengindahkan ucapan dari Arya, ia memilih memejamkan matanya sambil menunggu dijemput Pak Mat, supirnya.
"Dasar pria pohon pisang, punya jantung tapi gak punya hati," celanya.
Rion hanya melirik sinis ke arah Arya dan memejamkan matanya kembali. Bukannya Arya memesan taxi online, ia malah setia menemani Rion di Bandara.
Sepedas dan sekejam apapun mulut Arya tapi ia tetap peduli terhadap sahabatnya sekaligus Bossnya ini. Itulah cara Arya menunjukkan rasa sayangnya dengan ucapan tajam nan menusuk ataupun dengan kalimat-kalimat bijak yang kadang kala terucap dari mulut embernya.
"Pak Boss," ucapnya sopan.
Rion membuka matanya ternyata Pak Mat sudah berada dihadapannya. Ia pun beranjak dari duduknya. Ketika ia ingin mengambil tas miliknya, dilihatnya Arya masih duduk disana.
"Kenapa lu belum pergi? Emang gak ada taxi online di sekitaran sini sampai lama banget ngejemput lu-nya," ujarnya.
Arya hanya berdecak kesal, ingin sekali ia mencakar-cakar wajah tampan Bossnya yang sangat bodoh ini.
"Gua lagi memastikan kalo Yang Mulia Rion Juanda pulang dengan aman dan selamat," ucapnya penuh dengan penekanan.
"Bagus, gaji bulan depan gua potong," seru Rion dan berjalan menuju mobilnya.
"Woiy beg*!! Naikin gaji gua bukan malah lu potong. Boss gila!" teriaknya kepada Rion.
Pak Mat yang mendengar umpatan kesal dari Arya hanya bisa tertawa, jika Bossnya dan Arya sudah bertemu pasti tidak akan pernah akur.
Di rumah sakit, Genta pamit untuk kembali ke rumah besar kepada Gio dan juga Echa. Echa sudah terlelap karena baru saja minum obat.
Giondra duduk dibawah sofa tempat Ayanda berbaring dan di infus. Dipandanginya wajah pucat nan sendu wanita yang ia sayangi. Dibelai rambutnya, hingga ada pergerakan dari Ayanda. Perlahan ia membuka matanya. Ia tersenyum ketika orang yang pertama dilihatnya setelah bangun dari tidurnya adalah Gio.
__ADS_1
Gio membalas senyuman Ayanda, namun hatinya sangat sakit karena wanita didepannya pasti menyimpan banyak kesedihan di dalam hatinya saat ini.
"Kenapa kamu memilih berpisah?" tanyanya pada Ayanda.
Pertanyaan itu mampu merubah wajah Ayanda, ia menghela nafas kasar.
"Bantu aku untuk mencari kebahagiaanku, Gi," ucapnya yang tengah berkaca-kaca.
"Aku bisa saja terus berpura-pura bahagia tapi aku juga ingin merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Apa aku salah?" tanyanya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Hati Gio terenyuh mendengar ucapan terdalam dari seorang Ayanda. Inilah jeritan hatinya yang sesungguhnya.
"Aku sudah berada di titik lelah sekarang, kembali rasanya sulit karena akan terus mengorek luka yang harusnya sudah kering. Lebih baik aku pergi agar aku bisa menyembuhkan luka yang sangat dalam ini."
"Bantu aku untuk menemukan bahagiaku, temani aku dalam setiap langkah kakiku menuju titik bahagia," pintanya.
Hati Gio sangat tersayat-sayat mendengar curahan hati Ayanda. Terlalu banyak luka yang ia dapatkan, terlalu banyak pengorbanan yang berkahir sia-sia. Dicintai namun tak sepenuhnya untuknya, itulah alasannya untuk pergi.
Giondra langsung memeluk tubuh Ayanda dengan sangat erat. Menyalurkan kekuatan untuk wanita yang amat ia sayangi.
"Aku akan selalu menemani langkahmu. Ijinkan aku untuk membahagiakanmu dan juga putriku," ucapnya.
Air mata Ayanda semakin mengalir deras, dekapan Gio mampu menghangatkan hatinya yang kini sudah membeku.
*****
Hay,,
Maafkan aku ya sayang-sayangku, jika ada yang kecewa akan part yang aku tulis kemarin dan males untuk bacanya lagi. Mon maaf banget, aku nulis itu mengikuti imajinasi ku saja. Aku tidak suka di kekang ataupun di atur dalam membuat alur cerita, nantinya akan mempersulit ku untuk melanjutkan cerita. Aku menulis karena aku suka dan happy. So, Jika suka lanjutkan jika tidak suka tinggalkan, hanya itu yang bisa aku katakan😄
Mohon pengertiannya ya sayang, karena menuangkan ide dalam tulisan itu tidak mudah apalagi di sela-sela kesibukan yang menderaku. Harus pintar-pintar ngatur waktu, aku masih melanjutkan cerita ini karena kalianlah penyemangatku😘😘
Makasih banyak sayang udah mau baca karya remahan peyek aku ini, maaf kalo banyak kekurangan dalam penulisan maupun alur cerita karena aku juga masih ditahap pemula.
Jangan lupa like, komen dan juga vote ya setelah kalian membaca dan mampir kesini.
Ramaikan Grup ini yuk, disini bisa bercanda ria dan bisa lebih mengenal dekat antara aku dengan kalian para readers. Bebas mau ngapain aja asalkan masih sopan😄
Aku tunggu kalian di Grup Nyonyahalu
__ADS_1